Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Kembali ke Kota


__ADS_3

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, dua minggu masa libur semester pun sudah terlewati. Besok hari Minggu sore, Diana pun akan segera kembali ke Samarinda untuk melanjutkan sekolahnya. Berat sebenarnya rasa hati Diana untuk meninggalkan kampung halamannya, satu minggu berada jauh dari kampungnya rasanya sudah sama seperti satu tahun menurutnya. Hal itu disebabkan karena dia jauh dari orang-orang tercintanya. Walaupun di sana dia tinggal dengan keluarga dari bapaknya juga, akan tetapi tetap saja berbeda menurutnya. Selain itu suasana yang jauh berbeda antara di kota dengan di kampung yang semakin membuat Diana tidak betah. Menurut Diana kalau di kota itu suasananya terlalu bising, karena terlalu banyak hiruk pikuk kendaraan bermotor, belum lagi polusi yang ditimbulkan dari berbagai macam kendaraan yang tidak ada hentinya sepanjang hari. Sementara itu kalau di kampung, suasananya tidak terlalu bising, udaranya masih terasa sejuk karena belum terlalu banyak terkena polusi, serta masih banyak pohon-pohonan dan tanaman-tanaman yang membuat suasana di kampung masih sangat asri, walaupun di kota pun sebenarnya masih banyak juga pepohonan dan bunga-bunga yang ditanam di pembatas jalur jalan, tetapi suasananya tidak sama seperti di kampung. Tapi itu hanyalah pendapatnya saja, tentu saja pendapat setiap orang berbeda. Bagi yang sudah terbiasa tinggal di kota sedari kecil, tentu saja lebih senang tinggal di kota ketimbang tinggal di kampung. Hal yang sangat berbanding terbalik dengan Diana yang sedari kecil memang sudah tinggal di kampung yang membuatnya sudah terbiasa dengan kehidupan yang tenang dari kebisingan. Tetapi ada juga orang yang sedari kecil sudah tinggal di kampung tapi lebih suka tinggal di kota, begitu pun sebaliknya.


Malam ini Diana mempersiapkan segala keperluannya untuk di bawa ke Samarinda besok. Tak lupa ibunya juga membawakan oleh-oleh untuk keluarga tantenya di sana berupa buah-buahan khas dari kampung, seperti sukun, kueni atau pelem yang kebetulan sedang musim saat ini, dan juga kerupuk serta amplang ikan bandeng yang jadi ciri khas dari kampung Diana.


Setelah selesai mempersiapkan semuanya, dia pun beranjak untuk tidur, tetapi sebelumnya terlebih dahulu dia mengambil buku diarynya dan menulis ceritanya hari ini di dalam buku itu.


...****************...


Minggu sore pun tiba, Diana pun bersiap-siap untuk balik ke Samarinda diantar dengan bapaknya. Sebelumnya dia berpamitan terlebih dahulu dengan kakak dan adiknya, dan terakhir dengan ibunya. Diana tak kuasa menahan air mata jika berpamitan dengan ibunya.


"Bu, Diana pamit dulu ya," sambil menyalami punggung tangan kemudian memeluk tubuh ibunya.


"Iya, hati-hati. Belajar yang bener," sahut ibunya.


"Iya, Assalamualaikum," salam Diana.


"Wa'alaikumsalam," sahut ibunya.


Pak Asran pun mulai menyalakan motornya dan menjalankannya, Diana hanya dapat melambaikan tangannya pada ibu dan saudara-saudaranya. Dan akhirnya Diana benar-benar pergi sekarang.


Kebetulan sekali perjalanan menuju Samarinda melewati rumah Abri yang terletak di pinggir jalan besar, tetapi Diana tak mengetahui sama sekali jika ia akan melewati rumah Abri karena dia sendiri memang tak mengetahui letak rumah Abri itu di mana. Walaupun Ramli satu rumah dengannya, tetapi Diana juga tak mengetahui Ramli tinggal di mana. Dia memang tidak terlalu mengetahui seluk beluk pacar dari kakaknya itu karena dia memang jarang ada di kampungnya.

__ADS_1


Abri sendiri saat itu sedang nongkrong di stand ojeg yang kebetulan memang berada tak jauh dari rumahnya. Dan tanpa sengaja ketika dia melihat ke arah jalanan, dia melihat Diana yg sedang diantar oleh bapaknya. Dia pun melebarkan matanya dan mengerjap beberapa kali untuk meyakinkan jika itu memang Diana. Dan dugaannya itu memang benar, pemilik tubuh itu memang Diana.


