Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Kekhawatiran Abri


__ADS_3

Mereka pun kembali menuju ke tempat Isya duduk bersama dengan teman-temannya. Sesampainya mereka di tempat Isya, Isya pun langsung menanyakan mengapa mereka bisa ada di sini.


"Kalian kok bisa ada di sini sih?" tanya Isya.


"Ini pang Yanti dari tadi pagi sudah sibuk nelponi aku, ngajaki nonton api unggun, kalau nggak dituruti merajuk dianya," sahut Diana.


"Ih lebay kali ngomongnya kamu nih," sahut Yanti pada Diana. "Mana ada aku merajuk," imbuhnya lagi.


"Iya nggak merajuk cuma sedikit maksa aja," sahut Diana.


"Oh jadi kamu terpaksa nih, tapi kan ujung-ujungnya untung kamu juga Di, soalnya bisa..." ucapan Yanti terpotong karena sudah buru-buru dibekap oleh telapak tangan Diana, dan Diana pun memberikan tatapan tajam pada Yanti. Diana sudah bisa menebak kalau penyakit asal ngomong Yanti akan kumat sebentar lagi, jadi lebih baik ia menghentikannya terlebih dahulu sebelum semua orang terhasut dan percaya akan semua ucapannya yang asal itu.


Melihat Diana seperti itu, Yanti pun langsung menangkupkan kedua telapak tangannya pertanda meminta maaf disertai tawa yang tertahan oleh telapak tangan Diana.


"Masih mau lanjut nggak?" tanya Diana pada Yanti.Yanti pun menjawab hanya dengan menggelengkan kepalanya saja. Dan akhirnya Diana melepaskan telapak tangannya dari mulut Yanti.


"Huh, leganya," ucap Yanti.


Melihat kelakuan Diana dan Yanti, membuat Isya heran dan bertanya-tanya, "Kenapa sih kalian berdua nih, kalau sama-sama pasti ada adegan tutup mulut terus?"


"Nggak tau tuh Diana, Sya, hobi banget kayaknya nutupi mulut aku terus," jawab Yanti.


"Habisnya kamu kalau ngomong nggak pernah dipikir dulu asal nyeplos aja, nggak tau bener atau nggak, takutnya orang-orang percaya sama omongan kamu yang nggak jelas itu," bela Diana.


"Jelas kok Di, fakta berbicara," jawab Yanti.


"preeeetlah," sahut Diana.


"Fakta apaan lagi sih ini?" tanya Isya. "Jangan bikin aku bingung deh," lanjutnya.


"Nggak ada kok Kak, nggak usah dengerin Yanti, dan jangan percaya dia, percay itu sama Allah, kalau percaya sama Yanti nanti Kakak jadi musyrik loh, dosanya besar," jawab Diana panjang kali lebar kali tinggi untuk meyakinkan Isya bahwa Yanti benar-benar asal bicara.


"Eh buset, bisa ae orang satu ini kalau ngomong," kata Yanti pada Diana.


"Kenapa? Emang benerkan kalau percaya pada selain Allah itu musyrik namanya," jawab Diana.


"Ya nggak gitu juga kali konsepnya Di, hadeuh," Yanti menepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


"Yan, kayaknya kita pindah duduk di sana aja lagi deh," kata Diana.


"Kenapa? Baru juga sebentar udah kangen aja," ucap Yanti yang semakin asal menurut Diana.


"Hus, sembarangan," sahut Diana sambil mencubit perut Yanti, dan Yanti pun langsung meringis.


"Awh sakit, Di. Main cubit-cubit aja," ucap Yanti.


"Sukurin, mangkanya jangan suka asal kalau ngomong," sahut Diana.


"Kalau duduk di sana tuh kamu kelihatannya anteng, nggak ada suaranya, cuma berani bisik-bisik aja, jadi persentase asal bicaranya sedikit kalau di sana," Diana lanjut menjelaskan.


"Ih nggak mau ah, kalau di sana nggak enak, nggak bisa bebas," sahut Yanti.


"Mangkanya itu sudah lebih baik kamu di sana aja, jadi anteng nggak banyak bacot," ucap Diana.


"Terus kalian tadi kok bisa duduk di sana itu gimana ceritanya?" tanya Isya.


"Itu nggak sengaja juga," sahut diana.


"Kok bisa?" tanya Isya lagi.


"Iya gara-gara nih pang, adikmu yang cantik jelita tiada tara ini nggak mau diajak masuk, katanya takut kalau nggak boleh, soalnya kita kan bukan peserta kemah katanya," sahut Yanti.


"Nggak lama ada Mas Abri datang, terus ngajaki kami masuk, ya sudah deh akhirnya duduk sama dia, mau cari Kak Isya nggak tau ada di mana, tanya sama Kak Ramli dia nggak tau juga," Diana menimpali.


