
Walaupun Ramli sudah mencoba untuk menenangkan pikiran Abri, tetapi tetap saja Abri terlihat tidak bersemangat. Dia tetap ikut beraktivitas dengan rekan-rekannya sesama penegak mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk acara api unggun nanti malam, tetapi tetap tidak bisa membuat dirinya fokus. Bahkan diajak berbicara oleh rekannya saja dia kadang tidak mendengarkan, padahal orang yang mengajaknya berbicara tepat berada di sebelahnya. Hingga rekannya pun heran melihat tingkah dari Abri yang tidak seperti biasanya. Tak sedikit yang bertanya kepada Ramli mengapa Abri seperti itu.
"Ram, itu kenapa sih si Abri, kok kayaknya nggak semangat gitu?" tanya Dani.
"Oh, biasalah boosternya lagi nggak ada, mangkanya dia kelihatan nggak mood gitu," jawab Ramli asal.
"Maksudmu boosternya siapa?" tanya Dani lagi.
"Ada deh, kepo banget sih kamu, Dan," kata Ramli.
"Ih bukannya apa, aku senang aja kalau dia sudah ada yang baru, berarti kan dia sudah move on dari mantannya yang dulu itu," sahut Dani.
"Iya, kamu tenang aja, dia udah move on kok, lagian kan kamu tau kalau sama yang dulu itu bukan Abri yang ngejar-ngejar duluan, nah kalau sekarang ini kebalikannya, malah Abrinya yang suka duluan," jelas Ramli panjang kali lebar kali tinggi.
"Siapa sih memangnya Ram?" tanya Dani. "Penasaran aku kayak apa sih orangnya sampai-sampai Abri bisa meleleh kayak gitu, biasanya kan dia orangnya dingin kayak es gitu kalau sama cewek," imbuhnya lagi.
"Wah sorry Dan, kalau soal itu aku nggak bisa kasih tau siapa orangnya, soalnya Abrinya sendiri sudah pesan sama aku supaya nggak kasih tau siapa-siapa, dan aku juga sudah janji sama dia," jawab Ramli.
"Lha, tapi ini kamu sudah cerita sama aku Ram," kata Dani.
"Iya tapi kan nggak kasih tau siapa orangnya, dodol," jawab Ramli.
"Ciri-cirinya aja deh kalau gitu, anak mana? Aku kenal nggak?" tanya Dani.
"Ah kamu ini, Dan. Pake mancing-mancing aku segala, nggak makan tau," jawab Ramli.
"Umma ai, pelit amat sih jadi orang," ucap Dani sedikit kesal karena Ramli tak mau memberitahukannya.
"Yang pasti sih kamu tau, bahkan kenal sama orangnya Dan, orang sini juga dia," kata Ramli.
"Teman sekolah kita juga nggak Ram?" Dani semakin bertanya terus karena masih penasaran.
"Bukan," jawab Ramli singkat.
"Terus sekolahnya di mana dong cewek itu?" tanya Dani lagi.
"Wah ini kalau dijawab terus bisa keceplosan aku, bahaya pertanyaanmu nih, Dan. Menjurus sudah soalnya," jawab Ramli.
"Ha ha ha, memang itu tujuannya Ram," sahut Dani sembari tertawa.
"Sudah ah stop bahas soal Abrinya. Sekarang ngomong-ngomong persiapan untuk api unggun sama pentas seninya sudah selesai semua atau belum?" tanya Ramli. "Kalau sudah aku mau kembali ke tenda dulu," imbuhnya lagi.
"Sudah beres semua," sahut Dani.
"Oh ya sudah kalau gitu, aku tinggal dulu ya Dan, belum salat Isya soalnya aku," pamit Ramli.
__ADS_1
"Ok," sahut Dani.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan bahkan menguping pembicaraan mereka berdua. Dia pun penasaran siapa sebenarnya orang yang telah mencuri hati Abri sampai-sampai membuat Abri galau seperti itu. Dia pun memutuskan untuk menghampiri Dani setelah Ramli pergi.
