
"Mas... Aku... Ada dimana ini?" Niken menanyakan keberadaan nya yang menurut nya asing.
"Kita dirumah sakit sayang." Ucap Gio memberi tahu Niken.
"Selamat atas kesempatan bu Niken yang bisa sadar kembali dari komanya" Ucap Dokter memberi selamat pada Niken
"KoMa? " Niken bermonolog
"Iya, Sayang. Setelah operasi persalinan kamu mengalami koma selama 6 bulan."
"Anak ku? Dimana mas?" Niken memegang perutnya yang sudah rata.
"Dia di luar bersama kakek nenek nya." Ucap Gio.
"Bagaimana keadaan Bu Niken sekarang? Apakah ada yang di rasakan?" Tanya Dokter
"Saya hanya haus dan lapar, Dok." Ucap Niken dengan wajah polosnya.
Dokter tersenyum mendengar penuturan pasiennya yang kelaparan. Sedangkan Gio merasa kasiahan pada istrinya itu.
"Kamu lapar ya. Nanti mas belikan makanan yang banyak untuk mu, Niken." Ucap Gio.
"Makasih, Mas." Ucap Niken.
"Iya." Gio lalu menghubungi Rega untuk membelikan makanan untuk Niken dan memberitahukan Sila jika Niken sudah sadar. Tapi ia sebelumnya ia sudah bertanya pantangan makanan apa yang harus di hindari oleh Niken pada Dokter.
"Dok. Adakah pantangan makanan untuk istri saya makan?" Tanya Gio.
"Ada, Pak. Hanya perlu menghindari makanan yang berlemak dan pedas juga kalau bisa jangan memakan kuning telur meskipun di rebus juga harus di hindari untuk saat ini, karena bisa membuat luka operasi nya yang belum kering bisa membengkak." Begitu jawaban Dokter pada pertanyaan Gio.
"Baik, Dok." Ucap Gio.
"Baiklah, jika tak ada hal lain lagi saya permisi." Ucap Dokter berpamitan.
"Iya Dok." Ucap Gio
"Mas... Aku ingin bertemu dengan anak kita." Ucap Niken yang kini sudah memposisikan dirinya menjadi duduk.
"Tunggu, mas panggilkan mereka." Ucap Gio lalu memanggil orang tua dan mertuanya untuk masuk.
"Niken... Kamu sudah sadar nak. Bagaimana keadaan mu sekarang? Apa yang kamu rasakan?" Bu Meli memberi banyak pertanyaan untuk Niken.
"Aku sudah baik-baik saja bu. Jangan khawatir" Ucap Niken.
"Syukur lah... Ibu sangat menghawatirkan mu, Nak." Ucap Bu Meli.
"Ayah juga..." Ucap Pak Joko dan Pak Handoko bersamaan.
"Cie... Cie... Kompak sekarang." Ucap Niken.
Niken senang melihat mereka kompak menghawatirkan dia.
Pak Joko dan Pak Handoko hanya tersenyum.
"Itu malaikat kecil ku?" Tanya Niken jari telunjuk nya tertuju pada yang di gendong oleh Ibu Meli.
"Iya, Ini anak kamu." Ucap Bu Meli.
"Berikan pada ku, Bu. Aku ingin menggendong nya." Niken membuka kedua tangan nya ingin menggendong Junior.
"Ini, Nak. " Bu Meli memberikan Junior pada Niken.
"Anakku, kamu tampan sekali." Ucap Niken
"Jelas dong... 'Kan papanya juga tampan." Ucap Gio
"Niken memutar bola matanya malas.
" Pede sekali papa mu nak." Ucap Niken mengabaikan Gio tersenyum lebar nya.
"Mama... " Suara lucu Junior.
"Dia memanggil ku 'Mama', Mas." Ucap Niken tersenyum terharu mendengar ucapan anak nya.
"Iya sayang. Aku selalu membawanya kemari dan memberitahunya jika kamu mamanya. Dan itu membuat nya bisa mengenali mu." Ucap Gio ikut terharu.
__ADS_1
"Mas... Anak kita kamu beri nama siapa?" Tanya Niken.
"Junior Ken Ibrahim. Dan panggilannya Junior." Jawab Gio
"Namamu Junior, ya." Niken menciumi anaknya. Begitu bahagia hatinya mengalahkan sakitnya luka operasi yang di miliki nya.
Rega dan Sila datang Membawa pesanan makanan yang diinginkan Niken.
"Niken kamu sudah sadar?" Ucap Sila yang memasuki ruangan Niken.
"Kamu siapa?" Tanya Niken yang belum mengetahui tentang Sila.
"Aku kakak kandung mu Niken." Ucap Sila
Niken menatap suaminya yang berada di samping nya.
