
Masih di rumah Diana tetapi di kamar yang berbeda, tampak Isya sedang termenung seorang diri. Setelah Diana tadi berpamitan masuk ke dalam kamarnya, Isya pun masuk juga ke dalam kamarnya.
Pikirannya sedang kacau teringat akan sahabat sedari kecilnya itu. Dia terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa sekarang sahabatnya itu berubah, tidak seperti dulu. Dulu mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Di mana ada Isya pasti di situ ada Desy juga, begitupun sebaliknya. Mereka sudah seperti amplop dan perangko. Walaupun Isya sedang bersama Ramli ia takkan melupakan sahabatnya itu. Desy pun selalu ada diantara mereka berdua. Isya tak merasa terganggu dengan sahabatnya itu, dan begitu juga dengan Ramli yang tak pernah protes dengan kehadiran Desy bila dia sedang bersama dengan Isya. Sehingga Isya pun merasa nyaman bila sering membawa sahabatnya itu.
Tetapi Isya tak mengetahui jika prilakunya itu bisa membuat bumerang untuk dirinya sendiri. Desy yang sebenarnya dari awal memang menyukai Ramli pun merasa senang jika selalu diajak Isya menemani Ramli. Dan diam-diam dia pun sering mencari kesempatan untuk mendekati Ramli tanpa sepengetahuan Isya. Isya pun terlalu percaya dengan sahabatnya itu, karena dia berpikiran kalau tidak mungkin sahabatnya itu akan menikungnya.
Akhirnya Isya memutuskan untuk bertanya pada Desy dengan mengiriminya pesan.
"Assalamualaikum, Des. Kamu sibukkah?"
Pesannya sudah terconteng dua tetapi belum juga dibuka oleh Desy. Membuat Isya semakin bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan sahabatnya itu, lebih tepatnya dengan hubungan persahabatan mereka berdua saat ini. Apalagi ia melihat WA sahabatnya itu sedang online. Ada kemungkinan jika Desy sengaja tidak membuka pesannya. Tetapi mengapa pikir Isya. Isya pun berpikiran positif saja, mungkin sahabatnya itu belum sempat membuka pesannya karena sedang sibuk berkirim pesan dengan seseorang. Tetapi sayangnya yang Isya tidak ketahui bahwa seseorang itu adalah Ramli. Ya Desy memang sedari tadi sibuk berkirim pesan dengan Ramli yang masih berusaha meyakinkan Desy untuk percaya akan ucapannya, bahwa yang dilihatnya di rumah Isya tadi tak sama seperti dengan apa yang dipikirkan Desy.
Setelah lama menunggu balasan dari Desy tetapi tak jua kunjung dibalas, akhirnya Isya memutuskan untuk bertanya besok saja di sekolah pada Desy. Isya pun kemudian menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya. Dan dalam sekejap dia pun sudah pergi ke alam mimpi.
...****************...
__ADS_1
Alarm di ponsel Diana berbunyi tepat jam setengah 5 pagi. Diana pun bergegas bangun dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Kemudian ia pun segera melaksanakan salat Subuh. Setelah salat Subuh dia langsung mengenakan seragam sekolahnya lalu segera pergi ke dapur untuk sarapan. Setelah sarapan Diana pun berpamitan pada ibu dan bapaknya.
"Bu, Pak, Diana pamit ya. Assalamualaikum," pamit Diana sembari menyalami dan mencium punggung tangan ibu dan bapaknya.
"Wa'alaikumsalamsalam, hati-hati ya, Di. Belajar yang bener," ucap kedua orang tuanya bersamaan. Diana pun mengiyakan ucapan kedua orang tuanya itu.
Sebelum pergi Diana menyempatkan diri untuk menengok kedua saudaranya dulu yang masih terlelap. Saat melihat ke kamar Isya, Diana pun langsung teringat akan nasib kakaknya itu, entah kejadian apa selanjutnya yang akan terjadi nanti.
Kemudian Diana pun pergi ke luar rumah untuk berangkat ke sekolahnya.
Kali ini Diana balik ke Samarinda dengan menggunakan angkot, bapaknya tidak bisa mengantarkannya pagi ini. Karena kebetulan sekali jika bapaknya itu sedang shift pagi.
Diana tidak sendiri, karena di sana telah banyak teman-temannya yang menunggu angkot pula untuk sekolah di Samarinda. Anak-anak di kampung Diana memang banyak yang bersekolah di Samarinda. Rata-rata mereka pulang pergi tidak seperti Diana yang menetap di sana. Sebenarnya Diana pun ingin sekali seperti itu, sekolah pulang pergi setiap hari. Tapi apalah daya, untuk sekolah pulang pergi itu cukup memakan biaya, sehingga Diana pun tidak ingin memberatkan kedua orang tuanya. Jadilah ia tinggal bersama dengan tantenya di Samarinda.
