Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Hasrat


__ADS_3

Gio menarik lengan Niken membawanya ke dalam rumah di ruang tamu Niken mengesah kesakitan.


"Aduh... Sakit Mas, jangan tarik-tarik aku, aku ini sedang hamil anak kamu! " Niken kesakitan karena cengkeraman erat Gio. Gio tersadar istrinya tengah hamil malah diperlakukan kasar olehnya.


"Maafkan aku, Niken. Aku sedang kesal pada mu. Bisa-bisa nya kamu ketemuan dengan anak ingusan itu.Hah" Nada bicara Gio mulai merendah yang tadinya hampir 10 oktaf yang menuduh Niken ketemuan dengan Rendra.


"Siapa yang ketemuan sih mas? Tadi tuh aku gak sengaja ketemu sama dia" Niken menampik tuduhan Gio.


"Lalu siapa yang mengijinkan mu keluar dari rumah, bukankah harus nya kamu di rumah saja, apa kamu tak tau kalau ada bahaya yang mengancam keselamatan mu Niken." Gio membentak Niken membuatnya menjadi menangis.


Hiks hiks


Gio jengah melihat wanita menangis, membuat emosinya naik tapi dapat di tahan olehnya.


"Kenapa harus nangis sih. Aku ini sedang khawatir pada mu Niken." Ucap nya melembut


Niken mengusap air mata nya yang menetes karena takut melihat kemarahan Gio.


"Aku tadi keluar ingin makan seblak yang lewat depan rumah Mas. Tapi inginnya makan di luar gerbang, aku tau aku salah. Tapi ini bukan keinginan ku sendiri, aku sedang ngidam mas."


"Ngidam? Apa itu ngidam Niken, mas gak ngerti." Seorang pria seperti Gio tak paham dengan wanita hamil apalagi ngidam.


"Ngidam itu keinginan bayi dalam kandungan yang harus di salurkan lewat ibunya, kalau keinginan nya tak terpenuhi nanti kalau lahir anaknya ngeces, mas mau punya anak ngeces gitu."


Gio menautkan kedua alisnya. Ia sedikitpun tak mengerti ucapan Niken menurut nya mitos.


"Jaman modern begini kamu masih percaya mitos saja."


"Ini beneran mas. Ya sudah kalau tak percaya aku mau ke kamar saja. Heh... mas nyebelin!" Sungut Niken yang kesal suaminya malah ucapannya di bilang mitos.


Ibu Meli yang baru pulang dari kegiatan sosialita nya menegur anak dan menantu nya.


"Kalian sedang apa disini, kenapa Niken menangis? Kau apakan dia Gio!" Ibu mencerca pertanyaan pada Gio.


"Hem... Bu. Tadi Niken ngidam seblak katanya, dan dia keluar gerbang apa aku gak boleh khawatir, sementara penjahat yang mengincarnya belum tertangkap." Ucap Gio pada ibunya.

__ADS_1


"Bukan hanya itu Bu, Mas Gio juga menuduh ku ketemuan sama pria lain, dan dibilang ngidam ku ini mitos kalo gak dituruti nanti 'kan anaknya bisa ngeces, dia gak percaya omongan ku bu." Niken merengek mengadu pada mertuanya, ia tau mertuanya sangat menyayangi Niken. Menantu satu-satunya di keluarga pak Handoko.


Ibu Meli melotot pada Gio,


"Bukannya nurutin malah bilang mitos. Kamu ini gak tau ya orang hamil itu butuh perhatian, bukan malah kamu bikin nangis begini." Ibu Meli membela menantu kesayangan nya.


"Ah... Wanita ribet sekali hidup nya." Gio mengesah sebal.


"Ayo minta maaf sama Niken, orang hamil jangan di buat stres Gio, kamu 'kan tau sendiri kalo Niken ini kehamilannya istimewa, cepat minta maaf sama Niken, kasian menantu ibu ini malah di marahin sama suaminya. Cup cup cup" Ibu Meli mengusap lembut punggung Niken yang sedari tadi memeluknya.


Gio memutar bola matanya malas menanggapi ibunya dan juga istrinya sebenarnya ia masih sebal dengan pertemuan Niken dengan Rendra tadi, tapi ia juga merasa senang dengan kedekatan Niken pada ibunya sudah seperti ibu dan anak.


