
Setelah berhasil menemani Ibnu ke kamar mandi yang penuh dengan drama, Abri dan rekan-rekannya pun kembali beristirahat di tenda.
Ramli berinisiatif memasak mie rebus dan telur untuk sarapan mereka, begitulah kehidupan mereka selama berkemah, sudah sama seperti layaknya anak kos. Setelah selesai memasak ia langsung memberikannya pada teman-temannya.
"Nih sudah matang, silahkan dimakan tuan-tuan!" kata Ramli.
"Wuih, memang rajin pang temanku satu ini," kata Dani.
"Bukan rajin, tapi memang sudah jadwal piketku kan sekarang," sahut Ramli.
"Oh iya ya, saya yang lupa, pantas aja kamu rajin, padahal biasanya kamu yang paling malas ha ha ha," kata Dani.
"Huh enak aja ya," sahut Ramli.
"Sudah-sudah ayo cepat makan jangan banyak cingcong!" kata Abri.
Setelah sarapan mereka lalu mempersiapkan materi untuk adik-adik penggalang ujian, dan nanti sore mereka akan pergi mengumpulkan kayu bakar yang akan digunakan untuk acara api unggun nanti malam.
...****************...
Sementara itu di tempat berbeda, terlihat Diana sedang mencuci motor bapaknya. Di saat sedang asyik mencuci motor, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Nuri, tolong angkatkan HP Kakak!" titah Diana pada adiknya.
"Iya Kak, sebentar," sahut Nuri.
Setelah mengambil ponsel milik Diana, Nuri langsung mengecek siapa gerangan yang menelpon kakaknya itu.
"Oh Kak Yanti rupanya yang menelpon," Nuri bermonolog.
"Hallo, kenapa Kak?" tanya Nuri pada Yanti.
"Ada Kak Diana, Nur?" tanya Yanti.
"Ada, lagi nyuci motor, Kak. Sebentar Nuri panggili," kata Nuri yang langsung keluar mendatangi kakaknya.
"Siapa, Nur?" tanya Diana.
"Kak Yanti, Kak," sahut Nuri sembari memberikan ponsel pada Diana.
"Hallo, kenapa Yan?" tanya Diana.
"Di, nanti malam kamu kemana? Kita liat acara api unggun yuk!" ajak Yanti.
__ADS_1
Diana tampak berfikir sambil memegang dagunya dengan jari telunjuknya.
"Emangnya boleh kalau kita nonton ke sana?" tanya Diana.
"Enggak tau juga sih, he he he," sahut Yanti.
"Gimana kalau kamu tanya sama Mas Abri, boleh nggak kita ke sana?" saran Yanti. Sebenarnya itu hanya akal-akalan Yanti saja agar Diana berkomunikasi dengan Abri.
"Malas ah, kamu aja sana yang telpon!" sahut Diana.
"Lho, kok aku sih, Di? Kamu aja, lagian aku nggak ada nomor teleponnya," Yanti beralasan.
"Nanti aku kasih," kata Diana.
"Tapi enggak enak kalau aku yang telpon, Di. Aku kan baru aja kenal sama dia, kalau kamu kan udah lumayan lama kenalnya," Yanti kembali beralasan panjang lebar.
"Halah, paling ini bisa-bisanya kamu aja, biar aku nelpon Mas Abri," tebak Diana.
"He he he, kalau iya kenapa?" tanya Yanti dengan entengnya.
"Tuh kan, enteng banget kamu tanya kenapa, udah deh ya nggak usah sok-sokan jadi mak comblang, kamu itu nggak ada bakat sama sekali," cerocos Diana panjang lebar kali ini.
"Ih kok gitu sih, namanya juga usaha, kamu yang jadi kelinci percobaanku dulu, nanti kalau berhasil aku mau buka biro jodoh, ha ha ha," sahut Yanti asal.
"Jangan marah, ya udah kita langsung ke sana aja, nggak mungkin jugakan kalau kita diusir, secara di sanakan ada Mas Abri juga," kata Yanti.
"Terus apa hubungannya dodol?" tanya Diana.
"Ya kan Mas Abri naksir kamu, jadi ya nggak mungkin dong kalau kita diusir dari sana," jelas Yanti yang masih kekeh dengan prediksinya kemarin.
"Ih kamu ini ya, kok yakin bener sih sama prediksimu itu dari kemarin?" tanya Diana.
"So pastilah, Yanti gitu lho, ha ha ha," sahut Yanti.
"Ya udah jadi jam berapa kita berangkat?" tanya Yanti lagi.
"Emangnya aku mau?" tanya Diana balik.
"Mau aja gin," Yanti memaksa.
