Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Rasa Peduli yang dalam


__ADS_3

Ibu Mia biasa saja mendengar anaknya diteror seperti tak peduli ataupun khawatir.


"Iya, Pak. Bahkan peneror itu berani sampai menusuk bibi pelayan rumah Gio." Ucap Bu Meli


Terlihat sekali wajah pak Joko yang khawatir dan cemas mendengar putrinya di teror. Ia mengelus puncak rambut Niken dengan lembut.


"Kenapa kau tak mengabari ayah jika ada hal seperti ini, kau pasti kesulitan menjalani hari-hari mu, Nak. Sekarang bagaimana perasaan mu apakah masih ada rasa takut?" Pak Joko terus mengalirkan perhatian pada Niken sedangkan Bu Mia hanya acuh membuat Gio dan orang tuanya saling melirik. Mereka membaca pikiran masing-masing. Gio hanya menggeleng kepala tak mengerti maksud isyarat orang tuanya.


"Aku baik-baik saja sekarang , Ayah. Memang sekarang masih sedikit takut tapi Mas Gio dan orang tuanya selalu menjaga ku jadi ayah tak perlu khawatir pada ku. Aku justru kasihan pada bibi pelayan yang terkena tusukan." Ucap Niken lalu tersenyum, ia bahagia ayah nya masih peduli terhadap nya meskipun ibunya berbanding terbalik dengan ayahnya, dan Niken murung jika teringat kejadian yang menimpa bibi Pelayan nya meninggalkan rasa trauma di hatinya.


"Maka dari itu saya membawa Niken kemari supaya orang tua saya juga ikut menjaga Niken , karena penjagaan disini lebih ketat dibandingkan rumah ku yang dulu. " Ucap Gionino pada mertuanya.


"Iya saya mengerti ucapan Nak Gio, terimakasih sudah menjaga Niken dengan baik, saya bersyukur sekali kalian baik pada anak saya yang kini menjadi menantu kalian." Ucap Pak Joko lalu tersenyum.


"Itu bukan masalah Niken, kita semua adalah keluarga dan teror itu tak hanya ditujukan pada Niken tapi juga seluruh keluarga Handoko. Jadi kita harus saling menjaga. Terlebih lagi Niken sedang mengandung pewaris tunggal Gionino Ibrahim." Ucap Gio memancing sikap Bu Mia akan seperti apa jika anak yang dibencinya tengah hamil.


Sontak ibu Mia kaget mendengar kabar kehamilan Niken. Bu Mia bagai terpijak bara hangat Ia menjadi gelisah dan dipenuhi rasa benci. Gio melihat kebencian mertuanya itu merasa sudah mendapatkan ikan besar hasil umpan nya yang tepat.


Pak Joko terlihat senang anaknya kini tengah hamil anak pertama. Ia melihat kearah Niken dan mengucapkan selamat atas kehamilan nya.


"Selamat ya Nak kau sudah hamil, jaga kesehatan dan kandungan mu ya. Jangan sampai kelelahan." Ucap pak Joko menasehati Niken.


"Iya, Ayah. Aku akan ingat pesan ayah." Ucap Niken.


Pak Joko melihat istrinya yang semakin menujukan sikap aslinya Ia lalu mengajak nya pamit pulang pada besannya. Dengan enggan Bu Mia menuruti kemauan suaminya untuk pulang, sebenernya Ia masih ingin berlama-lama disana ingin melihat perkembangan Gio dan Niken setelah mendapat teror itu, bukannya berita buruk yang datang tapi malah keharmonisan yang di tunjukkan di hadapan nya.


Setelah kedua besannya pulang pak Handoko kembali merebahkan diri di sofa. Sedangkan Niken juga Gio mengantar orang tua Niken hingga pintu gerbang.

__ADS_1


"Ayah, Kamu lihat sikap Bu Mia terhadap Niken tidak, Aku merasa kasihan pada menantu kesayangan ku itu." Ucap Bu Meli yang mengasihani Niken.


"Benar Bu. Kenapa dia sangat membenci Niken apa lagi saat tau Niken hamil malah seperti tak suka mendengar anaknya bahagia ya 'kan." Ucap Pak Handoko yang juga setuju dengan ucapan Bu Meli.


