Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Realita tak Sesuai Ekspektasi


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah Diana, mulut Ibnu tak berhenti komat-kamit, entah doa atau amalan apa yang dirapalkannya, yang jelas dia berupaya agar hatinya tidak gelisah.


Dan akhirnya motor Ibnu pun berhenti tepat di depan rumah Diana. Sebelum masuk ke dalam, terlebih dahulu dia bercermin di kaca spion motornya, memastikan kalau dia masih terlihat keren.


"Tok tok tok,"


"Assalamu'alaikum," ucap Ibnu.


"Tok tok tok,"


"Assalamuaikum," ucap Ibnu lagi tetapi belum juga ada sahutan dari dalam rumah, sementara degup jantung Ibnu sudah tak beraturan semenjak tadi menunggu sang pujaan hati membukakan pintu. Sembari menunggu pintu dibuka Ibnu memilih duduk di kursi yang ada di teras rumah Diana untuk menormalkan degup jantungnya. Dia menarik napas panjang lewat hidung kemudian mengeluarkannya lewat mulut beberapa kali, tepat seperti orang yang akan melahirkan saja.


Sementara di dalam rumah, Isya dan Nuri sedang menonton acara di TV. Diana sendiri sedang berada di dalam kamarnya, bapaknya sedang shift malam, sedangkan ibunya Diana sedang menghadiri pengajian rutin malam Jum'at.


"Kak kok kaya ada suara orang assalamualaikum ya diluar?" tanya Nuri pada Isya.


"Ah masa sih, coba kamu lihat!" ucap Isya.


"Nggak mau ah takut, Kakak aja, Kakak kan lebih besar dari Nuri, masa nyuruh Nuri yang lebih kecil, nanti kalau tante kun gimana? Ini kan malam Jum'at," Nuri beralasan panjang lebar agar dia tidak membuka pintu depan.


"Ah kamu ini banyak alasan, bilang aja malas," sahut Isya sambil beranjak menuju pintu depan rumahnya. Sebelum membuka pintu terlebih dahulu dia mengintip di balik gorden, setelah memastikan apa yang telah di lihatnya ternyata bukan tante kun seperti yang ditakutkan Nuri, Isya pun segera membuka pintu.


"Ooh ada orang toh sekalinya disini," ucap Isya.


Ibnu yang tidak konsen karena sibuk mengatur ritme jantungnya pun mendadak terkejut karena suara Isya yang tiba-tiba.


"Astaghfirullahaladziim Isya, ngagetin aja kamu nih," ucap Ibnu.


"Kenapa kaget, perasaan aku biasa aja ngomongnya, nggak ngagetin kok," sanggah Isya.


"Kamunya aja yang ngelamun, ya kan?" tanya Isya.


"He he he, iya juga sih," ucap Ibnu.


"Ngomong-ngomong ngapain nih kesini?" tanya Isya. "Sendirian pula, biasanya sama-sama bubuhannya," imbuh Isya.


"Ehm...." Ibnu menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.


"Kamu kutuan ya, kok garuk-garuk kepala gitu ha ha ha?" tanya Isya kemudian tertawa.


"Ish sorry-sorry mana ada aku kutuan," jawab Ibnu kesal.


"Terus kenapa, ada apa dan mengapa tiba-tiba kamu kesini nggak ngasih kabar dulu, biasanya kamu wa aku dulu kalau mau kesini?" tanya Isya panjang lebar.


"Ehm, sebenarnya aku ke sini mau cari Diana sih," ucap Ibnu pada akhirnya.


"Ooh cari Diana toh, masih urusan yang waktu itu juga, yang kamu nggak mau kasih tau aku kenapa," ucap Isya.


"Iya sih, Diananya ada nggak?" tanya Ibnu.


"Ehm, ada nggak ya?" Isya memegang dagunya dengan telunjuknya seolah-olah berfikir.


"Ish kelamaan, cepet panggilin kalau ada!" ucap Ibnu sudah tak sabar.


