Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Ibnu Malu


__ADS_3

Melihat Ibnu terjatuh, sontak membuat adik-adik penggalang putri yang melihatnya langsung kompak berteriak, " Aaaa Kak Ibnu!"


Mereka pun langsung berlari memberitahu regu putra dan rekan- rekan Ibnu yang masih asik melakukan senam karena barisan mereka ada di depan jadi mereka tidak mengetahui insiden Ibnu terjatuh tadi, hanya regu putri saja yang mengetahuinya.


"Kak, permisi, Kak," ucap salah satu adik penggalang putri yang menghampiri Abri. Abri pun langsung menghentikan kegiatan senamnya dan langsung bertanya pada adik penggalang itu.


" Iya ada apa, Dik?" tanya Abri.


"Maaf ganggu Kak, cuma mau kasih tau aja kalau Kak Ibnu jatuh," ucap adik penggalang itu. Mendengar hal itu sontak saja Abri langsung kaget.


"Apa? Jatuh! Kok bisa? Di mana?" tanya Abri beruntun.


"Itu di sana, Kak," ucap adik penggalang itu seraya menunjuk suatu tempat. "Tadi itu Kak Ibnu terburu-buru lari, terus kayaknya tersandung batu terus jatuh deh," lanjut adik penggalang itu lagi.


Abri pun langsung melajukan langkahnya ke lokasi di mana Ibnu jatuh.


Setibanya di sana ia melihat Ibnu sudah di bantu untuk duduk oleh adik-adik penggalang putra yang sudah lebih dulu berada di sana. Tak lupa Ibnu masih memegang kardus untuk menutupi celana trainingnya yang sobek. Tampak wajah Ibnu yang sudah penuh dengan pasir bercampur tanah basah karena kebetulan semalam hujan datang tak lama setelah kegiatan jurit malam berakhir.


"Nu, kamu kenapa?" tanya Abri yang hampir saja tertawa setelah melihat penampakan wajah Ibnu yang sudah berantakan tak karuan, tetapi di tahannya takut kalau-kalau Ibnu tersinggung.


"Dia tadi lari-lari, Bri. Terus kesandung akhirnya jatuh," kali ini Isya yang menjawab, kebetulan dia berada di sana ketika Ibnu jatuh.


"Lagian kamu kenapa sih lari-lari, kamu kebelet lagi?" tanya Abri.


"Ish apaan sih, udah nanti aja ceritanya di tenda, sekarang bantuin dulu aku nih!" titah Ibnu.


Tak lama Ramli dan Dani pun datang menyusul, tak pelak mereka pun tertawa begitu melihat wajah Ibnu.


"Ha ha ha, kenapa lagi kamu, Nu?" tanya Dani.


"Ha ha ha, ada-ada aja kamu tuh, Nu-Nu," Ramli pun menimpali.


"Ish kamu nih, Yang. Seneng betul ngeliat teman sengsara, bukannya dibantu malah di ketawain," ucap Isya pada Ramli.


"Tau nih, Sya. Si kuyangmu nih dari kemarin seneng betul ngetawai aku, kena karma baru tau rasa lo," ucap Ibnu kesal.


"Habisnya dia nih yang dari kemarin ada-ada aja tingkahnya, nggak ada habisnya," sahut Ramli pada Isya.


"Ya sudah sekarang kalian bantuin aja tuh si Ibnu balik ke tenda!" titah Desy kali ini yang juga ada di sana.


"Ya udah ayo kita bantu, Nu!" ajak Abri.

__ADS_1


"Eh tapi kalian nih cewek-cewek pergi dulu sana!" usir Ibnu.


"Lho memangnya kenapa?" tanya Desy.


Lalu Isya pun membisikkan kata-kata tepat di telinga Desy yang membuat Desy langsung tertawa begitu pula dengan Isya. Desy lupa jika tadi melihat celana training Ibnu sobek. Tentu saja Ibnu malu jika mereka para cewek-cewek masih berada di sana.


"Kenapa sih, Yang?" tanya Ramli yang penasaran ketika melihat mereka tertawa geli.


"Nggak, nggak papa kok, ya sudah kami pergi dulu," sahut Isya.


"Ayo Adik-adik kita lanjut masuk barisan lagi, senamnya belum selesai tuh!" ajak Desy.