"Bodoh sekali Bu Mia membandingkan Niken dengan Adelia, jelas-jelas Niken anak yang baik sedangkan Adelia jauh dibawah Niken." Bu Meli yang geram bila ingat ucapan Bu Mia yang membandingkan Niken dengan Adelia. Apa pantas seorang ibu membandingkan anaknya sendiri.


drett drett


ponsel Pak Handoko bergetar, Rega asisten Gio menelpon, ia mengabarkan bahwa Bibi pelayan meninggal dunia akibat pendarahan pada luka tusukan yang belum kering.


Dunia 📞


"Halo, Tuan Besar. Ini Rega asisten tuan Gio." Ucap Rega di seberang sana.


"Iya ini saya, Rega ada apa?" Tanya Pak Handoko.


"Astaga, Baiklah akan aku sampaikan berita ini pada Gio dan Niken." Lalu Pak Handoko dan Rega memutuskan panggilannya yang menurut nya sudah selesai menyampaikan kabar itu.


"Siapa yang menelpon, yah?" Tanya Bu Meli penasaran yang menelpon suaminya itu dan membuat wajah Pak Handoko berubah terkejut.


"Ini Rega Bu, Asisten nya Gio. Dia bilang Bibi pelayan sudah meninggal dunia baru saja." Jawab Pak Handoko dengan kekhawatiran menyampaikan pesan itu nantinya pada Niken. Ibu Meli menutup mulutnya kaget mendengar berita itu.


"Ah... Meninggal! Niken pasti sedih sekali mendengar berita ini, yah." Ucap Bu Meli


"Tapi kenyataan ini harus kita sampaikan pada Niken, bagaimanapun dia juga harus tau berita ini." Ibu Meli mengangguk dan pasrah dengan keadaan nantinya jika Niken sedih ia akan berusaha menghibur nya.


Setelah mengantar orang tua Niken ke pintu gerbang, Gio dan Niken masuk kembali ke rumah dengan bergandengan tangan. Di sana ayah dan ibu Gio sudah menunggu mereka.

__ADS_1


"Niken, Ayah dan ibu ingin bicara pada mu. Kau dan Gio duduklah dulu." Ucap Pak Handoko serius


Niken dan Gio menurut dan duduk di sofa kembali.


"Ayah mau bicara apa pada kami?" Tanya Gio penasaran dengan apa yang akan dibicarakan ayahnya itu karena terlihat serius sekali.


Pak Handoko menarik nafas panjang dan menghembuskan nya pelan.


"Begini, ayah ingin mengatakan yang sebenarnya pada kalian berdua tentang Bibi Pelayan." Ucap Pak Handoko membuat Niken menjadi cemas, ia takut bila terjadi sesuatu pada Bibi Pelayan nya.


"Memang nya ada apa dengan Bibi pelayan, yah?" Tanya Niken penasaran.


"Dia meninggal dunia di rumah sakit barusan Ayah di kabari oleh Rega asisten mu itu saat kamu mengantarkan mertuamu pulang tadi. Dia menghubungi ponsel mu tapi tak bisa lalu menghubungi ayah."


Seketika Niken lemas mendengar berita itu. Ia menangis dengan melungkup kedua pipinya yang basah. Gio mengelus lembut punggung istrinya yang tergugu menangis sampai terisak.


"Bagaimana mungkin Bibi bisa meninggal, bukankah kemarin sudah melewati masa kritisnya, lalu kenapa bisa meninggal, kau bilang Dion itu dokter terbaik tapi kenapa tak bisa menyembuhkan Bibi pelayan, malah sekarang sudah meninggal." Ucap Niken tersedu-sedu.


Gio bingung harus berbuat apa, Ia juga tak tau umur pelayan nya itu begitu pendek.


"Namanya umur manusia tiada yang tau, Niken. Dion hanya manusia biasa bukan Tuhan yang bisa menghidupkan orang mati." Ucapan Gio malah membuat Niken semakin kencang menangis.


Ibu yang melihat anaknya itu tak bisa merangkai kata untuk memenangkan orang lalu menyuruh Gio menyingkir dan ibu Meli kini duduk di samping Niken.


"Niken, sudah jangan bersedih kita do'akan Bibi pelayan supaya tenang di sana. Kamu boleh menangisi kematian nya, tapi jangan meratapi ya nak." Ucap Bu Meli menasehati dengan lembut.


"Sebaiknya kita kerumah sakit sekarang ya,Bu. Aku ingin melihat Bibi untuk terakhir kalinya." Pinta Niken pada Mertuanya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2