
Masih di malam yang sama.
"Woi cepetan tepati janjimu yang tadi siang, udah malam ni tau," desak Ramli yang tak sabarnya sudah tingkat akut.
"Ish sabar dong," sahut Abri yang duduk di meja belajarnya sambil membereskan buku-bukunya.
"Tunggu apalagi, tunggu ayam jantan berkokok," ucap Ramli.
"Bukan, tapi tunggu ayam jantan bertelur ha ha ha," sahut Abri kemudian tertawa puas.
"Ah kalau itu mah nggak mungkin, berarti kamu nggak jadi cerita dong," sahut Ramli.
"Cerita dong, lagian ada yang mau aku tanyakan juga sama kamu," ucap Abri .
"Tanya apa, tanya PR bahasa Arab yang jadi tugas selama kita libur, yaelah timbang ngasih tau gitu aja harus pake imbalan segala sih," sahut Ramli kesal.
"Apaan sih sembarangan, biasanya juga kamu yang nyontek sama aku kalau setiap ada tugas," ucap Abri sewot.
"Jadi mau tanya apaan dong kalau bukan itu?" tanya Ramli.
"Pertanyaannya itu masih ada hubungannya sama ceritaku nanti," sahut Abri .
"Oh ya udah tanya aja sekarang, aku siap jawab kalau aku bisa, tapi kalau aku nggak bisa jawab kamu kasih pilihan bantuan ya," ucap Ramli.
"Bantuan apa, phone a freind, fifty fifty, atau ask the audience? Kamu pikir ini acara quis di TV apa pake nawar minta pilihan bantuan segala, sembarangan," ucap Abri kesal.
"Ha ha ha," Ramli pun tertawa mendengar ocehan Abri.
"Mungkin," lanjut Ramli.
"Ya udah dong seriusan nah sekarang," pinta Ramli.
"Lho aku nih dari tadi sudah sepuluh rius, bukan serius lagi, kamunya aja yang nggak serius," sahut Abri.
"Ya sudah sekarang seriusan mau tanya apa?" tanya Ramli.
"Kamu masihkah sama Isya?" tanya Abri.
"Masihlah," sahut Ramli. "Kenapa emangnya?" Ramli balik bertanya.
"Kamu tahu adiknya Isya yang namanya Diana?" tanya Abri.
Mendengar pertanyaan Abri, Ramli pun mulai mencurigai sesuatu. "Tahu, terus kenapa kamu nanya dia?" Ramli balik bertanya lagi.
"Kenapa kamu nggak pernah cerita sama aku kalau Isya punya adik selain adiknya yang masih kecil itu?" tanya Abri.
Ramli mengernyitkan dahinya merasa heran dengan Abri.
"Lho memangnya harus ya aku cerita sama kamu?" tanya Ramli.
"Ya enggak juga sih he he he." Abri menyengir.
"Kamu sering ketemu sama diakah kalau ke rumah Isya?" tanya Abri lagi.
__ADS_1
"Cuma beberapa kali aja kalau pas kebetulan dia pulang, soalnya diakan sekolahnya di Samarinda, jadi dia tinggal di sana sama tantenya," sahut Ramli.
"Kalau itu sih aku tau," ucap Abri.
"Lho kamu tau darimana, kamu stalkingin dia ya, terus kamu tau dari mana juga kalau Isya punya adik namanya Diana?" cerca Ramli panjang lebar.
"Woi satu-satu kenapa kalau mau tanya?" protes Abri.
"Penasaran tau," sahut Ramli.
"Jadi gini, ada waktu sore tuh aku nongkrong sama bubuhan Dion sama Ramdan juga, nah pas kebetulan Diana lewat, si Dion negur Diana, terus aku tanya itu siapa, ya udah deh mereka kasih tau aku semuanya tentang Diana," sahut Abri.
"Ooh seperti itu," ucap Ramli sambil mengelus-elus dagunya dan menyipitkan matanya menatap Abri.
"Kenapa kamu lihatin aku kayak gitu, biasa aja kali," ucap Abri.
"Enggak papa, terus apa hubungannya sama yang mau kamu ceritain ke aku tadi?" tanya Ramli.
"Ya ada lah, kamu tahu siapa yang ngasih aku kue pukis yang kamu makan tadi sewaktu kita di SMP?" tanya Abri.
"Mene ketehe, Diana mungkin?" tebak Ramli.
"Ya, kok kamu tahu sih?" tanya Abri penasaran.
"Kan kamu sendiri tadi yang bilang kalau pertanyaanmu ada hubungannya dengan yang mau kamu ceritain ke aku, gimana sih," jelas Ramli.
"Oh iya ya, saya yang lupa," ucap Abri sambil menepuk jidatnya.
Lalu Abri pun menceritakan semua yang dialaminya tadi pagi bersama Diana tanpa ada yang dikurang-kurangi atau dilebihkan, termasuk juga soal insiden tabrakan dia dan Diana yang tak disengaja. Dan Abri pun mengungkapkan kekagumannya pada Diana yang tak malu atau gengsi ketika harus pergi berbelanja ke pasar, yang sangat jarang dilakukan oleh para gadis lainnya di zaman sekarang ini.
"Kayanya ada yang sudah move on nih," sindir Ramli sambil menaik turunkan alisnya.
