Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Prediksi Yanti


__ADS_3

Selama perjalanan pulang, motor mereka berjalan beriringan, tak terlalu banyak yang mereka obrolkan, sesekali Abri hanya melirik dan mencuri pandang pada Diana yang mengendarai motor disampingnya. Sedangkan Yanti yang berada di boncengan belakang terus mengamati gerak-gerik Abri.


Tak lama mereka pun sampai juga di rumah Diana.


" Dah sampai," ucap Yanti.


" Makasih ya, Mas. Jadi ngerepotin," ucap Diana.


"Iya, nggak apa-apa? aku malah senang kamu repotin," ucap Abri.


"Wih, kalau ada orang tuh Mas ya nggak suka direpotin, tapi ini Masnya malah kebalik he he he," ceplos Yanti.


" Direpotin siapa dulu maksudnya," ucap Abri dalam hati.


"Kita kan harus saling tolong-menolong apalagi kalau kenal," sahut Abri.


"Ooh gitu berarti boleh dong nanti kalau aku minta ditolong sama Masnya," ceplos Yanti asal yang langsung dicubit Diana di tangannya.


"Apaan sih, udah deh ya modusnya dari tadi," bisik Diana.


"Maaf ya, Mas. Yanti hanya bercanda kok, nih anak kayanya harus segera dibawa masuk minum obat biar nggak tambah ngawur," ucap Diana pada Abri.


"Eh enggak kok beneran, aku cuma minta tolong supaya jagain Diana, itu aja kok nggak susahkan?" ceplos Yanti asal yang membuat Abri dan Diana langsung melebarkan kedua matanya bersamaan.


"Yanti apaan sih, tambah ngawur kan, ayo cepat masuk!" ucap Diana sambil menarik tangan Yanti dan memasukkannya ke dalam rumah. Setelah berhasil memasukkan Yanti, Diana pun segera menghampiri Abri kembali yang sedari tadi menahan tawa.


"Maaf ya, Mas. Jangan di masukin hati omongan Yanti tadi," ucap Diana.


"Iya nggak papa kok, kalau gitu aku pamit dulu ya, assalamualaikum," ucap Abri.


"Waalaikusallam, hati-hati, Mas," sahut Diana, dan Abri menganggukkan kepalanya.


Sementara itu di dalam rumah Yanti sudah bersembunyi di balik selimut, seluruh tubuhnya ia tutupi selimut tak terkecuali kepalanya juga. Dia tahu pasti Diana akan memarahinya atas ucapan dan tingkahnya tadi.


Begitu memasuki rumah Diana langsung mencari Yanti, tak lupa dia mencuci kaki dan tangannya terlebih dahulu.


"Yanti mana, Bu?" tanya Diana pada ibunya.


"Sudah masuk kamar tuh," sahut ibunya.


"Oooh ya sudah," sahut Diana. Dia pun bergegas masuk ke kamarnya. Begitu melihat ada gundukan yang tertutupi selimut di atas kasurnya, Diana sudah menyangka kalau itu adalah Yanti yang pura-pura tidur. Diana pun langsung membuka gundukan itu, dan benar saja dugaannya.


"Hei bangun, jangan pura-pura tidur deh," ucap Diana. Tapi Yanti tak bergerak sedikitpun, akhirnya Diana berinisiatif untuk menggelitik pinggang Yanti, tentu saja usahanya itu berhasil, Yanti pun terbangun sembari teriak-teriak minta ampun.

__ADS_1


"Bangun nggak, bangun nggak!" ucap Diana sambil terus menggelitiki pinggang Yanti.


"Iya ampun-ampun, aku bangun deh," ujar Yanti. Dan Diana pun berhenti menggelitikinya.


"Kenapa sih nyuruh aku bangun? Sudah enak-enaknya tidur juga," ucap Yanti sewot.


"Pakai tanya lagi kenapa, jangan pura-pura lupa ya," sahut Diana kesal.


"Kenapa, soal yang tadi itu, yang aku bilang minta tolong jagain kamu itu?" tanya Yanti.


"Iya, kenapa kamu tiba-tiba ngomong gitu?" tanya Diana.


"Ya nggak papa sih, kode aja supaya dia gerak cepat aja gitu, dari pada dia keduluan orang, kan nyesel akhirnya," jelas Yanti panjang lebar.


Mendengar penjelasan Yanti diana pun langsung mengerutkan alisnya.


"Maksud kamu?" tanya Diana.


"Yaelah, kamu itu jadi cewek nggak peka atau pura-pura nggak peka sih?" Yanti balik tanya.


"Ish beneran, Yan. Cepetan deh kasih tau!" desak Diana.


" Ish masa sih kamu nggak ngerasa kalau dia itu suka sama kamu?" ucap Yanti.


"Hah, nggak salah prediksimu, Yan? Kok malah kamu yang keGRan sih, ha ha ha?" sahut Diana disertai gelak tawa.


