
Sementara itu di saat Isya sedang sibuk mencari Desy, Desy malah asik berdandan ria di dalam toilet wanita. Ya semenjak dia bertekad untuk mendekati Ramli ia sering berdandan untuk mencari perhatian Ramli.
Desy sengaja berlama-lama di sana, selain untuk membenahi dandanannya tetapi juga untuk menghindari Isya yang sudah pasti mencari dirinya saat ini. Dia juga tidak pergi ke kantin kali ini, karena sudah pasti juga Isya akan pergi ke sana untuk mencarinya. Setelah merasa dandanannya telah rapi kembali dan merasa sudah cukup aman untuk keluar dari persembunyiannya, akhirnya Desy pun keluar dari toilet. Sebelum keluar dia mengintip terlebih dahulu keluar barang kali ada Isya di dekat toilet. Setelah merasa yakin bila tak ada Isya di sana ia pun segera keluar dari toilet.
Saat baru beberapa langkah meninggalkan toilet, Desy dikejutkan dengan adanya tangan seseorang dari balik tembok yang tiba-tiba saja menarik tangannya. Setelah menyadari bahwa orang itu adalah Ramli, maka Desy dengan refleks menarik tangannya dari cengkraman tangan Ramli. Akan tetapi kekuatan tenaga Desy yang seorang perempuan tentu saja tak sebanding dengan kekuatan Ramli yang seorang laki-laki. Meskipun Desy telah berusaha terus untuk memberontak, tetapi Ramli terus menarik tangan Desy dan menuntunnya menuju belakang kelas 10. Tempat di mana Desy dan Ramli sering bertemu bila di sekolah. Tempat itu dipilih mereka karena dirasa yang paling aman, sebab jarang didatangi para siswa yang lain. Tentu saja Ramli mengambil jalan yang aman menuju ke sana agar tak terlihat dari siswa yang lain, karena kebetulan sekali letak toilet itu berada di ujung yang berdekatan dengan Kelas 10.
Bukan tanpa alasan Ramli melakukan itu pada Desy, karena ia masih ingin menjelaskan dan menyelesaikan masalah yang terjadi di antara dia dan Desy kemarin karena kesalahpahaman menurut Ramli.
Setelah sampai di sana Ramli pun tak jua melepaskan cengkraman tangannya dari tangan desy, membuat si empunya tangan akhirnya bersuara setelah dari tadi diam karena tidak mau orang-orang mendengar suaranya yang berakibat akan menjadi pusat perhatian dan sudah pasti takut akan ketahuan oleh Isya.
"Lepasin, Ram. Apaan sih main tarik-tarik aja? Sakit tau!" keluh Desy sembari terus berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Ramli.
"Nggak, aku nggak akan lepasin sebelum kamu dengerin dulu penjelasan aku!" jawab Ramli.
"Penjelasan apa lagi? Semuanya sudah jelas. Jadi nggak usah repot-repot lagi jelasin!" ucap Desy.
__ADS_1
"Aku kan sudah bilang kalau aku nggak sengaja ke rumah dia karena Abri memaksaku untuk nemani dia pergi ke sana soalnya hari ini kan Diana sudah balik lagi ke Samarinda," jelas Ramli lagi.
Akan tetapi Desy tetap saja tidak mempercayainya. Yang dia percayai adalah apa yang dia lihat di depan mata kepalanya sendiri bahwa Ramli benar-benar pergi ke rumah Isya entah itu untuk alasan apapun. Karena Ramli dari awal sudah bilang bahwa dia akan pergi ke rumah Dani agar Abri tidak curiga dan meyakinkan Desy kalau ia tak pergi ke rumah Isya. Tetapi pada kenyataannya malah Ramli berada di rumah Isya pada saat Desy sampai di sana untuk membuktikan dugaannya.
Ramli pun bingung harus berbuat apalagi untuk meyakinkan Desy. Sementara Desy meminta bukti padanya bahwa apa yang telah diucapkannya adalah benar. Dan tidak mungkin juga dia membawa Abri ke hadapan Desy untuk membuktikan ucapannya, karena sudah tentu nantinya Abri akan mengetahui jika dia memiliki hubungan khusus dengan Desy. Dan dapat dipastikan kalau saudara mempermainkan Isya.
"Jadi mau kamu apa sekarang? Bukti apa?" tanya Ramli.
