
Diana Ramadhani adalah seorang gadis cantik nan ceria, dia terlahir dari keluarga yang gado-gado, gado-gado karena ibu dan bapaknya berasal dari suku yang berbeda. Bapaknya yang kelahiran asli Kalimantan tapi berdarah Timur karena kakeknya yang orang Adonara, sedangkan nenek dari bapaknya adalah orang Banjar asli. Dan dari pihak ibunya dia ada suku Ngapak, Sunda, bahkan Jawa, itulah sebab dia menamakan dirinya gado-gado, sebab dia sendiri bingung harus menjawab apa kalau ditanya orang dia itu sukunya apa. Yang pasti sih dia orang Indonesia, berbeda beda tapi satu jua, ceile...
Diana memiliki 2 saudara perempuan, kakaknya bernama Ailisya Sabila yang biasa disapa Isya yang usianya terpaut tidak jauh dari dirinya, hanya 12 bulan saja yang menyebabkan mereka seperti kembar saja ditambah dengan wajah yang agak mirip, walaupun wajah Diana terlihat lebih mencolok kecantikanya dibanding dua saudaranya yang lain, dan postur Diana lebih tinggi dari Isya, ya Diana menurun postur nenek dari bapaknya yang tinggi langsing, kulit kuning Langsat, hidung mancung, mata bulat dan bulu mata lentik yang ia dapatkan dari kakek dari pihak bapaknya serta dagu terbelah, serta 2 lesung pipi yang membuatnya tampak lebih manis saat tersenyum. Dan perbedaan sifat keduanya yang sangat bertolak belakang. Isya walupun dia seorang kakak, tapi sikapnya tidak bisa mencerminkan seorang kakak yang seharusnya memberikan contoh pada adik adiknya. Dia terlihat seperti kekanakan bila di bandingkan dengan Diana. Sedangkan Diana adalah seorang gadis yang penurut terhadap orang tuanya, suka membantu pekerjaan rumah ibunya. Bahkan dia tidak berani untuk melanggar larangan ibunya kalau ibunya sudah tidak mengijinkan, kalau ibunya berkata sembarang Diana saja dia tidak jadi mengerjakan kegiatan yang akan dilakukannya apalagi kalau ibunya berkata tidak, sudah tentu dia tidak berani melanggar, karena menurutnya ridho ibunya adalah segalanya, dia tidak mau ditiwas kalau istilah orang Kalimantan kalau sampai terjadi sesuatu jika melanggar larangan orang tuanya. Dan lagi Diana mempunyai tutur kata yang sopan jika berbicara dengan orang yang lebih tua darinya, sementara jika bersama temannya pun dia bisa menempatkan diri dan berbicara wajarnya anak seusianya jika bersama teman dan dia bisa menyesuaikan diri dengan mudahnya dengan orang lain yang baru dikenalnya. Sikap inilah yang paling mencolok perbedaannya antara dia dan Isya, yang membuat orang orang lebih menyukai Diana dibandingkan Isya.
Diana juga mempunyai seorang adik perempuan bernama Nuri yang usianya terpaut cukup jauh dengan dirinya yaitu 8 tahun, Diana sangat menyayangi adiknya itu, dia tak mau kalau sampai ada orang atau teman adiknya yang mengganggu adiknya atau menjudesinya. Adiknya pun merasa lebih nyaman dan cocok jika bersama dengan Diana daripada dengan Isya.
Sore itu seperti biasa selepas pulang sekolah Diana membantu ibunya mencuci piring.
"Di, nanti tolong antarkan kue bingka ini ke rumah Nenek ya sehabis cuci piring," kata ibunya sembari menunjukkan kotak kue kehadapan Diana yang dibalas anggukan oleh Diana.
"Ok, Bu. Siap, tapi Diana mandi dulu ya, Bu. Terus salat dulu karena tadi Diana belum sempat salat Ashar," sahut Diana.
"Iya, ini Ibu taruh di atas meja makan ya kotak kuenya, Di. Ibu mau beres-beres dapur dulu berantakan bener nih habis bikin kue," kata ibunya.
Setelah selesai mencuci piring, Diana pun segera mandi dan langsung shalat Ashar.
"Bu, kotak kuenya yang di atas meja inikan," tanya Diana pada ibunya.
"Iya yang itu, Di," sahut ibunya.
" Ehm, kunci motor di mana, Bu?" tanya Diana.
"Itu di atas lemari di ruang tengah," sahut ibunya .
"Oh ok," ucap Diana.
Diana pun langsung menuju ke lemari yang berada di ruang tengah rumahnya.
Karena kurangnya pencahayaan di sana membuat Diana tidak dapat melihat dengan jelas kunci motor yang ada di hadapannya, yang membuat ia bertanya lagi pada ibunya. "Di mana, Bu? Nggak ada disini," tanya Diana.
"Masa sih?" tanya ibunya dengan rasa tak percaya.
"Kayaknya tadi ibu ada liat di situ kok, kan biasanya memang di situ tempatnya," lanjut ibunya.
"Iya, Bu. Nggak ada," sahut Diana.
"Sudah dicari yang betul belum?" tanya ibunya.
"Sudah, Ibuku kasihku sayangku cintaku," sahut Diana
__ADS_1
"Kalau ada kamu Ibu apakan?" tantang ibunya.
Diana menunjuk dagunya sambil berfikir " Ehm, diapain ya? Ahaaaa, gimana kalau uang jajannya aja yang ditambahi, Bu," tawar Diana sumringah.
"Pletak,"
Tiba-tiba sebuah jitakan mendarat di jidat Diana yang diberikan oleh ibunya.
