
"Tok tok tok,"
Terdengar suara pintu diketuk dari luar kamar Diana dan Yanti tidur. Tak lama pintu pun terbuka ,karena tidak dikunci maka nenek bisa membuka pintu itu. Nenek berniat untuk membangunkan dua cucunya dan mengajak mereka shalat Subuh berjamaah di Langgar yang tak jauh dari rumah nenek.
"Diana...Yanti...Diana...Yanti..." berulang kali nenek memanggil nama mereka tapi tetap tidak ada juga pergerakan dari keduanya. Sampai-sampai neneknya mengguncang-guncang tubuh mereka tapi hasilnya tetap sama. Karena sudah lelah membangunkan akhirnya neneknya pergi ke dapur untuk mengambil segelas air dan membawanya kembali ke kamar Diana dan Yanti tadi, tentu saja bukan untuk diminum melainkan untuk menyiprati wajah kedua cucunya yang tak jua bangun meski sudah dibangunkan oleh
neneknya.
"Nih ya rasakan!" ucap nenek sambil menyipratkan air ke wajah mereka satu persatu.
"Hujan, hujan, hujan," terdengar suara Diana dan Yanti yang bersahut-sahutan.
"Hujan, ayo bangun dari tadi sudah Nenek banguni tapi nggak ada yang bangun juga, hayo tidur jam berapa tadi malam kalian, pasti bergadang nih yakan?" tanya nenek.
"Nenek," ucap mereka bersamaan setelah sadar bahwa neneknya lah yang telah menciptakan hujan lokal buatan di wajah mereka tadi.
"Iya ini Nenek, ayo cepat bangun ikut Nenek salat Subuh di Langgar," perintah nenek dan langsung beranjak keluar kamar.
"Tadi malam kamu nggak kunci pintunya ya, Di. Kok Nenek bisa masuk?" tanya Yanti heran.
"Nggak," jawab Diana.
"Huh pantas," ucap Yanti.
"Ya udah lah mending sekarang kita siap-siap ikut Nenek ke Langgar, dari pada nanti Nenek marah lagi," ajak Diana.
Akhirnya Diana dan Yanti pun pergi ke Langgar bersama nenek mereka walaupun mata mereka masih terasa sepet karena hanya beberapa jam saja tidur.
Sepulangnya dari Langgar nenek mengajak mereka ke pasar sebentar untuk membeli sarapan. Saat Diana dan Yanti sedang menemani nenek mereka membeli sarapan tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang mereka yang memanggil nama Diana.
"Diana!" sapa seorang pria.
Seketika Diana dan Yanti pun langsung menoleh kearah sumber suara.
"Sedang apa disini?" lanjut pria itu lagi yang tak lain adalah Ibnu, pria yang tadi malam dengan sengaja datang ke rumahnya hanya untuk menemuinya tanpa alasan apapun.
__ADS_1
"Eh Kak Ibnu, ini Kak lagi ngantri mau beli tiket nonton kejuaraan dunia b***t***k*s" sahut Diana asal. Sudah tahu ngantri beli sarapan masih aja tanya sedang apa batin Diana.
"Hah, emang ada disini?" tanya Ibnu tak percaya.
"Di J*p*ng," sahut Diana enteng.
"Kamu itu ya ada-ada aja, aku kira beneran ada dijual di sini, ha ha ha," ucap Ibnu.
"Ya habisnya sudah tau ngantri di warung nasi kuning, Kakak masih aja tanya," sahut Diana.
Ya Diana yang tahu jika Ibnu hanya basa-basi saja dengan pertanyaan tadi pun dengan sengaja membuat Ibnu jadi kikuk.
"Ya kan cuma basa basi aja, supaya ada obrolan sama kamu," jelas Ibnu sambil mengusap tengkuknya. "Eh tadi malam kamu benerankah nginap di rumah Nenekmu?" tanya Ibnu. "Kakak ke rumah tadi malam, tapi kata Isya kamunya nggak ada, lagi nginep di rumah Nenek kamu," tambah Ibnu lagi.
"Iya, kenapa emangnya Kak, ada perlu ya sama aku sampai datang ke rumah nyari aku?" tanya Diana penasaran.