"Kakak kandung?" Niken bermonolog dan memberikan Junior pada Gio.
"Iya. Aku Sila, Orang tua kita sudah meninggal dunia, dan karena itu kita berpisah dan baru bisa bertemu kembali sekarang." Ucap Sila.
"Dia tak berbohong. Memang benar Sila adalah kakak kandung kamu. Karena dia memiliki pasangan cincin yang di miliki oleh Anda, Nyonya" Ucap Rega
"Cincin itu... Berarti kau benar kakak ku."
Sila mengangguk dan memeluk Niken, suasana di dalam rumah sakit itu menjadi haru.
Niken sama sekali tak menyangka ia akan di pertemukan dengan kakaknya setelah bangun dari komanya.
Hari berganti seiring berjalan nya waktu.
Sudah sebulan sejak Niken sadar dari komanya.
Keadaan yang tentram akhir-akhir ini, tiada yang sulit hari-hari Niken berlangsung. Apalagi dia juga sudah menemukan kakaknya, Sila kakak yang baik, seringkali ia mengunjungi Niken. Junior juga tumbuh dengan baik. Tiada masalah yang mendera,
Namun ketentraman itu hilang dikala ia dan Junior pergi ke supermarket bersama Bibi pelayan dan Bodyguardnya.
Awalnya mereka biasa-biasa saja seperti layaknya penjaga Niken dan pengasuh Junior. Tak ada kecurigaan pada kedua anak buah Niken itu.
Namun tanpa sepengetahuan Niken,Bibi pelayan itu memberikan obat pencahar pada minuman Niken. Yang membuat Niken sakit perut dan harus ke toilet, Di situlah awal Niken kehilangan anaknya setelah ia kembali dari toilet.
Di pusat perbelanjaan itu ada taman bermain. Niken menyempatkan diri mengajak Junior untuk berkunjung ke taman itu setelah sebelumnya ia menyuruh bodyguard nya membawa tas belanjaan nya ke mobil.
Setelah itu Niken membawa anaknya itu ke taman bermain mandi bola, Junior kegirangan bisa merangkak ke sana kemari sambil bermain bola-bola kecil yang berada didepan nya.
"Ayo ambil bolanya sayang.... " Niken mengajak anaknya bermain lempar bola plastik.
"Ma -ma - da - ta-ta" Suara imut Junior menjawab seruan ibunya.
Niken merasa haus lalu meminum air dalam botol yang ia bawa.
Saat sedang asyik menemani anaknya bermain Niken merasa ingin perutnya sakit ingin memenuhi panggilan alam, Ia menitipkan Junior pada Bibi pelayan.
"Bi... Perutku terasa tak nyaman. Aku mau ke toilet dulu. Tolong jaga Junior ya Bi." Pinta Niken pada Pelayannya untuk menjaga Junior selagi ia ke toilet.
"Baik, Nyonya." Ucap Pelayan itu mengangguk sekilas dan Niken segera berlalu ke toilet karena perutnya terasa sembelit.
"Perutku ini kenapa sih... Gak enak banget rasanya." Gumam Niken menuju toilet
30 menit kemudian Niken sudah menyelesaikan masalah perutnya.
"Ternyata aku ingin BAB. Tapi kenapa sakit sekali rasanya perutku tak seperti biasanya ya." Ucap Niken melangkah menuju tempat nya bermain tadi bersama anaknya
Suasana di dalam supermarket itu ramai sekali. Banyak pengunjung yang datang membuat Niken tak menemukan keberadaan Junior, Bibi dan bodyguard nya.
Ia kehilangan keberadaan mereka. 30 menit waktu yang lama untuk mendapatkan kesempatan membawa pergi anak Niken.
Saat mencarinya di taman mandi bola pun tak ada.
Niken semakin khawatir karena Bibi dan Bodyguard itu orang baru di rekrut oleh Ibu Meli kemarin.
"Tapi tak mungkin mereka berani menculik anak ku. Aku harus menghubungi Bibi Pelayan itu." Niken menerka lalu ia mencoba menghubungi pelayan itu dan alhasil ponsel bibi yang di hubungi nya sudah tidak aktif lagi.
"Oh Tuhan bagaimana ini... Junior kamu dimana, Nak? " Niken gelisah sekali.
"Bodohnya aku... Mengapa menitipkan Junior pada mereka... Apa yang harus ku lakukan sekarang?" Niken mengesah kebingungan.
__ADS_1
Niken berusaha bertanya pada orang-orang yang berada di supermarket itu. Namun mereka seperti tak peduli pada Niken.
"/Maaf, Bu. Apa ibu tadi lihat ada dua orang pria dan wanita membawa anak kecil, yang satu memakai baju baby sister dan yang satunya seperti seorang bodyguard." Tanya Niken pada wanita yang melintas didepan nya.
