Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Demi Kesejahteraan Bersama


__ADS_3

"Assalamualaikum," Diana mengucapkan salam begitu masuk ke dalam rumahnya.


"Waalaikusallam," sahut ibunya.


"Loh kamu kok baru nyampe, Di?" tanya ibunya.


"Iya, orang tadi Yanti ninggalin Diana. Udah gitu ada insiden ular lagi di tengah jalan," sahut Diana.


"Apa? Ular?" tanya ibunya.


"Iya, tadi ada ular lewat, nggak tau ular apa namanya. Yang pasti sih hitam, kepalanya gepeng. Jadi nunggu dia lewat dulu baru Diana lewat," jelas Diana.


"Ih, kobra itu jangan-jangan," ucap ibunya.


"Mungkin juga," sahut Diana.


"Terus kamu tadi pulang sama siapa?" tanya ibunya.


"Sama Mas Abri, saudaranya Kak Ramli," jelas Diana.


"Oh ya sudah," ucap ibunya.


Diana pun langsung bergegas ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangannya terlebih dahulu sebelum tidur.


"Bukan main, yang baru nyampe. Nyangkut di mana kalian berdua kok lama bener baru nyampe? Aku aja sudah dari tadi nyampe," cerocos Yanti panjang lebar.


"Bukan main juga yang sudah ninggalin sepupunya, sampai-sampai sepupunya ketemu ular nggak tahu," sindir Diana juga.


"Hah, ketemu ular di mana, Di?" tanya Diana.


"Nggak taukan kamu?" tanya Diana.


"Ya kalau aku tau nggak mungkin tanya sama kamu, Di," jawab Yanti.


"Mangkanya, jangan main tinggal-tinggal aja dong," ucap Diana sebal.


"Iya deh maaf, tapi itu semua kulakukan demi kesejahteraan bersama tau," jawab Yanti.


"Demi kesejahteraan bersama apanya? Memangnya kamu pak RTnya Du*ung? tanya Diana.


"Yaiyalah, aku sama Nuri bisa naik motor tanpa kesempitan, terus kamu sama mamasmu bisa boncengan romantis berdua," jawab Yanti sembari menaik turunkan alisnya.


"Asal aja kalau ngomong," jawab Diana.


"Ih emang benerkan? Terus si ular tadi gimana ceritanya? tanya Yanti yang masih penasaran dengan cerita ular.


Dan Diana pun menceritakan kejadian tadi hingga dirinya yang tak sengaja memeluk Abri karena parno, gara-gara ada rumput alang-alang yang menyenggol kakinya.

__ADS_1


Tak pelak Yanti pun langsung tertawa dibuatnya.


"Ha ha ha," Yanti terbahak.


"Nggak usah ketawa dan nggak usah komen!" ucap Diana.


"Kaya apa aku nggak ketawa orang lucu gitu, Diana-Diana. Malu-maluin aku aja kamu itu, ha ha ha," ucap Yanti.


"Ya habisnya kamu tau sendirikan kalau aku gelian sama ular dan teman-temannya itu, terus kalau tiba-tiba ada sesuatu yang kena badanku aku mikirnya sudah yang aneh-aneh, jadi aku sampe nggak sadar sudah meluk Mas Abri,"jelas Diana.


"Tapi aku yakin kalau Mas Abri seneng banget bisa dipeluk sama kamu," ucap Yanti yang langsung mendapatkan raupan di wajahnya dari Diana.


"Asal terus kalau ngomong kamu tuh, Yan," sahut Diana.


"Udah ah, aku mau tidur," ucap Diana lagi.


"Loh kok udah tidur aja sih, aku belum selesai nih nanyanya," ucap Yanti.


"Tau ah, sudah nggak ada lagi ceritanya, habis," sahut Diana sembari memejamkan matanya.


"Oh da*ar Panjul," ucap Yanti.


...****************...


Sementara itu, sepanjang perjalanan balik ke SMP, Abri tak hentinya tersenyum. Wajahnya terlihat sumringah, sama persis ketika dia habis mengantarkan Diana malam itu.


Sesampainya di sana, dia langsung menghampiri Dani dan Ramli yang terlihat sibuk membereskan bekas acara api unggun dan pentas seni bersama dengan rekan-rekannya yang lain.


"Iya udah, kamu kemana aja kok lama banget?" tanya Ramli.


"Nggak ke mana-mana kok, habis itu langsung balik ke sini. Cuma tadi ada insiden sedikit aja sih jadi agak lama," kata Abri.


"Hah insiden apa?" tanya Ramli.


"Ada deh, nanti aja ceritanya. Sekarang kita beresin ini dulu," sahut Abri.


