Bukan Wanita Pilihan Suami Ku

Bukan Wanita Pilihan Suami Ku
Kesadaran diri


__ADS_3

"Oh Tuhan ... Inikah takdir hidup yang ku alami, mengapa begitu sulit aku mengerti, sakit rasanya seluruh tubuhku. Bukan hanya hatiku yang hancur, bahkan jasadku pun tak bisa menerima kenyataan ini." Niken melungkup kedua pipinya, terduduk di bangku depan bangunan besar berkubah , bangunan itu tak jauh dari lapas Bu Mia di tahan. Ia teringat selama ini telah melupakan kebesaran Tuhan yang ia abaikan, bahkan untuk bersujud pun ia tak melakukannya setiap hari.


"Dasarnya manusia tak tau diri, jika sudah begini baru teringat pada Tuhan yang menciptakan mu. Masihkah aku pantas menginjakkan kakiku ke sana." Dengan sedikit keraguan dalam hatinya takut jika Tuhan tak menerima pertobatannya, Niken mengayunkan kakinya menuju bangunan berkubah itu.


Dengan keyakinan yang ia pelajari sebelum nya, Ia tumpahkan segala keluh kesah yang sedang di alaminya, bersujud dan memohon kekuatan agar bisa menjalankan takdir yang sudah digariskan untuknya.


Gio berhenti didepan masjid Al-fallah, Ia melihat sepatu yang digunakan Niken berada di tangga kecil bangunan megah itu. Tanpa ragu Gio melangkah memasuki bangunan itu, sebenarnya Ia juga sudah lama tak melakukan kewajibannya sebagai muslim yang taat. Urusan duniawi menjadi patokan manusia di zaman sekarang berlomba-lomba untuk meraih kesuksesan dunia yang berujung pada melupakan asal usul dari mana Ia berasal.


Setelah menyelesaikan kewajiban sebagai Umat muslim di masjid, Gio mendekati Niken yang sedang memakai sepatu di sudut tangga masjid dengan menenteng sepatu miliknya juga yang belum Ia kenakan.


"Istriku, Apa kau tak merasa meninggalkan seseorang yang mencintaimu?" Ucap Gio lalu duduk di samping Niken.


"Mas Gio ... Kamu juga disini?" Ucap Niken lirih menatap sekilas suaminya lalu kembali membenarkan tapi simpul sepatunya.


"Kau masih sedih dengan perlakuan ibu Mia pada mu, Niken?" Tanya Gio pada Istrinya.


"Aku tak tau mas,Aku hanya kecewa dengan takdir ku, Takkan ada orang yang menginginkan takdir seperti ku ini." Ucap Niken lalu mendekap kedua kakinya yang tertekuk.


"Jangan menyalahkan takdir, Manusia tak ada yang ingin hidup dalam kekecewaan, tapi manusia juga takkan sadar dari kesalahan nya bila ia tak di beri rasa sakit terlebih dahulu." Ucap Gio lalu merangkul dahi Niken dibawa ke pelukan nya. Lehernya yang jenjang mampu menenggelamkan kepala Niken.


"Maksudnya mas Gio apa berbicara begitu, Aku cukup sadar kok kali ini." Ucap Niken menggerutu.


"He'em ... Aku baru menyadari jika gadis kecil ku sekarang sudah dewasa, tak berlarian lagi ke danau" Ucap Gio melepaskan pelukan nya dan mencium kening Niken.


"Mas masih ingat waktu itu aku 'kan sedang kalut dan bodoh. Jadi bertindak sembrono, sekarang aku sedang mengandung mas jadi aku harus bisa berpikir jernih untuk menjaga janin ku agar tetap sehat." Ucap Niken yakin dengan hatinya


"Iya iya mas percaya." Ucap Gio lalu kembali mendekap istrinya.


Apa mereka tak menyadari jika mereka sedang berada di depan rumah Tuhan. Banyak pasang mata yang melihat kekaguman hubungan Gio dan Niken, namun ada juga yang mencibir seperti tak tau malu didepan umum mencium dan memeluk istrinya, Apakah dunia ini hanya milik kalian berdua,


Hai ... Ingat Jomblo sekarang masih merajalela.


"Maaf, Bos. Ini di tempat umum tolong jaga privasi anda sekalian." Ucap Rega memecah keromantisan di antara mereka berdua.


"Kau ini mas, apa lupa jika kita sedang didepan masjid, bisa-bisanya mengambil keuntungan didalam lingkup masyarakat yang banyak nitizen ketimbang haters." Ucap Niken lalu berjalan menuju mobil mendahului Gio.

__ADS_1


Rega menahan tawa mendengar ucapan istri dari bosnya.


Beberapa bulan sudah berlalu usia kandungan Niken kini berumur 7bulan. Kabar tentang Bu Mia hasil sidang di pengadilan waktu itu memvonis hukuman 20 tahun penjara begitu juga Anton yang menjadi kaki-tangan Bu Mia.


Hari-hari Niken lewati penuh dengan sukacita. Pak Joko jadi sering berkunjung ke rumah Niken dan suaminya.


Pak Handoko dan Bu Meli juga semakin protektif menjaga kandungan Niken.


