
Melihat Abri beranjak dari duduknya membuat Ramli heran. "Loh, kamu mau kemana Bri?" tanya Ramli.
"Ada urusan sebentar," sahut Abri sembari beranjak meninggalkan Ramli yang bengong karena melihat perubahan wajah Abri dengan senyum mengembang, padahal sedari tadi wajahnya terlihat sangat suntuk dan murung sekali.
Ramli pun mengikuti ke mana arah Abri berjalan dari tempat duduknya.
Sementara itu Diana dan Yanti masih bingung, apakah akan masuk ke dalam SMP atau tetap berada di luar pagar saja, sampai-sampai mereka tidak menyadari kalau sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka.
Dan mereka pun terkejut saat Abri sudah berada di dekat mereka.
"Diana!" sapa Abri.
"Eh, Mas Abri," sahut Diana dan Yanti kompak.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Abri.
"Eee, sebenarnya kami pingin lihat acara api unggun, Mas. Tapi mau masuk nggak enak, malu gitu he he he," jawab Diana malu-malu.
"Oh gitu, kalau mau lihat api unggun ya masuk aja, nggak apa-apa kok," ucap Abri seraya tersenyum. Diana dan Yanti pun saling melihat satu sama lain, kemudian Yanti memberikan kode dengan anggukan kepala pada Diana pertanda mengajak untuk masuk.
"Memangnya nggak apa-apa Mas kalau kami ikut masuk, kami kan bukan peserta kemah?" tanya Diana pada Abri.
"Ya nggak apa-apa lagi, siapa memangnya yang larang?" tanya Abri.
"Ya kali aja gitu, Mas. He he he," jawab Diana.
"Oh ya Di, tadi sore Mas ada ngirim WA tapi kok nggak dibuka?" tanya Abri.
"Ngirim WA sama siapa Mas?" tanya Diana polos.
"Ya ngirim sama kamu lah, Di. Sama siapa lagi emangnya?" Kali ini Yanti yang menyahuti karena gemas dengan tingkah Diana yang tidak peka sama sekali.
"Iyakah, Mas? Diana nggak tahu, maaf ya soalnya dari tadi sore Diana nggak ada pegang HP jadi nggak tau kalau ada pesan," jawab Diana sembari mengambil ponsel dari dalam saku celananya kemudian melihat aplikasi berwarna hijau itu.
"Eh iya bener, maaf ya, Mas. Nggak tau, jadi nggak Diana balas pesannya," ucap Diana setelah melihat ternyata memang benar ada pesan dari Abri. Abri pun kemudian tersenyum lega setelah mengetahui alasan Diana tidak membuka pesan yang dia kirim dan dia mempercayai apa yang diucapkan oleh Diana. Padahal tadinya dia berfikir jika Diana sengaja tidak membuka pesannya karena tidak mau berhubungan dengan dirinya.
"Nggak apa-apa kok, Mas kira kamu memang sengaja nggak mau komunikasi sama Mas," sahut Abri sembari tersenyum.
__ADS_1
"Hah, nggak gitu kok, Mas. Beneran Diana nggak sengaja kok. Tadi sore itu Diana lagi asik di tanah ngurusi tanaman sama bunga-bunganya Ibu sampai mau magrib, jadi nggak ada buka-buka HP, baru sekarang buka HP pas Mas ngasih tau kalau Mas ada ngirim pesan sama Diana," jelas Diana panjang lebar, karena dia tidak ingin jika Abri salah faham padanya.
"Umma ai, panjang bener penjelasannya, Di.
Tenang aja, Mas Abri pasti percaya kok sama alasanmu itu," kata Yanti.
Dan Abri pun tak kuasa menahan senyumnya saat mendengar penjelasan Diana yang panjang lebar itu.
"Iya nggak apa-apa, Di. Mas percaya kok, nggak usah sampai mau nangis gitu dong," goda Abri seraya tersenyum.
"Ih siapa juga yang mau nangis," sahut Diana.
"Kakak, jadi kapan kita masuknya ini, sudah pegel tau berdiri terus dari tadi," keluh Nuri yang sedari tadi hanya diam saja memperhatikan kakak-kakaknya dan Abri berbicara.
"Eh iya, sampai lupa kalau ada Nuri," sahut Diana, dan mereka semua pun sontak tertawa bersama.
"Ya udah ayo kita masuk sekarang!" ajak Abri pada Diana, Yanti dan juga Nuri. Mereka pun akhirnya masuk bersama-sama.