"Ya oke lah. Maafin mas ya Niken, tapi kamu juga harus minta maaf pada ku karena sudah buat aku khawatir." Ucap Gio


"Iya mas, aku juga minta maaf habis mas cemburuan sih, marah gak jelas lagi sama temen aku, dia 'kan cuman.... "


"Udah stop! jangan bahas anak ingusan itu lagi, bikin kesel aja denger nya." Ucap Gio memberhentikan Niken bicara.


"Hem... kalian 'kan udah baikan nih, ibu mau istirahat di kamar" Ucap ibu Meli lalu beranjak ke kamar.


Mereka berdua menuju kamar, Niken ingin mandi sedangkan Gio menelpon seseorang ketika Niken mandi.


Dunia 📞


"Sebaiknya kau urus anak mu dengan baik, jangan sampai aku melihat nya menemui istri ku lagi, jika itu terjadi lagi. Aku tutup semua koneksi untuk mu, ingat itu pak Kuncoro yang terhormat."


"Baik, Pak Gio. Maaf atas kelancangan anak saya, sebentar lagi Rendra akan saya kirim ke luar Negeri untuk kuliah disana."


"Hem... bagus, kirim sana yang jauh, jangan sukanya mengganggu istri orang." Ucap nya lalu memutuskan sepihak panggilan itu sebelum Pak Kuncoro menjawab titah Gio.


tut


...----------------...


Di rumah pak Kuncoro marah besar pada anaknya itu.

__ADS_1


"Dasar anak tak tau di untung, beraninya menyinggung keluarga pak Handoko. Kamu cari mati ya." Rendra hanya menunduk mendengar celotehan ayahnya.


Istri pak Kuncoro ibunya Rendra bernama Bu Ria ikut menasehati anaknya yang sudah menyinggung keluarga Pak Handoko.


"Aku tau aku salah Pa. Tapi kenapa papa bisa setakut itu dengan keluarga pak Handoko? "


"Masih berani bertanya lagi, keluarga itu adalah pemenang saham terbanyak di perusahaan kita, harusnya kamu tau itu.! " Pak Kuncoro geram dengan sikap Rendra yang acuh pada peringatan nya dan menanyakan hal yang membuatnya tambah kesal.


"Lalu mau papa apa sekarang, aku harus apa?" Rendra sudah pasrah dengan keputusan ayahnya.


"Besok kamu berangkat keluar negri, melanjutkan kuliah disana. Mengerti kamu!" Titah pak Kuncoro pada anaknya. Rendra menurut dan membereskan pakaiannya untuk dibawa ke bandara besok.


"Uh.. menyebalkan sekali Gionino itu, gara-gara dia aku harus pergi dari rumah ku sendiri." Gumam Rendra merapikan koper berisi pakaian nya.


...----------------...


Sehabis mandi Niken menyuruh suaminya juga mandi yang tengah bermain ponsel.


"Cepat mandi mas, udah sore." Niken mendekati suaminya dengan masih mengenakan jubah mandi. Gio mendongak ke Niken yang tengah berdiri di depan nya. Melihat Niken hanya menggunakan jubah mandi Gio menelan salivanya susah. "Sudah lama si joni gak dapet jatah " Ucap Gio membisikan pada telinga Niken dan istrinya itu kegelian.


"Tapi mas, aku kan sedang hamil muda mana boleh melakukan itu" Niken menautkan kedua jari telunjuk nya.


"Aku akan pelan-pelan kok sayang." Gio mulai menggerayangi tubuh Niken yang polos. Kini jubah mandi itu sudah terlepas dari tubuh Niken.


Gio memompa tubuh Niken dari belakang, ia melakukannya dengan pelan takut bila janin diperut Niken terganggu jika ia melakukan dengan cepat.


Mereka melakukan nya hampir satu jam, Niken mulai merasa lelah. Ia ingin Gio segera menyelesaikan hasrat nya.


"Ah... Mas aku lemes nih. Cepat udahan ya." Niken merasa lemas kakinya.


"Iya, sebentar lagi ya sayang. Ini juga mas lagi berusaha." Gio terus memompa Niken dan akhirnya Gio melaksanakan pelepasannya.


"Ah... lega." Ucap Gio merasa puas


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2