"Kebiasaan kamu nih pasti sudah, kalau cerita nanggung nggak tuntas, bikin orang penasaran terus," ucap Ramli kesal.


"He he he, nggak usah marah. Ya sudah cepetan kita selesaikan ini dulu, jadi bisa langsung istirahat," titah Abri.


Dan mereka pun membereskan bekas acara hingga beres. Setelahnya mereka pun beristirahat di tenda masing-masing.


"Woi, buruan cepet ceritanya!" titah Ramli yang sudah tak sabar mendengar cerita dari Abri.


"Besok aja di rumah ceritanya, sekarang waktunya tidur, dah ngantuk berat nih aku, Ram," ucap Abri.


"Tuhkan kebiasaan memang kamu tuh, seneng banget bikin orang penasaran," sahut Ramli kesal.

__ADS_1


"Dah sstt," sahut Abri seraya meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya dengan mata yang sudah terpejam. Dan Ramli pun hanya dapat menurut saja dan segera ikut pula masuk ke alam mimpi masing-masing.


Keesokan harinya setelah upacara, mereka semua bersiap untuk membereskan semua peralatan dan perlengkapan kemah, hingga membersihkan semua sampah-sampah selama mereka ada di sana. Kemudian mereka semua bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing, tak terkecuali Ramli dan Abri. Mereka pun sudah berada di parkiran untuk mengambil motor.


"Nih kamu aja yang bawa, Ram!" titah Abri seraya menyerahkan kunci motor pada Ramli.


Dan Ramli pun menyetujuinya dengan syarat Abri tak melupakan janjinya semalam.


Sesaat setelah menstarter motornya, datanglah Diana yang hendak menjemput Isya. Tentu saja ini merupakan vitamin bagi Abri sebelum dia pulang.


"Loh Mas Abri sama Kak Ramli juga baru mau pulang?" tanya Diana ketika sudah berada di dekat Abri dan Ramli.


"Iya, kamu mau jemput Isyakah?" tanya Abri.


"Iya, tapi nggak tau orangnya di mana masih, belum ada di sini, katanya tadi Diana suruh tunggu di sini aja," jawab Diana.


"Dia tadi masih di dalam, masih ada yang belum selesai diberesin katanya," ucap Ramli.


"Ya udah kita temani kamu tunggu Isya dulu, kalau Isya sudah datang baru kita sama-sama pulang," ucap Ramli.


"Halah bilang aja masih mau lihat Diana, pakai alasan segala macam," ucap Ramli yang langsung dicelengi Abri.


"Nggak usah ngomong macam-macam," ucap Abri, dan Diana pun hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua.


Tak lama Isya pun datang.


"Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga," ucap Ramli.


"Kenapa memangnya, Yang? Kamu nunggui aku?" Tanya Isya paa Ramli.


"Ini lho Diana yang nunggui kamu," sahut Ramli.


"Oh kirain kamu," ucap Isya.


"Ya sudah ayo, Kak! Sudah nggak ada yang ketinggalan?" tanya Diana.


"Nggak ada. Ya sudah ayo, Di!" sahut Isya.


"Makasih ya, Mas, Kak, udah temenin Diana. Ya udah ayo sekalian sama-sama keluarnya, kan tadi sudah tinggal pulang aja," ajak Diana.


"Iya, ayo Ram!" ajak Abri pada Ramli. Dan mereka pun akhirnya pulang ke rumah masing-masing.


Akhirnya setelah kurang lebih setengah jam, Abri dan Ramli sampai juga di rumah. Abri langsung membereskan semua barang bawaannya selama berkemah, begitu pula dengan Ramli.


"Lumayan juga capeknya, padahal cuma 3 hari aja," ucap Ramli sembari merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sudah 3 hari ini ditinggalkannya.


"Huh, enaknya tidur di sini, setelah berapa hari tidur nggak pake kasur," ucap Ramli seraya mengelus-elus tempat tidurnya. Dan tak lama ia pun terlelap.

__ADS_1


Abri pun demikian, setelah memasuki kamarnya, ia pun langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya, dan tak lama ia pun terlelap juga. Rasa lelah dan letih selama berkemah di tambah waktu tidur yang kurang membuat keduanya langsung terlelap begitu merebahkan tubuh mereka ke atas tempat tidur. Dan mereka terlelap untuk waktu yang lumayan lama, sampai-sampai membuat ibu mereka harus membangunkan mereka sebelum mereka tertidur hingga azan magrib.


Sementara itu, yang di lakukan Isya di rumahnya pun tak jauh berbeda. Dia pun memilih tidur setelah membereskan semua barang bawaannya selama berkemah.


__ADS_2