
"Apa?" tanya Abri setelah mendengar saran dari Ramli.
"Iya, memangnya kenapa? Ada yang salah?" Ramli balik bertanya.
"Ya enggak sih, tapi aku bingung harus gimana cara membuka obrolannya itu," jawab Abri.
"Yaelah, gitu aja bingung. Pertama-tama sapa aja dulu, terus tanya dia lagi apa sekarang?" saran Ramli.
"Terus habis itu apa lagi?" tanya Abri.
"Habis itu tanya nanti malam dia ada acara nggak?" jawab Ramli.
"Terus apa lagi?" tanya Abri lagi yang membuat Ramli sedikit kesal dibuatnya.
"Terus-terus, belok dong jangan terus mulu, nanti nabrak," jawab Ramli kesal.
"Ha ha ha," Abri pun tertawa dibuatnya.
"Kamu nggak bisa mikir sendiri apa? Pikir dong kata-kata selanjutnya itu apa!" titah Ramli sedikit kesal karena Abri tak punya inisiatif sendiri dalam menyusun kata-kata.
"Ih kamu kok gitu sih, Ram? Jangan nanggung-nanggung dong kalau ngasih tau," protes Abri.
"Wani piro (berani berapa) satu kali konsul?" tanya Ramli sambil menaikkan kedua alisnya.
"Halah gayamu Ram-Ram, sok-sokan jadi Psikolog," ucap Abri sembari meraup kasar wajah Ramli.
"Boleh dong, nggak ada yang larang juga," sahut Ramli. "Jadi berani berapa?" tanyanya lagi.
"Ya sudah, satu jam enam puluh menit, gimana?" tanya Abri.
"Di mana-mana itu satu jam ya memang enam puluh menit dodol," sahut Ramli kesal.
"He he he, ya sudah nanti ku traktir bakso deh kalau sudah selesai kemah ini," kata Abri.
"Nah gitu dong baru deal," sahut Ramli dengan senyuman.
"Terus gimana tadi kelanjutannya?" tanya Abri.
Akhirnya Ramli pun memberitahukan kata-kata selanjutnya yang harus dikirimkan Abri lewat pesan WA pada Diana.
Abri pun mulai mengirim pesan WA pada Diana.
"Assalamualaikum Di, apa kabar?" tanya Abri yang sedikit ragu dengan sapaannya yang terkesan sekali basa-basinya.
1 menit
__ADS_1
5 menit
10 menit
Abri yang sedari tadi menunggu balasan chat dari Diana menjadi galau, pasalnya pesan yang dia kirim sudah bercentang dua tetapi belum dibaca juga oleh Diana.
"Gimana, belum dibalas juga?" tanya Ramli.
"Jangankan dibalas, dibaca aja belum kok," sahut Abri. "Mungkin dia lagi sibuk sekarang, jadi belum sempat pegang ponselnya," imbuh Abri yang tetap berpikir positif.
"Mungkin juga," sahut Ramli.
"Kita kembali ke tenda aja kalau gitu, kayaknya yang lain juga sudah selesai cari kayu bakarnya," ajak Ramli.
"Ya sudah kalau gitu, ayo!" sahut Abri.
Mereka pun kembali ke tenda dengan perasaan Abri yang masih galau.
...****************...
Masih di sore yang sama, seperti biasa Diana selalu membantu ibunya menyiram semua tanaman-tanaman milik ibunya, baik itu tanaman sayuran atau tanaman hias.
Diana sangat menyukai kegiatan bercocok tanam ini, apalagi dengan bunga-bunga. Hatinya akan merasa sangat senang sekali jika melihat bunga-bunga yang sedang bermekaran dengan indahnya. Entah mengapa, jika perasaannya sedikit galau atau suntuk akan hilang dengan hanya melihat tanaman-tanaman dan bunga-bunga yang ada di pekarangan rumahnya. Menurutnya tak perlu biaya mahal hanya untuk menghilangkan suntuk atau jenuh bahkan galau sekalipun. Hanya dengan melihat bunga-bunganya bermekaran saja sudah membuat hatinya cukup bahagia dan senang.
Sangking asyiknya mengurusi tanaman-tanaman dan bunga-bunga yang ada di rumahnya, Diana sampai melupakan ponselnya. Jadi dia tidak tahu jika sedari tadi Abri mengiriminya pesan WA. Sementara seseorang yang sedari tadi telah mengiriminya pesan menjadi galau karena pesannya tak kunjung dibalas bahkan tidak dibaca sekalipun.
Diana pun bergegas membersihkan dirinya dengan segera mandi, lalu bersiap melaksanakan salat Magrib.
Setelah melaksanakan salat Magrib, Diana segera membantu ibunya menyiapkan makan malam. Makan malam kali ini mereka masih berempat saja, karena Isya masih ada di perkemahan.
Pada saat makan, tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di pekarangan rumah mereka, dan Diana berinisiatif untuk melihat dan membukakan pintu.
