Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Iri


__ADS_3

Keesokan harinya,


Rega sudah bersiap untuk menjemput Sila di rumah nya. Kemeja berwarna green earth yang dikenakannya dipadukan dengan celana jins berwarna hitam dan jam tangan yang melingkar di lengannya menambah kesan gagahnya.


Ini adalah pertama baginya berkencan dengan seorang wanita yang sangat dicintainya.


Gugup sudah pasti yang saat ini ia rasakan.


"Aku sudah terlihat tampan belum, ya." Rega berkaca dengan memegang janggutnya yang mulai tumbuh beberapa helai rambut lembut menghiasi wajahnya terkesan seksoy menengok ke kanan dan kekiri memastikan wajah nya sudah siap untuk menemui Sila.


Rega menjemput Sila menggunakan mobil yang di berikan oleh Gio sebelum nya. Hadiah atas kinerjanya yang bagus di perusahaannya. Karena sudah membereskan sejumlah masalah yang menyangkut keluarga Kuncoro. Perusahaan GH kini sudah tutup. Pak Kuncoro bangkrut dan ia harus bertanggung jawab atas perbuatan nya menjadi tahanan polisi akibat penggelapan dana yang di lakukannya.


Rega sampai di rumah Sila. Sedangkan gadis-nya sudah berada di teras rumah menunggu kedatangan pujaan hatinya.


Rega turun dari mobil dan menghampirinya. Sila tersipu perlakuan Rega sangat romantis.


"Kamu cantik," Ucap Rega memuji kecantikan alami Sila yang hanya sedikit memoles wajah-nya dengan make up yang kini sudah menggandeng lengannya.


"Terimakasih, Mas. Atas pujiannya." Ucap Sila malu-malu.


Mereka menuju ke tempat yang sudah di janjikan kemarin. Taman yang indah dekorasi outdoor yang romantis dengan hidangan yang mewahnya.


Sila sangat terkejut dan bahagia melihat tempat yang di persiapkan Rega dan dia untuk dinner.


Rega mempersiapkan semua itu dengan Gio dan Niken membantunya.


Rega menarik kursi untuk Sila duduk.


Mereka berdua duduk saling berhadapan.


Setelah nya Rega memegang jemari Sila. Lalu mengungkapkan perasaan nya pada Sila.


"Sila... Aku mencintaimu. Apakah kau juga mencintaiku?" Ucap Rega gugup namun bisa di atasinya dan menanyakan perasaan Sila pada nya.


Sila tersenyum malu menjawab Rega dan hanya mengangguk.


"Kalau begitu, Will you marry me?" Rega langsung menyodorkan sebuah kotak kecil berisi cincin untuk Sila dan berlutut di hadapan wanita nya.


"Ayo Terima saja, kak!" Teriak Niken dari kejauhan yang merasa senang kakaknya akhirnya ada yang menyunting.


Gio hanya mengangguk setuju teriakan Niken pada Sila.


Sila menoleh kearah Niken dan mengangguk.


"Ya, Aku mau mas." Ucap Sila


Rega lalu memasangkan Cincin di jari manis Sila dan melanjutkan dengan menikmati hidangan yang sudah ada di meja.

__ADS_1


Niken menyender pada Gio dengan menggendong Junior yang sudah tertidur.


"Mereka romantis, ya Mas." Ucap Niken


"Kamu iri pada kakakmu?" Tanya Gio


"Iya." Niken menoleh pada Gio.


"Kapan-kapan aku akan berikan kejutan untuk mu, ya." Gio mengecup kening Niken dan memeluknya.


"Oh ya, Mas... Kalau Kak Sila menikah dengan Rega, Berarti kamu manggil dia kakak dong?"


"Ha... Iya juga. Tapi aku gak mau manggil Rega, kakak. Meskipun dia sudah menikah dengan kakak mu." Ucap Gio


"Ih... aneh kamu itu, Mas. Kok gitu sih..."


"Biar saja." Ucap Gio lalu duduk di bangku yang disediakan di taman. Mereka berdua masih berdebat soal Gio harus memanggil Rega dengan sebutan kakak.


Sedangkan saat ini Rendra sangat terpukul mengetahui bahwa ayahnya melakukan semua hal kotor itu, kini nyali untuk mendekati Niken sudah tak ada. Ia tak bisa melanjutkan kuliah lagi karena orang tuanya sudah bangkrut.


Di taman malam hari, Rendra duduk sendirian di sana ia memandangi langit malam yang penuh dengan gemerlap bintang,


Di taman itu masih ramai pedagang yang sedang mengais rezeki dan pengunjung yang menikmati keindahan sama seperti Rendra.


Hatinya yang gundah sedikit terobati, Namun tak di sangka wanita yang bernama Sisi itu kembali mengusik ketenangannya. Sisi menghampiri Rendra yang tengah duduk di bangku sendirian.


