
Abri pun bersiap-siap untuk ikut Ramli pergi ke rumah Dani. Di dalam hati dia tertawa mentertawai Ramli yang tiba-tiba gugup dan salah tingkah menyembunyikan kelakuannya di depan Abri.
"Mangkanya jangan jadi player. Ini baru aku, belum lagi kalau Isya yang tahu," batin Abri.
Sebelum pergi, Abri pun berpamitan terlebih dahulu pada ibunya dan menyalami tangan ibunya, begitu pula Ramli.
Tampak wajah Ramli seperti orang yang tidak bersemangat. Bagaimana tidak, rencananya sudah digagalkan oleh Abri. Dan belum lagi dengan Desy yang marah dengannya karena telah tiba-tiba membatalkan rencana mereka.
Ekspresi wajahnya itu pun tak luput dari perhatian Abri, dan ia pun tersenyum puas. Lalu ia pun bertanya pada Ramli, "Mukamu kenapa Ram, kok ditekuk gitu?"
"Ah, nggak kok biasa aja," jawab Ramli.
"Kenapa, kamu nggak suka nih kalau aku ikut?" tanya Abri lagi mencoba memancing-mancing emosi Ramli.
"Nggak, nggak usah mikir yang aneh-aneh. Ayo sudah berangkat!" ajak Ramli kemudian.
Dan mereka pun berangkat, Ramli menyuruh Abri yang menjoki motornya, sementara dia di belakang sibuk dengan ponselnya. Apalagi kalau bukan sibuk berkirim dan berbalas pesan dengan Desy. Seperti dugaannya, Desy benar-benar marah padanya karena telah tiba-tiba membatalkan rencana mereka, dan yang lebih parahnya lagi kalau Desy mengira Ramli telah membohonginya seperti mereka yang sering membohongi Isya pada saat mereka sedang ingin bersama. Desy menuduh Ramli kalau saat ini Ramli sedang bersama dengan isya. Padahal Ramli sudah menjelaskan sebelumnya apa alasan dia sampai tiba-tiba membatalkan rencana mereka. Itu karena Abri yang tiba-tiba ngotot ingin ikut. Sehingga tujuan Ramli pun berubah menjadi pergi ke rumah Dani. Tapi Desy tetap tidak mempercayainya begitu saja.
Wajah Ramli bertambah kusut, Abri pun dapat melihatnya dari kaca spion motornya. Lalu ia pun tersenyum puas kembali seraya bersiul-siul kadang bersenandung seakan-akan tidak mengetahui kegelisahan hati Ramli.
Saat ini Ramli pun bingung, apa yang akan dilakukannya sesampainya di rumah Dani nanti. Mengingat selama ini ia jarang bahkan tak pernah berkunjung ke rumah Dani.
"Kita nanti mau ngapain ke rumah Dani, Ram?" tanya Abri yang mengetahui kebingungan yang Ramli pikirkan. Ramli pun bingung harus menjawab apa. Dipikirannya Ramli, Abri sudah menjadi seperti paranormal saja yang tahu isi hatinya, karena baru saja ia membatin mau ngapain jika sudah sampai di rumah Dani, Abri langsung bertanya padanya.
Dan Ramli pun menjawab dengan gugup, "Ya..., terserah aja sih mau ngapain yang penting kita nggak suntuk di rumah aja."
Abri pun tersenyum mendengar jawaban dari Ramli, lalu ia pun memberikan ide agar mereka sebaiknya pergi ke rumah Isya saja, karena besok pagi Diana sudah balik ke Samarinda, dan Abri ingin sekali bertemu dengannya.
__ADS_1
Mendengar saran dari Abri membuat Ramli pun melebarkan kedua matanya. Bagaimana tidak, jika dia ke sana dan Desy mengetahuinya pasti masalahnya dengan Desy akan lebih runyam. Desy pasti lebih yakin dengan dugaannya bahwa Ramli benar-benar membohonginya, tiba-tiba membatalkan rencana mereka hanya untuk pergi ke rumah Isya.