"Oh gitu, terus kenapa nggak nelpon aku aja?" tanya Isya.


"Oh iya ya, Di. Nggak kepikiran," sahut Yanti yang diiyakan oleh Diana.


Sementara itu, Abri yang semenjak di tinggalkan Diana tadi matanya tak pernah lepas dari memperhatikan pujaan hatinya itu.


Sebentar-sebentar dia tersenyum melihat tingkah Diana dan Yanti yang kelihatan sedang berdebat kecil, memang benar ternyata apa yang diucapkan oleh Diana tadi, bahwa dia dan Yanti pun kalau dekat sama seperti dirinya dan Ramli, sering berdebat. Jadi Diana tak heran melihat dirinya dan Ramli seperti tadi.


"Jangan dilihati terus, nggak bakal hilang juga," ucap Ramli tiba-tiba yang mengagetkan Abri.


"Apaan sih, nggak bisa lihat orang senang, ganggu aja," jawab Abri.

__ADS_1


"Ha ha ha," Ramli pun tertawa.


"Kamu kenapa nggak ada datangi Isya," tanya Abri sedikit heran karena beberapa hari di sini dia tidak melihat saudaranya itu menghampiri kekasihnya, padahal mereka sama-sama ada di sini.


"Kenapa tanya-tanya?" tanya Ramli.


"Ya nggak papa, heran aja, biasanya kan kalau pasangan itu sering sama-sama, apalagi di lokasi yang sama kayak gini," jawab Abri.


"Ah nggak juga tuh, biasa aja," jawab Ramli.


"Jangan bilang kalau kamu ada incaran lain lagi," ucap Abri. Ramli pun hanya tersenyum yang tak bisa diartikan oleh Abri.


"Wah, bahaya nih. Belum sadar ajakah kamu Ram?" tanya Abri yang mengkhawatirkan saudaranya ini mempunyai cewek incaran baru lagi.


"Kamu kira aku pingsan, pakai tanya belum sadar," jawab Abri.


"Ya habisnya kamu mencurigakan sekali," ucap Abri.


"Nggak-enggak, Bri," jawab Ramli.


"Ya mudahan aja," ucap Abri yang berharap agar saudaranya ini tidak lagi suka mempermainkan wanita, apalagi Isya adalah kakak dari gadis pujaannya. Bisa-bisa jalannya untuk mendekati Diana akan sulit jika Ramli benar-benar mempermainkan Isya. Mengingat Ramli adalah saudara angkatnya yang sudah sedari kecil diadopsi oleh orang tuanya yang sudah dianggap anak sendiri, jadi kemungkinan besar Isya tidak akan menyetujui jika dia berhubungan dengan Diana.


"Kenapa memangnya kamu takut betul kalau aku mainin Isya?" tanya Ramli.


"Jadi kamu punya niat kayak gitu nih?" tanya Abri.


"Ya enggak sih, terus kamu belum jawab pertanyaanku tadi, Bri!" ucap Ramli mengingatkan Abri.


"Ya iyalah, kalau seandainya nih ya kamu mainin Isya, otomatis jalanku untuk dekati Diana jadi sulit, mungkin nggak bisa sama sekali dekat sama dia, karena Isya pasti ngelarang Diana untuk dekat sama aku, karena kita kan masih ada hubungan," jelas Abri panjang lebar.


"Ya belum tentu juga Bri. Kamu ya kamu, aku ya aku, nggak bisa disama-samakan," jawab Ramli berargumen.


"Kemungkinan itu pasti ada, Ram. Kita kan nggak tahu jalan pikirannya orang, belum tentu jalan pikiran orang sama kayak kita," ucap Abri. Dan Ramli pun hanya terdiam mendengar penuturan dari Abri.


Abri pun hanya bisa berdoa agar Ramli tidak mempermainkan Isya, sama seperti dengan pacar-pacarnya yang dulu, mengingat selama ini Ramli selalu bergonta-ganti pacar. Padahal dari dulu Abri sudah sering menasehati Ramli agar jangan seperti itu, karena bisa saja suatu hari nanti malah Ramli sendiri yang akan dipermainkan oleh orang di saat dia benar-benar suka sama orang itu.


Dan yang terjadi sekarang hanya ada keheningan setelah obrolan serius diantara mereka berdua tadi. Mereka larut dengan pikiran masing-masing. Wajah Abri yang tadi sudah sumringah karena kehadiran Diana, mendadak murung lagi karena kekhawatirannya akan hubungannya dengan Diana nanti, apakah bisa direalisasikan atau tidak jika Ramli benar-benar mempermainkan Isya.

__ADS_1


__ADS_2