Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Abri Emosi


__ADS_3

Bel berbunyi pertanda sekolah hari ini telah berakhir. Para siswa di sekolah Isya bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing. Isya pun segera membereskan semua buku-buku dan peralatan tulisnya yang lain.


Setelah memberikan salam pada guru mereka, Isya dan teman-temannya pun meninggalkan ruang kelas, tentunya setelah guru mereka keluar terlebih dahulu.


Isya berjalan keluar menuju parkiran melewati kelas Desy. Kedua matanya masih memindai mencari sosok sahabatnya itu di dalam kelasnya, tetapi tak jua ia temukan. Otaknya masih berpikir keras mengapa Desy sekarang sangat sulit sekali di temui.


Tak hanya Desy yang sangat sulit sekali ditemui, Isya pun berpikiran bahwa Ramli pun sama sulitnya di temui seperti Desy. Sewaktu sepulang dari kantin tadi, sebelum menuju ke kelasnya Isya menyempatkan untuk mampir terlebih dahulu ke kelas Ramli. Tetapi hasilnya nihil. Ia juga tak mendapati Ramli berada di kelasnya. Sungguh hal yang sangat membagongkan menurut Isya, bahwa dua orang terdekatnya yaitu kekasih dan sahabatnya sendiri sekarang ini sama-sama jauh darinya. Tetapi ia tak pernah berpikiran jika hubungan dirinya dengan Desy yang menjauh dengan hubungan dirinya dengan Ramli yang juga menjauh ada sangkut pautnya. Ia begitu mempercayai sahabatnya dan kekasihnya itu, sehingga ia tak pernah berpikir sampai sejauh itu. Apalagi Desy yang sudah seperti saudara saja baginya tak akan mungkin bila sampai mengkhianatinya. Tetapi sayangnya itu hanya dipikiran Isya saja. Karena pada kenyataannya dua orang terdekatnya itu mampu mengkhianatinya.


Akhirnya Isya pulang dengan perasaan yang masih penasaran. Bahkan sekarang rasa penasarannya semakin bertambah. Pesan yang telah dikirimkannya semalam pun tak jua kunjung di buka oleh Desy.


Sesampainya di rumah, Isya pun langsung beristirahat di dalam kamarnya setelah makan siang. Ia pun kembali membuka ponselnya dan mengecek aplikasi berwarna hijau itu kalau-kalau saja pesannya sudah dibalas oleh Desy. Dan harapannya pun pupus setelah melihat pesannya masih belum juga berwarna biru walaupun sudah berconteng dua.


Ia pun memutuskan untuk menghubungi Desy via telpon saja, mungkin Desy tidak mengetahui jika ia telah mengiriminya pesan semalam karena notif pesannya pada mode silent. Dan mungkin saja jika ia melakukan panggilan telpon suara notifnya akan terdengar oleh Desy dan ia akan mengangkatnya, pikir Isya yang selalu berpikiran positif pada sahabatnya itu.


Tetapi sayang, sudah 3 kali ia mencoba melakukan panggilan telepon pada Desy namun tak jua diangkat oleh Desy yang membuat tanda tanya semakin besar di kepala Isya. Lama-kelamaan Isya pun berpikir jika Desy sengaja melakukannya.


Kemudian ia pun mencoba menghubungi Ramli dengan mengiriminya pesan. Ia menanyakan pada Ramli di mana keberadaannya sewaktu istirahat tadi. Kali ini pesannya pada Ramli malah hanya berconteng satu.


Karena lelah membuat Isya ketiduran di waktu yang sudah hampir mendekati salat Ashar itu.


...****************...

__ADS_1


Di lain tempat, Abri terlihat masih sangat geram dengan kelakuan Ramli. Ia pun memutuskan untuk pulang sendiri dari sekolah tadi, tidak berbarengan dengan Ramli seperti biasanya.


Mungkin ini arti dari senyuman yang diberikan Ramli waktu itu, saat ia menanyakan apakah Ramli sudah punya yang lain karena jarang terlihat bersama dengan Isya pikir Abri. Yang jadi pertanyaan Abri bahwa sejak kapan Ramli mempunyai hubungan dengan Desy. Jika Ramli sudah tidak memiliki kecocokan dengan Isya mengapa ia tak memutuskan Isya saja dari dulu sebelum dia mempunyai hubungan dengan Desy. Bukan seperti ini caranya, berselingkuh di belakang Isya dan yang lebih parahnya lagi gadis yang dipilih oleh Ramli adalah sahabat dari Isya sendiri.


Abri pun memutuskan untuk membicarakan ini pada Ramli nanti malam setelah semua kegiatannya hari ini selesai.


