Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Kecurigaan Diana


__ADS_3

Hari ini adalah hari Sabtu di minggu ke dua setelah Diana berada di Samarinda. Sedari pagi Diana sudah tak sabar, tentu saja karena hari ini dia akan pulang ke kampungnya yang sangat dirindukannya.


Sepulang sekolah, Diana langsung menuju terminal angkot yang berlokasi di daerah Pasar Pagi Samarinda, jurusan menuju ke kampungnya.


Diana terlihat asik menikmati perjalanannya yang sudah tentu menyenangkan menurutnya, karena sesaat lagi ia akan tiba di rumahnya yang sangat ia rindukan, terlebih lagi penghuninya.


Saat sedang asik melihat kesana kemari, tanpa sengaja mata Diana menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Dia mengucek-ngucek matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa yang ia lihat tidak salah. Setelah yakin bahwa yang dilihatnya benar adanya, ia pun langsung memegang dadanya karena kaget. Rasa tak percaya, tapi yang dilihatnya memang benar adanya. Tapi Diana hanya ingin berpikiran positif saja, bahwa yang dilihatnya karena mereka adalah benar-benar sahabat dekat, dan bisa naik motor berdua hingga terlihat mesra sekali seperti itu. Kalau orang yang tidak tahu mungkin akan mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih pikir Diana. Tetapi hati Diana bertolak belakang, tetap saja ia tidak bisa menerima hasil dari pemikirannya sendiri. "Ah, mana ada sahabatan tapi sampai segitunya," batinnya kembali memberontak.


Dan ia pun memutuskan akan menyelidikinya nanti, itupun kalau bisa, mengingat ia tak lama ada di kampungnya. Tetapi sebisa mungkin dia akan berusaha untuk menyelidikinya demi seseorang yang disayanginya.


Akhirnya angkot yang ia tumpangi telah sampai di depan pintu gerbang pemukimannya. Di kampungnya Diana memang ada dibuat pintu gerbang untuk di setiap wilayah RTnya. Diana pun hanya berjalan kaki sedikit saja untuk sampai di rumahnya.


Sesampainya di rumah, Diana disambut suka cita oleh seluruh keluarganya. Ibunya selalu membuatkan kudapan kesukaan Diana jika ia pulang kampung. Seperti sekarang ini, ibunya membuatkannya kudapan tradisional bernama intalu karuang. Makanan sejenis bubur yang terbuat dari tepung kanji atau bisa juga dari tepung ketan yang dibentuk bulat-bulat dan dicampur dengan air santan dan gula merah. Diana pun sangat menyukainya dan berterima kasih pada ibunya karena sudah repot-repot membuatkan dia kudapan.


Setelah beristirahat, seperti biasa Diana selalu menyempatkan untuk menengok tanaman-tanaman dan bunga-bunga yang ada di pekarangan rumahnya. Aktifitasnya ini membuatnya sedikit melupakan kejadian sewaktu di perjalanan pulangnya tadi.


Malam pun tiba, setelah makan malam dan salat Isya, Diana teringat akan kejadian yang dilihatnya siang tadi. Diana pun berniat masuk ke dalam kamar kakaknya, tentu saja ada hal yang sangat penting yang akan ditanyakannya. Tetapi dia belum berniat untuk memberitahukan kakaknya tentang perihal apa yang dilihatnya tadi siang ketika di perjalanan pulang.


Diana pun segera mengetuk pintu kamar kakaknya itu dan meminta ijin untuk masuk. Setelah mendapatkan ijin untuk masuk, Diana pun membuka pintu kamar kakaknya dan langsung merebahkan diri di atas tempat tidur kakaknya itu. Dia berniat akan menanyakan pada kakaknya dengan cara yang santai, agar kakaknya itu tak merasa curiga jika ia sedang menyelidiki sesuatu.

__ADS_1


"Tumben kamu main ke kamar Kakak, Di?" tanya Isya.


"Nggak papa, kangen aja. Kan udah 2 minggu kita nggak ketemu," ucap Diana beralasan.


"Preetlah," Isya seakan tak percaya dengan alasan dari Diana. Mengingat selama ini Diana memang tak pernah masuk ke dalam kamarnya kecuali saat menyapu saja.


"Ya udah kalau nggak percaya," sahut Diana.


Setelahnya Diana pun mengajak Isya ngobrol-ngobrol santai. Apa saja ditanyakannya pada Isya, mulai dari kegiatannya di sekolah, di rumah, hingga tentang sahabat-sahabatnya Isya.