"Hei, ngapain bengong kayak kambing congek?" tanya orang itu.
"Eh, ngagetin aja sih kamu, Nu," sahut Dani. Ya dialah Ibnu yang sedari tadi memperhatikan bahkan menguping pembicaraan Ramli dan Dani.
"Ha ha ha, bisa kaget juga toh ternyata kamu," kata Ibnu.
"Ya bisalah, eh ngomong-ngomong kamu sudah baikan, sudah lupa sama insidenmu itu kan?" tanya Dani ceplas-ceplos.
"Tenang aja, Ibnu gitu loh," jawab Ibnu.
"Oh syukur deh, mudah-mudahan habis nih kamu nggak apes lagi ya, Nu. Aku sudah capek ketawa soalnya," sahut Dani dengan enteng.
"Oh memang kamu ini, Dan. Kalau mau mendoakan sih doakan aja, tapi jangan dijatuhkan dong habis itu," jawab Ibnu dengan sedikit kesal.
"Ha ha ha, iya deh maaf, sengaja," kata Dani lagi yang membuat Ibnu tambah kesal dibuatnya. Lalu Ibnu pun mengalihkan pembicaraan mereka dengan bertanya tentang apa yang tadi Dani dan Ramli obrolkan.
"Ih kepo juga toh ternyata kamu sama Abri," kata Dani.
"Enggak juga sih, cuma kepo sama ceweknya aja siapa sebenarnya sampai bisa buat Abri jadi galau kayak gitu," sahut Ibnu.
Sementara itu, orang yang mereka bahas dari tadi sedang berada di dalam tenda mereka. Dia memilih menyendiri untuk saat ini. Hampir setiap sepuluh menit sekali dia selalu mengecek ponselnya, kalau saja ada pesan masuk sementara dia tidak mengetahui pikirnya. Padahal ponselnya bukan pada mode silent, sehingga setiap ada pesan atau telpon masuk pasti berbunyi, tapi tetap saja Abri tidak yakin.
Setelah Ramli tiba di tenda dia segera melaksanakan salat dan setelahnya mengajak Abri untuk keluar karena sebentar lagi acara pentas seni dan api unggunnya akan dimulai.
"Ke lapangan yok sudah Bri! Sebentar lagi kan acaranya mau dimulai, ada pentas seni juga dari adik-adik penggalang, kali aja kamu terhibur," ajak Ramli.
"Ya, ayo," sahut Abri singkat tanpa semangat. Dia masih berharap kata-kata Ramli tadi sore menjadi kenyataan, yang berharap Diana tiba-tiba ada di sana untuk melihat acara api unggun. Dengan langkah gontai ia menuju ke lapangan.
...****************...
Setelah selesai makan, Diana dan Yanti segera membersihkan meja makan dan mencuci piring. Tak lama kemudian terdengar suara azan Isya, mereka pun segera melaksanakan salat Isya sebelum pergi ke SMP untuk melihat acara api unggun.
Setelah selesai salat Isya, Diana, Yanti dan Nuri pun berpamitan pada Bu Rahmi dan Pak Asran.
"Pelan-pelan aja bawa motornya ya, Yan!" titah Pak Asran pada Yanti.
"Siap, Paman," sahut Yanti.
"Jangan malam-malam kalian pulangnya ya, jam sepuluh sudah harus pulang," imbuh Bu Rahmi.
"Iya, Bu. Kami pergi dulu ya, assalamu'alaikum," pamit Diana sembari menyalami dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya yang kemudian diikuti oleh Yanti dan Nuri.
__ADS_1
Selama perjalanan, Yanti tak henti-hentinya bicara, ada-ada saja yang jadi bahan ocehannya, membuat Diana heran akan sepupunya satu ini.
"Yan, kayaknya kamu ini kalau lagi tidur aja ya diamnya tuh mulut, nggak capek apa dari tadi ngomong terus?" tanya Diana. Dan untungnya Yanti tidak memasukkan dalam hati ucapan Diana tadi, dia tahu jika Diana hanya bergurau saja.
