
Sore hari ini Yanti sudah pergi ke rumah Diana untuk menginap di sana.
"Assalamualaikum, apa ada orang di rumah?" ucap Yanti setelah mendapati rumah Diana sepi. Dia pun berinisiatif untuk masuk sendiri karena pintu tidak terkunci. Sesampainya di dalam rumah pun masih tampak sepi, akhirnya dia sampai ke bagian belakang rumah Diana dan menemukan semua penghuni rumah sedang berkumpul di belakang.
"Owalah, di sini to rupanya semua, pintu depan mangka nggak dikunci, kalau ada maling gimana nih, nggak ada yang tahu," ucap Yanti.
"Astaghfirullah kamu ini mengagetkan saja Yan-Yan, aturan ngucapin salam dulu ini malah enggak," ucap pak Asran.
"Sudah tadi, Man. Tapi nggak ada yang nyahuti, ya sudah Yanti langsung masuk aja langsung kebelakang," sahut Yanti.
"Tumben paket komplet hadir semua manusianya," ujar Yanti lagi.
"Kenapa emang, nggak boleh?" sahut Diana.
"Boleh sih tapi heran aja," sahut Yanti.
"Yang heran itu seharusnya kami, tumben kamu mau nginep di sini biasanya juga nggak pernah," sahut ibu Rahmi.
"Jadi nggak boleh nih?" sahut Yanti berlagak ngambek dengan memajukan bibirnya.
"Eh tuh bibir tolong dikondisikan ya, kalo kepanjangan nanti kupotong, mau?" tanya Diana.
"Eh sembarangan awas kamu ya, kalau ku kasih tahukan sama....." ucap Yanti sambil melirik paman dan bibinya.
Diana pun langsung menutup mulut Yanti dengan lima jarinya dan memelototinya. Tentu saja aksi spontan Diana itu langsung memicu pertanyaan dari bapak dan ibunya.
"Kasih tau apa, Yan?"tanya Pak Asran.
"Enggak kok, Man. Cuma ngerjai Diana saja," sahut Yanti.
"Ooh kirain ada apa," ucap Pak Asran
"Di, tadi malam si Ibnu ke sini tuh ncari kamu, tapi kamunya nggak ada,," kata Isya.
"Ooh, mau ngapain memangnya, Kak?" tanya Diana pura- pura tidak tahu.
"Enggak tau juga, aku tanya dia ada perlu apa tapi dia nggak mau jawab,," sahut Isya.
__ADS_1
"Oooh, ya udahlah biarkan saja," kata Diana.
"Aku jadi curiga nih," ucap Isya sambil memegang dagunya dengan jari telunjuk seolah-olah berfikir.
"Nggak usah curiga-curiga nanti jatuhnya su'uzhon loh," ucap bapaknya.
"Iya tahu nih Kak Isya ada-ada aja deh," sahut Nuri ikut nimbrung.
"Sssttt anak kecil dilarang ikut nimbrung!" kata Isya yang membuat Nuri langsung manyun.
"Eh Kak, benerankah kalau di SMP mau ada kemah Pramuka?" tanya Diana.
"Iya mau ada perjusami (perkemahan Jum'at Sabtu Minggu)," sahut Isya.
"Asik dong, apalagi sama sama ayang mbeb," sahut Yanti.
"Gayamu Yan-Yan kaya tahu aja ayang mbeb," sahut Isya.
Setelah lama ngobrol mereka akhirnya membubarkan diri, karena sebentar lagi adzan Magrib. Sehabis salat mereka makam malam bersama, masih dengan menu yang sama dengan tadi siang. Dan Yanti pun memandang Diana tak percaya kalau yang dia makan itu adalah hasil masakannya Diana.
"Wuih benar-benar calon istri idaman nih sepertinya kamu Di nggak salah kalau....." belum sempat Yanti melanjutkan ucapannya Diana langsung buru-buru menyumpal mulutnya dengan potongan ikan yang sengaja diberinya sambal, dan Yanti pun langsung melotot dan memerah wajahnya karena kepedasan. Seisi ruangan pun langsung tertawa melihat ekspresi wajah Yanti.
Selesai makan malam mereka pun berkumpul di ruang tengah, sementara pak Asran akan berangkat kerja, karena malam ini beliau masih bertugas shift malam. Dan setelah itu melaksanakan salat Isya di kamar masing-masing.
Yanti yang sudah tak sabar dengan penjelasan dari Diana pun langsung bertanya setelah selesai sholat Isya.
"ssssstttttt, sabar kenapa sih!" ucap Diana sambil merapikan mukenanya.
"Kok bisa sih Kak Ibnu suka sama kamu Di?" tanya Yanti penasaran.
