
Perasaan Abri sungguh galau malam ini. Ia masih ragu apakah ingin mengirimkan rekaman video antara Desy dan Ramli tadi pada Diana atau tidak. Pasti Diana syok bila melihatnya. Tapi dia sudah terlanjur berjanji untuk memberitahukan bila ada kabar terbaru tentang penyelidikan Abri soal hubungan antara Ramli dan Desy. Akhirnya Abri pun memutuskan untuk mengirimkan rekaman itu pada Diana.
"Assalamu'alaikum, Di. Ini Mas punya kabar terbaru tentang Desy dan Ramli," pesan Abri pada keterangan video yang dia kirim kepada Diana.
Sementara itu Diana yang sedang bersantai di dalam kamar langsung membuka notif pesan yang di kirim Abri dan langsung memutar video itu. Diana pun tercengang dan langsung menutup mulutnya begitu melihat rekaman video yang dikirim oleh Abri. Dia sungguh tak menyangka jika Desy tega berbuat seperti itu pada kakaknya. Sungguh terlalu pikir Diana. Padahal Desy sudah seperti saudara dengan Isya. Sedari kecil mereka tidak pernah berpisah, kemana-mana selalu bersama.
Cinta itu memang aneh dan gila, dia bisa membuat orang bahagia tapi bisa juga membuat orang terluka bila tak pandai menjaganya. Cinta juga bisa membuat dua orang yang saling benci menjadi saling sayang. Begitu juga sebaliknya, cinta juga bisa membuat dua orang yang dulunya saling sayang menjadi saling benci. Sungguh sangat membingungkan menurut Diana. Oleh sebab itu dia belum mau memikirkan soal cinta meskipun rata-rata teman-temannya sudah memiliki kekasih. Tetapi kalau Tuhan sudah mendekatkan dia pada jodohnya, dia pun tak akan bisa menghindarinya.
Setelah melihat rekaman video itu, Diana pun langsung membalas pesan dari Abri, "Kapan kejadiannya itu, Mas?"
Tak lama Abri pun membalasnya, " Tadi pagi pas istirahat, Di."
Diana penasaran sudah sejak kapan Ramli dan Desy pacaran. Dia pun akhirnya menanyakannya pada Abri kalau saja ia mengetahuinya. Dan Abri pun menjawab sesuai dengan jawaban Ramli saat dia menanyakannya tadi.
"Berarti waktu acara kemah kemah kemarin mereka sudah pacaran dong ya" balas Diana.
__ADS_1
"Iya, itu Mas sudah rada-rada curiga kalau Ramli dan Desy sudah mulai renggang. Soalnya mereka sudah mulai jarang sama-sama," jawab Abri.
Dan setelahnya Abri pun meminta maaf pada Diana atas semua yang telah dilakukan Ramli pada kakaknya, karena biar bagaimanapun Ramli adalah bagian dari keluarganya juga. Dan Diana pun mengiyakan permintaan maaf dari Abri dan ia pun tak dapat menyalahkan Abri atas semua yang sudah terjadi. Dan Diana pun berterimakasih pada Abri karena telah membantunya mencari soal kebenaran hubungan antara Ramli dan Desy.
Sekarang yang ditanyakan Diana pada Abri adalah bagaimana caranya memberitahu Isya agar kakaknya itu bisa menerima kenyataan bahwa sahabat dan kekasihnya mengkhianati dirinya. Dan Abri pun bingung harus menjawab apa pada Diana. Tetapi Abri telah menyatakan jika dia telah mewanti-wanti Ramli agar segera menyelesaikan masalah ini agar tidak berlarut-larut. Diana pun mempercayai pernyataan Abri tersebut. Kemudian mereka pun mengakhiri sesi chat mereka karena hari pun sudah semakin malam.
Lisa yang sejak tadi penasaran dengan Diana yang terlihat sangat serius bermain ponsel pun menanyakan pada Diana apakah dia sekarang sedang ada masalah, soalnya dia melihat Diana begitu serius sejak tadi.