Awalnya Ramli menolak, dengan alasan bahwa dia tadi malam sudah ke sana. Tetapi bukan Abri namanya jika tak dapat memaksa Ramli. Dia tahu kalau Ramli tak mau pergi ke rumah Isya lantaran takut ketahuan oleh Desy, jadi dia tetap membujuk Ramli untuk menemani dirinya pergi ke sana dengan alasan untuk bertemu dengan Diana.
Dan akhirnya Ramli pun menyetujui permintaan Abri tersebut. Dia berpikiran kalau Desy tidak mungkin akan tahu jika dirinya pergi ke sana. Mengingat rumah Desy yang sekarang jauh dari rumah Isya. Ya, semenjak SMP Desy dibawa orang tuanya pindah rumah di kampung sebelah yang hampir berdekatan dengan rumah Ramli dan Abri. Tetapi lebih jauh lagi, kurang lebih 500 meter dari rumah Ramli dan Abri. Jadi jika pergi ke rumah Desy dari rumah Isya akan melewati rumah Ramli terlebih dahulu. Abri pun tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya dia berhasil juga membawa Ramli. Sekali dayung dua tiga pulau terlewati pikir Abri. Selain dapat mengerjai Ramli, Abri pun mendapat keuntungan yaitu bisa bertemu dengan Diana tentunya.
Abri pun segera memutar arah yang tadinya hendak pergi ke rumah Dani menjadi pergi ke rumah Diana. Abri pun melajukan motornya dengan segera karena dia sudah tidak sabar lagi untuk sampai ke rumah Diana. Dia sudah sangat merindukan pujaan hatinya tersebut. Walaupun dari kemarin dia sudah berkomunikasi dengan Diana, tetapi tidak afdol rasanya jika tidak melihat orangnya langsung pikir Abri.
...****************...
Sementara itu di tempat berbeda, terlihat Desy sangat uring-uringan. Ibunya bertanya padanya mengapa dia terlihat seperti itu, dan mengapa dirinya tidak jadi jalan padahal tadi Desy sudah meminta ijin pada ibunya untuk pergi jalan. Dan Desy pun menjelaskan jika temannya tiba-tiba ada urusan mendesak jadi mereka tidak jadi jalan.
Desy pun pergi ke kamarnya. Di dalam kamar dia masih memikirkan tentang Ramli. Dia masih tetap pada pendiriannya jika Ramli tiba-tiba membatalkan rencana mereka hanya karena dia ingin pergi ke rumah Isya. Walaupun Ramli telah menjelaskan padanya tetapi dia tidak mempercayainya begitu saja. Dia pun memutuskan untuk pergi ke rumah Isya guna membuktikan dugaannya itu. Lalu Desy pun meminta ijin pada ibunya untuk pergi ke rumah Isya. Setelah meminta ijin, Desy pun bergegas melajukan motornya menuju ke rumah Isya agar dia dapat segera membuktikan dugaannya itu.
...****************...
Mendengar ada suara motor yang masuk dan berhenti di halaman rumahnya, adik Diana segera keluar dan melihat siapa yang datang. Begitu melihat Abri, Nuri merasa sangat senang sekali. Karena dia menyukai Abri dan ingin memiliki kakak laki-laki seperti Abri.
"Eh ada Kak Abri, pasti lagi nyari Kak Diana ya?" tanya Nuri sembari tersenyum lebar.
Dan Abri pun menjawab iya dengan tersenyum pula. Dia bertanya-tanya di dalam hati mengapa adik Diana tampak begitu senang jika dia datang untuk mencari Diana. Apakah anak sekecil itu juga bisa mengetahui perasaan Abri pada Diana pikirnya. Dan mengapa hanya dirinya saja yang ditanyai Nuri, padahal tadi Nuri juga melihat jika Abri datang bersama dengan Ramli. Akan tetapi adik Diana tersebut tidak menanyakan pada Ramli apakah ingin bertemu dengan Isya, seperti halnya dia bertanya pada Abri yang hendak bertemu dengan Diana tadi.
