Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Boncengan motor


__ADS_3

Sesampainya di rumah, orang tua Ibnu langsung memanggil tukang urut, lalu bertanya perihal bagaimana kaki Ibnu bisa terkilir, dan Ibnu pun menceritakan kejadian yang sebenarnya pada kedua orang tuanya.


Selama proses pengurutan, Ibnu tak henti-hentinya menjerit karena merasakan sakit di bagian kakinya itu.


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," ucap Ibnu setelah tukang urut selesai mengurutnya. Sekarang kakinya sudah lumayan bisa dipakai untuk berjalan.


Setelah diurut, Ibnu pun segera menuju kamarnya untuk beristirahat.


Di dalam kamarnya, Ibnu memang terlihat sedang beristirahat, tetapi hati dan pikirannya tidak demikian. Dia masih saja memikirkan tentang kedekatan antara Diana dan Abri.


Kalau seandainya memang benar pun dia tak punya hak untuk cemburu bahkan marah sekalipun. Dan dia harus mencoba untuk ikhlas walaupun sedikit sulit untuk diterima oleh hatinya.


Apalagi selama ini Abri selalu baik padanya, setiap dia mengalami kesusahan, Abri tidak pernah mengoloknya atau mentertawakannya seperti teman-temannya yang lain. Dia merasa Abri memang pantas untuk mendapatkan Diana. Dan tampaknya dia harus benar-benar ikhlas jika memang Abri bersama dengan Diana.


Sementara itu, di lokasi perkemahan acara pentas seni masih berlangsung, Ramli dan Dani sudah bergabung kembali duduk bersama dengan Abri.


Dari jauh tampak Diana dan Yanti serta adiknya masih asik menikmati acara. Sesekali Diana melihat arloji di tangannya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat waktu sudah menunjukkan jam setengah sepuluh malam. Dan dia pun langsung mengajak Yanti dan Nuri untuk pulang.


"Yan, sudah jam setengah sepuluh nih, pulang yuk!" ajak Diana.


"What? Cepatnya pang sudah jam setengah sepuluh, kayaknya baru aja kita ada di sini," sahut Yanti.


"Kayaknya memang gitu sih, tapi lihat sendiri nih kalau nggak percaya!" titah Diana seraya menunjukkan jam di tangannya.


"Oh iya ya, ya udah deh ayo kita pulang!" ajak Yanti kemudian. Sedangkan Nuri masih asik menikmati acara pentas seni ini. Diana pun langsung menggawil tangan Nuri dan mengajaknya pulang.


"Lho kok pulang sih sudah, Kak? Masih seru nih," kata Nuri.


"Iya masih seru sih, tapi nih lihat sudah jam setengah sepuluh lewat, tadi kan Ibu pesan kalau jam sepuluh kita harus sudah pulang," sahut Diana.


"Iya Nuri, memangnya kamu nggak ngantuk?" tanya Isya.


"Nggak," sahut Nuri, dan Yanti langsung mengacungkan dua jempol untuk Nuri.


"Eh, kamu jangan ngeracuni pikiran anak kecil ya!" kata Diana pada Yanti.


"Ih mana ada," sahut Yanti.


"Ya udah, ayo sekarang kita pulang!" ajak Diana, lalu berpamitan pada Isya dan teman-temannya.


"Eh tunggu-tunggu," ucap Yanti tergesa-gesa menyusul Diana yang sudah mulai berjalan meninggalkannya.


"Kenapa lagi sih, Yan?" tanya Diana heran.


"Kamu lupa, tadi kan Mas Abri pesan sama kamu kalau mau pulang hubungi dia, nanti dia yang antar pulang," kata Yanti mengingatkan.


"Oh iya ya, saya yang lupa," sahut Diana sembari menepuk jidatnya sendiri. Sebenarnya sih Diana merasa masih aman saja kalau pulang ke rumahnya hanya bertiga saja bersama dengan Yanti dan Nuri, karena lokasi rumahnya tidak terlalu jauh dengan SMP, tapi demi menghargai niat Abri untuk mengantar mereka maka Diana pun menyetujuinya. Kemudian dia pun langsung menghubungi Abri dengan mengiriminya pesan lewat WA.


"Assalamu'alaikum, Mas. Nih kami sudah mau pulang," pesan Diana pada Abri.

