Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Vas bunga


__ADS_3

Niken dan Gio sampai di rumah. Niken menidurkan Junior di kamar nya di atas ranjang tempat nya tidur. Ia tak tega jika Junior tidur di kamar sendirian.


Setelah nya Niken bersiap untuk tidur karena penat yang tersimpan dalam diri ingin merebahkan tubuh di kasur empuk adalah pilihan yang tepat.


Saat matanya mulai terpejam, sang suami tiba-tiba memasuki kamar dengan senyuman jahat nya.


Niken mengerjapkan matanya.


"Kau mau tidur?" Tanya Gio menganggu awal tidur Niken yang indah.


"Uhh... Iya Mas. Aku ngantuk dan capek." Ujar Niken memegang bahunya yang pegal lalu membenarkan duduknya


"Kok Junior gak di tidurkan di kamar nya sendiri, kenapa?" Tanya Gio lagi dan duduk di tepi ranjang di samping Niken.


"Kasihan mas, Dia semalam tidur nya gak nyenyak karena tidur sendirian. Jadi biarkan dia tidur bersama kita, ya." Ucap Niken


'Mas Gio gak mungkin curiga 'kan kalau Junior hanya alasan ku saja untuk menolak ancamannya di taman tadi. Jangan sampe deh...' Batin Niken mengeluh.


Gio melirik istrinya yang terlihat cemas.


"Kau kenapa raut wajahmu begitu?" Tanya Gio.


"Eng... Enggak kok Mas. Emang wajah ku kenapa?" Niken berusaha menyembunyikan kecemasan nya.


Gio mendekati Niken pelan dan yang didekati malah bergeser. Ia menyentuh rambutnya dengan lembut.


"Aku melihat kamu terlihat cemas... Dan kamu tak lupa 'kan yang di taman tadi untuk jangan menyuruh ku memanggilnya dengan sebutan 'kakak', Masak kau lupa." Ucap Gio dengan tangan nya sudah menggerayangi tubuh Niken.


"Ma... Mas... Ada Junior jangan seperti ini." Ucap Niken gugup suaminya sudah lama tak merasakan sentuhannya terlihat begitu bernafsu padanya.


"Junior sudah tidur. Dia takkan tau apa yang akan kita lakukan." Gio yang tak mendengarkan ucapan Niken.


Sedang berlangsung asmara yang membara, Tiba-tiba Junior terbangun dan memecah kehangatan Gio pada Niken.


"Huwa... huwa... Mama... Mama" Suara tangis Junior.


"Maaf, Mas... Junior bangun. Awas dulu kamu-nya."


Niken mendorong pelan suaminya ingin segera menenangkan Junior yang menangis.


Sampai Gio menggeser tubuhnya supaya Niken bisa meraih Junior yang sedang menangis.


'Huhhh... Anak ini gak tau apa! Papanya itu sedang rindu pada ibumu, Nak. Kenapa kau malah tak mendukung nya' Batin Gio mengesah sebal


Malam yang berlalu, Gio tak bisa tidur karena hasratnya tak tercapai,


Sampai ia bawa ke kantornya dan menjadi pemarah meskipun staf di sana tak melakukan kesalahan.


"Rega!! Cepat kemari!" Panggil Gio lewat telepon


"Baik, Bos." Jawab Rega.

__ADS_1


Rega lalu menuju ruangan Gio yang berada tak jauh dari ruangan nya.


"Permisi, Bos... Saya mau masuk!" Ucap Rega di balik pintu.


"Ya!!" Gio bernada kesal dengan teriakannya.


'Sebenarnya bos kenapa sih! Sedari pagi sudah marah-marah terus. Sampai staf tak bersalah pun jadi sasarannya.' Gumam Rega lalu membuka pintu.


"Hei... Rega sini!" Panggil Gio pada Rega yang baru masuk di tepian pintu.


"Siap, Bos. Ada apa memanggil saya?" Tanya Rega yang sudah berdiri berhalang meja di depan Gio.


"Lihat vas bunga itu! Kenapa bisa ada disana? Cepat kau memindahkannya!" Titah Gio menyuruh Rega memindahkan Vas bunga yang berada di meja dekat sofa.


"Memindahkan kemana, Tuan? Dan bukankah sudah dari awal vas bunga itu berada di sana." Rega berdalih jika vas bunga itu memang sudah berada di sana beberapa bulan yang lalu. Dan selama itu Gio tak mempermasalahkannya.


"Aku mau sekarang kau memindahkannya ke sana!" Tunjuk Gio pada salah jendela besar untuk meletakkan vas bunga itu di sana.


"Tapi Bos. Jika di taruh dekat jendela nanti tanamannya bisa layu karena terkena sinar matahari langsung. Sedangkan di vas bunga itu adalah tanaman yang tak boleh terkena sinar matahari. Begitu penuturan orang yang menjual tanaman itu pada saya." Jelas Rega.