" Ehm, ya udah deh, habis sholat Isya aja kita ke sana," sahut Diana.
"Nah gitu dong, padahal sebenarnya kamu pingin juga ke sana, kan?" tebak Yanti.
__ADS_1
"Mana ada," sahut Diana dengan senyum dikulum.
Mereka pun mengakhiri panggilan telepon dengan satu keputusan akan pergi nonton acara api unggun nanti malam.
...****************...
Sore harinya setelah memberikan ujian untuk adik-adik penggalang, Abri dan rekan-rekannya pergi mencari kayu untuk acara api unggun nanti malam.
Di sela-sela kegiatan mencari kayu, Ramli masih sempat-sempatnya menagih janji Abri untuk bercerita dengannya soal kejadian kemarin malam yang belum diceritakan oleh Abri padanya. Abri sendiri tidak habis pikir dengan saudaranya satu ini yang kalau sudah penasaran akan terus bertanya dan memaksa jika belum diberitahukan padanya. Alhasil Abri pun akhirnya menceritakan kejadian kemarin malam saat Diana dan Yanti datang menemui Isya, dan tak lupa ia juga menceritakan tentang ucapan Yanti yang berpesan untuk menjaga Diana, tentu saja Abri bercerita dengan suara yang sedikit pelan dan jauh dari teman-temannya, sebab dia tak ingin orang mengetahuinya, dia pun berpesan pada Ramli agar tidak memberitahukan pada Isya tentang perasaannya pada Diana. Bukan karena apa, hanya saja saat ini dia ingin memastikan terlebih dahulu apakah Diana juga menyukainya atau tidak. Jika dia sudah yakin bahwa Diana juga menyukainya baru dia akan menyatakan sendiri pada Diana, sehingga Diana mengetahui perasaannya bukan dari orang lain, tapi dari Abri sendiri.
"Terus gimana caranya kamu bisa tau kalau Diana juga suka sama kamu atau enggak?" tanya Ramli.
"Nah itu dia, aku juga belum tau harus gimana caranya," sahut Abri.
Mendengar jawaban Abri seperti itu, membuat Ramli menepuk jidatnya sendiri.
"Waduh, parah abis kamu ini, Bri," kata Ramli.
"Ya habis gimana dong, aku nggak tau, kamu tau sendirikan kalau selama ini aku yang dimodusi cewek-cewek, bukan aku yang modusi mereka," jawab Abri dengan percaya dirinya yang membuat Ramli langsung meraup wajah Abri kasar.
"Halah gayamu pembualan, kaya ganteng-gantengnya aja lagi," kata Ramli kemudian.
"Lho fakta, Bro," jawab Abri.
Memang benar selama ini Abri tidak pernah mendekati atau memodusi para cewek-cewek, tetapi para cewek-ceweklah yang selalu mendekati dan memodusinya. Bahkan dengan mantannya yang mengkhianatinya pun sebenarnya bukan dia yang menyatakan perasaan duluan, tetapi justru mantannya itu yang menyatakan perasaanya terlebih dahulu. Karena dia tidak ingin membuat mantannya itu malu, dan dia yakin jika cewek yang menyatakan perasaannya duluan berarti dia memang benar-benar serius dan mau menerima dirinya apa adanya, maka dari itu ia mau menerima mantannya itu dulu dan belajar menyukainya. Tetapi perkiraan Abri itu salah karena sekarang justru dirinyalah yang dikhianati dan ditinggalkan.
"Kamu punya nomor ponselnya Diana nggak?" tanya Ramli.
"Punya, waktu aku ngantar dia pulang dari pasar waktu itu aku langsung minta nomor ponselnya," jelas Abri.
"Terus kamu sudah pernah chat-chatan sama dia belum?" tanya Ramli lagi.
"Belum," jawab Abri sembari menggelengkan kepalanya.
Sekali lagi Ramli menepuk jidatnya sendiri setelah mendengar jawaban dari Abri.
"Kamu itu songo*g atau gimana sih? Kalau sudah punya nomor ponselnya kenapa kamu nggak berusaha ngehubungi dia?" Ramli bertanya dengan sedikit kesal.
"Aku sih mau aja ngehubungi dia, tapi alasannya itu apa? Kamu tau sendiri kan kalau aku nggak pintar basa-basi sama cewek, memangnya kayak kamu," sahut Abri panjang lebar.
"Mangkanya jadi cowok tuh jangan kaku-kaku amat," kata Ramli.
"Terus gimana dong sekarang?" tanya Abri.
__ADS_1
"Gini aja, nanti malam kan acara api unggun nih, gimana kalau kamu hubungi dia terus ajak ke sini," saran Ramli yang langsung ditanggapi Abri dengan melebarkan kedua bola matanya.