Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Jurit Malam 2


__ADS_3

Setelah insiden teriakan Ibnu tadi, jurit malam kembali dilanjutkan dengan menempuh rute selanjutnya, yaitu melewati bangsal tinggi peninggalan penjajahan B*l*nd*, tembus ke rumah besar peninggalan penjajahan B*l*n**a pula, terakhir melewati kuburan dan akhirnya kembali ke SMP. Kampung Diana memang dulunya banyak bangunan bekas peninggalan B*l*n*a, karena di sana terdapat perusahan minyak bumi yang dahulunya di kelola oleh B*l*n*a. Sedangkan SMP sendiri yang menjadi lokasi perkemahan dahulunya adalah bekas Rumah Sakit pada zaman penjajahan B*l*n*a, sehingga SMP ini sendiri terkenal karena keangkerannya.


Setelah lumayan berjalan, akhirnya mereka sampai di bangsal tinggi, dinamakan bangsal tinggi karena tongkatnya sendiri sudah mencapai 3 meter, ditambah tinggi lantai ke atap sekitar 4,5 meter.


Pada saat melewati bangsal itu suasana tak kalah mencekam, penerangan tidak memadai membuat salah satu adik penggalang menendang sebuah kaleng bekas susu tepat mengenai pinggang Ibnu. Sontak Ibnu yang dalam keadaan hatinya sedang dilanda perasaan takut langsung merapalkan Ayat Kursi senyaring-nyaringnya, dia mengira bahwa ada makhluk halus yang sengaja melemparnya.


"Ampun Datuk, permisi. Cucu cuma mau lewat saja, tidak mengganggu Datuk, jangan di sakiti!" ucap Ibnu setelah merapalkan Ayat Kursi sembari kedua telapak tangannya ia tangkupkan menjadi satu seperti orang yang meminta ampun, dan matanya ia pejamkan karena tak berani melihat.


Melihat aksi Ibnu tersebut membuat adik-adik penggalang yang berjalan di dekatnya langsung kompak tertawa, membuat Ibnu kaget. "Kenapa kalian ketawa?" tanya Ibnu.


"Habisnya Kakak lucu, itu tadi yang nendang kaleng saya Kak, nggak sengaja karena gelap, bukannya hantu," ucap salah satu adik penggalang asuhannya itu.


"Hah yang bener kamu, bukan hantu yang lempar Kakak?" tanya Ibnu.


"Ha ha ha bukan Kak," sahut adik penggalang itu yang masih tak bisa menahan tawanya.


"Lain kali hati-hati kalau jalan, untung kena saya, coba kalau kena temanmu bisa pingsan mereka," ucap Ibnu. Kali ini dia benar-benar merasa malu di hadapan adik-adik penggalang asuhannya.


"Iya Kak," sahut adik penggalang itu.


Dani yang berjalan tak jauh dari regu Ibnu sedari tadi mendengar percakapan antara Ibnu dan adik penggalang itu, bahkan semenjak Ibnu merapalkan Ayat Kursi tadi pun tertawa tak henti-hentinya, tapi dia masih bisa mengontrol volume tawanya hingga tak sampai terdengar oleh Ibnu.


"Ibnu-Ibnu, ada-ada aja tingkahnya, gitu aja masih nggak mau ngaku kalau takut," Dani bermonolog sendiri.


Dalam kegiatan jurit malam ini, setiap regu tidak hanya melulu berjalan mengikuti arah tanda yang sudah di berikan, namun mereka disarankan untuk berhenti di setiap pos yang sudah disediakan para panitia untuk melepas lelah sejenak sembari menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah diberikan.

__ADS_1


Saat berhenti di salah satu pos, tiba-tiba Ibnu kebelet ingin buang air kecil, dia pun berpamitan pada adik-adik penggalang asuhannya.


"Kalian di sini dulu ya, Kakak mau buang air dulu," pamit Ibnu.


"Perlu di temani nggak Kak?" tawar salah satu adik penggalang asuhannya.


"Nggak perlu cuma disitu aja kok," sahut Ibnu, sebenarnya ia sangat ingin sekali di temani saat ini, tetapi demi menjaga reputasinya di mata adik-adik penggalang asuhannya maka ia berkata tak perlu di temani.


"Jangan lupa bilang permisi Kak," saran adik penggalang yang lain.


