
"Iya ini aku, Ailisya Sabila, sahabat sejak kecil dari gadis yang bernama Desy. Kenapa? Apa kalian kaget? Atau karena sangking lamanya kita tak pernah bersama seperti ini sehingga membuat kalian menjadi kaget dan melihatku seperti melihat hantu saja?" tanya Isya beruntun yang menggunakan bahasa sedikit formal tak seperti biasanya.
"Sya, aku bisa jelasin semuanya," ucap Ramli yang seketika kagok karena ketahuan oleh Isya.
"Stop! Sstt...," ucap Isya seraya menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya agar Ramli berhenti berbicara. "Aku tidak menerima penjelasan apapun dari kalian, karena sekarang semuanya sudah jelas," lanjut Isya.
"Tapi, Sya...," bantah Ramli yang harus kembali terputus karena Isya tak memberikannya kesempatan untuk berbicara sedikitpun.
"Pantas saja selama ini kalian selalu menghindar dariku, susah dihubungi, susah diajak jalan bareng, ke kantin bareng, nongkrong bareng. Ternyata kalian sudah ada acara sendiri tanpa sepengetahuanku, dan kalian juga punya tempat khusus yang aku juga tidak tau. Kalian sungguh manusia jahat!" ucap Isya sembari berbalik ingin melangkah pergi setelah meluapkan kemarahannya. Dan seketika Ramli pun memanggil Isya untuk menghentikan langkahnya. Dan Isya pun menoleh kemudian berkata, "Mulai sekarang di antara kita sudah nggak ada hubungan apa-apa. Dan kamu Desy, mulai detik ini juga kamu bukan lagi sahabat terbaikku, lebih baik aku nggak punya sahabat dari pada punya sahabat tapi seperti dirimu," ucap Isya dengan air mata yang berlinang di kedua pipinya. Ia sangat menyayangkan sekali hubungan persahabatannya dengan Desy yang sudah terjalin sedari mereka kecil harus berakhir secara tragis seperti ini hanya karena seorang makhluk yang bernama laki-laki.
__ADS_1
Sementara itu Desy tak mampu berbuat apa-apa, ia hanya bisa terdiam saja mendengar Isya mengucapkan kata-kata itu.
Setelah mengucapkan kata-kata pemutusan hubungan antara dirinya dengan Ramli dan juga Desy, Isya segera berbalik dan berlari. Sementara itu Ramli yang melihat Isya pergi berusaha untuk mengejarnya karena ada rasa sedikit bersalah di hatinya telah membuat Isya terluka. Karena bagaimanapun juga Isya pernah menjadi bagian dari hidupnya, pernah mengisi hari-harinya. Isya juga pernah membuatnya bahagia walaupun tak jarang juga bisa membuatnya kesal. Tapi saat hendak melangkah mengejar Isya langkahnya langsung terhenti karena tangannya langsung ditarik oleh Desy.
"Kamu mau ke mana? Apa kamu mau ngejar dia?" tanya Desy dengan nada bicara sedikit marah pada Ramli, dan Ramli pun hanya menganggukkan kepalanya saja. Desy pun mengancam Ramli jika ia tetap mengejar Isya maka hubungan mereka pun akan berakhir saat itu juga. Mendengar ancaman dari Desy membuat Ramli dilanda bimbang. Ramli pun menjelaskan pada Desy jika ia mengejar Isya hanya untuk minta maaf saja dan tidak lebih dari itu. Bagaimana pun Isya pernah bersamanya dulu. Tapi Desy tak mau mendengar penjelasan dari Ramli, ia tetap pada pendiriannya bahwa jika Ramli beranjak satu langkah pun maka hubungan mereka pun akan berakhir juga. Akhirnya Ramli pun mengurungkan niatnya untuk mengejar Isya. Ia berencana akan mengirimkan pesan permintaan maaf saja pada Isya nanti, meskipun dengan ucapan langsung lebih bagus tetapi keadaan tidak mendukung saat ini menurut Ramli. Ia tak mungkin membiarkan Desy mengakhiri hubungan mereka karena mereka pun sudah sejauh ini menyakiti Isya, kalau hubungan mereka berakhir berarti semuanya tak akan ada gunanya menurut Ramli. Selain itu Ramli pun memperhitungkan untung ruginya, ia tak mau jika sekarang sudah kehilangan Isya ia pun akan kehilangan Desy pula. bisa rugi dua kali pikirnya. Terlihat sangat egois memang apa yang telah dilakukan oleh Ramli. Tapi itulah kenyataannya hidup.
Sementara itu Isya terus berlari, tujuannya tak lain adalah toilet. Menurutnya di sana ia bisa meluapkan semua kesedihan dan kekesalannya akibat ulah dari dua orang yang pernah dekat dengannya. Dan Ratna pun mengikutinya dari belakang, ia khawatir dan takut terjadi apa-apa pada Isya. Ia berharap Isya tak melakukan apapun yang bisa menyakiti dirinya sendiri.
Setelah itu muncullah Ratna yang juga berlari mengejar Isya dan memanggil namanya. Abri pun langsung menghentikan Ratna dan segera bertanya padanya tentang apa yang telah terjadi pada Isya sehingga membuatnya seperti itu, berlari sambil menangis. Ratna pun memberitahu pada Abri yang sebenarnya. Abri pun langsung tercengang sembari mengepalkan tangannya. Ia tak mengira jika Ramli tetap mengambil keputusan akan meninggalkan Isya dan lebih memilih Desy. Tentu saja dia juga memikirkan nasib cintanya dengan Diana. Sedangkan tadi saja Isya sudah menatapnya sinis seakan tak suka. Tetapi Abri sangat memaklumi sikap dari Isya itu, apalagi kalau bukan karena Abri yang masih ada hubungannya dengan Ramli. Pasti Isya mengira jika ia sudah lama mengetahui kalau Ramli menjalin hubungan dengan Desy tetapi ia malah menyembunyikannya dari Isya, padahal seharusnya ia memberitahukannya. Abri juga tak mengira jika Isya akan mengetahui perbuatan Ramli dan Desy secepat ini.
__ADS_1
Abri pun langsung pergi menemui Ramli ke tempat yang sudah diberitahu oleh Ratna tadi.
Ramli dan Desy pun dibuat terkejut oleh kehadiran Abri yang tiba-tiba berteriak memanggil nama Ramli. Dan belum hilang rasa terkejut mereka, Abri yang sudah berada di dekat Ramli pun langsung men*onj*oknya yang membuat Ramli hilang keseimbangan dan terjatuh ke tanah. Melihat hal itu sontak Desy pun ternganga dan ia langsung menghampiri Ramli yang terjatuh kemudian membantunya untuk duduk.
Terlihat Ramli sedang mengelap bibirnya yang sedikit berdarah akibat diton*ok oleh Abri.
"Abri kamu kenapa sih, datang-datang langsung main pukul-pukul aja?" tanya Desy.
"Kenapa, sakit memangnya? Sakit mana sama hati Isya yang sudah kalian sakiti, hah? Sakit mana sama aku yang ditatap sinis sama Isya padahal aku nggak ngerti apa-apa. Aku juga jadi ikut kena getahnya kalau kamu kaya gini, Ram," ucap Abri.
__ADS_1
Tak lama bel pertanda istirahat telah berakhir pun berbunyi. Abri pun langsung meninggalkan Ramli dan Desy, tetapi sebelumnya ia pun berpesan bahwa urusannya dengan Ramli belum selesai. Dan Ramli pun hanya bisa terdiam saja menatap kepergian Abri yang masih diliputi rasa marah.