
Setelah sarapan di rumah nenek, Yanti dan Diana bergegas untuk pulang, karena hari ini bibi mereka sudah pulang maka mereka tidak menginap lagi.
"Di, ntar malam aku nginep di rumahmu yah," ucap Yanti saat mereka sudah di jalan, Yanti mengantarkan Diana pulang.
"Tak boleh," ucap Diana sambil menirukan suara u*i* *p*n.
"Lho kenapa, wuih pelitnya pang," ucap Yanti.
"Ha ha ha," Diana terbahak.
"Halah palingan kamu mau tanya-tanya soal yang tadi kan? Dasar kepo," tambah Diana lagi.
"Emang, kalau kamu gak bolehin ntar kuturunin di sini lho, biar kamu jalan kaki aja pulangnya," ancam Yanti.
"Idih pake ngancam segala," sahut Diana.
"Biarin, biar kamu dikejar a*j**g galak punya Pak Petrus tuh ha ha ha," ucap Yanti menakuti Diana.
"Guk guk guk,"
"Tuh kan, berani kamu jalan kaki sendiri?" tanya Yanti.
"Iya deh boleh dari pada aku jalan kaki," ucap Diana sambil bergidik ngeri, karena dia pobhia sekali dengan makhluk yang satu itu.
Sesampainya di rumah Diana, Yanti langsung pulang karena banyak pekerjaan rumah yang belum diselesaikannya.
"Aku langsung pulang ya, ntar sore aku ke sini, salam aja sama Bibi dan Paman," pamit Yanti.
"Ok, ehm tapi biarpun kamu gak ke sini juga gak apa-apa kok sebenarnya," goda Diana ingin mengerjai Yanti.
__ADS_1
"Ooh kurang asem, mentang-mentang sudah nyampe rumah laluai berubah lagi pikirannya, tetap ke sini aku pokoknya,awas aja ya," ancam Yanti.
"Ha ha ha," Diana terbahak melihat reaksi Yanti.
"Ya udah sana pulang, hus hus hus," lanjutnya.
Yanti pun segera pulang.
"Assalamualaikum," salam Diana begitu memasuki rumah yang tampak sepi.Ternyata ibunya sedang berada di dapur tengah mencuci pakaian.
"Lho kok sudah pulang, Di?"tanya ibunya.
"Iya, Bu. Nanti siangkan Bi Rani pulang jadi Diana sudah bisa pulang sekarang," jelas Diana.
"Kok sepi, Bu. Pada ke manaan semua?" tanya Diana.
"Bapak lagi istirahat di kamar, Nuri lagi main sama teman-temannya di rumah Santi, Kak Isya sendiri pergi ke sekolahannya tadi," jawab ibu.
"Iya katanya sih mau ada kegiatan pramuka di SMP, jadi para penegaknya disuruh membimbing yang masih penggalang," jawab Ibu Rahmi.
Ya Isya memang tergolong aktif dalam kegiatan kepramukaan, dia sudah beberapa kali mengikuti kegiatan perkemahan pertemuan penegak dan pandega sampai tingkat daerah.
"Oh seperti itu, wah pasti ramai dong di SMP tu nanti bu," ucap Diana.
"Ya iyalah," sahut ibunya.
"Kita mau masak apa hari ini, Bu?" tanya Diana.
"Kita nyayur santan nangka aja, sama goreng ikan layang, ikannya ada di kulkas sudah ibu siangi tinggal di goreng aja," ucap ibunya.
__ADS_1
"Ok deh, Bu," sahut Diana.
Diana dengan senang hati membantu ibunya memasak, selain itu sebenarnya memasak memang hobinya. Sedari masih duduk di bangku SD Diana sudah sering membantu ibunya memasak, jauh berbeda sekali dengan Isya, bahkan kalau saat libur sekolah selalu dia yang memasak, sehingga ibunya merasa senang jika ada dia di rumah karena tugasnya memasak sudah diambil alih oleh Diana. Selain itu Diana juga rajin melakukan pekerjaan rumah yang lainnya, membuat ibunya merasa tenang melepas Diana ikut tinggal dengan tantenya tanpa khawatir jika anaknya itu akan dinilai orang jelek karena malas. Ibunya selalu mengingatkan Diana jika kita tinggal ikut dengan orang itu harus bisa bawa diri, nggak boleh seenaknya seperti tinggal di rumah sendiri. Itulah pesan ibunya yang selalu di ingat oleh Diana.