Selama perjalanan masuk Abri mengajak ngobrol Diana yang berjalan tepat di sampingnya, sedangkan Yanti dan Nuri berjalan di depan mereka.
"Iya mau tanya kabar kamu aja, sama mau tanya kamu malam ini ada acara nggak, kalau nggak ada mau aku tawari liat api unggun di sini, sama ada acara pentas seni juga. Eh sekalinya kamu nggak buka-buka pesanku," jawab Abri.
"Oh gitu, maaf Mas ya, Diana nggak tau," kata Diana yang terus meminta maaf pada Abri.
"Udah ah minta maaf terus, lebaran masih lama tau," jawab Abri.
"He he he, Mas Abri bisa aja, memangnya harus tunggu lebaran dulu baru minta maaf?" tanya Diana.
"Ya enggak sih, habisnya dari tadi kamu minta maaf terus," sahut Abri.
"Ya Diana ngerasa enggak enak aja sama Mas Abri," kata Diana.
"Yang penting kan kamu sudah ada di sini juga sekarang meskipun nggak baca pesanku," kata Abri.
"Iya juga sih he he he," jawab Diana.
"Tadi pagi Yanti yang ajakin Diana buat lihat acara api unggun ini. Tadinya sih Diana ragu mau lihat atau nggak, soalnya kan nggak enak juga kalau bukan peserta kemah tapi ikut nimbrung," imbuh Diana lagi.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok, nggak ada yang larang," jawab Abri.
"Terus kenapa akhirnya kamu mau?" tanya Abri lagi.
"Ya nekat aja, tapi ya kaya yang Mas lihat tadi, kami hanya berani lihat dari luar aja, nggak berani masuk, he he he," ucap Diana.
"Kenapa nggak tanya sama Mas tadi sebelum ke sini?" tanya Abri.
"He he he, sebenarnya tadi Yanti juga nyuruh nelpon Mas Abri buat nanyai itu, tapi Diananya malu mau nelpon Mas," jawab Diana polos. Mendengar ucapan Diana itu membuat Abri tertawa kecil, ia tak menyangka jika gadis di sampingnya ini benar-benar polos dan berbeda dengan gadis lain yang selama ini suka mencari-cari perhatiannya dengan mengirim pesan tak jelas.
"Ha ha ha, kamu itu lucu, cuma nelpon gitu aja kok malu sih," kata Abri.
"Ih kok Mas malah ketawa sih, ada yang lucu memangnya?" tanya Diana.
"He he he, nggak ada sih. Kamu malu kenapa memangnya?" tanya Abri penasaran.
"Ya malu lah, Mas. Diana kan nggak biasa nelpon-nelpon cowok duluan," jelas Diana.
"Oh gitu, terus kalau sama pacar kamu gimana? Malu juga mau nelpon duluan?" tanya Abri sembari menyelidiki apakah Diana sudah punya seseorang yang spesial atau belum, mengingat Diana bersekolah di kota yang banyak cowok-cowok kerennya pikir Abri.
"Pacar siapa?" tanya Diana sambil mengkerutkan dahinya.
"Ya pacar kamu lah," jawab Abri.
Diana pun langsung tertawa mendengar jawaban dari Abri yang membuat Abri heran.
"Kok ketawa sih?" tanya Abri heran.
"Ya lucu aja, Diana tuh nggak punya pacar, Mas. Jadi gimana mau nelpon cowok," jelas Diana yang membuat Abri tersenyum lega penuh arti. Tentu saja dia lega karena pujaan hatinya belum ada yang memiliki.
"Masa sih?" tanya Abri seolah-olah tak percaya.
"Iya, kalau nggak percaya ya sudah, nggak maksa juga," sahut Diana.
"Iya-iya, percaya deh," kata Abri.
Sementara itu tanpa Diana dan Abri sadari, dari jauh ada dua orang yang memperhatikan mereka sejak tadi. Mereka mempunyai pikiran masing-masing melihat interaksi Diana dan Abri. Yang satu merasa senang karena Abri sudah kembali ceria setelah akhirnya bertemu dengan pujaan hatinya yang sedari sore membuatnya galau. Sedangkan yang satu orang lagi merasa heran serta sedikit merasa tak suka melihat interaksi Abri dengan Diana yang terlihat akrab, mengobrol kadang juga diselingi dengan tawa.
__ADS_1