
Dokter yang memeriksa keadaan Junior berkata...
"Mohon maaf sebelumnya untuk keluarga pasien yang bernama Junior, Dengan berat hati saya akan menyampaikan bahwa nyawa Junior tak bisa lagi kami selamatkan." Ucap Dokter itu di depan semua orang yang menantikan kabar kondisi Junior membawa berita yang sangat mengejutkan.
"Apa?!!" Gio berteriak penuh dengan amarah tak percaya anaknya mati begitu saja.
Sorot Matanya yang tajam menyoroti Niken.
"Gak mungkin, Dok! Kamu pastikan dulu, Junior gak mungkin meninggal!" Niken bersimpuh pada kakinya yang lemas tak mampu menopang tubuhnya yang lunglai.
"Memang benar bu, begitu kondisi adanya, bisa lihat sendiri anak anda memang sudah tiada. Saat di bawa kemari waktu tadi darah yang mengalir dari kepala nya sangat banyak, menyebabkan sistem saraf di otak tak dapat merespon tindakan medis yang kami lakukan." Jelas nya dokter itu.
"Ini 'kan yang kau mau, Niken!" Sungguh tiada kata lagi yang bisa ia ungkapkan agar mendapatkan empati lagi terhadap istrinya.
Terlebih lagi pada bu Sri, yang jelas-jelas Junior bersama dengan Bu Sri ketika kecelakaan nahas itu terjadi.
"Ini semua karena kamu juga! Anakku mati!!" Tunjuk Gio pada Bu Sri yang berada di balik tubuh Niken.
Bu Sri ketakutan mendapatkan bentakkan Gio yang begitu keras padanya.
"Rega!! Cepat tangkap dia dan bawa ke kantor polisi!" Titah Gio untuk menangkap bu Sri yang dihalangi oleh Niken.
"Jangan, Mas. Bu Sri gak salah! Ini semua adalah kecelakaan, bukan sengaja!" Niken mencoba membela Bu Sri yang menurutnya tak bersalah
Gio semakin kesal dengan tingkah istrinya itu,
Lalu mengeluarkan ultimatum untuknya
"Jika kau membelanya sekali lagi, Akan ku jebloskan kau juga bersama bu Sri-mu itu!!" Ancamannya Gio pada Niken.
Niken terdiam lalu menggeser sedikit tubuhnya dan membiarkan Rega membawa Bu Sri pergi bersamanya.
"Bu Sri maafkan aku tak bisa membantu Anda lagi." Ucap Niken pada bu Sri sebelum Rega membawanya.
"Tak apa, Nak. Ini juga keteledoran saya, memang saya harus bertanggung jawab untuk kesalahan ini, Aku turut berdukacita atas kematian Junior." Ucap Bu Sri dengan wajahnya yang terselimut sedih.
"Dihh... Jangan drama di depan mukaku! Aku muak dengan sikap sok baik mu itu!!" Gio menghardik Bu Sri.
Bencinya Gio pada Niken Sebab tak hanya sekali ia membahayakan nyawa Junior, dan kini anak semata wayangnya telah tiada.
__ADS_1
"Awas minggir! Aku ingin melihat anakku!!" Gio mendorong tubuh Niken agar memberi jalannya masuk ke ruangan peristirahatan terakhir anaknya, sebab Niken berdiri tepat di depan pintu IGD.
Di dalam ruangan itu, di atas bangsal rumah sakit, tergeletak sekujur tubuh kaku nan mungil yang di tutupi kain putih.
Gio mendekap erat tubuh yang mulai dingin di pelukannya.
"Anakku... Maafkan papa Nak. Papa tak bisa menjagamu dengan baik, hingga kini kau telah pergi dari dunia ini meninggalkan papa sendiri dengan cara yang sangat mengenaskan!" Gio tak bisa membendung air matanya lagi,
Bibirnya bergetar tak mampu menahan gejolak di dalam hati, ingin rasanya memutar kembali waktu yang telah terlewat, agar bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Tanpa harus kehilangan anak yang menjadi tumpuan hidup nya selama ini.
"Maafkan aku, Mas. Aku yang bodoh! Yang tak bisa menjaga Junior dengan baik!" Ucap Niken yang ikut menahan rasa pedihnya kehilangan buah hati yang begitu di cintainya.