Setelah selesai berperang di dapur dengan peralatan masak, dan menyajikannya di atas meja, Diana pun segera mandi, dan sebentar lagi sudah masuk waktu salat Dzuhur.
Saat mereka tengah makan siang bersama, tiba-tiba terdengar suara salam dari arah luar, setelah dilihat ternyata kakaknya Diana yang baru saja pulang dari sekolahnya.
"Baru pulang, Sya?" tanya ibu.
"Kalau baru ada di sini ya baru pulang artinya, Bu," sahut Isya.
"Isya kamu nggak bisa sopan sedikit apa kalau menyahuti orang tua?" tanya Pak Asran.
"Iya maaf," ucap Isya.
"Ngomong sama orang tua kok kaya sama teman aja itu nah," lanjut bapaknya.
"Ih kan Isya udah minta maaf Pak," jawab Isya.
"Sudah-sudah Pak biarin aja, lanjut lagi sudah makannya!" ucap Bu rahmi menenangkan suaminya.
"Sudah sana Sya cuci kaki cuci tangan terus makan!" titah Bu Rahmi.
Diana dan adiknya hanya diam saja menyaksikan kejadian di meja makan tadi, bukan karena tidak peduli tapi lebih karena takut jika salah berbicara hanya akan menambah runyam saja.
Setelah selesai makan Diana langsung mencuci piring, kemudian beristirahat ke kamarnya. Baru sesaat dia memejamkan mata seketika dia teringat akan kejadian tadi pagi di pasar yang membuatnya membuka matanya kembali. Kegiatannya hari ini yang lumayan sibuk membuat dia terlupa akan ungkapan hati Ibnu tadi pagi.
Dia pun segera bangkit dan berjalan menuju meja belajarnya mengambil sebuah buku bersampul tebal berwarna biru. Ya itu adalah sebuah buku diary miliknya pemberian dari sahabatnya yang bernama Christy. Sahabatnya itu tahu jika Diana senang menulis sehingga ia sengaja memberi kado buku diary ketika Diana berulang tahun yang ke-16. Mereka bersahabat semenjak dari TK hingga sekarang ketika mereka sama-sama bersekolah di SMK yang sama mereka tidak pernah berpisah.
__ADS_1
Di sanalah Diana sering mencurahkan isi hatinya, semua kejadian baik itu suka maupun sedih selalu dia tuangkan dalam buku diarynya itu. Terkadang dia pun sering membaca buku diarynya itu jika ada waktu luang, kadang dia tersenyum saat membacanya bahkan tertawa terbahak jika ada kejadian yang lucu dan kadang dia juga bersedih jika membaca kejadian yang kurang mengenakkan. Itulah keseruannya jika mempunyai buku diary menurut Diana. Dan saat ini pun dia ingin menuliskan kejadian tadi pagi di bukunya itu. Tentang ungkapan hati Ibnu yang sedikit membuatnya syok. Ibnu yang diketahuinya adalah teman kakaknya yang lumayan sering ke rumahnya untuk bertemu kakaknya ternyata menyukai dirinya. Sebenarnya dia trauma dengan kejadian saat dengan Pangkis dulu, yang dia takutkan kalau seandainya kakaknya mempunyai hati dengan Ibnu juga karena seringnya mereka bersama karena isi hati seseorang kita nggak ada yang tahu meskipun itu saudara sendiri. Seperti kata pepatah dalamnya laut dapat diukur tapi dalamnya hati siapa yang tahu. Itulah yang selalu Diana jaga, dia tak ingin menyakiti kakaknya kalau saja prasangkanya benar. Makanya sekarang dia jarang sekali ikut berkumpul dengan teman-teman kakaknya kalau mereka datang berkunjung, berbanding terbalik dengan dulu, dia selalu ikut nimbrung dengan teman-teman kakaknya jika mereka datang yang membuat dia banyak dikenal oleh teman-teman kakaknya itu.