"Awh sakit, Bu," keluh Diana.
"Lebay," sahut ibunya.
"Kebiasaan kamu itu kalau salah malah minta dikasih bonus, itu mah enak kamunya tapi Ibu yang rugi," lanjut ibunya.
Kemudian ibunya menyalakan lampu yang ada di ruang tengah itu agar pencahayaan di ruang itu terang, dan setelah mengedarkan pandangannya ibunya pun langsung menemukan kunci motor yang tergeletak tepat di hadapan Diana.
"Lah ini apa?" tanya ibunya sembari menunjuk kunci motor tersebut lalu memberikannya pada Diana.
" He he he," Diana tersipu malu.
"Tapi tadi Diana sudah cari di situ kok nggak ada lihat, bener deh," lanjutnya.
" Ya kaya apa mau lihat, orang lampunya aja gak dinyalakan, kalau ular sudah dipatuknya tadi kamu itu, Di," ucap ibunya.
"Lha emang iya, kalau tadi kunci motor itu ular sudah dipatuknya kamu, bisa-bisanya di depan mata nggak ngeliat itu lho," sahut ibunya.
"Iya-iya, sorry dorry strawberry deh, Bu. He he he," cengir Diana.
"Ya udah sana berangkat entar kesenjaan lho," titah ibunya.
"Siap komandan," sahut Diana menggoda ibunya kemudian langsung menyalami dan mencium punggung tangan ibunya.
"Ingat naik motor yang bener, jangan meleng meleng, jangan lupa nyalakan lampu sen kalau mau belok, kalau mau putar balik juga nyalakan lampu sennya, matanya jangan jelalatan sana sini, nanti kalau ketemu lela jangan lirik-lirik bahaya ntar bisa nabrak," jelas ibunya panjang kali lebar kali tinggi, memastikan agar anaknya aman selama mengendarai motor dan selamat sampai di rumah kembali.
"Umma ai, itu pesan-pesannya panjang amat, perasaan Amat aja gak panjang-panjang amat, Bu," oceh Diana lalu spontan menutup mulutnya
Lalu terkekeh dan langsung dihadiahi jitakan pelan lagi di jidatnya oleh ibunya.
"Awh," Diana kembali meringis.
__ADS_1
"Heh, apanya Amat yang panjang hah?" tanya ibunya.
"He he he, nggak tau, Bu. Apanya yang panjang, rambutnya mungkin ya," jawab Diana asal.
"Kamu tuh sembarangan aja kalau ngomong," ucap ibunya.
"Eh tapi bentar-bentar deh Bu, tadi ibu bilang kalau ketemu lela jangan lirik-lirik. Emang lela anak mana sih Bu, bentukannya kaya gimana kok sampai bahaya kalau Diana lirik-lirik dia," tanya Diana kepo.
"Lela itu ...."belum sempat ibunya selesai berucap Diana langsung memotongnya, "Ooh Diana tempe, pasti lela gebetannya si Manto kan, Bu. Ibu tenang aja, ntar kalau Diana sampe ketemu dia, Diana gak bakal ladeni, terus bilang kalau Diana nggak suka sama Manto, Mantonya aja yang dari dulu deket-deketin Diana terus padahal sudah dibilangin juga kalau Diana cuma nganggap dia temen doang gak lebih," Timpal Diana panjang kali lebar kali tinggi juga tak mau kalah dengan ibunya tadi.
"peletak,"
"Awh," Diana kembali meringis setelah mendapat jitakan lagi dari ibunya.
"Ish ibu ni dari tadi hobinya njitak jidat mulu deh, lama-lama benjol nih jidat Diana, ntar kalau Diana gak cakep lagi gimana, ibu juga yang rugikan kalau jujurannya Diana kurang," ucap Diana asal.
"Habis kamu main samber-samber aja kaya bensin, orang Ibu belum selesai ngomong juga," bela ibunya.
"Ya jadi siapa dong yang namanya lela itu, Bu? Cewek mana?" tanya Diana penasaran.
"Ntar juga kamu ketemu tuh di simpangan SMP, sama di tikungan dekat rumah Nenek," sahut ibunya.
"Hah, banyak amat sih yang namanya lela, Bu," sahut Diana kaget.
"Hadeuh, lela itu itu bukan nama orang Diana sayaaang, tapi cuma istilah, yang artinya lelakian," jelas ibunya.
"Owalah ha ha ha, kirain cewek mana tadi, bilang dong dari tadi pake istilah-istilah segala, kan Diana nggak mudeng jadinya," oceh Diana . Ya gini ni kalau ibunya kelewat up date bahasa gaul ketimbang anaknya batin Diana.
"Kalau itu mah Ibu tenang aja, Diana nggak bakal lirik-lirik, yang ada juga para lela itu yang lirik-lirik Diana karena terpesona dengan kecantikan, keanggunan dan keimutan anak Ibu yang satu ini, he he he," lanjut Diana dengan kepercayaan dirinya yang tingkat Dewi.
"Iih PD boros kamu kalau kata Leslar mah," sahut ibunya.
"Tuh kan ada-ada aja lagi istilah-istilahnya, Diana jadi kalah mulu," ucap Diana.
"Mangkanya up date dong, masa kalah sama emak-emak," balas ibunya.
"Iya-iya Ibuku yang paling up date," sahut Diana yang ditanggapi kekehan oleh ibunya.
"Ya udah Diana berangkat dulu, Bu. Assalamualaikum," ucap Diana.
__ADS_1
"Waalaikusallam, hati-hati," sahut ibunya.
"Iya, Bu," sahut Diana.