"Saya gak lihat mbak. Awas permisi saya mau lewat." Ucap wanita itu.
Niken menggeser tubuhnya sedikit agar wanita itu melewati nya.
Niken terus bertanya pada setiap orang yang lewat tapi tak ada jawaban yang pasti mereka semua tak melihat yang di maksud Niken.
Niken terduduk lemas di kursi ia tak tahu harus berbuat apa lagi, Dimana keberadaan mereka Lalu Niken akhirnya melaporkan hal itu pada keamanan supermarket bahwa anaknya hilang.
"Pak. Saya kehilangan anak saya saat saya sedang ke toilet." Ucap Niken
"Dengan siapa Anda titipkan anak anda, Nyonya?" Tanya petugas keamanan itu.
"Dengan baby sister saya, Pak. Seharusnya mereka masih ada disini, tapi dari tadi saya mencari keberadaan mereka tak ada pak. Tolong bantu saya mencarinya . Dia adalah anak satu-satunya yang saya miliki." Niken mengatakan nya dengan menangis.
Pihak keamanan membantu mencarinya. Keberadaan Junior belum juga ditemukan.
Niken sudah menghubungi Gio.
Namun suaminya itu tak kunjung datang.
Di kantor Gio.
Ponsel Gio bergetar saat rapat berlangsung.
Melihat yang menghubungi nya adalah istrinya ia segera merespon panggilan telpon itu, tanpa memperdulikan staf yang sedang menjelaskan proyek di perusahaan miliknya.
"Halo, Niken. Ada apa sayang?" Tanya Gio pada Istrinya yang menelpon.
"Mas ... Aku... Aku kehilangan Junior, Mas..." Tangis Niken pecah di seberang sana.
"Apa?" Gio membulatkan matanya tak percaya dengan kabar yang disampaikan Niken. Suara menggelegar Gio menghentikan staf disana yang sedang persentasi dokumen penting.
"Bagaimana bisa. Niken! Kamu ceroboh sekali" Gio memekik Niken yang tengah menangis di seberang sana.
"Maafkan aku, mas. Aku tak sengaja menitipkan Junior pada Bibi karena ingin ke toilet, setelah aku kembali mereka sudah tak ada di supermarket ini lagi." Ucap Niken ketakutan mendengar suaminya marah, sungguh hal yang kasar seperti dulu saat Gio membentak nya terulang lagi.
"Sudah... Kau tunggu aku di sana, Sekarang jangan menangis!" Bentak Gio lalu mengakhiri panggilannya sepihak.
Gio marah besar pada Niken, raut wajahnya kini berubah menjadi merah.
Ia lalu membubarkan rapat penting itu dan ingin segera menyusul Niken untuk mencari Junior.
"Rapat selesai, Aku ada keperluan penting." Seru Gio lalu meninggalkan kursi singgasana nya.
Mereka yang melihat wajah Gio yang sedang marah hanya mengikuti titah Gio untuk membubarkan rapat.
Tak ada yang tau apa yang terjadi, staf disana pun hanya bertanya dalam hati tak ingin menanyai bosnya yang sedang marah, dan tak ingin menyinggung bosnya hanya kebisuan yang sedang berjalan dengan lancar.
Di supermarket Niken masih gelisah, ditambah sikap suaminya yang berubah kasar mendengar Junior hilang.
Dia tak menyalahkan Gio bersikap begitu. Ini memang kecerobohannya yang tak bisa menjaga Junior dengan baik.
Niken menunggu Gio di parkiran mobil.
Cemas, gelisah dan menyesal. Itu yang ada di pikiran Niken.
Salah seorang memberitahu Niken jika Ia melihat seorang yang di carinya. Bodyguard dan Bibi pelayan itu menaiki mobil pribadi yang menjemput mereka di persimpangan jalan depan supermarket Niken berbelanja.
Saat itu Gio sudah sampai dan juga ikut mendengar ucapan seseorang itu.
Ia juga memberikan plat nomor mobil yang mereka gunakan.
"Bu. Seperti nya saya melihat dua orang yang anda maksud bersama anak kecil 'kan?." Ucap seseorang itu.
"Iya, benar pak. Dimana anda melihat mereka?" Tanya Niken
"Mereka Itu sangat menarik perhatian saya, karena anak yang mereka bawa menangis sangat kencang. Sampai saya memfoto nomor plat mobil yang mereka gunakan." Ucapnya memperlihatkan foto yang ada di ponsel nya.
Gio melihat foto itu, anaknya di bawa oleh Bibi pelayan dan Bodyguard dan membawa kedalam mobil mereka.
...Itu adalah titik terang nya ada petunjuk mencari keberadaan Junior ...
__ADS_1
...*****...