Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Perubahan Isya


__ADS_3

Sudah dua minggu Diana berada di Samarinda. Dan hari ini adalah hari yang sangat dinantikannya karena hari ini adalah hari Sabtu. Di mana saatnya ia akan pulang ke kampungnya.


Setelah kurang lebih satu jam, angkot yang Diana tumpangi akhirnya sampai juga di kampungnya. Perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata karena kebahagiaannya dapat bertemu kembali dengan keluarganya secara utuh.


Tapi ada satu perasaan tidak enak yang mengganjal hatinya. Ia mengkhawatirkan kakaknya, yaitu Isya. Dari informasi yang didapatkannya dari Abri bahwa Isya sekarang tidak seperti Isya yang dulu.


Ya Abri memang selalu menceritakan semua kejadian yang masih ada hubungannya dengan Isya pada Diana. Sehingga Diana mengetahui kondisi kakaknya itu.


Setelah beristirahat sejenak, Diana pun menghabiskan waktunya dengan keluarganya. Sore ini ia berniat mengajak Isya jalan-jalan ke rumah neneknya, karena sudah lama juga sepertinya ia tidak pergi ke sana. Ia ingin tahu bagaimana kabar dari neneknya itu, sekaligus menghibur Isya agar sedikit lupa akan sakit hatinya.


Diana pun masuk ke dalam kamar Isya untuk mencarinya. Ternyata Isya sedang santai berbaring di atas tempat tidurnya sembari bermain game favoritnya .


"Nanti ke rumah nenek yuk, Kak!" ajak Diana.


Isya pun langsung mendongakkan kepalanya begitu mendengar suara Diana.


"Ngapain? Kamu ada perlu, kah?" tanya Isya.


"Nggak sih. Kalau mau ke rumah nenek memangnya harus ada perlu dulu, kah?" tanya Diana. Dia sedikit heran dengan kakaknya itu.


"Ya nggak. Ya udah kapan? Jam berapa?" tanya Isya.


"Nanti sorean sedikit, sekarang masih panas. Ntar aku gosong repot lagi urusannya. Bisa-bisa teman-temanku pangkling sama aku, he he he," jawab Diana.


Isya terlihat memutar bola matanya malas ketika mendengar ocehan Diana. "Preeeetlah, kaya putih-putihnya aja lagi. Jadi jam berapa?" tanya Isya lagi.


"Emang aku putih, kan? Ya jam limaan aja," jawab Diana. Dan Isya pun menyetujuinya.


Setelahnya Diana pun langsung keluar dan ia langsung berkumpul dengan ibu dan adiknya yang sedang berkumpul dengan para tetangganya di halaman samping rumahnya.

__ADS_1


Salah satu kebiasaan di kampung yang sangat dirindukannya ketika berada di kota yaitu berkumpul dengan para tetangganya. Kadang biasanya sambil ngumpul mereka buat acara mencokan. Buah-buahannya tinggal petik aja di pekarangan rumahnya dan tetangganya.


Atau kadang mereka bermain olahraga kesukaan mereka, apalagi kalau bukan bulutangkis. Apalagi kalau ada bapaknya Diana, beliau paling suka mengajak Diana bermain. Karena beliau tahu betul olahraga kesukaaan anaknya itu.


Waktu pun sudah hampir menunjukkan jam empat sore. Diana segera naik ke rumah untuk mandi dan salat Ashar. Setelahnya ia pun mendatangi Isya di dalam kamarnya. Rupanya Isya juga sudah bersiap-siap akan berangkat.


Setelah berpamitan pada keluarganya Isya dan Diana pun segera pergi ke rumah nenek mereka. Sepanjang perjalanan Diana selalu mengajak Isya ngobrol. Ada-ada saja yang Diana jadikan bahan ocehannya. Akan tetapi Isya tidak terlalu banyak merespon. Ia hanya diam saja menyimak Diana berbicara.


Akhirnya mereka sampai juga di rumah nenek mereka. Melihat mereka datang, neneknya pun merasa senang sekali. Semua makanan yang ada di rumahnya ia keluarkan untuk menjamu cucu-cucunya itu. Seperti itu memang kebiasaan dari neneknya itu.


Diana pun dengan senang hati menerima dan memakan semua makanan yang disajikan oleh neneknya itu. Tetapi tidak dengan Isya, ia terlihat diam saja. Seperti orang yang tak selera makan. Padahal biasanya dialah yang paling banyak makan dan selalu menghabiskan semua makanan yang ada di depan matanya.


Melihat hal tak biasanya pada Isya membuat neneknya pun heran dan bertanya, "Kamu kenapa nggak makan, Sya?"


"Lagi diet mungkin, Nek." Bukan Isya yang menyahut neneknya, melainkan Diana.


"Nggak lagi diet, cuma lagi malas aja, Nek," sahut Isya.


Sejak kedatangan mereka di rumah neneknya, hanya Diana saja yang tak berhenti mengoceh. Sudah seperti seekor burung yang sedang berkicau saja. Dia melakukan itu karena berusaha memancing Isya agar ikut bicara juga dan tidak diam saja.


