Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Perasaan


__ADS_3

Disisi lain Gio sudah mengetahui Sila adalah Saudara perempuan Niken yang ditemui oleh Rega. Yang sebelum nya Rega sudah memberikan informasi itu pada Gio.


Gio masih berada di rumah sakit menunggu kedatangan Rega dan Sila.


Saat itu Junior sedikit rewel tak seperti biasanya, Ia terus menangis hingga penghuni rumah sakit memperhatikan Gio dan Junior dalam gendongannya.


Sila dam Rega tiba di rumah sakit, Sila melihat Gio kesulitan menenangkan anaknya yang menangis ingin menghampiri nya namun ia sedikit ragu karena tak mengenal mereka,


Tapi setelah diberi tahu Rega jika Gio adalah suaminya Niken, Sila lalu mendekati Gio untuk menggantikan nya menggendong Junior.


"Sini biar aku bantu menenangkan bayi mu." Ucap Sila membuka kedua tangannya meminta Junior untuk kedalam gendongannya pada Gio.


Gio menautkan kedua alisnya, ia sedikit ragu memberikan Junior pada wanita yang menurut nya asing itu. Sebab Junior tak pernah di sentuh orang lain selain nenek dan kedua kakeknya.


"Gadis ini adalah Sila, Bos. Yang mengaku Saudara Nyonya Niken." Ucap Rega memberi tahu Gio.


Sila mengangguk berharap Gio melepaskan gendongannya.


Junior tak henti-hentinya menangis, Gio sudah merasa lelah menggendong anaknya yang terus menggeliat dan menjerit menangis, dengan sedikit tak rela Gio lalu memberikan Junior pada Sila.


Tanpa di duga seketika setelah Junior di dalam gendongan Sila, Bayi itu berhenti menangis.


Gio heran bagaimana bisa ia dikalahkan oleh wanita yang baru dikenal oleh anak nya, Bayinya seperti merindukan kehangatan seorang ibu.


"Bagaimana mungkin bisa begitu, Apakah anakku butuh sentuhan seorang wanita layaknya seorang ibu yang belum ia dapatkan dari Niken, Ataukah ia ingin menunjukkan bahwa wanita ini adalah saudari kandung ibunya? ." Gumam Gio bertanya-tanya dalam hati.


Dengan sifat keibuannya Sila menimang-nimang Junior hingga tertidur.


Setelahnya gadis itu menidurkannya di kereta bayi yang dibawa Gio.


"Anak kamu sudah tidur, sekarang aku ingin bertemu dengan Niken. Boleh kah aku melihatnya sekarang?" Tanya Sila pada Gio


Gio mengangguk dan menyuruh Sila dan juga Rega memasuki kamar rawat Niken.


Sila tersentuh hatinya melihat Niken yang belum sadar. Ia menjatuhkan pantatnya pada kursi samping ranjang Niken.


Sila menggenggam jemari Niken, jari lentik yang lemah, raut wajah Niken yang sedikit memucat, ia memberikan lipbalm pada bibir Niken, agar wajah Niken sedikit tidak terlalu pucat.


Rega tersenyum melihat sikap lembut dan perhatian Sila pada Niken, Seumur-umur baru kali ini Gio melihat Rega tersenyum pada seorang gadis.


"Kau menyukainya, Rega?" Tanya Gio dengan membisikan pada telinga Rega.

__ADS_1


Rega menjadi salah tingkah dibuatnya.


"Bos mengetahui nya?" Rega tak bisa berbohong, sifatnya yang keras hanya pada orang lain, jika terhadap Gio, ia tak bisa menyembunyikan apapun darinya.


"Bukankah dia seorang gadis, dekati lah jika kau suka. Umur mu sudah tak muda lagi sudah saatnya kau menikah, Rega." Gio mengatakan nya masih berbisik,


'Ini bos menyemangati saya atau malah menyadarkan saya sudah tua?' Batin Rega menanggapi celotehan ditelinga nya.


"Saya akan berusaha mendapatkan dia, bos." Ucap Rega bersemangat


"Bagus ...." Gio manggut-manggut


Yang dibicarakan kedua pria itu masih berkutat pada kondisi Niken


"Adikku sayang, Sungguh nasib mu yang malang, kita bertemu kembali setelah sekian lama kita berpisah, namun melihat keadaan mu yang seperti ini, membuat ku sangat bersedih, Niken. Kakak sangat merindukan mu." Sila tersedu lalu mencium punggung tangan Niken. Terpancar kerinduan dimata Sila, seorang adik yang telah lama hilang kini terbaring lemah di atas tempat tidur.


Layar proyeksi pendeteksi detak jantung Niken menunjukkan garis-garis yang sangat cepat, Seolah Niken merespon sentuhan Sila.


Gio semakin optimis dengan kesembuhan Niken, ia tak menyangka Sila bisa direspon oleh Niken juga, padahal sudah lama sekali mereka berpisah , Namun namanya ikatan batin antara adik dan kakak orang yang melihat akan ikut terharu juga.