"Paling-paling Yanti ini yang datang," Diana bermonolog sembari berjalan ke arah pintu depan rumahnya. Dan benar saja dugaannya kalau yang datang ke rumahnya adalah Yanti. Diana pun langsung membukakan pintu.
"Benar dugaan ku kan ternyata," kata Diana.
"Benar kenapa?" tanya Yanti.
"Benar dugaan ku kalau yang datang itu orang yang sudah nggak sabar lagi mau nonton api unggun," sahut Diana.
"Ha ha ha bisa aja kamu, bukannya kamu ya yang udah nggak sabar mau ketemu sama Mas Abri?" tanya Yanti sambil menaik turunkan kedua alisnya. Dan Diana pun langsung memundurkan kepalanya sembari mengkerutkan dahinya setelah mendengar pertanyaan dari Yanti.
"Enak aja, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan," sahut Diana.
"Halah, iya juga nggak papa lagi Di, jomblo ini," kata Yanti.
__ADS_1
"Ya nggak gitu juga kali konsepnya Yan," bantah Diana. "Ya udah masuk dulu, aku masih makan nih, kamu sudah makan atau belum?" tanya Diana lagi.
"Sudah tadi sore, aku sekarang nggak makan malam, diet soalnya," jelas Yanti.
"Halah preeeet lah pakai diet-diet segala, orang badan sudah tinggal selembar juga masih pakai diet," jawab Diana, dan Yanti pun hanya tertawa saja mendengar ocehan sepupunya itu.
Setelah mengucapkan salam Yanti pun masuk ke dalam rumah Diana dan salamnya dijawab oleh seisi rumah karena suara Yanti yang cukup nyaring saat mengucapkan salam sampai terdengar hingga ke dapur.
"Owalah, kamu toh. Makan, Yan! Mumpung rame-rame nih sekalian," tawar ibunya Diana.
"Dia nggak makan Bu, diet katanya," Diana yang langsung menjawab ibunya sebelum Yanti sempat menjawab tawaran dari bibinya itu.
"Ha ha ha gayamu, Yan. Pakai diet segala, palingan juga bentar lagi nyanyi lagu keroncong tuh perutmu," kata Ibu Rahmi.
"Iya, ini enak lho sambel jeruknya Diana sama ikan nila gorengnya," kali ini Pak Asran yang menggoda Diana untuk makan.
"Maaf ya, enggak mempan semuanya," jawab Yanti enteng.
"Awas lho kepuhunan, Yan. Nanti kitakan mau ke SMP," kata Diana menakuti.
"Ih kamu ini nakut-nakuti aja," jawab Yanti.
"Ya udah makan aja makanya," kata Diana.
"Lho memangnya kalian mau ke SMP?" Ngapain?" tanya Pak Asran.
"Iya, Diana lupa ngomong kalau Yanti ngajakin nonton api unggun," sahut Diana.
"Boleh nggak kita ke sana, Man?" tanya Yanti pada pamannya.
"Boleh, tapi makan dulu biar sedikit nggak papa, takutnya nanti kamu kepuhunan malah repot lagi urusannya," sahut Pak Asran mengijinkan.
"Yee terima kasih, Man," ucap Yanti yang langsung mengambil piring untuk makan. Padahal sedari tadi dia pun sudah tergoda dengan sambal jeruknya Diana tetapi ditahannya karena gengsinya lebih besar dari rasa laparnya.
"Nuri boleh ikut nggak, Pak?" tanya Nuri pada bapaknya dengan memelas supaya diijinkan ikut.
"Ehm, iya tapi nggak boleh jauh-jauh dari Kak Diana sama Kak Yanti, nggak boleh ngomong sembarangan, sama nggak boleh buang air sembarangan ya di sana," jawab Pak Asran panjang lebar.
"Siap Pak, asiiik," kata Nuri yang kesenangan karena sudah diijinkan ikut dengan kakaknya.
Sementara itu di tempat berbeda, ada seseorang yang sedari tadi terlihat tidak bersemangat melakukan aktivitasnya. Sebentar-sebentar ia melihat dan mengecek ponselnya, berharap akan ada balasan dari seseorang yang telah dikiriminya pesan. Gerak-geriknya itu tak luput dari perhatian Ramli. Ramli yang mengetahui jika saudaranya itu tampak galau pun berusaha untuk menghiburnya.
"Sudahlah nggak usah galau-galau, kalau memang ada rejeki ketemu sama Diana pasti ketemu juga meskipun nggak di sini," ucap Ramli.
Abri pun seketika menoleh ke arah Ramli. "Iya kamu betul Ram," sahut Abri membenarkan ucapan Ramli.
__ADS_1
"Siapa tahu tiba-tiba ada dia muncul di sini nanti malam pas acara api unggun," ucap Ramli asal demi menghibur Abri walaupun ia sendiri tak yakin dengan ucapannya itu.
"Ya mudah-mudahan aja omongan kamu itu benar, Ram," sahut Abri yang benar-benar berharap jika omongan Ramli itu menjadi kenyataan.