Gio sama sekali tak menggubris ucapan Niken padanya, Dalam benaknya sudah terlintas untuk meninggalkan Niken, lalu menceraikannya, seperti sudah jengah dengan semua yang ada pada Niken.
Niken merangkul tubuh Junior juga dalam pelukan nya, menangis tersedu dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.
Pemakaman Junior di langsungkan esok paginya, sebab hari itu sudah malam saat Junior menghembuskan nafas terakhir nya.
Pemakaman itu di hujani tangisan dari kakek nenek Junior, terutama pihak pak Handoko dan Bu Meli.
Tak hentinya ia meratapi kepergian Cucu kesayangan mereka.
Acara pemakaman itu telah usai, mereka semua yang termasuk keluarga Handoko dan pak Jokowi berkumpul di kediaman Gio. Ingin mengetahui duduk permasalahannya, mengapa bisa Bu Sri menjadi dalang atas kematian Junior? Dan kenapa Niken begitu percaya pada wanita itu.
Mereka duduk di ruang keluarga, duduk di atas sofa besar milik Gio.
Pak Handoko membuka percakapan yang tadinya ruangan itu penuh kesunyian.
Niken sama sekali tak bergeming, entah apa yang merasukinya, hingga mertua dan orang tuanya tak di hiraukan meskipun mereka sedang ingin mendapatkan jawaban atas segala yang telah terjadi menimpa cucunya.
Pak Jokowi pun merasakan juga, Niken seperti mengabaikannya.
"Niken!" Dengan nada yang menekankan,
Niken sontak kaget, Pak Joko memanggilnya dengan nada yang begitu.
"I... Iya, Ayah." Jawab Niken terbata.
"Hmm... Kenapa kau diam, saat kami menanyakan perihal kematian, Junior, padamu?" Tanya pak Joko.
__ADS_1
"A... Aku harus menjawab apa, Yah? Semua itu memang kecelakaan, tak ada unsur kesengajaan di dalamnya." Begitu penuturannya.
"Apa kau tau, Niken? Jawabanmu yang seperti itu hanya membuatku semakin membencimu!" Dengusnya Gio pada Niken
"Aku merasa memang kau benar-benar tak pantas menjadi ibunya, hingga Junior memang pantas mati ketimbang di urus Ibu yang tak becus seperti mu!" Timpalnya Bu Meli.
"Mengapa ibu mengatakan itu padaku? Aku semakin sakit mendengarkan ucapan kalian!" Niken
"Lalu bagaimana dengan Junior ku sekarang? Kau sudah membuatnya meninggalkan ku! Cucuku satu-satunya kini sudah pergi... Hiks... Hiks...." Bu Meli kembali menangis.
Pak Handoko hanya memeluk nya menenangkan hati Istrinya yang tengah bersedih.
"Kau Niken! Seharusnya jika ingin memungut orang, cari yang jangan tukang membawa sial!" Sambung Bu Meli
"Sudah... Sudah... Ini semua sudah terjadi! Jangan terus menyalahkan Niken. Mungkin ada benarnya jika hal ini adalah takdir!" Ucap pak Joko
"Heh.... Menurut anda ini takdir, bukan?" Sahut Gio
"Kalau begitu perpisahan ku mulai sekarang dengan Niken adalah juga takdir!" Sambung nya lagi
"Maksudnya kamu bilang itu apa, Mas?" Niken tak percaya ucapan suaminya
"Kita berpisah saja, Niken!" Gio tiba-tiba menjatuhkan talak untuk Niken.
Pak Joko dan kedua orang tua Gio kaget mendengarnya.
Wanita yang dulu pernah ia benci dan bahkan pernah ia cintai, kini telah ia jatuhkan talak.
"Apa, Mas? Kau mentalak ku!" Sungguh bagai kesakitan bertubi-tubi menimpa nya.
Belum usai kesedihan atas kematian anaknya,
Kini suaminya malah mengajak berpisah.
Tiada kata yang sanggup ia lontarkan, Suami yang pernah ia benci bahkan juga telah ia cintai,
Kini sudah menjatuhkan talak untuk nya.
...****...
__ADS_1