'Niken cepat sadarlah sayang, ada keluarga kandung mu yang tengah merindukanmu. Aku juga sangat merindukan mu, Niken.' Gumam hati Gio berharap Niken cepat di sadar dari komanya


...----------------...


"Pak Gio." panggil Sila


"Panggil saja aku, Gio. Aku adalah suami adikmu, jangan panggil aku pak. Oke" Gio protes dipanggil 'Pak' oleh Sila.


Rega memutar bola matanya malas mendengar protesnya


'Bukankah anda sudah 'bapak-bapak'. ya, Tuan. Di panggil pak Saja tak mau.' Batin Rega


"Aku bisa mendengar suara hati mu ya Rega, memang aku ini sudah 'bapak-bapak' karena sudah memiliki anak, tapi aku masih muda dan tampan jadi belum pantas di panggil 'Pak'! Ingat itu ya." Gio sedikit tempramen sekarang. Mungkin karena lelah mengasuh anak sendirian tanpa seorang istri yang menemaninya.


Rega terhenyak mendengar Bos-nya mengetahui isi hatinya. Sila hanya menahan tawa mendengar ucapan Gio yang kekanak-kanakan.


'Wah ... sekarang udah jadi paranormal juga nih bos gue.' Batin Rega lagi


"Bukan paranormal, Reg. Tapi dukun." Ucap Gio dengan raut wajah datarnya.


"Bos kok bisa tahu batin saya?" Celetuk Rega sontak membuat bibir Sila tak bisa menahan tawanya.

__ADS_1


Kedua pria itu melihat ke arah Sila.


Gio menarik salah satu sudut bibirnya melihat gadis itu tertawa, berbeda dengan Rega, Ia malah terpana dengan senyuman Sila yang mempesona dimatanya, Seperti seorang yang sedang dimabuk cinta, Rega terpesona dibuatnya.


Sila menarik lengan Rega yang masih terpaku dengan senyuman Sila.


"Mas Rega, Jadi anterin aku pulang gak, ya?" Ucap Sila menyadarkan lamunan Rega.


"Jadi kok. Ayo aku antar kamu pulang." Ajak Rega pada Gadis pujaannya itu.


...----------------...


Dilain sisi pak Joko mencari keberadaan bu Sri yang menjadi saksi saat Niken ditinggalkan oleh ibunya. beliau diam-diam menemui Bu Sri ingin mencari kejelasan mengapa waktu itu ia tak segera menolong ibu kandung Niken yang tengah kesusahan. Ia juga ingin mengetahui penyebab mengapa Niken sampai di sembunyikan di dalam tong sampah oleh ibunya.


Ia menemukan sosok yang dicarinya berada duduk diantara tetangga sebelah rumahnya.


"Permisi sebelum nya saya mau bertanya apa disini ada yang bernama Bu Sri?" Tanya pak Joko


"Saya yang bernama Sri. Ada apa ya, mencari saya?" Bu Sri balik bertanya.


Pak Joko mengajak Bu Sri berbincang lalu pergi dari tempat nya nongkrong bersama tetangganya menuju rumah nya.


Pak Joko mengikuti langkah wanita itu, lalu berhenti didepan teras atas permintaan pak Joko. Ia menceritakan Rega yang pernah datang kemari.


"Kenapa anda tak menolong wanita itu, jika ia kau tolong pasti dirinya masih hidup sampai sekarang." Ucap Pak Joko menghardik Bu Sri.


"Maaf, Pak. Kenapa anda begitu emosi mendengar saya tak menolongnya, apa bapak tau kondisi saat itu hingga membuat saya seperti tak memiliki perasaan?" Bu Sri sedikit emosi mendengar ucapan pak Joko.


Pak Joko terdiam mendengar ucapan Bu Sri, Ia juga tak tau kondisi saat itu seperti apa, Tapi ia tetap menyalahkan Bu Sri yang dengan kejam tak menolong ibu Niken saat itu.


Setelah itu Bu Sri mengusir pak Joko pergi, ia merasa terusik dengan kedatangan pria paruh baya itu. Lalu menutup pintu kasar setelah kepergian pak Joko.


"Dasar tua bangka , baru mengenal sudah mencaci orang saja." Bu Sri mengomel sendiri


Pak Joko dengan perasaan leganya karena sudah mengatakan kata-kata yang tersimpan dibenaknya melangkah pulang.


...----------------...


*Serasa serasi*


𝓛𝓲𝓴𝓮 𝓪𝓷𝓭 𝓬𝓸𝓶𝓮𝓷𝓽 𝓹𝓵𝓲𝓼 𝓴𝓪𝓵𝓸 𝓼𝓾𝓴𝓪 𝓿𝓸𝓽𝓮 𝓳𝓾𝓰𝓪 𝓫𝓸𝓵𝓮𝓱. 🤭

__ADS_1


__ADS_2