"Idih kok maksa sih kamu Nu," ucap Isya.


"Wah jadi curigation nih aku," lanjut Isya sambil tersenyum penuh makna.


"Ah terserah kamu deh Sya, udah cepetan panggilin Diananya!" ucap Ibnu.


"Iya-iya nggak sabar amat sih," sewot Isya.


Sementara itu yang sedari tadi dicari oleh Ibnu sedang asyik di kamarnya, seperti biasa dia akan menulis semua hal yang dialaminya dalam satu hari di dalam buku hariannya. Kali ini dia menuliskan tentang pertemuannya dengan Abri yang tak disengaja, dan insiden yang tak terduga tadi pagi, dia pun senyum-senyum sendiri bila mengingat kejadian itu. baru kali itu dia sedekat itu dengan lawan jenis, jantungnya serasa berhenti berdetak.


"Ah mikir apaan sih aku," ucap Diana dalam hati.


"Kreeek,"

__ADS_1


Suara pintu yang tiba-tiba terbuka membuat Diana terkejut dan spontan membereskan bukunya dan menaruhnya ditempat yang aman.


"Eh kak Isya ngagetin aja deh, kenapa?" tanya Diana.


"Kamu lagi ngapain kok kaget banget kayanya?" Isya balik bertanya.


"Nggak ngapa-ngapain sih, kenapa emangnya kok tiba-tiba cari aku?" tanya Diana.


"Itu ada yang cariin kamu diluar tuh!" sahut Isya.


"Hah, siapa yang cari aku?" tanya Diana kaget.


"Biasanya juga Kakak yang sering dicari orang," imbuh Diana.


"Lihat aja sendiri noh diluar!" sahut Isya.


"Ihs gitu aja nggak mau ngasih tau sih," ucap Diana sembari beranjak keluar kamar menuju ke teras depan rumahnya.


Dan begitu dia mengintip dari balik gorden, dia pun langsung terlonjak kaget, lalu dengan segera membalikkan tubuhnya membelakangi gorden sambil memegang dadanya yang berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta, tapi lebih kepada bagaimana caranya menghadapi Ibnu, mengatakan jawabannya jika Ibnu memintanya.


"Duh bagaimana ini kalau Kak Ibnu minta jawabannya sekarang? Aku kok jadi canggung ya sekarang sama dia, padahal biasanya juga enggak, ah hadapi sajalah dulu," ucapnya dalam hati karena takut kalau terdengar oleh Isya ataupun Ibnu.


"Lho kok nggak cepet keluar Di, itu Ibnu sudah nunggui kamu lho dari tadi," ucap Isya yang membuat ritme jantung Diana bertambah kencang karena terkejut.


"Ih Kak Isya nih dari tadi sukanya bikin kaget terus," ucap Diana kesal.


"Ya habisnya kamu ngapain sih kok dari tadi kaget terus, perasaan aku ngomongnya biasa aja nggak ngagetin, sama kaya Ibnu kamu nih, janjian ya jadi tukang kaget?" tanya Isya heran.


"Huh ngawur aja, mana ada, semberangkangan," ucap Diana sewot.


"s e m b a r a n g a n bukan semberangkangan Diana!" ucap Isya protes.


"Terserah deh, aku mau keluar dulu aja," ucap Diana yang akhirnya pasrah akan keluar juga, karena biar ditunda pun pasti akhirnya akan dihadapi juga, bagaimanapun juga masalah itu harus dihadapi bukan dihindari pikir Diana.


"Huuuh," Diana menghembuskan napas kasar. "Bismillahirrohmaanirrohiim," ucapnya kemudian.


Deg


Ibnu yang sedang melamun pun terkejut mendengar suara Diana, ritme jantungnya kembali tak normal.


"Iya, kenapa Diana, kamu tanya apa tadi?" tanya Ibnu


"Kak Ibnu melamun ya sampe kaget gitu kayanya denger suara Diana," tebak Diana.


"He he he, iya juga sih sedikit," jawab Ibnu.