Dan Abri pun hanya tersenyum saat Ramli mengucapkan itu, dia tidak tahu apakah dia suka atau sekedar kagum kepada Diana, yang jelas dia merasa nyaman ketika bersama dengan Diana, serta wajahnya yang selalu terbayang di benaknya, dan selalu ada dalam pikirannya.
...****************...
Masih di malam yang sama tetapi di tempat yang berbeda, seorang gadis tengah berbaring di kasurnya sambil memainkan ponselnya. Ya setelah kepulangan Ibnu tadi Diana memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat sebelum dia di interogasi oleh ibu dan kakaknya soal kedatangan Ibnu yang mencarinya.
Tetapi baru saja dia berbaring, sebuah notifikasi di ponselnya berbunyi. Dia pun segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja belajarnya. Saat membuka notif itu ternyata Yanti yang sedang mengiriminya pesan WA.
"Woi ngapain, sepi amat nggak ada beritanya," tanya Yanti .
"Lagi mau tidur tapi nggak jadi karena di ganggu seseorang" balas Diana.
"Siapa yang ganggui kamu, berani-beraninya ganggui macan mau tidur?" tanya Yanti.
"Ini orangnya yang lagi ngirimi aku pesan WA malam-malam, pake ngatain aku macan segala lagi😤😡," balas Diana.
"🤭😂😂Aku kah sekalinya orangnya, sorry kalau ganggu, habisnya aku penasaran kaya apa sudah beritanya macan yang satu ini", balas Yanti.
"Tuh kan macan lagi🤦😬😡," balas Diana.
"Jangan marah dulu dong, macan itu maksudnya manis dan cantik Diana sayang...🤭" balas Yanti.
__ADS_1
"Jangan manggil sayang ah geli aku rasanya," protes Diana.
"Iya-iya, terus gimana kabarnya kamu nih, si Ibnu ada minta jawaban soal yang kemarin pagi sama kamu nggak?" tanya Yanti lagi.
" Hem...ada. Barusan juga dia pulang dari sini", balas Diana.
"Terus-terus kamu jawab apa? Eh kukira dia cuma bercanda lho kemarin, habisnya masa dia nembak kamu di pasar, enggak keren amat sih," balas Yanti.
"Huh kebiasaan deh kamu tuh Yan, belum dijawab juga sudah nyerocos terus," balas Diana sewot.
"Ups sorry🤭🙏, ya udah deh lanjut," balas Yanti .
"Jadi ya kujawab aja sesuai dengan saran kamu yang kemarin," balas Diana .
"Jadi kamu nolak dia ?" tanya Yanti.
" Iya," balas Diana singkat.
"Terus Ibnunya nggak marah atau kecewa gitu?" tanya Yanti.
"Kayanya sih nggak Yan, tapi nggak tau juga ya dalam hatinya, kalau kecewa sih pasti ada kayanya kalau kulihat dari raut wajahnya," jelas Diana.
"Wajar kalau itu mah," balas yanti.
"Terus dia bilang apa waktu kamu tolak?" tanya Yanti yang masih penasaran.
"Ya dia bilang nggak papa, terus minta supaya aku sama dia masih tetap berteman kaya dulu," balas Diana.
"Ooh seperti itu," balas Yanti.
" Kamu tau nggak?" tanya Diana.
"Ya nggak tau lah, aneh kamu tuh, kamu kan belum cerita, duh macan-macan kok o*n yak," balas Yanti.
"Ooh da*ar, nggak jadi ah ceritanya, di skip aja," balas Diana berpura-pura merajuk.
"Gtu aja marah, nanti nggak macan lagi loh, berubah jadi singa ha ha ha✌️✌️✌️... ya udah lanjut apa lagi ceritanya?" tanya Yanti.
"Ternyata kak Ibnu tuh penakut juga kaya cewek aja🤭, untung aku nolak dia, kalau enggak gimana, bisa-bisa aku yang jagain dia🤭🤭😜," balas Diana.
"Hah takut kenapa?" tanya Yanti penasaran.
Dan Diana pun menceritakan kejadian lucu tadi ketika Ibnu teriak kaget sampai terjatuh dari bangku saat melihat penampakan ibunya yang berpakaian serba putih sampai jilbabnya. Dan tentu saja hal itu membuat Yanti tertawa di seberang sana.
"Hah, masa sih ya ampun😂😂😂 masa Bi Rahmi sampai dikira tante kun (kuntilanak)🤭😂😂😂," balas Yanti.
" Iya, kalau kamu tadi ada disini mungkin kamu sudah guling-guling sakit perut karena ketawa," balas Diana.
"Iya ya sayangnya, padahal aku tadi rencananya mau nginap di rumahmu lagi tapi nggak jadi, kerjaanku banyak menanti di rumah🤭," balas Yanti.
"Ya udah Yan aku sudah ngantuk nih, besok lagi dilanjut yak kalau ada cerita baru lagi," pinta Diana.
"Ya udah met bobo macan," balas Yanti.
__ADS_1
"Met bobo juga," balas Diana.
Dan setelah itu Diana pun meletakkan kembali ponselnya di atas meja belajarnya, dan beranjak tidur. Diana tidur dengan perasaan lega karena sudah menjelaskan semua pada Ibnu.