
Mendengar ada yang memanggil namanya membuat Diana seketika menoleh kebelakang, begitu juga dengan Yanti.
Yanti bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan yang memanggil Diana.
"Eh Mas Abri," sapa Diana.
"Kamu ngapain malam-malam begini kesini, mau ketemu Isya?" tanya Abri.
"Iya, Mas. Ini tadi Kak Isya pesan minta bawakan lotion anti nyamuknya ketinggalan di rumah," jelas Diana.
"Ooh gitu, kirain ada apa," sahut Abri.
"Kamu tau nggak di mana tendanya dia?" tanya Abri lagi.
"Nggak tau Mas he he he," jawab Diana sambil nyengir.
Yanti yang masih penasaran siapa gerangan lela di hadapannya ini pun mencubit-cubit lengan Diana.
"Apaan sih Yan cubit-cubit?" bisik Diana.
"Sstt, sstt, siapa Di, kenalin dong!" bisiknya tepat di telinga Diana.
"Huh kumat deh,"ucap Diana.
"Oh ya,Mas. Kenalin nih sepupu Diana, Yanti namanya," ucap Diana memperkenalkan Yanti pada Abri.
"Oh, Abri," ucap Abri seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Yanti pun menyambut uluran tangan dari Abri seraya menyebutkan namanya pula.
"Ehm, mau aku antarin ke tendanya Isya?" tanya Abri.
"Lho Masnya nggak sibukkah?" tanya Diana.
"Nggak, sudah diurusi sama teman-teman yang lain," sahut Abri.
"Tapi nggak ngerepotinkan, Mas?" tanya Diana.
"Nggak kok," sahut Abri .
"Kalau untuk kamu mah biar repot gin pasti kusempat-sempatin," gumam Abri.
"Kenapa, Mas?" tanya Diana yang masih mendengar samar-samar suara Abri tapi tak jelas.
"Eh nggak, nggak papa kok, ayo aku antar sekarang!" ajak Abri.
"Iya," sahut Diana.
Dan mereka pun pergi menuju tenda Isya. Diana dan Yanti berjalan sedikit di belakang Abri, mengikuti arah petunjuk Abri.
Tak lama mereka pun sampai ke tenda Isya.
"Tuh tendanya, ke sana aja nggak papa," ucap Abri.
"Oh ya itu Kak Isya. Makasih udah dianterin, Mas," ucap Diana.
__ADS_1
"Iya sama-sama," sahut Abri.
"Aku ke sana dulu ya!" pamit Diana sembari tersenyum.
Dan Abri pun hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum pula.
Setelah Diana masuk ke dalam tenda Isya, Abri tak lantas kembali menemui teman-temannya, tetapi menunggu Diana dengan duduk di bangku taman yang tak jauh dengan tenda Isya.
Di dalam tenda, Isya kaget melihat Diana sudah ada di hadapannya tanpa menelpon terlebih dahulu, karena tadi dia mengirim pesan akan menelpon jika dia sudah sampai di SMP karena dia tidak mengetahui letak tenda Isya.
"Kho kok kamu sudah di sini,Di?" tanya Isya, "Katanya tadi mau nelpon dulu," tanya Isya.
"Terus kamu tau tenda ku dari mana?" tanyanya lagi.
"Tadi kebetulan ketemu Mas Abri, terus dianterin deh sama dia kesini," sahut Diana.
"Ooh gitu," sahut Isya.
"Wih pada mau jurit malam yah ni, perlengkapannya sudah siap gini?" tanya Yanti.
"Iya, kenapa mau ikut kah?" tanya Desy.
"Pinginnya sih, tapi emangnya boleh?" tanya Yanti memastikan.
"Ya boleh aja sih kalau kamu mau," sahut Desy.
"Ah apaan sih Yanti, kita kan ijinnya cuma sebentar ngantar ini aja," ucap Diana sambil memberikan lotion anti nyamuk pada Isya.
"Nah iya, hampir lupa kan," sahut Isya begitu menerima lotion anti nyamuk dari Diana.
"Huh kamu ini, maunya," ucap Diana sambil memukul tangan Yanti.
"He he he," Yanti menyengir.
"Tuh nah Kak dia lagi mau tepe-tepe sama lela katanya," ucap Diana pada Isya sambil menunjuk Yanti.
"Siapa ya kira-kira? Isya tampak berpikir. "Oh ya ada tuh Dani atau Ibnu ha ha ha," sahut Isya.
