
Belum selesai mereka makan Niken merasakan mual di perut nya.
"Mas aku ingin muntah. hoek hoek.... " Ia menahan rasa mual nya hingga ke toilet rumah sakit, Gio mengikuti Niken ke toilet merasa khawatir, menekan-nekan pelan punggung Niken yang wajahnya menghadap ke wastafel.
"Niken, Ada apa sama kamu, kenapa muntah-muntah begitu." Gio tak merasakan jijik melihatnya muntah.
"Gak tau Mas. Aku merasa perut ku gak enak," Ia memuntahkan semua isi perut nya
"Kita periksa ke dokter saja ya." Ajak Gio.
"Iya, Mas." Niken menurut ucapan suaminya.
"Biar mas gendong, ya." Gio menawarkan untuk menggendong Niken yang terlihat lemas.
"Gak usah Mas Aku masih kuat kok, lagian malu jika dilihat orang lain sebaiknya aku jalan saja."
"Baiklah... Jika itu maumu, tapi tetap ku papah ya" Niken mengangguk.
Mereka ke ruang pemeriksaan untuk memeriksa kondisi Niken. Didalam ruangan itu Nella berbaring di ranjang. Dokter tersenyum setelah memeriksa keadaan Niken, mungkinkah kabar bahagia akan di sampaikan nya.
"Bu Niken ini tak apa-apa, Pak Gio. Hanya...." Belum selesai berbicara sudah di potong oleh Gio, tak sabar, jelas-jelas istrinya itu sedang sakit malah di bilang dokter tak apa-apa. Menyulut kemarahan nya.
"Bagaimana tak apa-apa, Dok. Jelas-jelas istri ku muntah-muntah kok bisa di bilang tak apa-apa oleh mu Dok! Sebenarnya kamu bisa gak memeriksa pasien." Gio memaki Dokter yang memeriksa Niken.
"Dengar kan saya dulu bicara, Pak. Jangan marah-marah dulu." Ucap Dokter menenangkan Gio yang tersulut amarah.
"Iya, dengar kan Dokter bicara dulu mas, jangan langsung marah-marah." Niken ikut menasehati suaminya.
"Tapi.... " Akan membantah
__ADS_1
"Mas...." Niken memegang lengan Gio yang berada di samping nya. Gio menuruti Niken, ia diam mendengarkan penjelasan dokter sampai selesai.
"Begini , Pak Bu. Ibu Niken ini sedang hamil, mual adalah fase pertama menginjak kandungan usia awal trimester pertama. Jadi tak perlu khawatir, nanti saya akan memberikan resep obat mual." Melihat bergantian ke arah sepasang suami-istri itu.
Gio masih belum menyadari kabar itu adalah kabar bahagia, sedangkan Niken sudah mengerti maksud dokter.
"Ha... Jadi istri ku hamil!" Gio terkejut setelah menyadari kondisi istrinya yang tengah hamil. Ia tak percaya jika Niken hamil, ada raut wajah Gio penuh kekhawatiran
"Kenapa kaget mas mendengar kabar bahagia ini. Apa kau tak senang dengan kabar ini, Mas.... " Niken bingung dengan sikap Gio yang mengetahui dirinya hamil malah menunjukkan muka sedihnya. Bukankah setiap pernikahan menginginkan buah hati yang hadir, tapi Gio sama sekali tak menunjukkan kebahagiaan dengan kehamilan istrinya sekarang.
"Bukan begitu, Niken. Aku takut jika kau hamil kesehatan mu akan terpengaruh." Gio mengingat ucapan Dokter pribadinya yang mengingatkan untuk Niken tak boleh mengandung, karena kondisi psikisnya akan mempengaruhi janin dalam perutnya terlebih lagi kondisi Niken bisa saja sewaktu-waktu akan kambuh penyakitnya.
"Maksud Mas bicara begitu apa, Aku ini sehat Mas, dan aku baik-baik saja sekarang." Niken kesal dengan ucapan Gio, Ia sama sekali tak mengerti kekhawatiran Gio.
"Ya, Mas tahu. Kalau begitu Mas bicara dulu sama Dokter ya, kamu istirahat dulu disini." Gio mengelus puncak kepala Niken lembut agar Niken tak kesal padanya, Niken hanya mengangguk.
Gio berbicara pada Dokter yang memeriksa Niken di Koridor rumah sakit agar Niken tak mendengar perbincangan mereka yang takut nya akan menyinggung perasaan wanitanya, Ia menjelaskan semua penyakit Istrinya itu, Dokter mendengarkan dengan seksama. Sesekali mengangguk mengerti akan kondisi yang terjadi.
"Ya, Saya bisa mengerti kekhawatiran Bapak pada istri anda, kondisi penyakit Bu Niken memang seharusnya sulit untuk hamil, tapi sebenarnya yang di ucapkan Dokter pribadi anda itu tak sepenuhnya benar, Jika Bu Niken bisa melalui semua ini dengan pikiran yang stabil, maka janin juga tak akan terpengaruh." Gio sedikit lega mendengar penuturan dokter tentang istrinya. Kedua telinga Niken mendengar semua perbincangan mereka, hati kecilnya merasa sakit, bukan karena mereka membahas tentang nya, tapi karena takdir hidupnya mengapa seperti ini. Ia bertekad dalam hati untuk mempertahankan janin yang ada di dalam perutnya sekarang. Niken berjalan mendekat ke arah suami dan dokter yang memeriksanya.
"Aku bisa kok, Mas. Aku mau mempertahankan janin ini, Aku juga akan baik-baik saja begitu pun dengan anak kita, Mas." Gio menatap wajah sayu Niken, ada tekad bulat yang tergambar diraut wajahnya.
"Niken, Mas tau. Mas juga gak bakal tega melukaimu dan anak kita." Gio mengelus lembut perut Niken yang masih rata. Dokter melihat mereka yang saling menguatkan pun tersenyum.
"Baiklah, Pak Buk. Keputusan sudah di ambil janin dalam kandungan bu Niken akan dipertahankan. Nanti saya akan beri resep obat mual. Jadi nanti ibu bisa meminumnya untuk mengurangi rasa mual diperut." Ucap Dokter lalu kembali ke ruangannya dan menulis resep obat untuk Niken.
"Iya, Terima kasih dok." Ucap Niken menyunggingkan bibir tersenyum.
...----------------...
__ADS_1
Dion mengatakan bahwa bibi pelayan sudah sadar, dan karena itu Gio memutuskan untuk pulang. Dan menyuruh Rega untuk menjaga nya di sana. Sedangkan pak Joko menyetir untuk mengantarkan tuan dan Nyonya nya pulang.
Di dalam mobil Niken baru beberapa menit mobil melaju ia sudah tertidur.
Gio mengelus pipi Niken yang imut saat tidur.
"Sayang... Maafkan aku membuat mu mengalami hal ini. Aku yang bodoh tak bisa menjaga mu dengan baik." Ucap Gio.
Namun saat dalam perjalanan di belakang mobil Gio merasa ada yang mengikuti. Mobil silver yang membuntuti dari rumah sakit
"Pak Joko. Sepertinya mobil itu membuntuti kita dari rumah sakit tadi?" Ucap Gio pada supirnya.
"Benar, Tuan. Saya jalan pelan dia juga pelan, saya sedikit melaju dia juga mengikuti. Saya jadi ngeri Bos, keinget kejadian yang menimpa bibi tadi." Ucap Pak Ujang menggidik merinding.
"Hem... Kita ke rumah ayah saja, Pak. Aku akan menitipkan Niken disana penjagaan nya sangat ketat. Dan Saya juga harus cepat menemukan pelaku penusukan itu." Titah Gio pada supirnya.
"Baik, Tuan. Kita ke rumah Tuan besar." Pak Joko menginjak gas dan melaju ke kediaman pak Handoko.
15 Menit kemudian sampai pintu gerbang rumah pak Handoko, orang yang membuntuti mereka pun sudah tertinggal jauh. Mungkin di urungkan niatnya untuk mencelakai Gio ataupun Niken, karena rumah pak Handoko banyak bodyguard yang menjaga.
Pak Handoko menyambut kedatangan Gio dengan menggendong Niken yang masih tertidur.
"Gio... Kamu dan Niken...." Ucap Pak Handoko terhenti kala anak semata wayang nya mendesis
"Ssssttt... Dia sedang lelah, Yah. Aku akan membawanya ke kamar." Pak Handoko mengangguk paham.
Setelah Gio merebahkan tubuh Niken ke salah satu kamar di rumah orang tuanya yang dulu ia tempati sebelum menikah dengan Niken. Gio menyelimuti Niken, Istrinya itu sama sekali tak bangun.
"Benar-benar lelah sekali istri ku." Gumam Gio.
__ADS_1
Ia lalu menuju ruang keluarga orang tuanya sudah menunggu penjelasan Gio perihal yang menimpanya dan juga istrinya.
...----------------...