
Pagi ini cuaca terlihat sangat cerah, mentari pagi tanpa ragu memancarkan sinarnya dari ufuk timur. Suara merdu burung berkicau membuat suasana pagi ini menjadi lebih ceria dan bersemangat. Serta suara gemericik air dari dalam aquarium milik Pak Asran pun menambah kesegaran pagi ini.
Isya pun berharap kali ini harinya pun kembali cerah dan ceria seperti suasana pagi ini. Meskipun ia harus berusaha keras agar keinginannya itu tercapai, mengingat kemarin ia mengalami kejadian yang kurang mengenakkan bahkan sangat menyakitkan.
Ia harus berusaha tegar bila seandainya saja ia nanti bertemu atau menyaksikan sendiri kebersamaan orang yang dahulu pernah mengisi hari-harinya dengan orang lain yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri lebih tepatnya mantan sahabat. Ya ia harus rela dan ikhlas jika nanti melihat mantan sahabat dan mantan kekasihnya bersama. Ia juga harus menerima tatapan mata kasihan dari orang-orang untuk dirinya. Sejujurnya itulah yang membuat dirinya malas untuk bertemu banyak orang, ia tidak ingin dikasihani orang-orang karena kisah hidupnya yang begitu dramatis. Tapi tampaknya ini juga yang akan dimanfaatkan Isya untuk membuat mental rivalnya menjadi anjlog.
Setelah sarapan pagi, Isya dan adiknya berpamitan pada kedua orang tua mereka untuk berangkat ke sekolah. Sebelum menuju sekolahnya, Isya mengantarkan dulu adiknya sekolah karena kebetulan sekali sekolah Isya melewati sekolah Nuri.
Di sekolah Isya, berita tentang putusnya hubungan Isya dengan Ramli karena adanya pel*kor yang tak lain adalah sahabatnya sendiri sudah menyebar dengan cepat. Entah dari mana berita itu menyebar, yang jelas saat ini semua teman-teman Isya rata-rata telah mengetahuinya.
Seperti dugaan Isya, setibanya di sekolah ia sudah disambut oleh banyak pasang mata yang menatap kasihan padanya. Tak jarang banyak yang memberikan ucapan berupa kata-kata penyemangat untuk dirinya. Dan tak jarang dari mereka yang menghujat Desy dan Ramli di hadapan Isya.
Isya pun hanya membalas dengan senyuman dan mengiyakan kata-kata mereka serta berterima kasih atas perhatian dan simpati dari mereka semua. Sebenarnya Isya malas sekali jika ia harus jadi topik pembicaraan. Ingin rasanya ia pergi dengan masuk ke dalam lubang semut saat ini juga agar tak terlihat oleh orang-orang. Tapi apalah daya ia hanya bisa pasrah saja. Toh mereka semua bukan menggunjing keburukannya, mereka malah berada di pihaknya saat ini menurut Isya. Dan tentu saja itu hal yang sangat menguntungkan untuknya.
Sementara itu hal berbeda pun di dapatkan oleh Desy. Jika Isya mendapatkan dukungan dan simpati dari teman-temannya, maka Desy mendapatkan cibiran dan hujatan dari teman-temannya. Tak sedikit dari mereka yang menyindir-nyindir Desy jika dirinya adalah pela*kor. Hanya teman sebangku dari Desy saja yang bersedia menemaninya yang bernama Leni.
Pada saat jam istirahat, Desy dan Leni sama-sama menuju kantin sekolah. Sepanjang jalan menuju kantin, Desy mendapat tatapan mata sinis dari teman-temannya yang seakan memandang hina dirinya. Namun Desy tetaplah Desy, dia tetap percaya diri dan menganggap tak melihat semua orang-orang yang telah berpapasan dengannya. Ibarat an*ing menggonggong tapi kafilah tetap berlalu.
Sesampainya di kantin, ada salah satu teman mereka yang terang-terangan menyindir-nyindir Desy.