"Kamu nggak liat dari sorot matanya bagaimana cara dia ngeliat kamu?" tanya Yanti. Diana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Hedeuh, gini ini sudah, malah orang lain yang peka dari pada yang punya diri, emang biasanya gitu sih, yang ditaksir nggak sadar sedangkan orang lain yang malah sadar," ucap Yanti panjang lebar.


"Masa sih kamu nggak merhatikan cara dia lihat kamu?" tanya Yanti lagi yg masih tak percaya.


"Ish...enggak, Yan. Gimana aku mau perhatikan cara dia lihat aku, orang aku aja nggak lihatin matanya kalau ngomong," jelas Diana.


"Lha terus yang kamu liat apanya dong kalau lain matanya?" tanya Yanti.


"Lihat alisnya," sahut Diana asal.


"Habisnya alisnya itu tebel banget, pingin ngajakin tukaran aja akunya," imbuh Diana lagi.


Sekali lagi Yanti memukul jidatnya.


"Sudah jangan dipukul terus tuh jidat, ntar tambah lebar, mau lo?" ucap Diana.

__ADS_1


"Ngarut aja," sahut Yanti.


"Seriusan deh, cara dia ngeliat ke kamu sama ngeliat ke aku tuh beda, Di. Tatapannya ke kamu tuh gimana gitu, tatapan penuh cintrong," ucap Yanti.


"Preeeeet lah, sotoy aje lu, iya kalau tatapan dia ke aku tatapan penuh cintrong, sementara ke kamu tatapan penuh keji*ik*n ha ha ha," sahut Diana yang langsung tertawa puas.


"Huh da*ar, terserah kamu aja deh, dan lagi kamu tahu nggak, kalau selama perjalanan pulang tadi dia terus ngelirik kamu plus curi-curi pandang juga," lanjut Diana lagi yang masih kekeh dengan prediksinya. Diana pun semakin mengerutkan dahinya serta menggeleng-gelengkan kepalanya rasa tak percaya.


"Ya udah kalau nggak percaya mah," ucap Yanti.


"Eh ngomong-ngomong kamu kenal dia dimana, Di?" tanya Yanti.


" Di pasar, nggak sengaja aja ketemu," sahut Diana.


"Hah, di pasar, kok bisa?" tanya Yanti, belum sempat diana menjawab, Yanti sudah bertanya lagi, "Kapan, kok kamu nggak ada cerita sih sama aku Di?"


"Woi kebiasaan, bisa nggak satu-satu kalau tanya?" omel Diana.


"Iya- iya, ya sudah lanjut," sahut Yanti.


"Emangnya, aku belum ada cerita ya sama kamu?" tanya Diana.


"Belum," jelas Yanti.


"Lupa berarti aku, eh tapi ngapain juga aku laporan sama kamu, kaya kamu penting-pentingnya aja," ucap Diana asal yang langsung dihadiahi Yanti ketukan pelan di jidatnya.


"Oh da*ar kamu ya, ya udah cepetan cerita sekarang," desak Yanti.


"Iya-iya nggak sabar banget sih, tapi sekarang sudah jam sepuluh Yan, besok aja ya ceritanya, aku ngantuk sudah nih," ucap Diana melas.


"Eits nggak bisa, nggak ada besok-besokan, pokoknya sekarang!" paksa Yanti.


"Kalau sekarang ceritanya nggak sempet, Yan. Bisa-bisa sampe jam 12 malam, soalnya ceritanya panjaaaaang banget," ucap Diana asal sambil merentangkan kedua tangannya hingga menyenggol kepala Yanti yang duduk di sampingnya dan Yanti pun terjatuh.


"Aduuh, kamu ini, pasti bohong kan, ayo ngaku!" ucap Yanti sambil menggelitik pinggang Diana, dan kali ini Diana yang menyerah dan akhirnya menceritakan semua awal pertemuannya yang tidak disengaja dengan Abri.


Selesai bercerita, Diana pun berkata pada Yanti, "Eh tapi tadi maksud dari pertanyaanku yang kenapa kamu minta tolong sama Mas Abri untuk jagain aku itu bukan jawaban dari kamu itu lho maksudnya, Yan."


"Hah maksudnya?" tanya Yanti nggak mudeng.


"Iya, kamu ngerasa nggak kalau pertanyaan kamu tadi itu kaya pesan-pesan terakhir orang yang mau out," jelas Diana.


"What? Maksud kamu aku kayak orang buang perangai gitu?" tanya Yanti.

__ADS_1


"Iya," sahut Diana sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ih amit-amit, belum kawin aku, Di. Amit-amit," ucap Yanti sambil mengetuk-ngetuk jidatnya dan meja bergantian. Diana yang melihat reaksi Yanti sontak tertawa puas.


__ADS_2