
Diana tampak Duduk termenung di atas tempat tidurnya selepas mengakhiri telepon dengan Abri. Ia sedang memikirkan soal keputusan yang telah Abri ambil untuk menjadi sosok pengganti Ramli untuk Isya. Bukan karena ia merasa patah hati, akan tetapi dia sendiri lebih memikirkan pada perasaan Abri sendiri.
Betapa tidak, Abri harus bertanggung jawab atas sesuatu hal yang dilakukan oleh saudaranya itu. Padahal Ramli hanya saudara angkat saja menurut Diana. Ya Diana memang tidak mengetahui jika Abri dan Ramli masih memiliki hubungan keluarga, bukan hanya sekedar saudara angkat saja.
Ia merasa kasihan pada Abri, karena hal ini Abri harus melepaskan keinginannya untuk dapat bersama dengan seseorang yang telah mengisi hatinya. Sungguh hal yang sangat menyakitkan tentunya. Sementara itu Diana tidak mengetahui jika seseorang yang telah mengisi hati Abri sebenarnya adalah dirinya sendiri. Hal yang sangat miris.
Diana hanya bisa mendoakan agar keputusan yang telah diambil oleh Abri ini adalah keputusan yang terbaik, dan mendoakan agar Abri pun bahagia nantinya mengingat ia melakukan hal ini dengan niat yang baik.
Suara dering ponsel mengagetkan Diana yang sedang termenung. Ia pun segera meraih benda pipih tersebut yang ia letakkan di bawah bantalnya. Setelahnya ia pun segera mengangkat panggilan telepon itu yang tak lain dari Yanti. Diana pun membatin jika Yanti saat ini pasti merasa penasaran dan sangat ingin tahu tentang apa yang telah dibicarakan Abri padanya.
"Hallo, kalau kamu kepo banget tanyanya besok aja ya, aku lagi ngantuk banget, mau tidur. Besok bangun pagi-pagi mau sekolah, Ok!" Seketika itu juga Diana langsung mengakhiri panggilan dari Yanti tanpa sempat gadis itu berkata apa-apa untuk menyahuti Diana yang berbicara panjang lebar.
Sementara itu di seberang sana Yanti hanya bisa terdiam karena kaget sembari bibirnya membentuk huruf 'O' mendapati Diana yang langsung mematikan sambungan telepon darinya.
"Oh da*ar Diana, tau aja orang lagi kepo malah pake acara diputus segala lagi. Mana orang belum sempat ngomong apa-apa, emang nggak ada sopan-sopannya jadi sepupu. Awas aja kamu ya!" omel Yanti panjang lebar pada Diana meskipun ia tahu Diana tak kan bisa mendengar omelannya.
Diana pun langsung tersenyum puas karena telah berhasil mengerjai sepupunya itu. Ia sudah menduga jika Yanti orangnya gigih dalam bertanya-tanya mengenai hal yang menarik untuknya. Ia takkan berhenti sampai ia mendapatkan jawabannya.
Dan benar saja, belum sempat Diana membuat mode pesawat pada ponselnya, tak lama ponsel Diana berdering kembali, sudah pasti itu dari Yanti lagi batin Diana. Ia pun langsung melihat siapa yang telah menelponnya.
"Tuh kan bener, nih bocah lagi yang nelpon." Diana bermonolog. Ia pun mengangkat telepon dari Yanti itu dengan malas-malasan.
"Ha-" (terpotong karena Yanti yang kali ini langsung berbicara panjang lebar pada Diana).
__ADS_1
"Kamu itu memang kok ya, sengaja mutusin telepon alasannya ngantuk padahal nggak, supaya aku tambah kepo, ya kan? Da*ar sepupu nggak ada sopan-sopannya!" Yanti panjang lebar mengomeli Diana.
Sementara itu Diana langsung menjauhkan ponsel dari kupingnya karena suara Yanti yang terdengar lumayan kencang.
"Kalau masih ngomel aku tutup lagi nih teleponnya!" ucap Diana.
Dan akhirnya Yanti pun mengakhiri aksi marahnya pada Diana, kemudian langsung meminta pada Diana untuk menceritakan hal apa saja yang sudah dibicarakan oleh Abri padanya.
Diana pun mau menceritakan semuanya pada Yanti dengan syarat sepupunya itu harus tutup mulut dan Yanti pun menyetujui permintaan Diana tersebut.