Hari ini adalah hari merayakan 7bulanan Niken, ia meminta pada suaminya untuk merayakannya di rumah, dengan mengundang ustazah juga anak yatim untuk mendoakan kelancaran Niken saat persalinan nanti, tak lupa tetangga juga diundang untuk datang.


Ustazah Gina namanya memberi kajian bertemakan tentang pentingnya menghormati orang tua karena merekalah yang telah melahirkan dan membesarkan kita hingga dewasa. Tak lupa setelah itu doa-doa ia panjatkan untuk kesehatan dan kelancaran kehamilan Niken.


Setelahnya Niken mendekati Ustazah Gina untuk mengucapkan terimakasih dan memberikan amplop untuk kesediaannya Ustazah Gina datang ke acaranya.


"Terimakasih, Ustazah telah mendoakan saya, saya merasa lebih baik sekarang." Ucap Niken mengulurkan tangan untuk bersalaman


"Sudah kewajiban umat muslim untuk saling mendoakan, Bu Niken jangan sungkan." Ia lalu menerima uluran tangan Niken dengan Tutur kata lembut Ustazah Gina menyejukkan hati.


Lalu ia mengelus lembut perut Niken yang buncit dengan menyebutkan kalimat-kalimat kalam yang merdu, setelahnya meniup pelan perut Niken.


Setelah membagikan beberapa amplop untuk anak yatim dan hadiah untuk yang datang , Acara itupun selesai.


Raut wajah Niken terlihat ceria membuat Gio senang, sudah lama ia tak melihat istrinya bahagia semenjak hari itu.


Gio berniat untuk mencari tahu keberadaan orang tua Niken tanpa sepengetahuan Niken. Ia menelusuri tempat yang di maksud oleh pak Joko saat menemukan Niken waktu masih bayi dan membawanya pulang.


Dengan informasi yang sedikit dari pak Joko, Gio kesulitan menemukan titik temu orang tua kandung Niken.


Ia mengerahkan seluruh kekuatan anak buahnya, Namun masih nihil.


Tanpa putus asa, Gio masih terus berusaha.


Malam saat sedang istirahat Ponsel Niken berdering.


kring...

__ADS_1


Dengan malas tubuh Niken bangkit dan meraih ponsel yang berada di atas nakas, tanpa melihat siapa yang menelpon nya, Ia langsung memencet tombol hijau yang bergerak-gerak dilayar ponselnya.


"Halo, Siapa ya?" Ucap Niken dengan mata yang masih terpejam, Gio terbangun dari tidur nya karena mendengar suara Niken mengangkat telpon


"Halo, Ini ayah, Nak." Ucap diseberang sana, sepertinya suara Pak Joko.


"Ayah! Maaf ayah aku tak melihat siapa yang menelpon, dan aku langsung mengangkat nya, ada apa yah, sudah larut malam begini menelpon?" Tanya Niken lalu membuka matanya dan melihat jam sudah pukul 01.00.Wib


"Ayah yang harusnya minta maaf karena malam-malam begini menelpon-mu. Sebenarnya ayah ingin mengabarkan pada mu jika ibu mu sudah meninggal dunia." Suara serak pak Joko menahan tangisnya di seberang sana.


"Apa Ibu meninggal?" Niken terkejut bukan main mendengar kabar itu. Ibu yang selama ini ia kenal sebagai ibunya malah meninggalkan dunia ini dengan cepat.


Meskipun perlakuannya terakhir kali membuatnya sakit hati, tapi dari lubuk hati Niken paling dalam ia tetap menyayangi Ibu Mia dengan setulus hati, tak ada dendam dihatinya sedikitpun.


"Bagaimana bisa ibu meninggal, bukankah ibu tak memiliki riwayat penyakit?" Tanya Niken masih tak percaya dengan kabar dari ayahnya. Karena terakhir kali ia melihat Bu Mia masih sehat.


"Dia-Dia ... Ibumu bunuh diri, Nak. Di dalam sel polisi menemukannya sudah bersimbah darah." Ucap lirih pak Joko di seberang sana yang sudah tak bisa membendung air matanya lagi.


"Baiklah, ayah. Aku akan segera ke sana sekarang untuk menemani ayah."


"Jangan Niken. Besok saja karena kamu sedang hamil, Ini sudah malam dan pemakaman ibumu akan dilanjutkan besok. Kau langsung datang saja ke TPU jika ingin mengantar kepergian nya."


"Iya, sudah kalau jika ayah inginnya aku begitu, Ayah jangan lupa tidur, besok aku akan menemani ayah di pemakaman ibu."


Begitu lalu mematikan panggilan masing-masing.


Gio masih menatap istrinya yang lemas setelah menerima kabar dari ayahnya bahwa Bu Mia meninggal.


"Apa yang ku dengar tadi tak salah, jika ibu Mia meninggal dunia?" Tanya Gio


"Iya, mas. Ibu meninggal di sel tahanan karena bunuh diri. Aku tak tau apa isi hatinya, tapi aku juga tak menyangka jika ia akan melakukan hal itu." Ucap Niken lalu bersandar pada dada suaminya.


Gio hanya mengelus lembut puncak kepala Niken. Ia sama sekali tak berpendapat. Itu memang sudah menjadi jalan takdir yang dipilih Bu Mia untuk mengakhiri hidupnya.


*Dengan keimanan lemah orang akan menunjukkan kebodohannya*

__ADS_1


__ADS_2