"Iya," sahut Ibnu.


Saat sudah sampai di tempat tujuan, Ibnu pun langsung ingin menunaikan hajatnya, tapi perasaannya tidak enak, dia mendengar suara-suara dari semak-semak, seperti suara langkah kaki, tapi karena gelap dia tak melihat ada siapapun di sana, ia pun mengurungkan niatnya dan langsung mengancing celananya kembali, saat akan berbalik menuju pos, dia melihat sekelebat bayangan kain putih di depannya. Tak ayal dia pun langsung berjengkit dan segera berbalik, saat dia sudah berbalik dan akan beranjak dari sana, tiba-tiba sebuah telapak tangan mendarat di pundaknya dan menepuknya. Sontak saja Ibnu langsung kaget dan berteriak-teriak histeris.


" Aaaaaa! Jngan ganggu saya, ampun!" teriak Ibnu tanpa melihat siapa yang menepuk pundaknya.


Mendengar suara yang ia kenali Ibnu pun langsung membuka kedua matanya, dan ia pun melihat kalau itu adalah Dion tapi dia tak langsung percaya begitu saja, Karena bisa saja itu setan yang menyerupai Dion pikirnya. Dia pun melihat Dion mulai dari puncak kepala sampai ujung kaki, dan benar saja itu adalah Dion karena kakinya menyentuh tanah, itulah yang diyakini Ibnu kalau orang yang di hadapanya adalah benar-benar temannya.


"Kamu kenapa tadi nggak jadi buang air kecil?" tanya Dion yang memang mengetahui kalau Ibnu ingin buang air kecil karena sedari tadi Dion sudah bersembunyi di sana bersama seorang temannya.


"Nggak papa," ucap Ibnu.


"Kamu pasti takut ya gara-gara tadi lihat sekelebat kain putih di depanmu? Ha ha ha," tanya Dion yang sudah tak mampu menyembunyikan tawanya.


Ibnu hanya terdiam, seketika dia teringat dengan usulnya tadi dengan menambahkan gimmick berupa hantu bohongan sebelum kegiatan jurit malam ini di laksanakan. Dan dia pun tahu siapa-siapa saja yang ditugaskan untuk itu. Tetapi entah mengapa dia melupakannya.

__ADS_1


"Kamu lupa kah kalau aku di tugasi ngasih hantu bohongan? Ha ha ha," tanya Dion yang masih tertawa.


"Nggak kok aku ingat," elak Ibnu. "Aku tadi cuma khawatir aja sama nggak tega ninggalin Adik-adik di pos, jadi aku balik lagi," bantah ibnu lagi.


"Ooh jadi karena khawatir sama nggak tega ninggalin Adik-adik to sampai nggak jadi buang air," ucap Dion menyeringai seolah mengejek Ibnu.


"Iya, ya sudah aku balik ke pos dulu," ucap Ibnu.


"Eh nggak jadi buang air kecil, nanti kalau sampai bocor di celana mu gimana, Nu?" tanya Dion.


"Nggak akan," jawab Ibnu yakin.


"Ooh ya udahlah kalau gitu," sahut Dion.


Akhirnya Ibnu pergi meninggalkan Dion dan kembali ke pos dengan menahan buang air kecilnya, entah sampai kapan dia sanggup menahannya, mengingat perjalanan mereka masih separuh jalan.


"Kak, Kakak nggak papa tadi? Soalnya kami samar-samar dengar suara Kakak teriak tadi tapi kami nggak yakin karena suaranya bercampur sama suara angin," tanya salah satu adik penggalang begitu melihat Ibnu kembali.


"Wah masa sampai sini sih kedengarannya suara teriakan ku tadi?" batin Ibnu.


"Nggak, nggak papa kok, mungkin yang kalian dengar tadi suara angin aja, kamu liatkan anginnya kencang gini," jelas Ibnu.


"Ooh mungkin juga, syukurlah kalau Kakak nggak kenapa-kenapa, kami tadi khawatir Kakak pergi sendirian," sahut adik penggalang yang lain.


"Ooh, ya sudah kita lanjut lagi jalannya, ehm, pertanyaannya sudah di jawab belum?" tanya Ibnu mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


"Sudah, Kak," jawab mereka kompak.


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanannya kembali.


__ADS_2