Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Pernyataan Abri


__ADS_3

Diana terlihat tidak tenang setelah mendapat pesan Abri yang seperti itu. Ia begitu gelisah. Banyak sekali pertanyaan di benaknya tentang apa yang sebenarnya akan dibicarakan oleh Abri kepadanya. Apakah ada hubungannya dengan Ramli dan Isya serta Desy? Kalau bukan tentang mereka lalu tentang apa lagi pikir Diana. Akhirnya ia pun hanya bisa menunggu nanti malam untuk mengetahuinya.


Suara azan Magrib pun mulai berkumandang dari pengeras suara Langgar (Mushollah) yang berada tak jauh dari rumah Diana. Diana pun bergegas untuk melaksanakan kewajibannya kepada Sang Pencipta. Begitu pula dengan Abri yang sedang berada di rumahnya. Diana bermunajat agar semua baik-baik saja, tidak ada hal yang mengkhawatirkan. Dan tak lupa ia pun mendoakan kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya.


Sementara di seberang sana Abri pun demikian, berdoa sama seperti Diana, hanya saja kali ini Abri menambahkan dalam doanya agar keputusan yang dia ambil ini adalah keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri dan semua orang.


Selesai makan malam, Abri pun segera kembali ke dalam kamarnya. Ia mempersiapkan dahulu semua keperluan sekolahnya besok sembari menunggu waktu salat Isya tiba.


Diana pun demikian, sama seperti Abri selesai makan malam ia mempersiapkan keperluan untuk sekolahnya besok agar tak terburu-buru, mengingat esok ia akan pergi pagi-pagi sekali.


Akhirnya waktu yang ditunggu oleh Abri dan Diana pun tiba. Diana sudah bersiap-siap di dalam kamarnya untuk menerima telepon dari Abri.


Sedangkan Abri terlihat sangat gugup. Bukan karena apa-apa, dia lebih memikirkan bagaimana respon Diana setelah ia mengatakan niatnya pada gadis itu. Apakah Diana akan menerima atau tidak?


Akhirnya dengan mengucapkan basmallah Abri pun memencet ikon bergambar gagang telepon berwarna hijau pada ponselnya yang sudah ia pegang dari tadi dan sudah menandai nama Diana di sana.


Sementara itu, Diana yang memang sedari tadi sudah tak sabar menunggu telepon dari Abri, langsung mengangkat telepon begitu mendengar suara telepon dari ponselnya tanpa melihat lagi siapa orang yang telah meneleponnya.


"Assalamu'alaikum, Mas. Lama bener sih nelponnya, Diana sudah nunggu dari tadi nih, nggak sabar tau!" Diana yang sudah tidak sabar langsung saja berucap panjang lebar begitu mengangkat telepon.

__ADS_1


"Mas? Mas siapa memangnya, Di?" tanya orang diseberang sana.


Diana yang tadi tidak berkonsentrasi pada siapa ia berbicara langsung terperangah ketika mendengar suara yang menyahut dari seberang sana adalah suara perempuan yang tidak asing lagi baginya dan ia pun tahu siapa pemilik dari suara itu.


Untuk memastikannya Diana pun langsung kembali melihat pada ponselnya, dan benar ternyata orang yang telah menelponnya tak lain adalah Yanti, sepupunya sendiri. Seketika Diana pun langsung menepuk jidatnya sendiri. Apa yang sedang dia lakukan sampai-sampai tidak fokus seperti ini pikirnya.


"Kamu kah ini sekalinya, Yan?" Diana jadi salah tingkah sendiri karena salah menyebut nama ketika menerima telepon tadi.


"Iya aku, mau kamu siapa memangnya, hah? Mas siapa lagi?" tanya Yanti.


"Eh ... nggak, bukan siapa-siapa kok, Yan," sahut Diana.


Tetapi Yanti tetaplah Yanti yang dulu, dia tak akan berhenti sebelum Diana memberitahukan yang sebenarnya padanya. Dan akhirnya Diana pun tak bisa berkutik lagi, ia menyerah dan memberitahukan bahwa dia sedang menunggu telepon dari Abri.