"Ha ha ha, sudah bawaan orok jadi harap maklum aja," sahut Yanti enteng.
"Eh kamu nanti kalau di sana jangan macam-macam plus aneh-aneh ya tingkahmu, apalagi kalau ketemu sama Mas Abri," pesan Diana yang mengkhawatirkan soal tingkah Yanti yang suka asal dan ngawur kalau bicara.
"Memangnya kenapa sama tingkahku?" tanya Yanti pura-pura tidak tahu, padahal ia tahu maksud dari pesan Diana tadi.
"Halah, pura-pura nggak tau, ingat nggak terakhir ketemu kamu ada bilang apa sama Mas Abri?" tanya Diana.
"Ha ha ha, oh itu toh," sahut Yanti.
"Nggak janji deh kalau itu," lanjutnya lagi.
"Ih kamu ini Yan ngeselin, jangan bikin malu aku dong, kalau nggak kita pulang aja sekarang nggak jadi nonton!" ancam Diana.
"Ih santai dong, iya-iya aku janji nggak bakalan macam-macam, paling cuma satu macam aja he he he," sahut Yanti.
"Itu sih sama aja Yan, ya udah balik aja nggak jadi nonton!" ancam Diana lagi.
"Ih Kak Yanti jangan gitu dong, cepetan janji, Nuri nggak mau pulang sekarang, maunya liat api unggun dulu," rengek Nuri yang sedari tadi hanya diam memperhatikan kedua kakaknya bicara.
"Iya deh janji," sahut Yanti.
"Nah gitu kan bagus, dari tadi kek," sahut Diana.
Akhirnya mereka sampai di SMP, tetapi saat ini mereka masih berada di luar pagar SMP, yang jadi masalah mereka sekarang adalah apakah mereka melihat api unggun dari luar pagar saja karena kebetulan pagar SMP hanya sedada orang dewasa, atau mereka masuk ke halaman SMP langsung.
"Gimana nih Yan, kita liat dari sini aja atau masuk?" tanya Diana.
"Nggak tau, kalau kita di sini aja kasian Nuri nggak bisa lihat, kecuali kalau kamu mau nggendong dia," sahut Yanti.
"Iya juga sih, tapi kalau aku gendong dia bisa sengklek nih pinggang sampai rumah," kata Diana. "Tapi kalau mau masuk malu juga Yan," imbuhnya lagi.
"Jadi gimana?" tanya Yanti, dan Diana hanya menaikkan kedua pundaknya saja menanggapi pertanyaan dari Yanti itu.
Sementara itu di dalam pagar, semua peserta kemah sudah berkumpul di lapangan, mereka duduk melingkari api unggun yang terletak di tengah-tengah mereka.
Abri dan rekan-rekannya pun sudah berada di sana. Abri duduk masih dengan ekspresi wajah yang lesu tidak bersemangat karena sedari tadi belum juga mendapat balasan dari Diana.
Sembari duduk menunggu acara dimulai yang diawali dengan pentas seni dari adik-adik penggalang, mata Abri terus memindai ke segala penjuru, mulai dari dalam halaman SMP hingga ke luar pagar SMP, ia masih berharap Diana tiba-tiba ada di sana untuk melihat acara mereka malam ini.
Saat dirinya memindai ke luar pagar, matanya tiba-tiba menangkap sosok yang sedari tadi membuat hati dan pikirannya galau, tetapi dia tidak yakin dengan penglihatannya itu. Abri pun beberapa kali mengucek matanya memastikan bahwa dia tidak berhalusinasi karena terlalu memikirkan Diana. Setelah merasa yakin bahwa itu benar-benar Diana karena ada juga Yanti di dekatnya, maka senyum lebar yang sedari tadi sulit keluar pun terbit dari bibirnya. Harapannya menjadi kenyataan pikirnya. Dan dia pun nekat untuk menghampiri Diana yang masih berdiri di luar pagar bersama dengan Yanti dan Nuri.
__ADS_1