"Kata Kak Isya tadi Kak Ibnu cari Diana, ada apa?" Diana mengulang pertanyaannya.


"Duh ni orang lupa atau pura-pura lupa sih sama ucapanku kemarin pagi," batin Ibnu. Dan Ibnu pun jadi gugup, bingung harus bicara apa sama Diana. Dan belum sempat Ibnu berbicara, pintu tiba-tiba terbuka dan tampaklah Isya keluar dari balik pintu membawa segelas teh hangat untuk Ibnu. Setelah memberi segelas teh di hadapan Ibnu, Isya pun tak langsung pergi, tetapi dia ikut nimbrung bersama Ibnu dan Diana, dan tentu saja hal itu membuat Ibnu merasa terganggu, tetapi tidak halnya dengan Diana yang merasa terselamatkan.


"Lho kamu ngapain di sini Sya, ikut nimbrung segala, ganggu aja deh," ucap Ibnu sebal.


"Ooh jadi sekarang aku ganggu nih, biasanya juga kalau Diana ikut nimbrung sama bubuhan kita nggak apa-apa, kok sekarang giliran aku yang nimbrung malah nggak boleh sih?" tanya Isya kesal.


"Bukannya gitu Sya, kan kamu tau sendiri kalo ada orang sedang berdua saja maka yang ketiganya itu adalah..." belum sempat Ibnu melanjutkan kalimatnya Isya sudah memotongnya.


" s*t*n*" sambung Isya.


"Nah itu kamu tahu," sahut Ibnu.


"Jadi maksud kamu aku yang ketiganya gitu?" tanya Isya sebal.


"Bukan aku lho yang bilang Sya," ucap Ibnu.


"Ah udah ah mending aku masuk aja daripada di sini jadi obat nyamuk aja," ucap Isya kesal sembari beranjak masuk ke dalam rumah.


"Nah gitu dong dari tadi kan cakep," balas Ibnu.

__ADS_1


"Ih Kak Ibnu apaan sih, malah bagus kan ada Kak Isya di sini jadi nggak jadi fitnah nantinya," ucap Diana.


"Sorry Di, ini sedikit pribadi sih masalahnya, orang Dani aja tadi mau ikut enggak kubolehin kok," ucap Ibnu.


"Jadi tadi Kak Dani mau ikut kesini?" tanya Diana.


"Iya, ya sudah nggak usah dibahas, kita kembali kebahasan awal aja!" ucap Ibnu.


"Ehm, gini aku mau tanya jawabanmu soal yang kemarin pagi aku bilang, waktu kita ketemu di pasar," ucap Ibnu yang akhirnya memberanikan diri bertanya pada Diana.


Deg


"Tuh kan bener, dia minta jawaban tentang yang kemarin," batin Diana.


"Ooh yang itu, yang tiket nonton Kejuaraan Dunia Bu*u t"n*k*s itu?" tanya Diana pura-pura lupa, sebenarnya dia tahu arah pembicaraan Ibnu, tapi dia sengaja mengalihkannya agar suasana yang menurutnya tegang menjadi santai.


"Ha ha ha kamu itu ngada-ngada aja, mana ada tiket itu dijual di warung naskunnya Acil Galuh," sahut Ibnu yang diselingi tawa agar dia tak terlihat gugup dihadapan Diana.


"Ha ha ha," Diana pun ikut tertawa.


"Kamu lupa atau pura-pura lupa sih Di?" tanya Ibnu serius.


"Hah kok jadi kaya lagu ya," sahut Diana yang terus bercanda menanggapi ucapan serius dari Ibnu.


"Ish kamu ni bercanda terus, Kakak serius Di," kali ini wajah Ibnu tampak benar-benar serius yang membuat Diana langsung terdiam. Melihat pujaan hatinya langsung terdiam membuat Ibnu tak enak hati dan dia pun langsung meminta maaf pada Diana.


"Jadi gimana jawabanmu tentang perasaan Kakak kemarin pagi itu?" tanya Ibnu lemah lembut.