Malam hari pun tiba. Seusai makan malam dan salat Isya, Abri bergegas menuju kamarnya. Ia menyiapkan buku-buku apa saja yang akan dibawanya ke sekolah esok dan mengerjakan tugas rumahnya sebelum ia pergi ke kamar Ramli.


Setelah selesai semuanya, Abri pun segera melangkah menuju kamar Ramli yang terletak tepat di sebelah kamarnya. Sebelum membuka pintu, ia pun mengetuknya terlebih dahulu. Abri pun segera masuk ke dalam setelah ada sahutan dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk.


Setelah memastikan kalau Ramli tak sibuk, ia pun langsung berbicara terus terang pada Ramli.


"Ram aku boleh tanya sesuatu, tapi tolong jawab dengan jujur sejujur-jujurnya!" pinta Abri.


"Iya, tanya apa sih?" Ramli balik bertanya.


"Sejak kapan kamu punya hubungan spesial dengan Desy?" tanya Abri terus terang.


Mendengar pertanyaan dari Abri membuat Ramli sedikit terkejut. Awalnya ia tak mengakui jika ia dan Desy mempunyai hubungan.


"Ramli, tolong jujur sama aku!" titah Abri sedikit meninggikan suaranya yang membuat Ramli terkejut, karena selama ini Abri tak pernah berkata dengan meninggikan suara padanya.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih Bri?" tanya Ramli heran mengapa tiba-tiba Abri bertanya seperti itu padanya, dan Ramli pun bingung Abri tahu dari mana jika dia dan Desy mempunyai hubungan. Padahal selama ini tak ada yang mengetahui jika ia dan Desy telah bersama.


Tanpa basa basi lagi, Abri langsung mengirimkan bukti berupa video yang direkamnya tadi pada Ramli. Dan setelah melihat rekaman video itu, Ramli pun tak dapat mengelak lagi.


"Kamu dapat dari mana video ini?" tanya Ramli.


"Nggak usah tanya aku dapat dari mana, sekarang lebih baik kamu jawab jujur sama aku, sejak kapan kamu punya hubungan dengan Desy?" tanya Abri lagi dengan ketegasan yang tidak berkurang sedikit pun.


"Sudah kurang lebih 4 bulan," jawab Ramli.


"Ooh bagus ya ternyata akting kalian selama ini. Kenapa kalian nggak ikut casting pemilihan bintang film aja?" sindir Abri.


"Aku ngelakuin itu semua karena ada alasannya, Bri," ucap Ramli yang tak mau disalahkan begitu saja oleh Abri. Lalu Ramli pun menceritakan pada Abri apa yang menjadi alasannya sampai dia berselingkuh dari Isya.


"Apapun itu yang jadi alasanmu, tetap aja kamu salah, Ram. Kalau kamu memang sudah nggak ngerasa cocok lagi dengan Isya, kenapa kamu nggak putusin dia aja dari dulu sebelum kamu berhubungan dengan Desy? Dan kenapa juga harus dengan Desy? Memangnya nggak ada cewek lain lagi apa?" tanya Abri beruntun. Dan Ramli pun hanya diam saja dicecar pertanyaan oleh Abri.


"Nggak bisa jawabkan kamu?" tebak Abri.


"Kamu bayangkan nggak gimana sakitnya Isya kalau seandainya dia tahu bahwa kamu dan sahabatnya sudah mengkhianati dia?" tanya Abri lagi. Dan Ramli pun bertambah terdiam saja tanpa ada jawaban pembelaan darinya.


Kemudian Abri pun berkata jika perbuatan Ramli ini bisa berimbas pada dirinya. Usahanya untuk mendekati Diana yang sudah mulai berhasil terancam sia-sia saja. Bisa-bisa Isya tak mengijinkan jika Diana dekat dengan Abri, mengingat dia adalah bagian keluarga dari Ramli meskipun Ramli hanya saudara angkatnya saja. Sama seperti yang pernah diucapkan Abri pada Ramli waktu itu. Sementara Abri sudah merasa benar-benar cocok dan klop dengan Diana. Bagaimana bisa ia harus menahan diri untuk tidak mendekati Diana. Dia tidak bisa membayangkan jika dia dan Diana harus benar-benar berakhir sebelum mereka memulainya hanya karena kelakuan dari Ramli ini. Abri pun memaksa Ramli untuk segera menyelesaikan masalah ini.

__ADS_1


Abri begitu terlihat sangat emosi, dia mengacak-acak rambutnya kasar. Kemudian ia segera keluar dari kamar Ramli sebelum ia kehilangan kesadaran karena terbawa emosi lalu berbuat sesuatu pada Ramli. Dan Ramli hanya bisa terdiam saja menatap kepergian Abri dari kamarnya.


.


__ADS_2