Rendra mengamatinya gadis itu dan mengacuhkannya.


"Kamu lagi" Ujar Rendra memutar bola matanya malas melihat Sisi yang menegur nya.


"Kamu ngapain sendirian disini?" Tanya Sisi lalu duduk di samping Rendra.


Rendra menyincingkan kedua matanya gadis itu duduk di dekatnya.


"Bukan urusanmu." Ucap Rendra menjawab dengan nada sebal


"Sewot amat sih!" Ucap Sisi juga sebal. 'Tapi walaupun sewot tetep ganteng kok.'Batin Sisi tersenyum sendiri melihat wajah Rendra.


Rendra menyadari gadis yang di samping menatapnya dengan senyum-senyum sendiri menjadi merinding jika melihatnya.


"Gadis aneh!" Ucap Rendra lirih


"Biarin!" Ucap Sisi melipat kedua tangan nya di dada di bilang aneh oleh Rendra. Dan menyender ke bangku kembali menghadap ke depan


Lalu Sisi seperti melihat Rega bersama seorang wanita sedang makan malam di taman tak jauh dari tempat nya duduk.


"Ren... Ren... Itu bukannya Pak Rega,ya?" Sisi menoel lengan Rendra, pria itu merasa risih dengan sikap Sisi itu.

__ADS_1


"Apaan sih... Gak tau gue! Rega itu siapa?" Sikap Rendra acuh tak acuh pada Sisi


"Itu lo... Asisten Tuan Gio. Lihat... Dia sedang bersama dengan Bu Sila. Kakak kandung nyonya Niken" Ucap Sisi


Rendra melihat ke arah Rega dan Sila. Di sana ia melihat sosok yang telah menyebabkan orang tuanya bangkrut dan di tahan polisi.


Ia mengingat waktu itu.


Flashback on


Kejadian di perusahaan GH. Dikantor Pak Kuncoro.


"Pak Kuncoro maaf sebelum nya dengan sangat berat hati semua aset bapak akan kami sita karena anda sudah berani mempergunakan kepercayaan perusahaan SB. Dengan mengalahkan gunakan nama Bos kami untuk mendapatkan uang. Itu sudah sangat merugikan bos kami." Ucap Rega dengan tegas.


"Tapi, Pak Rega. Berikan saya kesempatan sekali lagi, saya pasti tidak akan kembali melakukan kesalahan itu. Saya mohon jangan sita aset saya!" Pak Kuncoro memohon pada Rega sambil berlutut.


"Tidak bisa! Kelakuan anda sudah lama kami perhatikan dan sudah kami selidiki jika anda memang sudah lama melakukan kecurangan itu! Jadi tolong kooperatif lah untuk mempermudah hukum yang berjalan untuk anda." Rega


"Cepat bawa pak Kuncoro ke kantor polisi untuk di adili!" Titah Rega pada petugas yang Gio utus untuk menangkap Pak Kuncoro.


Kedua petugas itu membawa pak Kuncoro dengan di seret karena Ia terus memberontak tak mau di tangkap.


"Ayo cepat berdiri!" salah satu petugas itu membentak Kuncoro.


Mereka melakukan perintah Rega, Semua itu di lihat oleh Rendra. Ia geram melihat orang tuanya di perlakukan kasar dengan petugas yang menangkap Ayah-nya.


"Hentikan!!! Jangan menyakiti Ayah-ku!" Teriak Rendra lalu menghentikan pergerakan mereka.


"Rendra! Kenapa kamu disini, Nak?" Tanya pak Kuncoro pada anak nya yang membantunya berdiri.


"Aku yang seharusnya bertanya pada Ayah! Kenapa Ayah bisa melakukan kesalahan yang begitu fatal? Pernahkah Ayah memikirkan ibu, jika melakukannya, Kesalahan itu?" Rendra bertanya dan kecewa pada Ayah-nya.


"Maafkan, Ayah nak." Pak Kuncoro menunduk dan menyesali perbuatannya.


Pak Kuncoro lalu di bawa petugas kepolisian untuk di adili atas perbuatan-nya.


Rendra tak bisa berbuat apa-apa untuk ayahnya. Hanya bisa melihatnya pergi.


Flashback off


Rendra berdiri dan akan mendekati dua sejoli yang sedang kasmaran itu.


"Ren... Kamu mau kemana??" Seru Sisi namun di abaikan oleh Rendra, Lalu ia mengikuti Rendra dengan langkah cepat. Karena sudah berada jauh didepannya.


Rendra berdiri di hadapan Rega dan Sila


"Wah... Sepertinya hidupmu sangat bahagia sekarang!" ucap Rendra dengan nada sedikit menekankan setiap kata.

__ADS_1


...------...


__ADS_2