"Ish mana aku tahu," sahut Diana.
"Tapi biasa sih itu secara aku kan cantik gitu, terus imut, lucu, ngegemesin, baik hati tidak sombong dan rajin menabung," tambah Diana sambil cengengasan.
"Ih itu kan menurutmu aja,," sahut Yanti sebal.
"Eh tapi kenapa ya cowok yang nembak kamu kok nggak ada yang romantis-romantisnya gitu, si pakis haji nembaknya di jalanan, lha ini si Ibnu lagi nembaknya di pasar, aturan mah diajak jalan kek udah gitu dikasih surprise atau cincin, ya minimal dikasih bunga kek gitu kaya di drama-drama K*r*a gitu, ini enggak, ya gimana orang mau terkesan," omel Yanti panjang lebar.
__ADS_1
"Huh dasar pikiranmu itu kebanyakan nonton dra*o*," sahut Diana.
"Ha ha ha," Yanti pun tertawa.
"Sstt jangan nyaring-nyaring ketawanya," ucap Diana sebal.
"Jadi menurutmu gimana Yan, kalau nanti kak Ibnu minta jawabannya?" tanya Diana bingung.
"Ya kalau aku sih terserah gimana kamunya aja, kamu ada rasa nggak sama dia?" tanya Yanti.
"Ehmm, gimana ya?" Diana masih tampak berpikir. "Kayaknya enggak ada rasa deh Yan, aku biasa aja tuh kalau ketemu dia, nggak ada getar-getar yang kayak kamu bilang waktu itu," jelas Diana.
"Yakiiin...?" tanya Yanti memastikan.
"Iya, yakin sangat malah, selain itu aku malas ah jadian sama Kak Ibnu, dia kan banyak gebetannya sana sini, apalagi suka cari-cari perhatian sama adik kelasnya, terus dia juga kan termasuk cowok populer kalau di pramuka yang suka di dekati sama penggalang-penggalang yang masih SMP tuh," ucap Diana panjang lebar.
"Koh kok kamu tau sih, Di. D iam-diam kamu cari tahu tentang Ibnu ya?" ucap Yanti sambil menaik turunkan alisnya menggoda Diana.
"Ish mana ada, dia kan kakak kelas ku waktu SMP, teman satu angkatan sama kak Isya, jadi ya sedikit banyaknya ya aku pasti tahulah," sahut Diana membela diri.
"Dia memang dari dulu suka goda-godain aku, cuma ya aku cuek aja, ku anggap angin lalu saja, nggak mau sampai baper akunya," jelas Diana lagi.
"Oooh jadi seperti itu," ucap Yanti. Memang semenjak SMP Yanti tidak tinggal di kampung halamannya jadi dia tidak mengetahui banyak hal tentang Ibnu.
"Jadi gimana ngomongnya, Yan. Kalau aku nggak mau nerima dia?" tanya Diana bingung.
"Ya bilang aja kalau kamu nganggap dia cuma kakak saja, nggak lebih dari pada itu, kalau di paksakan nanti sama-sama sakit hati karena terbohongi, kamu membohongi Ibnu dengan bilang mau jadi pacarnya padahal kamu sendiri nggak ada rasa sama dia , dan juga kamu membohongi diri kamu sendiri," saran Yanti panjang kali lebar kali tinggi pula yang langsung di tanggapi dengan tepuk tangan oleh Diana.
"Wih, nggak nyangka ternyata sepupuku yang satu ini dewasa sekali pemikirannnya tidak sesuai umurnya," sahut Diana.
"Eh kalau mau muji ya muji saja nggak usah dijatuhi habis itu, kamu pikir aku masih bocil kaya Nuri noh," protes yanti.
"Idih ngambek, iya deh sorry sorry sepupuku yang baik dan cantik jelita tapi masih jomblo juga," ucap Diana .
"Itu mah sama aja jatuhnya," protes Yanti sembari menepuk jidatnya yang dibalas tawa oleh Diana.
Karena suara tawa mereka yang lumayan nyaring hingga terdengar sampai luar membuat ibu Rahmi datang dan menegur mereka agar jangan terlalu nyaring kalau ngobrol karena sudah malam setelah, itu Bu Rahmi langsung menyuruh mereka tidur dan tidak bergadang lagi.
__ADS_1
Setelah bertukar pikiran dengan Yanti Diana pun merasa sedikit lega, karena sudah yakin akan keputusannya untuk tidak menerima Ibnu menjadi kekasihnya, ya walaupun sedikit sakit untuk Ibnu tapi itu akan lebih baik dari pada harus berbohong.
Dan akhirnya Diana dapat tidur nyenyak malam ini dengan di temani Yanti lagi.