
Keesokan harinya, Abri mendapati Ramli berada di dalam kamarnya sedang bermain ponsel. Rencananya Abri akan meminjam ponsel Ramli hari ini untuk memulai penyelidikannya.
"Ram, boleh masuk?" tanya Abri.
"Bolehlah, masuk aja," jawab Ramli.
"Boleh pinjam HP kah sebentar?" tanya Abri. "HP ku lagi error nih, mau browsing bentar," lanjutnya kemudian.
"Oh, bentar. Nih," jawab Ramli seraya memberikan ponselnya pada Abri.
Abri pun meminta ijin pada Ramli untuk membawa ponselnya ke dalam kamar Abri sendiri.
Sesampainya di kamar, Abri pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung mengecek semua pesan, baik di aplikasi atau pada SMS biasa. Akan tetapi hasilnya nihil, ia tak menemukan apapun di sana. Kemudian ia melanjutkan mengecek semua panggilan, dan kali ini pun hasilnya sama, ia tak menemukan apapun di sana. Pintar sekali Ramli pikirnya, mungkin ia langsung menghapus semua log panggilan dan pesan dari dan untuk Desy. Kemudian ia menyetel HPnya untuk menyadap ponsel Ramli, sehingga setiap ada pesan atau panggilan masuk di HP Ramli dia pun akan mengetahuinya juga. Entah dari mana dia belajar bagaimana cara menyadap HP, yang pasti sekarang ini dia telah berhasil melakukannya.
Setelah dirasa cukup, Abri pun berniat mengembalikan ponsel Ramli dengan segera, takut kalau-kalau si empunya ponsel curiga padanya. Akan tetapi pada saat akan membuka pintu kamarnya untuk keluar, tiba-tiba sebuah notifikasi berbunyi. Abri pun langsung melihat ke arah ponsel Ramli, dan betapa terkejutnya ia begitu melihat pesan pop up WA Ramli yang berisikan kata-kata mesra tetapi bukan dari Isya, melainkan dari sahabatnya yaitu Desy. Melihat ada nama Desy di situ, jantung Abri pun langsung berdebar kencang, rupanya benar bahwa mereka memang memiliki hubungan khusus.
Abri pun melanjutkan langkahnya menuju kamar Ramli. Kemudian setelah di sana Abri pun langsung mengembalikan ponsel Ramli sembari bertanya, "Nih, makasih ya," ucap Abri seraya berlalu menuju pintu keluar, namun tiba-tiba ia ingat sesuatu kemudian menghentikan langkah kakinya kemudian ia bertanya pada Ramli," Kamu tadi malam ke mana?" tanya Abri lagi.
__ADS_1
"Biasalah, anak muda malam mingguan," jawab Ramli.
"Kamu ke rumah Isya?" tanya Abri.
"Iya, maaf ya lupa ngajakin kamu," jawab Ramli.
"Iya, nggak apa-apa," ucap Abri seraya tersenyum. Ramli tak mengetahui arti senyuman dari Abri tersebut. Ia pun lalu membuka ponselnya. Dia melihat ada pesan pop up WA dari Desy, kemudian membalasnya. Desy mengajaknya keluar nanti sore, dan Ramli pun menyetujuinya. Setelah beberapa menit, Ramli pun baru tersadar jika ponselnya tadi telah dipinjam Abri, dan dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah Abri mengetahui jika tadi Desy mengiriminya pesan, mengingat tadi pesan pop up Desy terlihat jelas di layar ponselnya. Dia berharap Abri tidak sempat melihat pesan itu. Kalau sampai Abri sempat melihatnya bisa habis dia dicaci Abri pikir Ramli. Bukan karena apa, karena Abri sudah mewanti-wanti dirinya agar tak mempermainkan Isya yang ujung-ujungnya pasti berimbas pada hubungan Abri dan Diana yang masih dalam tahap pendekatan. Tapi ada hal yang membuat Ramli lega, yaitu Abri tidak menanyakan hal tentang pesan Desy padanya saat mengembalikan ponsel miliknya tadi, kecuali menanyakan tentang keberadaan dirinya semalam, yang tentu saja dijawab bohong oleh Ramli. Yang sebenarnya semalam dia pergi ke rumah Desy.
Sesampainya di kamar, Abri langsung mengirim pesan pada Diana untuk menanyakan apakah tadi malam memang benar Ramli pergi ke rumahnya.
Membaca pesan yang dikirim Abri padanya membuat Diana langsung mengelus dadanya. Rasa tak percaya masih berkecamuk dipikirannya. Dia tak membayangkan bagaimana jika Isya mengetahuinya. Pasti sakit sekali rasanya dikhianati oleh sahabat sendiri.
Diana pun berterimakasih lagi pada Abri karena sudah repot-repot membantunya.
"Makasih ya, Mas," ucap Diana.
"Iya, nggak usah makasih terus dong, kayak sama siapa aja lagi," balas Abri.
__ADS_1
Diana pun mengakhiri sesi saling berkirim pesan itu. Dan dia memilih untuk duduk di tempat tidurnya.
Diana masih tidak habis pikir mengapa Desy begitu tega mengkhianati sahabatnya ndiri, yaitu kakaknya.
Sementara itu Abri masih mengecek ponselnya. Kalau-kalau ada lagi pesan dari Desy untuk Ramli ataupun sebaliknya. Dan Abri pun menggelengkan kepalanya setelah membaca pesan Desy dan Ramli. Ia lalu mengscreenshoot semua pesan mereka, lalu mengirimkannya pada Diana sebagai bukti bahwa Ramli memang ada hubungan dengan Desy. Dan Abri pun tahu jika nanti sore Ramli dan Desy akan keluar.
Sore harinya, Ramli sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Desy. Ia merapikan penampilannya. Setelah merasa cukup ia pun segera berpamitan pada ibunya. Abri yang ada di dekat ibunya pun bertanya pada Ramli, "Mau kemana, Ram?"
"Mau ke rumah Dani," jawab Ramli berbohong.
"Ngapain?" tanya Abri pura-pura tidak tahu jika Ramli membohonginya. "Ikut dong, bete juga nih di rumah dari pagi," ucap Abri beralasan. Seketika Ramli jadi gugup dan salah tingkah sendiri, bingung harus menjawab apa, terpaksa ia mengiyakan Abri kali ini, agar dia tak curiga. Dan setelah ini dia harus memikirkan bagaimana caranya menjelaskan pada Desy kalau mereka tidak jadi jalan bersama.
Abri pun tersenyum puas karena sudah mengerjai Ramli dengan menggagalkan rencananya untuk jalan berdua dengan Desy. Sementara itu Ramli sendiri tidak mengetahui kalau sebenarnya Abri telah menyadap ponselnya, sehingga Abri tahu apa saja yang akan ia lakukan bersama dengan Desy dan dengan sengaja menggagalkan rencana mereka.
Ramli pun akhirnya mengirim pesan pada Desy untuk memberitahukan jika Ramli tidak jadi menjemputnya, karena Abri sedang mengikutinya saat ini, dan itu sangat berbahaya sekali jika sampai mereka ketahuan oleh Abri.
Sementara itu Desy yang sudah bersiap-siap akan jalan sudah menunggu Ramli di depan rumahnya. Tak lama ada notifikasi masuk di ponselnya, dan betapa kesalnya ia saat mengetahui jika Ramli membatalkan rencana mereka. Dia jadi curiga, jika mungkin saat ini Ramli sedang jalan dengan Isya, dan Abri hanya jadi kambing hitamnya saja.
__ADS_1