"Siap, Kak!" sahut mereka kompak.


Setelah kepergian kaum cewek-cewek, Abri dan teman-temannya berniat untuk membawa Ibnu, tetapi mereka diherankan dengan sikap Ibnu yang masih ngotot memegang kardus menutupi bagian depan celana trainingnya setelah tadi sempat diambil oleh Dani.


"Eh jangan di ambil! biarin aja kaya gini," sahut Ibnu.


"Kenapa sih sama kardusnya?" tanya Dani heran.


"Udah nanti aja ceritanya kalau sudah sampai tenda," sahut Ibnu.


Akhirnya mereka membawa Ibnu sampai ke tenda.


"Terus gimana ceritanya sih tadi sampai kamu bisa jatuh masuk ke dalam selokan gitu mukamu?" tanya Dani pada Ibnu karena masih penasaran.


"Tapi janji ya kalau aku cerita jangan di ketawain, kalian kan hobinya ketawain aku mulu," ucap Ibnu.


"Iya insyaAllah," ucap mereka kompak.


"Lha kok insyaAllah sih" protes Ibnu.


" Ya memang gitu jawabnya harus pakai insyaAllah," sahut mereka kompak.


Akhirnya Ibnu pun menceritakan semuanya mulai dari awal insiden celana trainingnya yang sobek hingga akhirnya dia terjatuh. Sontak saja mereka semua tertawa sampai terguling-guling.


"Tuh kan, ketawain kan," ucap Ibnu melas.


"Ya habisnya lucu aja, jadi gimana perasaanmu sekarang?" tanya Ramli.


"Kalau aku ya pasti malu lah, rasanya pingin menghilang detik itu juga," ucap Dani.

__ADS_1


"Ya iyalah pasti malu aku," ucap Ibnu.


"Terus gimana sekarang?" tanya Abri.


"Aduh nggak tau deh, nggak punya muka rasanya aku mau menampakkan wajahku," sahut Ibnu.


"Nggak apa-apa namanya juga musibah nggak ada yang tahu, apa mau aku temani kah kamu keluar, kamu kan belum mandi nih, masa mukamu nggak mau di cuci, ntar malah jerawatan lho," ucap Abri.


"Iya sih maunya, kalau bisa tukar muka sudah minta tukar aku sekarang sama kamu," ucap Ibnu asal.


"Ha ha ha ngarut aja kamu nih, Nu," ucap Dani.


"Kayaknya kamu harus mandi kembang deh habis ini biar nggak sial terus,Nu," ucap Ramli menimpali.


"Ah masa sih?" tanya Ibnu.


"Iya, kalau bisa mandi kembangnya pas malam Jum'at, mandi kembang tujuh rupa," sahut Dani lagi asal.


"Halah nggak usah dengarin kata-kata mereka ,Nu. Kamu percaya memang sama mereka?" tanya Abri.


"Ya enggak juga sih," sahut Ibnu.


"Bagus, kalau kamu percaya mereka berarti kamu musyrik, percaya tuh sama Allah, Nu!" ucap Abri.


"Yee, di pikir kita se*an kali," ucap Dani.


"Emang, ha ha ha," sahut Abri.


"Ooh da*ar," sahut Ramli.


"Ya sudah sebaiknya sekarang kita temani Ibnu ke kamar mandi nih, kasihan ni lho," ajak Abri.


"Aduh, tapi rasanya aku masih malu, Bri," sahut Ibnu.


"Udah nggak apa-apa, cuek aja, anggap aja nggak terjadi apa-apa," sahut Abri.


"Ih mana bisa begitu," ucap Ibnu cemberut.


"Ya udah terserah kamu aja, mau mandi atau nggak nih? Kalau enggak aku mau keluar, beresin bekas senam tadi," ucap Abri.


"Iya deh aku mau mandi," ucap Ibnu pasrah, dari pada nggak ditemani nanti dia malah mati gaya kalau ketemu para cewek-cewek itu pikirnya lagi.

__ADS_1


"Ya udah ayo sekarang, mumpung mereka masih pada di lapangan jadi belum rame di kamar mandinya!" ajak Abri .


"Ya udah ayo!" ajak Ibnu yang langsung menyiapkan semua keperluan mandinya.


__ADS_2