Akhirnya angkot yang ditunggu pun tiba. Diana dan teman-temannya pun segera naik ke dalam angkot itu. Tepat jam 7 pagi Diana telah sampai di terminal Samarinda. Kemudian ia mencari angkot lagi untuk menuju ke sekolahnya. Diana pun melalui hari ini di sekolahnya seperti biasa. Hingga bel pulang berbunyi, Diana pun segera pulang ke rumah tantenya.
__ADS_1
...****************...
Sementara itu tadi pagi di sekolah Isya, tampak Isya terburu-buru mengejar seseorang yang secara kebetulan tiba di sekolah pada waktu yang bersamaan dengan Isya. Tetapi orang yang di kejar pura-pura tidak tahu dan semakin melangkah jauh meninggalkan Isya. Padahal Isya sudah memaggil-manggil namanya berulang kali, tetapi tetap saja tidak dihiraukannya. Isya pun tidak putus asa, ia terus melangkah dan kali ini langkahnya dipercepat untuk dapat menyusul orang yang sedari tadi dipanggilnya itu karena orang itu sudah berada di dalam kelasnya.
Sesampainya di kelas Desy, Isya pun langsung menyapa sahabatnya itu, dan berkata jika dia sedari tadi telah memanggilnya tetapi Desy tidak mendengar, lebih tepatnya Isya berpendapat bahwa sepertinya sahabatnya itu telah sengaja berpura-pura tidak mendengarnya. Ya orang yang sedari tadi di kejar Isya adalah Desy sahabatnya. Tentu saja Desy mengelak jika dia telah berpura-pura tidak mendengarkan panggilan Isya.
Akhirnya Isya pun memilih diam dan mengalah agar tidak terjadi perdebatan diantara dirinya dan Desy. Kemudian Isya mengajak Desy untuk ke kantin bersama saat istirahat pertama nanti. Desy pun menjawab dengan ucapan insyaAllah. Kemudian Isya pun berpamitan pada Desy pergi ke kelasnya untuk menaruh tasnya karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi dan mereka harus mengikuti upacara bendera. Dan benar saja, tak lama bel masuk pun berbunyi. Isya dan teman-temannya pun segera menuju ke lapangan untuk melaksanakan upacara bendera.
Setelah upacara bendera, semua siswa kembali ke dalam kelasnya masing-masing untuk memulai pelajaran seperti biasa.
Selama jam pelajaran berlangsung, Isya tak dapat berkonsentrasi. Tentu saja pikirannya telah bercabang pada Desy. Dan ia pun tak sabar menunggu jam istirahat pertama untuk menemui Desy dan bertanya tentang apa saja yang telah mengganggu pikirannya pada sahabatnya itu.
Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Bel istirahat pertama pun berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas dengan tujuan masing-masing. Ada yang pergi ke kantin, ke toilet, ke Perpus dan lain sebagainya. Dan Isya pun memilih untuk pergi ke kelas Desy, ia berharap kali ini Desy tidak menghindarinya.
Isya pun dengan cepat melangkahkan kakinya menuju kelas Desy, tetapi sayangnya langkahnya itu kalah cepat dengan langkah Desy yang sedari tadi sudah pergi dari kelasnya. Tentu saja hal itu ia lakukan agar bisa menghindari Isya yang tadi pagi telah mengajaknya untuk pergi ke kantin bareng. Dan Desy pun memilih menghindari Isya dengan bersembunyi di dalam toilet.
__ADS_1
Isya yang sudah rindu untuk menghabiskan waktu dengan sahabatnya itu pun kembali tercengang ketika mendapati kelas Desy telah kosong. Tak ada satu orang pun di sana yang bisa Isya tanyai tentang di mana keberadaan Desy saat ini. Isya pun merasa kecewa sekali. Tetapi Isya masih berpikiran positif, mungkin saja Desy sudah sangat kelaparan sehingga tidak menunggunya untuk pergi ke kantin pikirnya. Dan Isya pun segera melangkahkan kakinya menuju kantin sekolahnya.
Sesampainya di sana, kedua mata Isya pun memindai seluruh sudut ruangan kantin mencari keberadaan sahabatnya itu. Tetapi lagi-lagi dia tidak menemukan sosok yang tengah dicarinya itu. Isya pun menarik nafas dalam dan menghembuskanya dengan kasar. Dia mencoba bertanya dengan teman-temanya yang mengenal Desy, tetapi mereka tidak mengetahui di mana keberadaan Desy saat ini. Isya pun hanya dapat terdiam saja, pikirannya bertambah kacau. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Apakah mungkin karena ia tak sengaja telah membuat Desy marah sehingga Desy selalu menghindarinya. Hingga pikiran jika sahabatnya itu telah mempunyai sosok yang spesial sehingga dia tidak mempunyai waktu lagi untuk bersama dengan dirinya. Atau bisa saja memang karena Desy tak sengaja untuk menghindarinya. Tetapi dari itu semua, Isya berharap hubungan persahabatannya dengan Desy akan kembali seperti dulu lagi. Akhirnya setelah ke kantin, Isya pun memutuskan untuk kembali ke kelasnya saja.