__ADS_1


Sedangkan Abri yang sedari tadi matanya tak pernah lepas dari memindai Diana, tahu jika gadis itu akan pulang setelah melihat Diana beranjak dari duduknya disusul dengan Yanti dan Nuri. Di dalam hatinya bertanya-tanya mengapa Diana tidak memberitahukannya kalau dia akan pulang, padahal tadi dia sudah berpesan kalau mau pulang kabari dia. Walaupun demikian, Abri tetap segera beranjak dari duduknya dan ingin menghampiri Diana, mungkin Diana lupa pikirnya.


Melihat Abri beranjak, membuat Ramli bertanya, "Mau kemana kamu Bri?"


Dan Abri hanya menjawab dengan memberi kode, karena di sana ada Dani jadi tak mungkin Abri akan berterus terang.


Dan tak lama setelah beranjak dari duduknya, sebuah notif dari ponselnya berbunyi, dia pun segera merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Setelah dilihatnya ternyata pesan dari Diana, senyum lebar pun langsung tersungging dari bibirnya. Ternyata Diana menghubunginya juga pikirnya.


"Waalaikusallam, Di. Iya nih Mas tunggu di parkiran ya," balas Abri. Ia mengurungkan niatnya untuk menghampiri Diana, karena khawatir Dani mencurigainya dan akan ketahuan jika alasannya dia tadi bohong. Lalu ia pun bergegas menuju ke parkiran.


Sedangkan Diana membuka notif di ponselnya yang barusan berbunyi, setelah membaca pesan dari Abri, iapun segera membalasnya.


"Iya, ini Diana lagi jalan ke sana, Mas," balas Diana.


Diana memberitahu Yanti bahwa Abri sudah menunggunya di parkiran. Dan mereka pun segera menuju ke sana.


Sesampainya di sana, Abri sudah bersiap duduk di atas motornya. Terlihat dia sedang memainkan ponselnya.


"Sudah lama nunggunya, Mas" tanya Diana.


"Nggak kok barusan aja, pulang sekarang?" tanya Abri.


"Iya," sahut Diana singkat.


"Ya udah ayo!" ajak Abri.


Ketika Diana akan naik ke motor yang di kendarai oleh Yanti, tiba-tiba Abri melarangnya.


"Hah, nggak kok, Mas. Tadi pergi ke sini juga bertiga naik motornya, tapi Nuri nggak kesempitan kok, Iyakan Nuri?" tanya Diana pada Nuri.


Karena khawatir dengan jawaban Nuri yang akan mengatakan jika ia tidak merasa kesempitan, maka Yanti pun buru-buru menjawab pertanyaan dari Diana.


"Iya sempit, aku aja sampai duduk di ujung sini nih," sahut Yanti sambil menunjuk ujung jok motornya.


"Ih Yanti apaan sih, orang nggak kok," ucap Diana.


"Iya sempit, Di. Sudah kamu sama Mas Abri aja sana! Jadi kami agak longgar duduknya," titah Yanti.


"Iya, Di. Sudah kamu sama Mas aja sini!" titah Abri lagi.


"Ta-tapi...." Diana tampak bingung, apakah mengiyakan Abri atau tidak.


Karena sudah tidak sabar dengan Diana, akhirnya Yanti berinisiatif untuk menarik Diana dan menempatkannya tepat di samping motor Abri.


"Eh eh eh, Yanti apaan sih, aku bisa jalan sendiri kali," protes Diana karena sedikit dipaksa oleh yanti.


Abri yang melihat aksi Yanti pun tersenyum senang, sementara itu Diana tampak begitu kikuk.


"Dah, nurut aja kenapa. Susah bener diatur, gemesss banget aku rasanya ngeliat kamu tuh," sahut Yanti.

__ADS_1


Diana pun langsung membelalakkan matanya pada Yanti, tetapi sayangnya Yanti tidak memperdulikan dan segera beranjak ke motornya. Setelah itu ia langsung melajukan motornya setelah Nuri naik. Di dalam hatinya tertawa puas karena sudah berhasil membuat Diana dekat sama Abri.


Melihat Yanti yang sudah menjalankan motornya, membuat Diana bertambah kesal akan kelakuan dari sepupunya itu. "Awas kamu Yan ya nanti kalau sudah sampai di rumah," batin Diana geram.