Diana pun menjawab bahwa yang ada masalah sebenarnya bukan dia, melainkan Isya. Tetapi anehnya Isya pun tidak merasa dan tidak mengetahui jika dirinya mempunyai masalah menurut penglihatan Diana. Justru orang lain yang mengetahui masalah itu terlebih dahulu. Mendengar penjelasan dari Diana, Lisa pun menggelengkan kepalanya pertanda tidak mengerti akan maksud dari ucapan Diana tersebut.
Dan Diana pun menceritakan semua kejadiannya dari awal dia melihat Ramli dan Desy saat pulang kampung, sampai kabar terakhir sebuah kiriman video dari Abri tadi.
Lisa pun terperangah tak percaya, karena dia pun mengetahui jika Desy adalah sahabat Isya dari kecil. Sebab dulu kalau Lisa sedang ada di kampungnya Diana, dia sering bertemu dengan Desy yang kebetulan berkunjung ke rumah Diana.
"Cinta itu sungguh rumit memang," ucap Lisa.
__ADS_1
"Ya begitulah, mangkanya nggak usah cinta-cintaan dulu. Ribet urusannya," sahut Diana.
"Ya udahlah mending tidur yok dah malam!" ajak Lisa dan di iyakan oleh Diana.
...****************...
Sementara itu semenjak kepergian Abri dari kamarnya, Ramli terlihat termenung seorang diri sembari merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Pandangannya menerawang pada langit-langit kamarnya yang berwarna putih.
Dia bingung memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan untuk semua masalah ini agar cepat selesai. Agar Abri tak marah lagi padanya. Banyak pertanyaan muncul di kepalanya. Mengapa semua terlihat begitu rumit sekarang, tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya pikirnya. Tadinya ia berpikir akan mudah menjalani 2 hubungan sekaligus, walau terlihat serakah tapi ia tetap melakukannya karena ia pun sudah berencana bahwa ia akan segera memutuskan Isya jika waktunya sudah tepat. Terkesan jahat memang. Tetapi di saat dia sudah mulai renggang dengan Isya dan dirasa saatnya sudah dekat untuk memutuskan Isya, Abri malah mengenal Diana dan jatuh cinta padanya. Dan Abri memintanya agar tak mempermainkan Isya agar rencana Abri untuk mendekati Diana berjalan lancar.
Ramli mengacak rambutnya kasar. "Kenapa juga Abri harus jatuh cinta sama Diana," batinnya.
Sebenarnya dia merasa senang melihat Abri sudah bisa membuka hatinya lagi setelah terluka, tetapi yang ia sayangkan mengapa harus sama Diana orangnya. Padahal sebenarnya masih banyak cewek lain yang menyukai dan mengharapkan Abri untuk jadi kekasih mereka. Jika seandainya Abri ta jatuh cinta dengan Diana mungkin lain lagi ceritanya sekarang. Tentu dia akan sangat mudah untuk memutuskan Isya, dan mungkin saat ini mereka sudah putus karena hubungan mereka sekarang sudah sangat jauh. Mereka sudah jarang sekali berkomunikasi karena Ramli yang jarang menghubungi dan membalas pesan Isya. Bahkan ia juga jarang menjawab panggilan telepon atau video dari Isya. Dan di sekolah pun mereka sekarang tidak pernah lagi menghabiskan waktu bersama, itu karena Ramli yang sering menghabiskan waktu bersama dengan Desy.
Ramli berencana memutuskan Isya dengan alasan bahwa sudah tidak adanya lagi komunikasi yang baik di antara mereka, dan dengan semua sifat-sifat dari Isya yang membuat Ramli menginginkan agar mereka putus. Sungguh egois memang, tapi itulah cara yang akan dilakukan Ramli jika saja Abri tak jatuh cinta dengan Diana.
__ADS_1
Tetapi sekarang keadaannya berbeda. Ramli pun bingung harus berbuat apa, apakah melanjutkan hubungannya dengan Desy dan memutuskan Isya tetapi membuat Abri semakin marah padanya. Atau memutuskan Desy dan melanjutkan hubungannya dengan Isya walaupun dia sendiri sudah tak lagi menginginkannya, tetapi jika ia melakukan itu sudah pasti membuat Abri tak lagi marah padanya.