"Ha ha ha," kompak mereka semua yang ada di tenda pun tertawa.
"Ogah," sahut Yanti.
"Dah ah ayo kita pulang," ajak Diana pada Yanti.
Sementara yang diajak malah leyeh-leyeh di dalam tenda.
"Astoge noge Yanti, buruan! Sempat kemalaman kita," ucap Diana.
"Iya-iya, sabar kenapa, Diana nggak asik ah," ucap Yanti.
"Ya udah kamu tinggal aja sudah di sini bagaimana?" tanya Diana.
"Nggak lah, aku pulang," ucap Yanti sambil beranjak dari duduknya.
"Ya udah ayo!" ajak Diana.
__ADS_1
Mereka pun pamit pada Isya dan teman-temannya.
Abri yang dari tadi setia menunggu Diana walau tak diminta langsung menghampiri Diana dan Yanti begitu mereka keluar dari tendanya Isya.
"Sudah?" tanya Abri .
"Eh sudah, Mas," sahut Diana. Diana yang merasa kaget kenapa Abri masih berada di sini pun langsung bertanya, "Lho kok Mas Abri masih disini ?"
"Iya, ini tadi kebetulan ada perlu sesuatu di sana," ucap Abri berbohong sambil menunjuk suatu tempat.
"Ooh kirain sengaja nunggui kita, Mas. He he he," ucap Yanti dengan percaya diri.
"Emang iya, aku lagi nunggui Diana," ucap Abri tapi hanya di dalam hatinya saja.
"Ih apaan sih, Yan. Jangan GR deh," ucap Diana.
"Ih nggak papa lagi," sahut Yanti.
"Maaf ya, Mas. Sepupu saya ini memang begini modelnya, antik," ucap Diana pada Abri seraya tersenyum.
Abri pun hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Iya nggak apa-apa, biasa aja," sahut Abri .
"Ehm, kalian mau langsung pulang sekarang?" tanya Abri.
"Sebenarnya sih belum pengen pulang, Mas. Kepingin ikut jurit malam juga mumpung ada di sini, tapi Diana ini di ajakin nggak mau, malah ngajakin pulang," ucap Yanti sewot sambil mengerucutkan bibirnya yang langsung dicapit dengan jari-jari Diana.
"Ih kamu nih ya, emang kamu anggota Pramuka di sini, sok-sok-an mau ikut jurit malam, kalau kamu mau, nanti kita jurit malam sendiri aja, tapi nanti pas malam Jum'at noh pas momennya, kita lewat kuburan sekalian uji nyali, mau nggak?" tawar Diana yang sudah tak sabar dengan tingkah Yanti.
Tak pelak Abri pun tertawa mendengar ocehan Diana, dia tak menyangka Diana bisa berbicara panjang lebar seperti itu, dan lagi kata-kata yang diucapkan Diana cukup lucu menurutnya.
"Mau, tapi kalau berdua sama Mas Abri jurit malamnya," ucap Yanti sambil melirik Abri.
Abri pun terkejut mendengar ucapan Yanti, tapi dia hanya menganggap kalau Yanti hanya bergurau saja. Dia pun hanya tertawa saja menanggapinya. Sementara Diana langsung melebarkan matanya begitu mendengar ucapan Yanti.
"What, nggak boleh tau, enak aja. Wah tambah sableng aja nih isi kepalanya kayaknya," sahut Diana. Kemudian dia beralih bicara pada Abri.
"Maaf ya, Mas. Kayanya harus segera di amankan nih bocah, belum minum obat soalnya he he he," ucap Diana sambil nyengir.
"Iya enggak papa, biasa aja. Ehm, mau ku antar kah, sudah malam ini lho, nggak baik anak gadis jalan malam-malam," tawar Abri.
"Nggak..." belum sempat Diana melanjutkan ucapannya sudah di bungkam oleh Yanti.
"Boleh-boleh Mas, dengan senang hati," sahut Diana cepat.
"Tapi, Yan," ucap Diana.
"Sstt sudah diam aja kenapa," bisik Yanti di telinga Diana. Dia tahu dari gelagat Abri sepertinya menyukai Diana jadi dia sengaja membiarkan Abri mengantar mereka.
"Jangan ganjen-ganjen kenapa," omel Diana.
Abri pun hanya bisa tersenyum lagi melihat tingkah mereka.
"Ya udah ayo!" ajak Abri yang langsung melangkahkan kakinya menuju parkiran di ikuti oleh Diana dan Yanti.
__ADS_1