Tetapi sayangnya Diana yang kebetulan saat itu sedang melihat ke arah lain tak melihat kehadiran Abri di stand ojeg yang biasa dilewatinya ketika pulang dan pergi ke Samarinda.


"Diana," batin Abri.


Diana memang memberitahu Abri jika dia akan kembali ke Samarinda setelah Abri menanyakannya Tapi dia tak memberitahukan kapan dia akan balik karena dia belum mengetahui pasti kapan bapaknya akan mengantarkan dia.


Abri pun memutuskan untuk mengirim pesan lewat WA pada Diana.


"Assalamualaikum, Di. Kamu sudah balik ke Samarinda kah?" tanya Abri dalam pesannya. Walaupun dia tahu Diana tidak langsung membalasnya karena dia masih dalam perjalanan yang mungkin tidak mendengar notif dari ponselnya.


Sementara itu Diana yang tidak menyadari bahwa ada seseorang yang telah mengiriminya pesan, masih menikmati perjalanannya semenjak menginjakan kaki meninggalkan rumahnya. Hal itulah yang pasti dilakukanya bila balik ke kota. Karena dia tahu dia akan merindukan tempat dan jalanan ini yang sudah pasti akan lama dilaluinya kembali. Diana merasakan perjalanan ini terasa begitu cepat, padahal dia berharap agar tak cepat sampai di rumah tantenya.


"Assalamualaikum," salam Diana.


"Waalaikusallam," jawab seorang gadis kecil dari dalam rumah yang tak lain adalah sepupu Diana, anak dari tantenya.


Setelahnya ia keluar untuk melihat siapa gerangan yang datang, dan betapa senangnya dia ketika melihat sosok Diana yang sudah 2 minggu ini meninggalkan rumahnya sudah datang kembali.


"Kak Diana!" seru sepupu kecilnya itu yang bernama Anggi dan ia pun langsung berhambur kepelukan Diana. Dia sangat merindukan Diana, karena menurutnya Diana lebih asik di ajak bermain ketimbang kakaknya sendiri, yaitu Lisa.

__ADS_1


"Kenapa kamu kok kayaknya senang betul Kak Diana datang?" tanya pak Asran pada Anggi.


"Iya, soalnya Anggi sudah kangen banget sama Kak Diana," jelas Anggi.


Mendengar penuturan Anggi, seketika Diana langsung merasa bersalah karena sempat malas-malasan untuk balik ke kota, sementara di sini ada Anggi yang begitu merindukannya. Dia tau gimana rasanya merindukan seseorang, seperti dia yang selalu merindukan keluarganya di kampung ketika dia jauh dari mereka.


"Iyakah, Kakak juga kangen sama Anggi," balas Diana.


"Kok sepi ,Nggi? Pada kemana?" tanya pak Asran.


"Ibu lagi ke warung depan tadi, Bapak belum pulang, terus Kak Lisa lagi ke tempat temannya," jawab Anggi.


"Jadi kamu sendirian aja tadi?" tanya Diana dan Anggi hanya menganggukkan kepalanya saja.


Pak Asran pun berpesan pada Anggi, jika dirinya sedang sendirian di rumah sebaiknya pintu ditutup saja. Dan kalau ada orang jangan langsung dibukakan pintu, sebaiknya diintip dulu dari balik gorden. Jika kenal bisa langsung di bukakan pintu, tapi kalau nggak kenal jangan dibukakan pintu, karena bisa saja itu orang jahat. Apalagi dia tinggal di kota yang angka kejahatannya lebih tinggi daripada di kampung.


Sementara itu, Diana tadi langsung membawa barang-barang bawaannya ke dalam kamarnya dan Lisa. Selama di sana Diana memang tidur satu kamar dengan Lisa. Sedangkan oleh-oleh yang tadi dibawakan ibunya segera ia taruh di dapur.


Tak lama tantenya pun datang dari warung depan lalu berkumpul dengan pak Asran dan Diana setelah membuatkan kakaknya itu teh hangat.


Setelah melepas lelah sejenak, pak Asran pun berpamitan untuk pulang. Diana pun menyalami dan memeluk bapaknya itu yang 2 minggu lagi baru akan ditemuinya. Sudah pasti betapa rindunya ia nanti pada sosok pria paruh baya dihadapannya ini. Kemudian ia menatap lekat-lekat wajah bapaknya sebelum mengantarkan bapaknya menuju motornya. Diana belum masuk ke dalam rumah jika bapaknya belum pulang, hingga bapaknya sudah tak terlihat lagi dari pandangannya matanya barulah ia akan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Dia berdoa pada Allah agar melindungi bapaknya hingga bapaknya selamat sampai di rumah mereka kembali.


__ADS_2