Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Abri Kembali Bersemangat


__ADS_3

Akhirnya Abri, Diana, Yanti dan Nuri sampai di lapangan tempat diadakannya api unggun. Abri pun mengajak Diana, Yanti dan Nuri untuk duduk bersila di tempatnya tadi bersama Ramli sebelum pergi menghampiri Diana.


"Hei Kak, Kak Isya mana?" tanya Diana begitu melihat Ramli juga duduk di sana.


"Dia tadi sama teman-temannya, Di. Nggak tau juga di mana dia duduk," sahut Ramli.


"Oh gitu ya," kata Diana.


"Iya," sahut Ramli singkat.


Melihat Abri datang bersama dengan Diana membuat Ramli tak kuasa untuk tidak menggoda Abri.


"Oh pantasan aja kamu buru-buru tadi, sekalinya lihat boosternya toh sudah, langsung dijemput aja takut kehilangan jejak lagi rupanya," ucap Ramli sambil tersenyum yang langsung disikut oleh Abri yang duduk di antara Diana dan Ramli.


"Hust, jangan buka kartu kenapa!" bisik Abri karena tak enak jika didengar oleh Diana.


Sementara itu Diana yang duduk di sebelah kiri Abri sedang asik bersama dengan Yanti dan Nuri menonton pertunjukkan pentas seni.


"Nggak denger dia Bri, takut bener ketahuan kalau kamu dari tadi galau," sahut Ramli


"Jangan bilang-bilang sama dia ya, jangan ember," kata Abri.


"Iya-iya, tapi sekarang nggak galau-galau nggak jelas lagi kan?" tanya Ramli. "Ya iyalah orang boosternya sudah ada di samping, jadi sekarang sudah semangat nggak kaya tadi, kaya orang nggak makan setahun, lesu nggak ada semangat hidup, kalau ibarat kata tuh hidup segan mati tak mau," Ramli menyahuti sendiri pertanyaannya pada Abri dengan jawaban yang panjang lebar membuat Abri mengkerutkan keningnya.


"Apaan sih kamu Ram, tanya sendiri jawab sendiri, jawabannya nggak jelas lagi ha ha ha," sahut Abri sembari tertawa.


"Wuih hebat, sudah bisa ketawa sekarang ya kamu Bri," kata Ramli menggoda Abri.


"Ya bisalah ketawa, namanya juga manusia," jawab Abri.


"Bukan gitu, dari tadi sore kan kamu nggak bisa ketawa, jangankan ketawa, senyum aja susah, he he he," sahut Ramli.


"Kalian ngomongin apa sih, kok kayaknya asik bener?" tanya Diana tiba-tiba yang sedari tadi melihat Abri dan Ramli ngobrol.


"Nggak, Di. Ini lho si Abri dari tadi sore kayak orang nggak punya semangat hidup, nggak tau kenapa, eh tapi sekarang tiba-tiba sudah bisa ketawa," sahut Ramli dan langsung mendapatkan sikutan lagi dari Abri.


"Hah, beneran, Mas? Kenapa memangnya kok sampai kayak nggak punya semangat hidup?" tanya Diana pada Abri.


"Nggak kok, kamu nggak usah dengerin Ramli, kadang dia suka ngasal kalau ngomong," jawab Abri.


"Ih mana ada, beneran kok, Di," sahut Ramli.


"Nggak ada," sahut Abri.


"Ada, ih nggak mau ngaku," kata Ramli lagi.

__ADS_1


"Mau ngakui apa, orang memang nggak ada kok," sahut Abri sembari memberi kode pada Ramli agar dia diam dengan menyikut tangannya, tapi bukannya diam, Ramli malah tambah menjadi-jadi.


"Itu yang kamu murung terus tadi apa, sampai nggak bisa fokus ngapa-ngapain, hayo?" tanya Ramli lagi sembari tersenyum puas.


Sementara Diana yang melihat perdebatan mereka hanya bisa terdiam, hanya bola matanya saja yang kadang melihat Abri kemudian beralih melihat ke Ramli lagi secara bergantian berulang-ulang sudah seperti menyaksikan pertandingan bulutangkis oleh atlit favoritnya saja.


"Eh sudah-sudah kok kalian malah debat gini sih," ucap Diana heran.


"Eh maaf ya, Di. Kamu jadi terganggu," ucap Abri.


"Iya, Di. Kamu nggak usah heran, aku sama Abri sudah biasa kayak gini kok," ucap Ramli menimpali.


"Iya, santai aja, aku juga kadang gitu kok sama manusia di sebelahku ini," jawab Diana sembari menunjuk Yanti, "Tapi kalau jauh suka kangen," imbuh Diana lagi.