Nuri pun mempersilahkan Abri dan Ramli masuk, dan dia segera pergi untuk memanggil Diana yang berada di dalam kamarnya. Begitu sampai di depan kamar Diana, Nuri pun mengetuk pintu Diana. Setelah mendengar sahutan dari dalam ia pun segera membuka pintu itu, dan langsung memberitahu Diana jika ada Abri di luar yang sedang menunggunya. Tetapi dia tidak berkata jika di luar juga ada Ramli.
Diana pun terkejut mendengar jika di luar ada Abri, karena Abri sama sekali tidak mengabarinya jika ingin kemari.
Diana pun segera merapikan dirinya di depan cermin. Lalu setelahnya dia segera ke luar untuk menemui Abri.
__ADS_1
Melihat Diana keluar, senyum lebar pun langsung diberikan Abri untuk gadis pujaan hatinya itu. Diana pun langsung membalas dengan senyuman pula. Dan dia terkejut dengan kehadiran Ramli juga di sana, karena Abri sempat memberitahukan dirinya jika Ramli dan Desy sedang janjian akan jalan sore ini. Diana pun menyapa mereka berdua, dan bertanya mengapa mereka datang tiba-tiba tidak memberitahu dulu.
"Kok kalian nggak kasih kabar kalau mau datang?" tanya Diana.
"Memang sengaja mau kasih kejutan," jawab Abri.
"Terus kalau misalnya nggak ada orang di rumah gimana?" tanya Diana. Dan dia pun memberitahukan jika Isya tak ada di rumah karena sedang mengantar ibunya ke rumah neneknya. Mendengar hal itu tentu saja Ramli merasa senang. Akan tetapi itu tidak berlangsung lama, karena tak lama kemudian Isya datang bersama dengan ibunya. Ia kaget melihat ada motor Abri di sana, tetapi dia tak mengira kalau Abri datang bersama dengan Ramli.
"Assalamualaikum," ucap Isya yang masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan motornya di samping Abri.
"Wa'alaikumsalam," sahut Abri dan Ramli.
Isya pun kaget melihat ada Ramli di sana begitu pula dengan Ramli, kemudian dia berkata, "Lho ada Kak Ramli, tumben ke sini?"
Dan belum sempat Ramli menjawab, ibu Rahmi yang baru masuk pun langsung berkata, "Eh Ramli baru kelihatan."
"Iya, lagi sibuk soalnya, Bu," jawab Ramli singkat. Dia berharap Abri tidak memperhatikan ucapan Isya dan ibunya tadi, pasalnya dia takut ketahuan bohong oleh Abri, karena tadi siang dia bilang pada Abri jika tadi malam dia pergi ke sini padahal sebenarnya tidak. Padahal Abri sudah mengetahui jika Ramli telah berbohong padanya dengan bertanya pada Diana tanpa sepengetahuan Ramli.
Ibu Rahmi yang baru pertama kali melihat Abri pun langsung bertanya siapa gerangan yang datang bersama dengan Ramli ini. Diana yang baru datang dari dapur dengan membawa minuman untuk Ramli dan Abri pun kemudian menjawab jika itu adalah Abri saudara angkatnya Ramli yang mengantar dia pulang sehabis dari melihat api unggun waktu itu.
Setelah lumayan lama ikut mengobrol, Ibu Rahmi pun pamit ke belakang. Tinggallah mereka berempat di ruang tamu itu.
Tak lama kemudian ada suara motor yang masuk dan berhenti di halaman rumah Diana.
Setelah memarkirkan motornya, seseorang yang datang itu pun segera masuk ke dalam rumah Isya.
"Assalamualaikum," ucapnya.
__ADS_1
Dan semua orang yang ada di sana pun menjawab salam itu, tidak terkecuali Ramli yang menjawab salam sembari menoleh karena posisi dia duduk yang membelakangi pintu. Dan begitu Ramli menoleh, dia langsung melebarkan kedua matanya karena merasa kaget. Dan seseorang yang baru datang itu pun tak kalah kagetnya dari Ramli.