Walaupun pada dasarnya Diana memang anaknya begitu, tukang bicara kalau dengan orang yang sudah dikenalnya apalagi keluarganya. Tetapi kalau dengan orang yang belum dikenalnya sikapnya akan berbanding terbalik 180 derajat. Sehingga orang akan mengira kalau dirinya pendiam.


Berbeda dari Diana yang ceria, Isya yang sedari tadi sudah dipancing Diana untuk ikut ngobrol tak merespon sedikit pun. Paling-paling ia hanya sedikit tersenyum dan mengangguk kalau ditanya.


Melihat cucunya hanya diam saja seperti orang yang sedang tak enak badan neneknya pun bertanya, "Kamu kenapa sih dari tadi cuma diam aja, Sya?"


"Iya nih Kak Isya kenapa sih?" tanya Diana pula yang seakan-akan tidak tahu-menahu soal masalah yang baru saja dihadapi Isya.


"Nggak apa-apa kok, Nek. Nggak lagi sakit juga," jawab Isya.

__ADS_1


"Tapi kenapa dari tadi diam aja, makan juga nggak?" tanya neneknya.


"Nggak apa-apa, Nek. Cuma capek aja mungkin," sahut Isya.


Kemudian Isya pun melihat ke arah jam dinding di rumah neneknya yang sudah menunjukkan jam enam lewat. Dan dia segera mengajak Diana pulang karena hari sudah senja. Dan Diana pun menyetujuinya. Akhirnya mereka pulang setelah berpamitan pada nenek mereka.


Suara azan Magrib pun terdengar tak lama setelah mereka memasuki rumah. Isya dan Diana pun langsung membersihkan diri dan langsung menunaikan salat Magrib. Setelah itu seperti biasa Diana membantu ibunya di dapur guna menyiapkan makan malam.


Malam ini Diana benar-benar ingin menghabiskan waktunya bersama dengan keluarganya untuk mengobati rasa rindunya.


Merasa sudah mengantuk, Diana pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Sebelum Diana pergi ke pulau kapuk, ia menyempatkan untuk membuka ponselnya terlebih dahulu. Kalau-kalau saja ada pesan masuk yang ia tak tahu, karena sejak sore tadi ia tidak ada menyentuh benda pipih tersebut.


Dan ternyata memang ada sebuah pemberitahuan pesan masuk di aplikasi hijaunya itu semenjak dua jam yang lalu. Sebuah pesan dari Abri yang menanyakan tentang keadaannya. Dan Diana pun langsung membalas pesan tersebut setelah sebelumnya ia meminta maaf terlebih dahulu karena baru saja membuka pesan dari Abri tersebut.


Kemudian Diana pun balik bertanya tentang keadaan dari Abri sendiri. Abri pun membalas bahwa dia baik-baik saja.


Setelahnya Abri menanyakan pada Diana tentang keadaan Isya, apakah sudah ada perubahan kembali menjadi Isya yang dulu atau masih menjadi Isya yang sekarang lebih pendiam setelah putus dari Ramli.


Diana pun menjawab jika kakaknya belum kembali menjadi Isya yang dulu ceria dan banyak bicara.


"Ternyata memang betul apa yang Mas bilang waktu itu, kalau kak Isya sekarang lebih banyak diam dan murung. Makan aja dia nggak ada selera." Diana membalas pesan Abri.


"Aku minta maaf ya, Di. Karena ulah Ramli Isya jadi kayak gitu." Abri masih merasa bersalah karena tak bisa menegur saudaranya yang salah.


Dan Diana pun membalas jika Abri tak harus selalu meminta maaf. Sikap Isya yang seperti itu mungkin masih wajar bagi orang yang baru saja putus dari pasangannya. Tetapi Abri berpendapat jika Isya masih saja seperti itu bisa berakibat buruk untuk kesehatannya, apalagi dari segi kejiwaannya.


"Mungkin butuh waktu untuk bisa kembali seperti dulu, Mas. Dan mungkin juga harus ada seseorang yang selalu ada disampingnya yang memperhatikan dan ngasih semangat dia. Jadi dia merasa bahwa masih ada orang yang peduli dan perhatian sama dia selain Ramli. Ya karena sekarang Ramli sudah nggak sama dia lagi." Diana mencoba mengungkapkan argumennya pada Abri.


Membaca balasan Diana seperti itu, Abri pun menjadi berpikir bahwa apa yang diungkapkan Diana itu ada benarnya juga.

__ADS_1


Akan tetapi sekarang yang jadi pertanyaan Abri pada dirinya sendiri adalah siapakah orang itu. Apakah harus dia orangnya yang sekarang harus berada di dekat Isya untuk memperhatikan dan memberi semangat agar dia bisa kembali seperti dulu lagi? Dan apakah dia juga orangnya yang harus bertanggung jawab atas perbuatan saudaranya. Pertanyaan yang sulit dijawab oleh Abri sendiri tentunya.


__ADS_2