Sedangkan Abri tersenyum puas dengan support yang telah diberikan Yanti padanya, walaupun dia tidak memberitahu Yanti bahwa dia menyukai Diana, tetapi sepupu Diana itu tampak peka dan pengertian sekali.


"Ya udah, Di. Ayo naik!" ajak Abri.


Diana yang masih bengong pun tersadar setelah mendengar suara Abri. "Hah, eh iya," sahut Diana gugup karena baru kali ini dia berboncengan dengan cowok, biasanya juga paling mentok kalau boncengan sama cowok itu sama sepupunya sendiri.


Melihat Diana yang gugup begitu, Abri pun langsung tersenyum. "Sudah nggak usah sungkan, biasa aja. Atau kamu mau lari aja ngejar Yanti?" tanya Abri seraya tersenyum.


"Hah, yang bener aja Mas. Malam-malam gini masa mau lari, kalau pagi sih masih mending sekalian joging," sahut Diana.


"Ha ha ha, ya udah kalau gitu tunggu apalagi? Naik sudah!" titah Abri lagi karena Diana tak jua kunjung naik di motornya.


Dan akhirnya Diana pun naik ke atas motor Abri.


"Pegangan, Di. Nanti jatuh," titah Abri.


"Hah, ya jangan laju-laju dong Mas kalau gitu, jadi nggak sampai jatuh," jawab Diana.


Mendengar jawaban Diana, Abri pun langsung tersenyum. "Ya nggak mesti laju juga kali kalau mau jatuh itu. Misalnya nih ya, kalau seandainya ada lobakan di depan, tapi Mas nggak sengaja nabrak lobakan itu, terus motornya oleng. Nah kalau kamunya nggak pegangankan bisa aja jatuh," jelas Abri panjang kali lebar kali tinggi agar Diana berpegangan padanya.


"Ehm, gitu ya," sahut Diana yang tampak berpikir.


"Iya mungkin ajakan," jawab Abri.


Tak berapa lama motor yang dikendarai Abri mengerem mendadak, karena tiba-tiba ada seekor ular yang melintas di jalanan yang mereka lalui. Dan sontak membuat tubuh Diana terdorong ke depan menempel di punggung Abri dan kedua tangannya langsung memegang pinggang Abri. Tentu saja Abri merasa senang sekali, Karena ini adalah sebuah keuntungan besar buatnya.


"Astagfirullahaladziim," ucap Diana yang kaget karena motor Abri mengerem mendadak.


"Eh maaf, Di. Mas nggak sengaja, itu tiba-tiba ada ular lewat," ucap Abri seraya menunjuk ke arah ular yang memang lewat di depan mereka. Sontak saja Diana tambah mengeratkan pegangannya pada pinggang Abri karena dia memang sangat takut sekali dengan hewan melata satu itu. Bahkan sama semua hewan melata, ulat beras yang kecil saja dia geli plus takut, apalagi ular.


"Ih, biarkan dia lewat aja dulu, Mas," titah Diana sembari bergidik ngeri.


"Iya, kenapa memangnya? Kamu takut?" tanya Abri yang merasakan pegangan tangan Diana semakin erat.


"Hah, iyalah Mas, bukan cuma takut tapi geli juga, iiii," ucap Diana sembari bergidik.


"Wajar itu mah," sahut Abri.


Tak berapa lama, Diana merasakan ada yang membelai-belai kakinya. Karena efek parno sama ular tadi membuat Diana kaget dan langsung teriak.


"Aaaaaa, itu Mas di kaki aku, di kaki aku ada apa?" tanya Diana yang tak berani melihat ke arah kakinya, dia menenggelamkan kepalanya di punggung Abri, sementara pegangan tangannya sekarang bukan lagi di pinggang Abri, tetapi sudah melingkar erat sampai ke perut Abri. Sontak saja Abri kaget dibuatnya.


"Ada apa di kakimu?" tanya Abri.


"Enggak tau itu kaya ada yang elus-elus gitu yang sebelah kiri," jawab Diana yang masih menenggelamkan kepalanya di punggung Abri.

__ADS_1


Abri pun langsung melihat kaki kiri Diana, dan seketika dia langsung beristighfar yang membuat Diana bertambah panik.


__ADS_2