"Bos mu itu aku' atau penjual tanaman itu, Hah?!" Bentak Gio pada Rega karena titahnya mengalami penolakan


Rega bingung dengan sikap Gio itu. Ia biasanya tak memperdulikan hal-hal kecil begitu. Namun kenapa hari ini berbeda. Jadi semakin aneh saja sikapnya.


"Tentu saja Anda bos saya, Tuan." Ucap Rega


"Ya sudah tunggu apa lagi! Sekarang kau lakukan perintah ku!" Seru Gio.


Padahal waktu itu matahari sangat menyengat menyinari bumi yang luas ini.


'Maafkan aku ya, tanaman. Kalau kamu mati nanti pasti aku kena marah juga, jadi kamu bertahanlah untuk hari ini saja.' Gumam batin Rega mengelus vas bunga yang bertumbuh tanaman hias yang cantik.


"Sudah, Tuan. Sekarang apa lagi yang bisa saya, lakukan?" Tanya Rega.


"Sekarang kau boleh pergi!" Seru Gio.


Rega lalu membungkuk dan meninggalkan ruangan Bos-nya.


Di luar ruangan Gio, Rega ngedumel dalam benaknya sampai tak melihat jika Sisi berada di depan nya.


Brugh...


Mereka berdua bertabrakan hingga dokumen yang di bawa Sisi berhamburan ke lantai.


"Aduh... " Sisi mengaduh karena tubuh kekar Rega menabraknya hingga jidatnya terbentur dada bidang Rega.


"Maaf, Sisi. Aku tadi tak melihat mu berjalan di depan ku." Ucap Rega lalu membantu Sisi mengambil dokumen yang berserakan.


"Iya, Gak papa, Pak Rega." Ucap Sisi mengelus dahinya yang terasa sakit.


"Pak Rega tumben jalan sambil ngelamun, lagi mikirin apa, Pak?" Ucap Sisi menerka jika Rega berjalan sambil melamun.

__ADS_1


"He... Iya tadi aku habis di kerjain Tuan Gio. Aku bingung dengan sikap nya yang hari ini hampir semua orang ia marahi." Ucap Rega.


Sisi manggut-manggut setuju dengan ucapan Rega tentang Bos-nya.


"Bener, Pak. Saya juga berpikir begitu. Ada apa ya, kenapa Tuan Gio begitu?" Sisi juga bertanya-tanya.


Rega hanya mengedikkan bahu, Ia juga tak tau kenapa Bos-nya begitu.


"Kamu mau ke ruangan , Tuan Gio?" Tanya Rega pada Sisi.


"Iya, Pak." Sahut Sisi


"Hati-hati jangan sampai membuat nya marah." Rega memperingati Sisi.


Sisi hanya mengangguk dan sedikit gemetar, takut jika di tegur oleh Gio jika melakukan sedikit saja kesalahan.


"Permisi, Tuan. Ini saya Sisi." Seru Sisi dari balik pintu


"Iya!! Masuk!" Ucap Gio dengan wajah datarnya.


Sisi memasuki ruangan Gio dengan membawa dokumen dan menyerahkan berkas itu pada Gio.


"Maaf, Tuan. Ini adalah berkas yang Anda minta kemarin." Ucap Sisi meletakkan dokumen itu di atas meja.


Gio melirik tajam Sisi, Sedangkan Sisi gugup setengah mati melihat Bos-nya begitu.


"Kenapa baru di antar sekarang jika aku meminta nya kemarin!?" Bentak Gio pada Sisi.


Sisi benar-benar ketakutan sampai berbicara pun tak jelas.


"A... Anu bos, Kemarin 'kan bos suruhnya hari ini memberikan nya pada, Tuan." Ucap Sisi yang gugup.


"Banyak alasan! Cepat pindahkan Vas bunga di jendela itu ke meja kembali!" Titah Gio pada Sisi.


Sisi melongo mendengar perintah Gio.


"Loh... Bukannya vas bunga itu sudah ada di meja kemarin, Bos. Kenapa bisa di sana?" Sisi menggaruk tengkuknya yang tak gatal


"Aku yang menyuruh Rega memindahkan nya di sana! Sekarang aku menyuruh mu untuk mengembalikannya ke meja kembali!" Perintah Gio


Sisi yang langsung menuruti perintah Bos-nya. Dalam hatinya ia tak habis pikir dengan sikap Gio itu.


Kenapa Vas bunga tak memiliki kesalahan menjadi sasaran kemarahan nya?


Dan apa yang di maksud Gio mengerjai Rega adalah karena vas bunga itu.


"Huft... Bos yang aneh!" Gumam Sisi yang sudah di depan meja kerja miliknya


Sikap Gio itu di cerita kan Rega pada Sila.


...-------...

__ADS_1


__ADS_2