
Pagi itu Niken sedang sarapan sendirian di ruang makan. Gio belum pulang dari dinas nya keluar kota. Karena tak ada lagi orang lain di rumah Gio, hanya ada pelayan dan supir di rumah itu. Niken sering berbincang dengan mereka.
"Bi. Mas Gio bilang hari ini ia pulang, ya." Ucap nya sembari melahap roti isi selai.
"Iya, Nyonya. Kami juga di beritahu oleh, Tuan." Ucap Bibi pelayan.
Niken teringat kaca rumah yang pecah semalam apakah sudah diperbaiki. Lalu ia menanyakannya pada pelayan.
"Oya, Bi. Kaca yang pecah semalam apa sudah diperbaiki?"
"Sudah, Nyonya. Saat Nyonya masih dilantai atas kamar, tukang itu sudah memperbaiki dengan cepat Dan rapi, tadi pagi"
"Tapi aku sama sekali tak mendengar ada suara perbaikan di rumah ini."
Bibi pelayan hanya tersenyum mendengar penuturan Niken yang tak mendengar kebisingan itu.
"Mungkin Nyonya sedang tidur, jadi tak dengar."
"Ah.. benar juga. He he he. Semalam aku tak bisa tidur Bi. Jadi pagi baru bisa tidur." Niken mengingat malam kemarin memang malam yang mencekam menurut Niken. Kejadian itu membuat nya ketakutan.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi.
Tet Tet...
Pelayan membuka pintu, dilihat sosok yang tak di kenalnya. Tiba-tiba menusuk perut pelayan itu dengan pisau.
Aaaaaakkkk...
Pelaku itu setelah melakukan penusukan itu lalu melarikan diri keluar dari kediaman Gio. Satpam yang melihat kejadian itu, mengejar Pelaku dengan cepat. Namun pelaku berhasil kabur dengan mudah.
Sementara Niken yang masih berada di ruang makan mendengar teriakan Pelayannya segera menghampiri asal suara.
"Bibi... !" Niken terkejut melihat pelayan nya tergeletak lemas dengan bersimbah darah, tubuhnya di topang oleh pak Ujang, Niken menyuruh supir nya itu untuk segera mengantar pelayan nya yang terluka ke rumah sakit.
Niken juga ikut dalam perjalanan ke rumah sakit ia juga menghubungi suaminya. Gio merasa bersalah akan hal ini dan marah besar pada pihak perumahan yang mengurus kediaman nya bagaimana perumahan elit di tempat nya bisa berkali-kali di biarkan orang jahat masuk.
Gio menghubungi Niken menggunakan ponsel.
"Halo, Mas" Niken menjawab telpon dengan gugup dan terisak. Gio merasakan kegelisahan Niken, ia memenangkan Niken dalam percakapan nya di telpon.
"Niken, kamu menangis? Jangan menangis sayang semua akan baik-baik saja."
"Ta_tapi Mas, Bibi saat ini kritis. Aku takut sekali jika Bibi kenapa-kenapa." Niken tak bisa menahan kekhawatiran nya pada pelayan nya.
"Tenangkan lah dirimu, aku akan segera pulang. Kau jangan khawatir, aku sudah menyuruh dokter terbaik untuk merawat Bibi."
"Benarkah, Mas. Terima kasih, Mas." Niken sedikit merasa lega sesak di dada sedikit berkurang mendengar suaminya juga peduli terhadap Bibi pelayan.
Mereka berdua memutuskan panggilan.
Gio menyuruh Rega mempercepat laju mobil nya. Ia sudah tak sabar ingin melihat keadaan Niken saat itu juga.
...---------------...
__ADS_1
Di satu sisi, seseorang sedang tertawa terbahak-bahak mendengar bahwa salah satu orang Gio telah di lukai.
"Ha ha ha... Rasakan itu Gio! Ini belum apa-apa, aku akan buat hidup mu lebih menakutkan lagi!" senyum smirk.
"Sayang... Hanya ini yang ibu bisa lakukan untuk membalas dendam mu nak." Mengelus foto pada bingkai kecil diatas meja.
"Semua gara-gara kamu Gio!!! Suami ku menjauhi aku. ANAK KU MATI... Hidup ku telah hancur...
SI*lan!!! Kamu Gio.... " Berteriak-teriak mengumpat sedang yang di umpat tak mendengar.
...************...
Di rumah sakit dokter keluar dari ruang UGD. Niken menghadang dokter yang merawat luka Bibi pelayan.
"Bagaimana keadaan Bibi, Dok?" Niken bertanya keadaan Bibi pelayan dengan raut gelisah dan khawatir.
"Apakah anda kerabat pasien yang terkena tusukan itu?" Tanya Dokter memastikan.
"Benar, Dok. Saya kerabat nya, bagaimana keadaan nya,dok?" Tanya Niken lagi.
"Keadaan pasien sekarang masih kritis, jika ia bisa melewati masa kritis itu, keadaan nya akan membaik. Doakan yang terbaik untuk pasien saja, saya yakin dia akan baik-baik saja," Dokter Dion menepuk pundak Niken, melihat Niken menangis, dia merasa kasihan pada Niken, Dokter Dion adalah sahabat Gionino, secara khusus meminta bantuannya padahal waktu itu Dokter Dion masih berada diluar negeri, mendengar sahabatnya meminta bantuan ia langsung terbang ke tanah air untuk membantu Gio.
Gio tak pulang ke rumah nya, Ia langsung ke rumah sakit. Sampai nya di lobi rumah sakit Ia berlari menuju ruang perawatan Bibi pelayan, dalam benak nya mungkin saja Niken berada di sana.
Benar saja Gio melihat Niken melungkup pipi nya menangis sendirian di antara kursi tunggu pasien.
Gio menepuk lembut pundak Niken.
