Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Obrolan Sepanjang Jalan


__ADS_3

"Ada apa di kaki Diana, Mas?" tanya Diana panik.


"Ha ha ha," Abri malah tertawa.


"Lho kok ketawa sih? Ada apa, Mas? Diana takut nih," ucap Diana.


"Coba kamu lihat sendiri!" titah Abri.


"Nggak mau, takut!" elak Diana.


"Ha ha ha," Abri kembali tertawa.


"Mas nah, kok malah ketawa lagi sih, bukan ularkan?" tanya Diana.


"Bukan, ini lho cuma rumput alang-alang," jawab Abri.


"Bener? Bukan ularkan?" tanya Diana lagi memastikan.


"Bukan, kalau nggak percaya lihat aja sendiri mangkanya," titah Abri lagi.


Perlahan Diana pun melihat ke bawah kakinya yang sebelah kiri, tetapi posisinya masih memegangi Abri. Lalu setelah dia melihat ke bawah, ternyata memang benar rupanya cuma rumput alang-alang. Dan Diana pun menarik nafas lega. Dan setelah itu baru dia menyadari kalau sedari tadi dia telah memeluk Abri. Seketika itu, Diana langsung melepaskan tangannya dari Abri dengan wajah merah seperti kepiting rebus, karena malu.


"Eh maaf, Mas. Nggak sengaja," ucap Diana.


"Iya nggak papa, Mas maklum kok. Jadi kenapa kamu kok bisa sampai histeris segitunya?" tanya Abri.


"Iya, Diana itu kalau sudah liat sejenis ular, cacing bahkan ulat beras yang kecil itu, suka parno kalau ada sesuatu yang nyentuh-nyentuh badan Diana gitu. Dipikiran Diana sudah yang macam-macam aja, he he he," jawab Diana.


"Ha ha ha, kenapa? Pasti geli ya?" tanya Abri.


"Iya, geli banget malah," jawab Diana sambil bergidik.


"Terus kalau kamu lagi ngurusi tanaman sama bunga-bunga gimana kalau ketemu cacing, pastikan ada tuh di dalam tanahnya. Nah kalau pas lagi nanam ketemu cacing gimana?" tanya Abri penasaran.


"Ya Diana langsung tinggal aja, nggak perduli lagi sudah," jawab Diana.


"Oh seperti itu," ucap Abri.


"Iya, pokoknya Diana itu geli banget sama hewan-hewan yang sejenis itu. Pernah ya dulu Diana musuhan sama teman Diana gara-gara dilempari cacing gede banget, sampai-sampai Diana jatuh," jelas Diana.


"Oh sampai segitunya?" tanya Abri.


"Iya," saut Diana singkat.


"Ya udah, itu ularnya sudah lewat, kita lanjut lagi jalannya ya!" ajak Abri.


"Iya," jawab Diana singkat.


Abri pun segera menjalakam motornya dengan kecepatan pelan. Dia memang sengaja seperti itu, agar momen seperti ini tidak cepat berlalu. Kalau seandainya ada jalan lain yang lebih jauh, mungkin Abri akan melewati jalan itu, agar ia bisa berlama-lama dengan Diana. Tapi sayangnya, jalanan yang menuju ke rumah Diana hanya ada satu itu saja.

__ADS_1


Sementara itu Yanti dan Nuri sudah jauh meninggalkan mereka, karena tadi setelah Yanti pergi, mereka tak langsung pergi juga. Ditambah lagi dengan insiden ular tadi yang membuat mereka bertambah tertinggal jauh dari Yanti dan Nuri.


"Ngomong-ngomong suara Mas Abri tadi bagus lho," ucap Diana mengalihkan rasa malunya karena tak sengaja sudah memeluk Abri tadi.


"Ah, biasa aja. Yang lain juga ada yang lebih bagus kok dari Mas," jawab Abri merendah.


"Tapi siapa ya kira-kira yang sudah request nyuruh Mas nyanyi?" tanya Diana.


"Nah itu dia, Mas juga nggak tau," sahut Abri.


"Jangan-jangan fansnya Mas tuh, he he he," ucap Diana.


"Ha ha ha, memangnya Mas selebriti jadi punya fans segala?" tanya Abri.


"Ya nggak mesti harus jadi selebriti dulu baru punya fans," sahut Diana. "Eh tapi ngomong-ngomong lagi nih, apa nggak ada yang marah kalau Mas ngantar Diana pulang?" tanya Diana.


"Siapa memangnya?" tanya Abri sembari mengkerutkan dahinya.


"Ya mungkin fansnya Mas," tebak Diana.


"Ha ha ha, kamu itu ada-ada aja," jawab Abri.


"Lho bisa aja, kan. Jangan sampai habis ini Diana dilabrak cewek lho ya gara-gara diantar pulang sama Mas Abri. Kalau sampai ada, pokoknya Mas harus tanggung jawab!" ucap Diana.