Setelah dirasa cukup aman, Diana pun segera memberikan pertanyaan menyelidik tentang apa yang mengganjal di hatinya sedari tadi.


"Iya, dia repot. Katanya sih lagi bantuin Mamaknya buat pesanan kue orang," sahut Isya.


"Oh gitu, tapi kalau di sekolah Kakak masih sering sama-samakan?" tanya Diana.


"Jarang juga sih, kalau istirahat dia sering pulang, nggak tau ngapain. Kenapa memangnya kamu tanya-tanya gitu?" tanya Isya.


"Nggak papa sih. Enak aja jadi Kakak bisa ketemu sahabatnya tiap hari. Lha Diana, si Christie sekolahnya masuknya siang, Diana masuknya pagi, jadi jarang ketemu biar pun satu sekolahan," jawab Diana panjang lebar dengan membandingkan dirinya dengan kakaknya agar terlihat natural.

__ADS_1


"Memangnya kamu nggak punya teman baru selain Christie?" tanya Isya.


"Ya ada sih, tapi kan beda, Kak. Kalau Christie itu kan sahabat Diana dari kecil, ke mana-mana selalu bersama, sama kayak Kakak dengan Desy," sahut Diana.


"Iya sih, yang namanya sahabat dari kecil itu susah tergantikan, biarpun kita punya banyak teman, tapi tetap aja beda rasanya," ucap Isya membenarkan perkataan Diana.


Dan setelahnya Diana pun menanyakan tentang hubungan Isya dengan Ramli. Pertanyaan yang diajukan Diana pun hampir sama dengan pertanyaan yang dia ajukan tentang Desy.


Menurut pengakuan Isya, Ramli sekarang agak sedikit berubah, tidak seperti dulu. Kalau dulu mereka sering menghabiskan waktu istirahat bersama, entah itu ke kantin atau ke Perpus, atau sekedar nongkrong saja di depan kelas Isya. Dan Diana pun hanya bisa ber oh ria saja. Tak mungkin ia memberitahukan pada kakaknya tentang apa yang telah dilihatnya di perjalanan sepulang dari sekolah tadi. Bukan karena apa, karena dia sendiri tidak mempunyai cukup bukti untuk memastikan bahwa dugaannya itu benar, bisa saja dugaannya itu salah.


Setelah merasa cukup, Diana pun pamit pada Isya untuk kembali ke kamarnya sendiri dengan alasan sudah mengantuk. Walaupun sebenarnya dia belum merasa mengantuk sama sekali.


Di dalam kamarnya, Diana mencoba mengaitkan semua jawaban-jawaban dari Isya tentang Desy dan Ramli tadi, dan kembali melihat sebuah rekaman video yang sempat dia abadikan ketika melihat kejadian tadi siang.


Dan akhirnya ia menarik satu kesimpulan bahwa ada kemungkinan jika Desy dan Ramli telah mengkhianati Isya. Ya, apa yang dilihatnya sewaktu di perjalanan tadi siang adalah kebersamaan Ramli dan Desy berboncengan motor berdua, dengan Desy merangkul mesra Ramli, dan terlihat mereka bercanda dan tertawa sepanjang jalan yang masih bisa terlihat oleh Diana sebelum angkot yang ditumpagi Diana menjauh dari mereka berdua.


Diana tak menyangka bahwa sahabat kakaknya sendiri bisa setega itu menusuk kakaknya dari belakang. Sementara kakaknya tidak mengetahui perbuatan dari sahabatnya itu. Yang sangat disesali Diana, Isya masih saja menganggap jika Desy adalah sahabat terbaiknya, karena mereka telah bersama sedari masih kecil hingga sekarang.


Tetapi ini semua masih belum bisa dijadikan bukti untuk memberitahu Isya jika Desy dan Ramli telah mengkhianatinya. Ia harus mencari tahu lebih banyak lagi bukti untuk memperkuat dugaannya itu agar tidak dibilang fitnah nantinya. Dan dia pun berpikir bagaimana caranya mencari bukti jika dia saja jarang berada di sini.

__ADS_1


Saat dia masih memutar otaknya untuk berpikir, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi pertanda ada pesan masuk. Diana pun segera mengambil ponselnya yang ada di atas meja belajar. Saat melihat siapa gerangan yang telah mengiriminya pesan, tiba-tiba satu ide muncul di kepalanya. Ya, dia akan meminta bantuan dari orang yang baru saja mengiriminya pesan ini. Seketika senyuman pun terbit dari bibir mungilnya.


__ADS_2