"Heh, kalian yang pada punya pacar sebaiknya hati-hati deh ya, karena di sekolah kita ini ada bibit pe*akor," ujarnya.
__ADS_1
"Ih takut, jangan sampe deh," ujar yang lain menyahuti.
Awalnya Desy hanya bersikap cuek dan santai saja. Ia tak menanggapi sindiran-sindiran dari orang-orang untuk dirinya. Bahkan menganggapnya hanya angin lalu saja. Sampai ketika ada salah satu orang gadis dari suatu kelompok di kantin itu bertanya sesuatu pada Leni yang membuat Desy mulai emosi.
"Heh, Len. Kamu kok masih mau sih temanan sama dia?" tanya orang itu seraya menunjuk Desy.
"Heh, kenapa memangnya kalau Leni masih mau temanan sama aku? Masalah apa buat kamu?" tanya Desy sedikit menaikkan suaranya.
"Nggak sih, cuma mau ngasih tau aja kalau Leni harus lebih ekstra hati-hati jagain pacarnya karena temannya ini seorang pe*akor yang nggak pandang teman," jawab gadis itu.
"Ya teman makan teman," ujar yang lain menimpali.
Seketika Desy pun hendak mena*par gadis itu namun keburu tangannya dipegang oleh salah satu teman dari gadis itu. Dan Desy pun bertambah emosi dibuatnya karena dia tidak bisa melampiaskan kemarahannya pada gadis itu.
Mereka pun kemudian akhirnya pergi dari kantin itu setelah membayar makanan yang tak habis mereka makan pada ibu kantin.
Tak lama setelah kepergian orang-orang itu Desy pun hendak pergi juga meninggalkan Leni sendiri.
"Loh kamu mau kemana, Des?" tanya Leni.
"Mau ke toilet," jawab Desy.
__ADS_1
"Lho ini makananmu belum habis, mubazir tau," ucap Leni.
"Buat kamu aja, aku sudah kenyang," sahut Desy sambil berlalu dari hadapan Leni.
Tujuan Desy tak lain adalah toilet. Sesampainya di sana, toilet sedang sedikit ramai. Ada beberapa teman seangkatannya. Desy juga bertemu dengan Isya yang kebetulan sedang menemani Ratna. Dan kemudian kejadian seperti di kantin tadi pun terulang kembali. Karena gosip yang sudah menyebar, walaupun bukan teman satu kelas dengan Desy dan Isya mereka pun akan mengetahuinya juga. Mereka semua memandang sinis pada Desy saat ia masuk ke dalam toilet.
"Teman-teman ayo cepat! Di sini ada hama, buruan kita keluar!" titah salah satu dari mereka.
"Iya, ih sumpah naji* banget kalau sampai kesenggol, bisa-bisa dicuci pakai tanah 7 kali nih," sahut yang lain lagi.
"Sya, ayo keluar!" ajak Ratna.
"Nanti kita ketularan sama gatelnya ulat keket lho kalau lama-lama di sini," imbuhnya lagi.
Isya pun tak menyahut, ia hanya menganggukkan kepalanya saja kemudian tersenyum sinis pada Desy yang terlihat sangat kesal dan emosi karena sindiran dari teman-temannya itu.
"Kalian bisa diam nggak?" tanya Desy dengan suara yang sedikit naik.
"Nggak," jawab mereka kompak.
"Nggak usah ikut campur sama urusan yang nggak ada hubungannya sama kalian!" ucap Desy.
__ADS_1
"Oh ya, takut," jawab salah satu di antara mereka.
"Udahlah teman-teman nggak usah diladeni, mending kita keluar sekarang!" ajak Isya berlagak menengahi padahal dalam hatinya senang bukan main. Karena ia tak perlu repot-repot untuk membalas perlakuan Desy, toh Desy sudah kena mental dengan perlakuan dari teman-temannya yang tak suka dengan perbuatan Desy yang telah merebut Ramli darinya.