
Diana pun segera membaca pesan dari Abri.
"Assalamualaikum. Lagi apa, Di?" tanya Abri dalam pesannya.
"Wa'alaikumsalam. Nggak lagi ngapa-ngapain, Mas. Lagi di kamar aja," balas Diana.
Mereka pun saling berbalas pesan. Sebenarnya Abri hendak melakukan panggilan video untuk melepaskan kerinduannya pada gadis pujaan hatinya itu, tetapi dia tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukannya, dia masih merasa tidak enak pada Diana. Lain halnya jika seandainya statusnya sudah menjadi kekasih Diana, mungkin dia akan sering-sering melakukan panggilan video dengan Diana untuk melepaskan kerinduannya.
Setelah lama saling berkirim dan berbalas pesan, akhirnya Diana memberanikan diri untuk menceritakan sesuatu hal yang cukup mengganggu pikirannya barusan. Sebelumnya Diana pun meminta maaf terlebih dahulu pada Abri karena cerita yang akan ia sampaikan ini masih ada hubungannya dengan keluarga dari Abri sendiri.
Setelah mendengar Diana meminta maaf, Abri menjadi penasaran. Dia bertanya-tanya di dalam hati, mengapa Diana harus meminta maaf terlebih dahulu sebelum bercerita, jantungnya sudah berdegup kencang tak karuan, seketika di kepalanya terlintas berbagai macam perkiraan kejadian yang mungkin terjadi. Abri pun menanyakan hal itu pada Diana. Dan Diana pun memberitahukan pada Abri kalau sebenarnya ceritanya ini ada hubungannya dengan Ramli.
Mendengar Diana menyebut nama Ramli, Abri sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan dari Diana ini. Diana pun menceritakan kejadian siang hari di perjalanan pulangnya ke rumah tadi.
__ADS_1
Kemudian dia pun meminta tolong pada Abri untuk menyelidiki kebenarannya, karena Diana sendiri tak mungkin bisa menyelidikinya mengingat dia tak selalu ada di sini.
Bukan tanpa alasan dia meminta Abri untuk menyelidikinya, itu semua karena dia tak mau memvonis seseorang hanya dengan menduga-duga saja, karena nanti akhirnya bisa jadi fitnah.
Dan juga karena Abri yang tinggal satu rumah dengan Ramli, tentunya memudahkan dalam usaha penyelidikan ini. Abri pun bersedia untuk membantu Diana menyelidiki Desy dan Ramli.
Setelah merasa cukup menceritakan hal yang mengganggu pikirannya, Diana pun mengakhiri sesi chat via WA itu, tentu saja dia mengakhirinya setelah berterima kasih pada Abri karena sudah mau membantu dirinya.
Abri menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya setelah selesai berkirim pesan pada Diana. Ia mencoba untuk memejamkan matanya tetapi tidak bisa, pikirannya masih tertuju pada cerita Diana tadi.
Dan yang paling membuat Abri kesal adalah jika seandainya memang benar Ramli berbuat begitu, pasti Abri akan mendapatkan dampaknya juga. Bagaimana kelanjutan dari usahanya mendekati Diana selama ini, apakah bisa berlanjut ke tahap berikutnya atau mungkin hanya sebatas teman saja dan ia harus memendam rasa untuk Diana selamanya. Karena sudah tentu Isya tak akan mengijinkan Diana berhubungan dengan orang yang masih mempunyai keterkaitan dengan Ramli.
Padahal Abri sudah mewanti-wanti Ramli agar tak mempermainkan Isya karena itu akan berdampak negatif dengan kelanjutan hubungannya dengan Diana ke depannya. Tetapi saudara angkatnya itu tak mengindahkannya. Ucapan dari Abri hanya bagaikan angin lalu saja baginya, masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.
__ADS_1
Abri pun mengacak-acak rambutnya kasar untuk melampiaskan kekesalannya saat ini, meskipun apa yang dilakukannya itu tak mampu mengurangi sedikitpun rasa kesal pada dirinya yang disebabkan oleh kelakuan dari saudara angkatnya itu.
Untuk menenangkan pikirannya, Abri memutuskan untuk mengambil wudhu dan melakukan salat sunah 2 rakaat sebelum tidur. Setelah merasa agak tenang, ia mulai menyusun rencana penyelidikan terhadap Ramli. Pertama-tama dia akan mengecek ponsel Ramli. kemudian menyadap ponselnya itu. Dan mulai besok ia akan memperhatikan semua gerak-gerik Ramli. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, maka dia akan langsung mengikutinya.
Untuk saat ini pun Abri sendiri tak tahu Ramli ada di mana, apakah berada di kamarnya atau masih berada di luar karena tadi dia ijin pada ibunya untuk keluar, entah itu ke rumah Isya atau ke tempat yang lain, bisa jadi mungkin ke rumah Desy. Tetapi kalau seandainya ke rumah Isya, pasti tadi Diana memberitahunya jika ada Ramli di sana. Jadi pikir Abri kemungkinannya hanya ada dua, kalau tidak nongkrong dengan teman-temannya atau pergi ke rumah Desy.
Abri pun memutuskan untuk mengistirahatkan dulu pikirannya dengan pergi tidur, dan berharap esok akan lebih baik dari hari ini.
...****************...
Di tempat lain, Diana merasa sedikit lega karena sudah bercerita pada Abri tentang apa yang telah menjadi pikirannya barusan. Dan yang membuatnya lebih lega lagi adalah Abri bersedia membantunya untuk menyelidiki kebenaran apakah Ramli mempunyai hubungan dengan Desy atau tidak.
Apa yang dipikirkan Diana tentang Ramli dan Desy tak jauh berbeda dengan Abri. Pun tentang bagaimana perasaan Isya begitu mengetahui bahwa sahabatnya dan kekasihnya telah mengkhianatinya jika memang benar-benar Ramli memiliki hubungan bersama Desy. Tetapi tidak untuk masalah yang membuat Abri bertambah pusing tujuh keliling mengenai hubungannya dengan Diana ke depannya, karena untuk saat ini Diana tidak berpikiran sejauh itu. Diana sendiri sampai saat ini masih menganggap Abri hanya teman biasa saja, meskipun Yanti telah meyakinkannya jika Abri menyukainya, karena dia sudah berniat tidak akan berpacaran sebelum lulus sekolah. Tetapi Diana pun tidak mengetahui jalan hidupnya ke depan bagaimana. Dia tidak mengetahui bagaimana Tuhan telah mengatur nasib hambaNya, Tuhan yang dengan mudahnya membolak-balikkan hati seseorang. Meskipun saat ini Diana berkata tidak ingin, bukan tidak mungkin esok akan terjadi sebaliknya.
__ADS_1
Diana beranjak menuju meja belajarnya, seperti biasa dia mengambil buku diary yang selalu berada di dalam tas sekolahnya. Bukunya itu selalu dia bawa kemanapun. Lalu ia pun menuliskan semua kejadian yang sudah dialaminya beberapa hari ini yang belum sempat ia tuangkan dalam bukunya itu.
Setelah selesai menuliskan semua kejadian yang sudah dialaminya, Diana memutuskan kembali naik ke tempat tidurnya untuk beristirahat. Karena merasa lelah dan rasa kantuk yang sudah tidak tertahankan lagi, akhirnya Diana pun tertidur juga. Dia pun kali ini sama dengan Abri, berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini.