
Pada saat jam istirahat, Abri menghabiskan waktunya hanya di dalam kelas saja. Entah mengapa enggan untuk keluar hanya untuk mengisi perutnya saja. Ia memikirkan bagaimana caranya mengajak Isya bicara.
Sepulang sekolah nanti ia berniat untuk menunggu Isya. Tapi sebelum itu ia mengirimkan pesan terlebih dahulu pada Isya bahwa ia ingin bicara padanya. Dia berharap Isya mau menerima ajakannya ini.
Sementara itu Isya yang sepulang dari toilet tadi langsung menuju kelasnya. Tak lama notif di ponselnya berbunyi. Ia pun segera meraih benda pipih itu yang ia simpan di kantong roknya.
Kemudian ia membuka kuncian ponselnya dan melihat pesan yang masuk di aplikasi hijaunya itu. Berbagai pertanyaan pun muncul saat ia membaca pesan yang ternyata dari Abri.
"Untuk apa Abri ngajak aku bicara? Mau ngomongin apa? Apa Ramli yang nyuruh dia?" ucap Isya lirih.
Ratna yang melihat Isya termenung setelah membuka ponselnya pun dibuat heran. Kemudian ia pun bertanya pada Isya ada hal apa sehingga ia jadi termenung seperti itu.
Isya pun memberitahukan pada Ratna bahwa Abri ingin berbicara padanya nanti sepulang sekolah.
Lalu ia pun meminta pendapat Ratna apakah dia harus menuruti Abri atau tidak. Ratna pun menyarankan agar menuruti saja permintaan Abri untuk berbicara mungkin saja ada hal yang penting yang akan ia bicarakan. Tetapi Isya ragu untuk melakukannya karena terus terang ia sudah malas berhubungan dengan segala sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan Ramli.
"Tapi aku malas, Rat," ucap Isya.
"Malas kenapa?" tanya Isya.
"Ya malas aja, mungkin Ramli yang sudah nyuruh dia," sahut Isya.
"Mungkin aja sih, tapi belum tentu juga. Kamu nggak akan tau kalau kamu belum nyoba," ucap Ratna.
__ADS_1
"Iya juga sih," sahut Isya.
Akhirnya Isya memutuskan untuk bersedia menuruti Abri. Dan mereka berdua akan bertemu di parkiran pada saat jam istirahat kedua nanti.
Abri yang sedari tadi menunggu balasan dari Isya pun seketika senang mendapat balasan persetujuan dari Isya.
Sebenarnya selain untuk meminta maaf, dia juga bertujuan untuk sedikit menghibur Isya yang pasti masih merasakan sakit hati oleh ulah dari saudaranya itu. Dan Abri berharap kali ini Isya tak memandangnya sinis seperti waktu itu.
Bel tanda istirahat pun berbunyi. Abri segera menuju ke parkiran, ia tak mau terlambat. Lebih baik ia yang menunggu Isya dari pada Isya yang menunggunya. Isya pun beranjak menuju parkiran juga, sebenarnya ia sangat malas sekali. Tetapi karena Ratna bersedia menemaninya, ia pun bersedia menemui Abri. Selain itu juga untuk menghindari terjadinya fitnah di antara mereka.
Sesampainya Isya di sana, ia melihat Abri sudah menunggu. Dia duduk di atas motornya. Isya dan Ratna pun segera menghampirinya.
Dan tanpa berbasa-basi lagi, Isya pun segera bertanya pada Abri apa sebenarnya yang ingin ia bicarakan dan menyuruh agar Abri cepat mengatakannya karena dia tidak punya banyak waktu untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting. Kemudian Abri pun menyampaikan tujuannya.
"Kenapa kamu harus repot-repot minta maaf atas nama dia?" tanya Isya sedikit ketus. "Apa Ramli yang sudah nyuruh kamu?" tanya Isya lagi penuh selidik.
"Bukan Ramli yang nyuruh aku tapi karena inisiatif aku sendiri. Ya karena biar bagaimanapun Ramli masih keluargaku," sahut Abri. Ya meskipun Ramli terbilang saudara angkat Abri tetapi ia masih memiliki hubungan kekerabatan dari pihak ibunya. Ibunya Ramli adalah saudara sepupu 2 kali ibunya Abri.
"Terus kamu sudah tahu kalau Ramli punya hubungan dengan Desy, kan?" tanya Isya.
Abri pun bingung harus menjawab apa, ia mau bilang iya tapi takut disalahkan oleh Isya karena tak memberitahukannya. Atau bilang tidak tapi dia mengetahuinya.
"Iya, ta-" (Abri tidak menyelesaikan ucapannya karena sudah dipotong oleh Isya).
__ADS_1
"Tapi kamu nggak mau ngasih tau aku karena untuk nutupi kebusukan saudaramu itu. Benar begitu, kan?" Isya menaikkan kedua alisnya di hadapan Abri seakan tengah menghakimi Abri dan menyuruh agar Abri mengakuinya.
"Bukan seperti itu, Sya. Aku juga baru tahu beberapa hari ini. Itu ju- (lagi-lagi ucapan Abri terpotong oleh Isya).
"Halah nggak usah bohong. Ternyata kamu sama Ramli sama aja, sama-sama tukang bohong untuk nutupi kesalahan saudaranya. Kalian itu satu keluarga sama-sama munafik. Suka mempermainkan perasaan orang," ucap Isya. Kemudian ia pun langsung pergi meninggalkan Abri yang sedikit terkejut dengan ucapan Isya barusan. Abri pun berusaha memanggil Isya tetapi usahanya sia-sia karena Isya tak menghiraukan panggilannya dan tetap berlalu pergi disusul oleh Ratna.
Abri tak mengira Isya bisa berpikiran seperti itu. Ada rasa yang menusuk di hatinya. Apalagi jika bukan karena kata-kata Isya yang menyebutkan bahwa mereka adalah satu keluarga sama-sama munafik.
Ada rasa sedikit tak terima di hatinya bila sudah menyangkut pautkan nama keluarganya. Padahal ia dan keluarganya tak tahu-menahu soal kelakuan Ramli, apalagi dengan sengaja menutupi perbuatan busuk Ramli seperti yang telah diucapkan Isya tadi.
"Ini semua gara-gara kelakuan Ramli, kalau bukan karena ulah dia nama keluargaku nggak akan rusak di depan Isya seperti ini." Abri bermonolog sendiri. Ia merasa jengkel sekali dengan Ramli saat ini. Sepertinya ia harus bicara dengan Ramli nanti setibanya di rumah.
Bel masuk pun kembali berbunyi, dan Abri segera meninggalkan area parkiran dan langsung menuju kelasnya.
Di kelasnya Abri tidak lagi sebangku dengan Ramli, ia memilih pindah dan bertukar tempat duduk dengan temannya. Tentu saja ia melakukan itu agar tak selalu berinteraksi dengan Ramli.
Akhirnya sekolah hari itu berakhir juga. Abri pun segera melangkahkan kakinya untuk pulang. Di parkiran ia tak sengaja bertemu lagi dengan Isya. Dan Abri pun kembali memanggil Isya, akan tetapi Isya tak bergeming sedikitpun. Dan berlalu begitu saja. Abri hanya bisa menatap kepergian Isya. Kemudian ia pun langsung menuju motornya dan segera pulang juga.
Sesampainya di rumah, Abri langsung membersihkan dirinya kemudian makan siang. Saat Abri tengah makan, terlihat Ramli baru sampai di rumah. Hampir setiap hari Ramli selalu pulang terlambat, tetapi berangkat lebih awal, apalagi kalau bukan karena kegiatan barunya yaitu mengantar jemput Desy.
Kemudian Abri pun cepat-cepat menghabiskan makanannya dan segera kembali ke kamarnya. Lebih baik ia menunggu Ramli selesai makan di dalam kamarnya daripada harus makan satu meja dengan Ramli pikirnya. Abri memang sedang menunggu Ramli untuk memberitahukan kejadian siang tadi antara dirinya dengan Isya.
Sebentar-sebentar Abri pun menengok ke kamar Ramli untuk memastikan apakah si empunya kamar sudah masuk ke dalam kamarnya. Dan akhirnya si empunya kamar pun sudah menyelesaikan aktifitas makan siangnya dan masuk ke dalam kamar. Tanpa menunggu lama lagi, Abri pun langsung menyusul Ramli ke kamarnya.
__ADS_1