"Niken" Panggil nya lembut, lalu pemilik nama menoleh ke arahnya. Tubuh Niken berhamburan ke pelukan Gio, Ia pasrah istrinya memeluk nya erat, seperti butuh kekuatan. Tubuh Niken menggigil, Ia merasa lemas.
"Maaf kan Mas, ya. Jika mas tak pernah melakukan kesalahan, tak mungkin ada orang yang akan melukaimu." Gio membenamkan wajah Niken ke dadanya, berharap kecemasan Niken berkurang.
Dokter Dion menghampiri sepasang suami-istri yang sedang melepaskan rindu itu.
"Hey... Jika ingin bermesraan, jangan didepan jomblo juga dong." Ledekin dengan tersenyum melihat keharmonisan keluarga sahabat nya.
"Dion" Gio menyambut Dr Dion.
"Hai bro! Gimana kabarnya?" Mereka saling berpelukan. Niken tak mengetahui jika Dr Dion adalah sahabat Suaminya, berbeda dengan Dion yang sudah mengetahui Niken adalah istri sahabatnya, belum lama ini Gio mengirim foto Niken pada Dion, Niken hanya melongo melihat keakraban di depan matanya.
"Kalian saling mengenal?" Tanya Niken penasaran.
Gio dan Dion mengangguk bersamaan.
"Tapi aku tak pernah melihat kalian bersama?" Niken mengatakan itu Karena memang tak pernah melihat suaminya itu bergaul dengan temannya, yang Ia tau suaminya itu hanya bekerja setiap hari di Kantor dan rumah.
"Benar, kami bersahabat sejak kecil, karena Dion sekolah di luar negeri makanya kami berpisah, dan jarang bertemu." Ulasan Gio
"Bukan jarang ketemu, Gio. Tapi sudah lama tak bertemu." Ucap Dokter Dion tersenyum.
"Ah... Iya benar juga. Ha-ha-ha.... "
Mereka berdua berbincang, karena sudah lama tak bertemu sampai lupa saat itu Niken masih sedih karena Bibi pelayan yang belum lepas dari masa kritis nya.
__ADS_1
"Sebaiknya aku ke kantin saja, aku merasakan lapar." Ucapnya pergi meninggalkan kedua sahabat yang asyik mengobrol.
Di kantin rumah sakit, Niken memesan makanan.
"Em... Aku ingin makan apa ya?" Melihat-lihat menu.
Akhirnya Niken memilih makan bakso plus mie ayam dengan pangsit goreng nya, minumnya es teh lemon.
Di Koridor rumah sakit Gio yang baru menyadari jika istri nya tak berada di dekatnya lalu menghubungi Rega yang berada di parkiran rumah sakit.
"Rega... Apakah kau tahu Niken dimana?" Tanya Gio lewat panggilan telepon.
"Bukan kah Nyonya bersama tuan, kenapa sekarang menanyai saya , bos" Jawaban Rega membuat Gio sebal.
"Tinggal jawab ya atau tidak, Aku kehilangan dia, apa kau lihat dia keluar rumah sakit tadi?" Gio yang bingung tak mengetahui keberadaan Niken.
"Oh... ya maaf bos. Saya tak melihat Nyonya keluar rumah sakit, coba tuan hubungi ponselnya." Saran dari Rega.
"Jika ponsel nya tak mati, aku juga tak akan melakukan itu, Rega! Cepat cari Niken sekarang." Titah Gio memutuskan panggilan.
Gio masih cemas, ia mencari ke sudut ruangan di rumah sakit itu.
"Niken sebenarnya kamu kemana sih... Membuat cemas saja." Gumam nya belum menemukan Niken.
Setelah ia berkeliling , ia membulatkan mata melihat sosok yang di carinya sedang menikmati makanan yang berada didepannya dengan lahap.
Gio menghampiri Niken, duduk di sebelah nya.
"Enak makanan nya?" Tanya Gio dengan melipat kedua tangannya ke dada, Ia merasa istrinya sudah keterlaluan. Pergi tanpa izin, padahal kondisi sedang genting.
"Enak sekali, aku sampai ingin Nambah.... " Lalu ia menengok ke sebelah suara itu.
"Uhuk uhuk... Mas Gio." Niken terkejut sampai tersedak melihat suaminya sudah berada di samping nya.
"Kamu ini suka sekali tersedak" Gio menepuk punggung Niken.
"Hehehe. Mas kok tau aku ada di sini?" Niken cengengesan padahal baru saja tersedak.
"Lain kali jika mau pergi kemanapun jangan pergi begitu saja, membuat orang cemas." Gio memalingkan muka karena kesal.
Niken melungkup wajah Gio dihadapan ke wajahnya.
"Jangan marah dong mas, habis kamu asyik sekali ngobrol dengan teman mu, aku juga gak mau ganggu, dan perut ku lapar , alhasil aku kemari untuk makan." Ucap Niken , lalu suaminya tak jadi marah malahan Gio ngiler melihat Niken makan, Ia meminta istrinya menyuapi.
"Suapi aku. A...." Gio membuka mulut nya lebar.
"Yakin kamu mas, mau makan ini apa perut mu sudah biasa?" Niken memberitahu satu suapan
"Kenapa kamu bilang begitu, makanan apapun kalau kamu yang suapi aku mau, kok." Sambil mengunyah makanannya.
Mereka berdua makan bersama karena rasa lapar juga mendera perut Gio. Tanpa mereka sadari seseorang sedang memantau mereka dari jauh, pelaku penusukan juga belum diketahui siapa. Masalah ini juga sudah di urus oleh kepolisian, bukti utaman CCTV juga sudah di hancurkan pelaku, semakin mempersulit mencari kebenarannya.
...****************...
__ADS_1
...----------------...