"Ha ha ha, kamu itu ya tambah ngada-ngada. Kok bisa Mas yg disuruh tanggung jawab," tanya Abri.


"Ya iyalah, kan Mas yang tawari untuk antar Diana, bukan Diana yg minta untuk diantar," jelas Diana.


"Masa iya?" tanya Diana tak percaya, yg membuat Abri hanya menggaruk kepalanya saja yang tak gatal.


"Nih cewek sebenernya maksudnya apa sih? Lagi nyelidiki aku sudah ada pacar atau belum, atau memang bener-bener takut dilabrak orang sih?"batin Abri.


"Iya, Diana. Kalau nggak percaya tanya aja sama Ramli," saran Abri.


"Tapi tadi itu kayaknya banyak banget lho fansnya, Mas, pada nyorakin," bantah Diana.


"Kalau itu mah biasa aja, Di. Tadi aja Ramli, Dani sama Ibnu juga disorakin," jawab Abri.


"Iya juga sih, he he he. Pokoknya Diana nggak mau aja kalau habis ini Diana dilabrak sama cewek," ucap Diana.


"Ya, nggak akan," sahut Abri singkat.


"Terus, kira-kira nanti bakalan ada yang labrak Mas nggak karena sudah ngantar kamu pulang?" Abri balik bertanya.


"Ha ha ha, kok malah gantian tanya sih sekarang?" tanya Diana.


"Yakan ngikuti kamu juga," sahut Abri.


"Kalau mau tahu tuh tadi sewaktu Mas tawari Diana ngantar pulang, kalau sekarang mah sudah kasep alias sudah terlambat, Mas," sahut Diana.

__ADS_1


"Jadi ada yang marah nih?" tanya Abri.


"Nggak ada, Mas. Kan tadi Diana sudah kasih tau kalau Diana nggak punya pacar, jadi ya nggak ada yang marahlah," sahut Diana.


"Oh gitu. Tapi bagaimana dengan fansmu?" tanya Abri.


"Fans apaan sih, orang Diana nggak ada fans kok," sahut Diana.


"Masa iya," tanya Abri tak percaya.


"Ih kok Mas ngikut-ngikut Diana sih pertanyaannya dari tadi?" tanya Diana. Dan Abri pun tersenyum mendengar pertanyaan Diana.


"Ya kan kamu yang ngajari," sahut Abri.


"Ish bisa aja," sahut Diana.


"Terus itu si Ibnu, kayaknya dia salah satu fans kamu," kata Abri.


"Masa sih?" tanya Diana pura-pura tidak tahu.


" Halah pura-pura nggak tau," jawab Abri.


"Iya," jawab Diana singkat.


"Masa sih?" tanya Abri.


"Ya biarin aja kalau dia jadi fansnya Diana. Itu hak dia. Yang penting kan Diana nggak kasih harapan apa-apa sama dia," sahut Diana yang ternyata membuat Abri lega.


"Oh gitu, jadi kamu nggak suka sama dia?" tanya Abri lagi untuk meyakinkan dirinya kalau Diana tidak ada rasa apa-apa pada Ibnu.


"Suka yang gimana dulu? Nggak ada alasan untuk Diana nggak suka sama dia, tapi nggak lebih dari sebatas teman aja. Bukan suka sama lawan jenis," jelas Diana.


"Oh gitu," jawab Abri seraya menyunggingkan senyumannya yang sudah tentu tak terlihat oleh Diana. Tentu saja hatinya merasa senang setelah mendengar penjelasan dari Diana.


Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Diana, yang membuat Abri sedikit kecewa karena momen dia berdua dengan Diana malam ini harus berakhir. Dan Abri pun memberhentikan motornya tepat di depan rumah Diana yang tampak sudah sepi. Ya karena Yanti dan Nuri sudah semenjak tadi sampai.


"Makasih ya, Mas," ucap Diana.


"Iya, sama-sama," sahut Abri.


"Nggak mampir dulukah, Mas," tawar Diana basa-basi.


"Nggak usah,Di. Lain kali aja. Mas mau langsung balik aja, nggak enak udah malam," sahut Abri.


"Oh ya udah kalau gitu," sahut Diana.


"Mas balik dulu ya. Masuk sudah sana!" titah Abri.


"Iya nanti tunggu Mas pergi dulu," jawab Diana.

__ADS_1


"Jangan nunggu Mas, masuk aja dulu sana, nanti kalau ada ular lagi gimana, hayo," ucap Abri menakuti Diana.


"Astaga ai, Mas ini malah nakuti. Ya udah deh Diana masuk duluan, Mas Abri hati-hati ya," jawab Diana seraya berlalu masuk ke dalam rumahnya, dan Abri pun hanya tersenyum kemudian setelah Diana masuk ke dalam rumah dia pun segera balik lagi ke SMP.


__ADS_2