
Malam ini Abri tak bisa tidur. Ya setelah selesai berkirim pesan dengan Diana tadi sebenarnya dia berniat akan pergi ke pulau kapuk. Akan tetapi masih ada hal yang mengganggu pikirannya sehingga ia tak bisa jua terlelap.
Tiba-tiba suara denting jam dinding mengagetkan dirinya. Lalu Abri pun menghitung denting jam tersebut, dan betapa terkejutnya ia jika saat ini sudah tengah malam.
"Astaghfirullah, sudah jam dua belas ternyata!" Abri bermonolog. Dia pun berusaha untuk memejamkan kedua matanya dan akhirnya ia pun terlelap juga.
Keesokan paginya setelah melaksanakan salat Subuh, Abri berencana akan melakukan joging sebentar. Kali ini ia hanya sendiri saja, tak mengajak Ramli seperti biasanya. Ya mereka memang sering menghabiskan pagi di hari Minggu dengan joging bersama.
Kebersamaan Abri dan Ramli sekarang Memang sangat kentara sekali renggangnya, tak sama seperti dulu. Dulu mereka selalu bersama setiap akan melakukan sesuatu. Sampai-sampai orang tua mereka heran. Karena mereka bukan saudara satu ayah dan satu ibu bisa seperti itu, sedangkan orang yang memang benar-benar saudara satu ayah dan satu ibu saja tak dekat seperti mereka. Mungkin karena Abri yang memang anak tunggal jadi dia merasa senang saat ada sosok Ramli yang masuk dalam hidupnya.
Hubungan Abri dan Ramli yang terlihat renggang pun tak luput dari perhatian kedua orang tua mereka. Kedua orang tua mereka pun sering menanyakan pada keduanya perihal hubungan mereka yang sepertinya sudah tak seperti dulu lagi. Dan Abri dan Ramli pun selalu menjawab bahwa hubungan di antara mereka baik-baik saja.
Saat joging, Abri tak sengaja melihat Desy yang sedang joging juga dengan saudaranya. Karena rumah mereka yang hanya berjarak kurang lebih 500 meter saja jadi memungkinkan mereka untuk bisa bertemu secara kebetulan.
Abri pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, lantas pura-pura tak melihat keberadaan Desy. Sementara itu Desy yang mengetahui keberadaan Abri pun merasa heran dengan sikap Abri yang seperti itu. Padahal tadinya ia melihat jika Abri sempat melihatnya lantas bersikap pura-pura tidak melihat.
Saat melihat Desy, ingatan tentang obrolan dirinya dengan Diana melalui chat semalam kembali terlintas di kepalanya. Ingatan tentang kondisi Isya yang berubah drastis dan pernyataan Diana bahwa harus ada seseorang yang bisa memberi semangat dan perhatian untuk Isya agar Isya kembali seperti dulu lagi.
Yang Abri takutkan kalau seandainya Isya sampai depresi, maka ia pun ikut merasa bersalah juga. Karena orang yang telah membuat Isya seperti itu adalah saudaranya.
Mungkin orang lain akan berpikir jika Isya itu sedikit berlebihan kalau sampai sikapnya berubah drastis seperti itu, apalagi kalau sampai depresi sungguh sangat berlebihan. Hanya karena dikhianati oleh kekasihnya.
Tetapi menurut Abri hal itu sangat wajar, karena orang yang telah mengkhianatinya adalah orang yang sangat dekat dengannya bahkan sudah seperti saudara. Jadi Abri bisa memahami itu.
__ADS_1
Selain itu Abri pun pernah merasakan hal yang sama seperti Isya, yaitu dikhianati oleh kekasihnya sendiri. Hanya saja orang yang telah merebut kekasihnya itu bukan sahabat nya sendiri. Jadi Abri tahu bagaimana rasa sakit yang dialami Isya.
Ia saja membutuhkan waktu setahun untuk bisa melupakan kejadian itu. Tentu saja setelah dirinya bertemu dengan Diana. Apalagi ini Isya yang ditikung oleh sahabatnya sendiri sudah pasti akan merasakan sakit yang teramat sangat dan membutuhkan waktu yang lebih lama dari Abri untuk menyembuhkannya.
Seketika itu Abri pun merasa pening. Akhirnya ia memilih untuk beristirahat sejenak di pos ronda yang ada di dekatnya.