"Oooh seperti itu, jadi sudah ada peningkatan nih ceritanya, ya? Pake acara nggak sabar segala, ha ha ha ..." Yanti langsung menggoda Diana seperti biasanya.


"Peningkatan apanya sih? Ngaco aja kamu nih," sahut Diana.


"Ya peningkatan hubunganmu sama Mas Abri lah, apalagi kalau bukan itu?" Yanti sudah sangat yakin dengan perkiraannya kalau Abri dan Diana sudah jadian.

__ADS_1


"Sembarangan, bukan," sahut Diana. Kemudian Diana pun menjelaskan pada Yanti agar sepupunya itu tak lagi berpikir yang aneh-aneh. Tetapi bukannya berhenti berpikir yang aneh-aneh, Yanti malah menyampaikan tebakannya tentang apa yang akan Abri katakan pada Diana nanti. Dia menebak bahwa Abri akan bicara tentang perasaannya pada Diana. Mendengar Yanti menebak seperti itu membuat Diana bertambah pening. Ia saja tidak berpikiran sampai ke sana, mengapa bisa-bisanya Yanti berpikir seperti itu batinnya.


Dan ia pun segera meminta agar sambungan teleponnya dengan Yanti berlanjut nanti lagi. Karena secara kebetulan di ponselnya sudah ada panggilan lain juga, kali ini memang benar dari Abri. Ia tak mau Abri menunggunya terlalu lama. Diana pun langsung mengangkat telepon dari Abri tersebut.


"Assalamu'alaikum, Mas. Maaf baru bisa angkat telepon, kebetulan tadi ada telepon dari Yanti yang keduluan masuk, Mas." Diana langsung menjelaskannya pada Abri sebelum pria itu bertanya padanya.


"Wa'alaikumsalamsalam, Di. Iya nggak apa-apa," sahut Abri sedikit lega setelah mendengar penjelasan dari Diana. Walaupun ia akui bahwa tadi ia sempat berpikiran jika Diana sedang berteleponan dengan pria lain. Entah mengapa Abri bisa berpikiran seperti itu. Padahal jika seandainya memang benar Diana sedang berteleponan dengan pria lain pun tak apa-apa. Dia tak punya hak untuk marah apa lagi melarangnya, karena statusnya dia yang bukan siapa-siapanya Diana.


Baru seperti ini saja Abri sudah merasa cemburu buta pada Diana, apa lagi nanti jika Diana benar-benar dimiliki lelaki lain. Dan dia tak bisa berbuat apa-apa. Sungguh hal yang tidak bisa dibayangkan oleh Abri sendiri.


"Mas... Mas Abri...Mas masih di sana, kan?" Diana berusaha memanggil Abri karena lumayan lama tak terdengar suara Abri dari seberang sana.


Mendengar suara Diana yang memanggil namanya, Abri pun kemudian tersadar dari lamunannya lalu menjawab pertanyaan dari Diana.


"I-iya, Di. Mas masih di sini kok. Tadi ada kucing masuk ke dalam kamar, jadi Mas bawa keluar dulu takut dia buang air di sini," jawab Abri beralasan.


"Oh gitu. Terus jadi apa nih yang mau dibicarakan sama Diana? Apa ada sesuatu yang Diana bisa bantu atau bagaimana?" tanya Diana langsung pada intinya karena rasa penasarannya yang sudah kelewatan. Lalu Diana pun memasang telinganya benar-benar pada ponselnya agar tak salah mendengar saat Abri mengatakan sesuatu padanya nanti.


"Oh i-iya, Di. Gini ... waktu itu kamu ada bilang kalau Isya mungkin butuh waktu untuk bisa kembali seperti dulu setelah putus dari Ramli. Dan juga harus ada orang yang memperhatikan dan ngasih semangat dia. Jadi ... bagaimana kalau misalnya aku yang jadi orang itu, kamu keberatan nggak?" Abri berkata dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


Sementara itu Diana yang sudah memasang telinganya dengan benar pada ponselnya pun merasa kaget, dan dia yakin bahwa dia tidak salah dengan apa yang barusan didengarnya dari mulut Abri sendiri. Karena terlalu kagetnya, tanpa sadar Diana berucap,


"Hah...apa?"


__ADS_2