"Iya memang gitu, kalau dekat berantem, kalau jauh kangen," sahut Abri sembari tersenyum dan dibalas senyuman pula oleh Diana. Kemudian mereka pun kembali menonton acara pentas seni.


Sementara itu di ujung sana Isya yang duduk bersama teman-temannya tak sengaja melihat mereka, dan ia pun terkejut melihat ada Diana, Yanti dan Nuri, lalu memanggil mereka untuk duduk di dekatnya dan juga teman-temannya.


"Diana, Yanti, duduk di sini aja!" teriak Isya sembari melambaikan tangan dan menggunakan bahasa isyarat juga, karena posisi mereka lumayan jauh yang tak memungkinkan hanya mendengar suara saja, perlu memakai kode juga agar mereka mengerti.


"Eh, Di, itu Isya di sana manggili kita kayaknya," kata Yanti. Diana yang tak melihat keberadaan Isya pun menanyakan pada Yanti di mana posisi kakaknya itu.


"Mana Yan Kak Isyanya?" tanya Diana.


"Itu di sana, Di?" Yanti memberitahu sembari menunjuk ke arah Isya dan teman-temannya.


"Ehm, kayaknya di sana aja deh Di, kalau di sini bareng Mas Abri cowok-cowok semua, risih juga aku," bisik Yanti tepat di telinga Diana karena tak enak kalau sampai terdengar oleh Abri.


"Oh ya udah deh kita di sana aja duduknya. Sebentar aku bilang dulu sama Mas Abri ya, nggak enak kalau main kabur aja, soalnya kan dia yang bawa kita masuk ke sini," sahut Diana panjang lebar yang berbisik juga pada Yanti, dan Yanti pun hanya menganggukkan kepala saja.


"Eh tapi kamunya nggak apa-apa kan kalau duduknya jauh-jauhan sama Mas Abri?" goda Yanti.


"Apaan sih, nggak usah mulai deh ya," sahut Diana. Dan Diana pun langsung berbicara pada Abri.


"Mas," panggil Diana pada Abri.


"Ya, kenapa Di?" tanya Abri.


"Itu, Kak Isya manggil nyuruh kami ke sana," ucap Diana sembari menunjuk ke arah Isya.


"Oh kamu mau ke sana?" tanya Abri.


"He he he,iya. Nggak apa-apa kan kalau kami duduk di sana, Mas?" tanya Diana.


"Ya nggak apa-apa lah, kenapa juga nggak boleh, orang kamu kan datangi kakakmu sendiri," jawab Abri.

__ADS_1


"Iya juga sih, cuma ya nggak enak aja sama Mas Abri," kata Diana.


"Nggak enak kenapa? Santai aja lagi, kDi," jawab Abri.


"Bener nih Mas nggak papa?" kali ini Yanti yang bertanya.


"Iya nggak papa, ya udah sana sudah ditunggu tuh sama Isya," titah Abri.


"Ya udah kalau gitu kami pergi dulu ya Mas," pamit Diana.


"Iya," sahut Abri singkat seraya tersenyum, dan dibalas senyuman pula oleh Diana dan Yanti.


"Kak Ramli, kami pindah ke sana dulu ya," pamit Diana pada Ramli.


"Ok," sahut Ramli.


Dan akhirnya Diana, Yanti dan Nuri pun beranjak menuju ke tempat Isya. Tapi baru beberapa langkah mereka pergi, suara Abri menghentikan langkah mereka.


"Di, tunggu!" ucap Abri sembari menyusul Diana.


"Ya, kenapa Mas?" tanya Diana.


"Nanti kalau mau pulang kabari ya, biar Mas antar," titah Abri.


"Nggak ngerepotin kah, Mas?" tanya Diana.


"Nggak kok," jawab Abri.


"Ya udah nanti Diana kabari kalau mau pulang," kata Diana.


"Ya udah ke sana sudah, Mas di sini aja kok nggak ke mana-mana," kata Abri.


"Ya," sahut Diana singkat dan langsung menuju ke tempat Isya.


"Oh so sweet nya si mamas mu, Di. Kok aku yang meleleh ya?" tanya Yanti.


"Huh lebay," sahut Diana.


Sementara itu Ramli terus saja menggoda Abri setelah Abri kembali ke tempat duduknya.


"Ada yang terkena virus bucin kayaknya nih," ucap Ramli seraya melirik pada Abri.


"Siapa?" tanya Abri berlagak tak tahu.


"Siapa lagi kalau bukan orang yang di sebelahku ini," sahut Ramli.

__ADS_1


"Biarin, sirik aja jadi manusia," sahut Abri.


"Ha ha ha," Ramli pun tertawa mendengar ucapan Abri, ia pun ikut senang jika melihat Abri senang.


__ADS_2