Lalu tanpa berbasa-basi lagi Diana pun bercerita pada Yanti tentang semua kejadian yang sudah dialami oleh Isya. Yanti yang tidak mudeng dengan cerita Diana pun langsung memotong cerita Diana sebelum gadis itu selesai bercerita.
"Sebentar, Di! Terus apa hubungannya cerita Isya nih sama Abri?" tanya Yanti heran.
"Mangkanya dengarin dulu jangan main potong-potong aja. Aku nih cerita dari awal mulanya dulu, kalau aku langsung cerita yang sekarang nanti kamu malah nggak mudeng." Diana berusaha menjelaskan pada Yanti.
"Iya deh lanjut," jawab Yanti.
Diana pun melanjutkan kembali ceritanya pada Yanti, sementara Yanti kali ini hanya diam saja fokus mendengarkan cerita dari Diana tanpa komentar apapun lagi. Tetapi itu hanya sementara saja, karena ketika cerita Diana telah sampai pada obrolanya dengan Abri barusan, Yanti pun tak pelak langsung berkomentar, "Ih kok gitu sih, aku kok rasanya nggak rela kalau kayak gitu, Di. Terus kamu setuju kalau Abri sama Isya?"
"Iya, demi kebaikan Kak Isya juga, Yan," sahut Diana.
"Loh kok kamu setuju, sih? Abri itu sukanya sama kamu bukan sama Isya, Di!" Yanti sedikit kesal, karena harapannya yang tinggi pada hubungan Diana dan Abri harus kandas begitu saja.
__ADS_1
Sementara itu Diana merasa heran dengan Yanti, karena dirinya saja tak ada masalah dengan keputusan Abri, tetapi malah Yanti yang sangat kecewa menurutnya.
Dan Diana pun memberitahukan bahwa sebenarnya memang sudah ada seseorang yang telah mengisi hati Abri tetapi Diana tidak bertanya lebih jauh. Yang pasti Abri dengan gadis itu masih belum ada hubungan apa-apa karena Abri sendiri belum menyatakan perasaannya.
"Nah itu dia, seseorang yang di maksud Abri itu adalah kamu, Di. Percaya deh sama aku!" Yanti begitu menggebu-gebu saat mengatakan sangkaannya pada Diana.
Mendengar perkataan dari Yanti yang seyakin itu membuat Diana pun langsung menepuk jidatnya sendiri, ia bingung harus bagaimana caranya agar bisa mematahkan sangkaan Yanti tersebut. "Aduh, terserah kamu aja deh, Yan. Aku pusing mikirin omonganmu yang itu-itu aja dari dulu. Untung aja aku orangnya nggak baperan (bawa perasaan). Kalau nggak, pasti sekarang aku lagi patah hati pake banget."
Mendengar ucapan Diana yang panjang lebar itu membuat Yanti pun menyadari kalau ucapan Diana ada benarnya juga.
"Iya juga sih, Di. Tapi aku yakin betul kalau Abri itu sukanya sama kamu. Terus perasaanmu sekarang bagaimana sama Abri?" tanya Yanti yang penasaran bagaimana sebenarnya perasaan sepupunya itu pada Abri.
"Ya biasa aja, nggak gimana-gimana. Yang penting itu sekarang bagaimana caranya bikin Kak Isya itu kayak dulu lagi, nggak banyak ngelamun sama nggak fokus gitu," jawab Diana.
"Yakin kamu nggak ada perasaan sama Abri?" tanya Yanti sekali lagi.
"Untuk saat ini sih nggak ada, Yan. Tapi yang namanya jodoh itu kita nggak ada yang tau, jadi aku nggak mau ngomong sesuatu yang aku nggak bisa pastikan kedepannya itu kaya apa. Hanya Tuhan yang tahu," jawab Diana.
"Ya kalau gitu aku doakan semoga nama jodohmu di Lauhul Mahfudz adalah Abri, aamiin," ucap Yanti yang masih berharap Diana dan Abri bisa bersama.
Seketika Diana langsung membulatkan kedua matanya begitu mendengar ucapan dari Yanti yang seperti doa itu.
"Kamu itu ada-ada aja, Yan," ucap Diana sembari tersenyum simpul.
__ADS_1
"Ya karena cuma itu aja yang bisa aku lakuin, Di," jawab Yanti.
Dan tak lama Diana pun mengakhiri obrolan mereka, dan bergegas istirahat karena esok ia harus bangun pagi-pagi sekali.