Tampak Abri sedang memicik kedua pelipisnya. Dia mulai berpikir apa yang harus dilakukannya agar semua baik-baik saja. Apakah harus dia yang akan menyembuhkan luka di hati Isya itu? Lantas bagaimana dengan hatinya sendiri yang sudah pasti terluka? Ia harus memendam rasa cintanya pada Diana dan harus melupakan gadis itu, karena tidak mungkin baginya untuk bersama dengan Diana.
Tetapi dia ragu apakah ia bisa melupakan gadis itu? Gadis yang telah berhasil membuatnya kembali jatuh cinta setelah dikhianati kekasihnya dulu. Apakah ia harus memendam rasa cintanya pada Diana dalam diam saja? Tanpa gadis itu ketahui.
Dan ada satu lagi pertanyaan yang paling sulit untuk dirinya. Yaitu apakah dia rela dan ikhlas jika nanti melihat Diana bersama dengan pria lain?
Abri mengacak-acak rambutnya kasar untuk melampiaskan kekesalannya. Kemudian ia menarik napas berat dan menghembuskannya dengan kasar. Walaupun dengan cara itu masalahnya tidak akan selesai, tetapi bisa memberikan sedikit kelegaan pada dirinya.
Sesampainya di rumah ia tidak langsung mandi, dia memilih untuk menghilangkan keringatnya terlebih dahulu dengan duduk santai di teras belakang rumahnya.
Sepanjang hari Minggu ini Abri hanya menghabiskan waktu di kamarnya saja. Hingga sampai sore hari akhirnya satu keputusan besar pun telah diambil oleh Abri setelah seharian dia memikirkannya benar-benar.
Sebelum dia melaksanakan keputusannya itu, dia berniat untuk memberitahu Diana terlebih dahulu dengan mengiriminya pesan.
"Assalamu'alaikum, Di. Nanti malam sibukkah?" tanya Abri dalam pesannya.
Beruntung Diana kebetulan sedang berada di dalam kamarnya setelah melaksanakan salat Ashar, jadi dia langsung membalas pesan dari Abri.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Mas. Diana nggak sibuk kok nanti malam. Ada apa memangnya, Mas?" tanya Diana dalam pesannya.
Mendengar ada pemberitahuan pesan masuk di ponselnya, Abri pun langsung membuka dan melihatnya. Kali ini Abri sedikit terkejut karena Diana langsung membalas pesannya. Tak seperti biasanya, Abri harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan balasan pesan dari gadis itu.
Kemudian ia pun membalas pesan itu kembali. "Syukur deh kalau kamu nggak sibuk. Nanti malam habis salat Isya Mas mau nelpon kamu. Ada yang mau Mas bicarakan sama kamu."
Abri memilih untuk melakukan panggilan telepon saja untuk membicarakan keputusannya itu pada Diana. Karena lebih enak menurutnya dari pada berkirim pesan. Kalau harus mengajak gadis itu keluar sepertinya tak mungkin. Karena esok gadis itu akan balik lagi ke Samarinda pagi-pagi sekali jadi ia harus beristirahat lebih cepat.
Sementara Diana yang membaca balasan dari Abri pun seketika penasaran. Karena tak biasanya Abri begini, biasanya Abri tak pernah memberitahu jika ingin menelpon dirinya. Dan apa yang akan dibicarakannya? Tanda tanya besar pun muncul di kepala Diana.
"Bicarain apa, Mas? Ada hal yang penting banget, kah?" tanya Diana dalam pesannya dengan degup jantung yang mulai tak beraturan karena takut ada sesuatu yang terjadi.
"Iya, pokoknya nanti habis Isya kamu tungguin telepon dari Mas ya!" balas Abri.
"Nggak bisa sekarang aja kah ngomongnya, Mas?" Diana yang penasaran pun akhirnya menyuruh Abri untuk berbicara padanya saat ini juga.
" Nggak bisa, sabar dong π. Tunggu nanti malam aja ya πππ," balas Abri.
"Ya udah deh Diana tunggu loh ya, jangan ngaret!" Akhirnya Diana hanya bisa menuruti permintaan Abri untuk menunggunya berbicara nanti malam saja.
Abri pun tersenyum membaca balasan pesan dari Diana dan memberikan emoticon jempol pada balasan pesannya.
Setelahnya Abri langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya, seakan-akan menghempaskan kepenatan di kepalanya juga. Matanya menerawang melihat langit-langit kamarnya. Dia berpikir mungkin ini adalah keputusan terbaik yang harus diambilnya.
__ADS_1