"Nggak ada perlu apa-apa sih cuma pengin ngobrol aja mumpung kamu ada di sini, kan kamu jarang-jarang ada di sini," jelas Ibnu.
"Ooh kirain ada perlu penting gitu," ucap Diana.
"Kayaknya cuma Diana aja nih yang diajak ngobrol dari tadi," sindir Yanti.
"Eh iya, sorry, lupa kalau ada kamu, Yan. He he he," ucap Ibnu.
"Iya nih Kak Ibnu nggak lihat apa ada penampakan makhluk segede ini di sampingku," tambah Diana. Mendengar dia dikatakan penampakan langsung membuat Yanti mencubit lengan Diana yang membuat Diana langsung meringis.
"Awh, sakit tau, Yan!" keluh Diana.
"Iya, jangan kDRT dong sama calon ayang aku, Yan!" ucap Ibnu dengan entengnya yang langsung membuat bola mata Diana dan Yanti langsung melebar begitu mendengarnya.
"Hah, ayang?" ucap mereka berdua kaget. "Nggak salah denger kan aku, Di? tanya Yanti.
"Enggak," kali ini justru Ibnunya sendiri yang menjawab pertanyaan dari Yanti.
"Ya karena sekarang aku akan terus terang sama Diana kalau selama ini aku suka sama dia, dan aku mau dia jadi pacar aku.
__ADS_1
Kamu mau kan jadi orang yang spesial buat aku, Di?" tanya Ibnu.
Diana hanya terdiam dengan mulutnya yang hampir membentuk huruf 'o' dan tatapannya langsung berpindah ke arah Yanti. Dan belum sempat dia menjawab suara nenek sudah memecahkan keheningan yang mendadak terjadi setelah ungkapan hati Ibnu tadi.
"Hei kalian, ayo pulang, Nenek sudah selesai nih beli naskunnya," ucap nenek memberitahu kedua cucunya. Dan tentu saja hal ini tidak disia-siakan oleh Diana untuk lari dari Ibnu yang sedang menunggu jawaban darinya.
"Eh, Nenek," sapa Ibnu sopan lalu menyalami nenek dan mencium punggung tangan nenek.
"Eh ada kamu to di sini, Nu?" tanya nenek.
"Iya, Nek. Ini lagi mau beli naskun juga," jawab Ibnu
"Ayo Nek kita pulang sekarang!" ucap Diana.
"Eh memangnya kalian sudah selesai ngobrolnya?" tanya nenek.
"Sudah, Nek. Mangkanya Diana ngajak Nenek pulang sekarang," sahut Diana.
"Ya sudah kalau gitu, ayo kita pulang! Kami duluan ya, Nu," ucap nenek.
"Iya Nek hati-hati," sahut Ibnu.
"Di, yang tadi jangan lupa ya!" ucap Ibnu menyempatkan mengingatkan Diana akan pernyataannya tadi. Dan Diana hanya mengangguk saja.
"Yang tadi apa maksudnya, Di?" tanya nenek.
"Ah enggak Nek, itu Kak Ibnu nyuruh Diana supaya ngasih tau Kak Isya kalau tugas kelompoknya ditunda, Kak Ibnu kan teman sekelasnya Kak Isya Nek," jawab Diana asal, ia terpaksa membohongi neneknya.
Selama perjalanan pulang ke rumah nenek, Yanti tidak sabar ingin bertanya tentang Ibnu pada Diana, tetapi Diana dengan segera menutup mulut Yanti agar dia diam, dia tak ingin nenek mengetahui hal tadi. Dan Diana berjanji akan menceritakannya nanti.
"Janji ya nanti ceritain kalau sudah di rumah," bisik Yanti pada Diana.
"Sst, tapi nggak di rumah Nenek juga kali, nanti aja pas di rumahku," jawab Diana dengan berbisik pula.
Diana masih syok dengan ungkapan hati Ibnu tadi, sejak kapan dia menyukai Diana, dan alasannya kenapa harus Diana kan masih banyak gadis lain yang lebih cantik. Dan jawaban apa yang harus diberikannya nanti pada Ibnu. Sungguh Diana jadi bingung sendiri, sepanjang perjalanan dia hanya bengong saja.
__ADS_1