"Lho Kak Ibnu serius tentang perasaan Kakak itu?" kali ini Diana yang tampak serius.


"Iya aku serius, kamu pikir aku bercanda," sahut Ibnu.


Diana masih terdiam.


"Jadi gimana, kamu mau nggak jadi orang yang spesial buat aku?" Ibnu pun akhirnya mengulangi pertanyaannya yang kemarin.


"Ehm, gimana ya? Aku...aku nggak bisa Kak," ucap Diana gugup.


Ibnu masih terdiam dengan memasang wajah melas setelah mendengar jawaban dari Diana, dia berharap ada kelanjutan dari ucapan Diana tersebut, yang ada dipikiran Ibnu biasanya kalau di drama-drama itu pasti ceweknya ngasih prank dulu dengan jawaban enggak bisa, baru setelah melihat cowoknya sedih si cewek pasti melanjutkan ucapannya dengan berkata kalau dia enggak bisa nolak si cowok. Ya itulah harapan besar Ibnu terhadap Diana. Tapi realita tak seindah ekspektasi. Ibnu menelan pil pahit karena Diana benar-benar menolaknya dengan alasan hanya menganggapnya seperti kakak saja.


"Maaf ya Kak," ucap Diana.


"Iya nggak papa Di, aku senang kamu bicara jujur," jawab ibnu.


"Iya aku nggak mau bohongi Kakak dengan bilang mau padahal aku sendiri nggak bisa, sekali lagi maafin Diana ya Kak," ucap Diana tulus.


"Ia nggak papa Di, santai aja, tapi kita masih bisa berteman kan kaya dulu?" tanya Ibnu.


"Ya bisalah Kak, kenapa juga nggak bisa," sahut Diana.


"Syukur deh kalau gitu," ucap Ibnu.


Kemudian mereka pun ngobrol santai, sampai tak lama Ibu Rahmi pulang dari pengajian, secara kebetulan lagi Bu Rahmi mengenakan gamis berwarna putih seragam dengan jilbabnya yang berwarna putih pula. Bu Rahmi pun menghampiri mereka, karena Ibnu menghadap ke arah Diana jadi dia tak menyadari kalau ada sosok Ibu Rahmi mendekat ke arah mereka, dan benar saja begitu bayangan tubuh Bu Rahmi mendekat, sekilas Ibnu dapat menangkap bayangan itu dari samping tubuhnya, dan begitu dia menoleh, alangkah terkejutnya dia melihat penampakan Bu Rahmi yang serba putih, sontak dia langsung berteriak kaget sampai-sampai terjatuh dari kursi yang dudukinya.


Tentu saja reaksi Ibnu itu membuat seisi rumah kaget sampai-sampai Isya dan Nuri yang lagi asyik menonton TV pun keluar karena terkejut, takut kalau-kalau terjadi apa-apa di luar.


Dan begitu mereka keluar, mereka langsung bertanya ada apa, setelah mendengar penjelasan dari Diana mereka pun tertawa terpingkal-pingkal sampai-sampai perut mereka sakit.


"Astaga Ibnu Ibnu, masa gitu aja kaget sih, ha ha ha ha," ucap Isya yang masih saja tertawa sampai mengeluarkan air mata, begitu pula dengan Diana, ibu serta adiknya. Sungguh apes sekali nasib Ibnu malam ini, sudah ditolak eh malah ketahuan kalau dia penakut, malunya jadi double. Ibnu hanya bisa terdiam dan tersipu malu.


Dan setelah semuanya tenang, akhirnya Ibnu pun pamit pada Diana dan keluarganya, dia pulang dengan perasaan yang bertambah galau.


"Ah apes-apes, bener-bener deh malam ini aku sial, ahhhh, kenapa realita tak sesuai ekspektasi sih," gumam Ibnu sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya.


...****************...


Jangan lupa kasih like, vote n komen nya donk biar author receh ini semangat ngehalu, thanks readers....

__ADS_1


__ADS_2