"Kalau kamu mau buktikan sama aku bahwa yang kamu bilang itu memang benar, aku mau kamu putusin Isya sekarang!" titah Desy.
Ramli pun tercengang mendengar permintaan dari Desy.
"Putusin Isya!" jelas Desy sekali lagi.
"Nggak, aku nggak bisa, Des," bantah Ramli.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu masih cinta sama dia?" tanya Desy.
Dan Ramli pun menjelaskan pada Desy apa yang telah menjadi alasannya sehingga ia tak bisa memutuskan Isya begitu saja karena ia sudah berjanji pada Abri untuk tidak mempermainkan Isya. Dan Ramli pun menjelaskan pula pada Desy apa yang telah membuat Abri sampai mewanti-wanti dirinya agar tak mempermainkan Isya. Ramli pun tak bisa menolak permintaan dari Abri tersebut karena ia merasa telah berhutang budi pada Abri dan keluarganya sebab telah mau mengadopsinya sedari kecil karena Ramli yang seorang anak yatim piatu.
Tetapi Desy tetap bertahan pada pendiriannya bahwa dia tidak percaya akan penjelasan dari Ramli tersebut dan meminta agar hubungan mereka sebaiknya di akhiri saja. Sebab ia sudah sejak lama merasa lelah jika harus sembunyi-sembunyi terus seperti ini bila ingin bertemu dengan Ramli, belum lagi rasa was-was takut bila ketahuan Isya.
Tetapi Ramli menolaknya. Sebenarnya ia pun sudah tak tahan lagi dengan hubungannya bersama Isya. Menurutnya Isya terlalu mengekangnya, terlalu kekanakan serta manja dan kadang terlalu sensitif. Bila Ramli sedang ingin bercanda-canda dengannya tetapi Isya menanggapinya dengan serius dan berujung perdebatan di antara mereka. Sehingga Ramli pun mencoba beralih pada Desy yang karakternya berbanding terbalik dengan Isya, dan dia tahu dari gelagatnya Desy pun sebenarnya memang menyukainya.
Akhirnya dia pun menjalani hubungan dengan Desy. Ramli dan Desy sepakat bahwa mereka akan menjalin hubungan secara diam-diam dulu sambil menunggu Ramli memutuskan Isya di waktu yang tepat, seakan-akan bukan Ramli yang salah karena tengah berselingkuh, melainkan karena Isya sifat Isya yang membuat Ramli sudah tak betah dengannya.
Akan tetapi sayangnya dia terlambat memutuskan Isya, karena keburu Abri meminta sesuatu darinya yang membuat dirinya bagai makan buah simalakama. Dan sekarang Ramli pun di hadapkan dengan permintaan Desy yang mengakibatkan dirinya harus kembali bimbang, apakah menuruti permintaan Desy atau menuruti permintaan Abri. Sebuah pilihan yang sangat sulit sekali menurut Ramli.
Karena tidak ada jawaban dari Ramli, akhirnya Desy pergi meninggalkan Ramli sendiri di sana. Dia bisa leluasa pergi karena tanpa disadari Ramli dia telah melepaskan cengkramannya dari tangan Desy.
Ramli pun kali ini tidak dapat berbuat apa-apa selain memanggil nama Desy untuk menghentikan langkahnya, tetapi Desy tidak mengindahkannya dan terus melangkah menjauhi Ramli. Dan Ramli pun hanya bisa menatap kepergian dari gadis lain di hatinya itu.
__ADS_1
Sementara itu, dari kejauhan tampak seseorang yang tanpa Ramli dan Desy ketahui tengah merekam kejadian di antara dia dan Desy tadi. Tentu saja hal itu dilakukan seseorang itu untuk dijadikan sebagai barang bukti bahwa Ramli dan Desy memang telah mempunyai hubungan khusus. Seseorang itu pun seakan tak percaya bahwa Ramli dan Desy sudah sejak lama menjalin hubungan.
Setelah kepergian Desy tadi, seseorang yang tak lain adalah Abri pun segera pergi dari sana sebelum Ramli mengetahui keberadaannya di sana. Ya Abri sudah diam-diam mengikuti Ramli semenjak keluar dari kelas tadi. Abri merasa curiga setelah Ramli menolaknya untuk diajak ke kantin bareng dengan alasan ada urusan sebentar. Abri pun memutuskan untuk mengikutinya secara diam-diam.