
Keesokan harinya, setelah sarapan pagi Yanti pun pulang kerumahnya. Dan Diana melakukan aktifitasnya di rumah seperti biasa, yaitu membantu ibunya. Karena hari ini ibunya sedang sibuk menyapu halaman yang sudah kotor dengan banyak dedaunan kering maka ibunya bermaksud untuk menyuruh Isya berbelanja sayur dan ikan di pasar. Tapi ternyata Isya tidak mau alasannya karena malu dan tidak terbiasa. Selain itu juga katanya dia hari ini akan ke SMP guna menyiapkan segala keperluan perjusami yang akan dilaksanakan besok. Ya seperti itulah Isya kalau dia tidak mau maka akan banyak sekali alasan yang diungkapkannya.
"Biar Diana saja yang belanja ke pasarnya, Bu!" ucap Diana menawarkan diri.
Sebelum Diana tinggal dengan tantenya dia memang sudah terbiasa membantu ibunya berbelanja ke pasar atau sekedar mengantarkan dan menemani saja, jadi dia sudah terbiasa dan tidak merasa malu, para penjual di pasar pun sudah banyak yang mengenalnya. Ibunya pun merasa senang lalu menyerahkan catatan belanjaan beserta uang kepada Diana. Diana langsung melihat catatan itu kemudian membacanya.
"Jadi cuma ini aja yang mau dibeli, nggak ada lagi, Bu?" tanya Diana memastikan.
"Iya sudah itu aja kok," jawab ibunya.
" Oh ya sudah kalau gitu Diana pergi dulu ya Bu, assalamualaikum," ucap Diana sembari mencium punggung tangan ibunya sebelum dia pergi.
"Hati-hati ya, Di! Ingatkan sama pesan Ibu yang kemarin kalau jalan pakai motor itu harus bagaimana?" tanya ibunya.
"Iya Ibuku sayangku cintaku kasihku," sahut Diana. Kemudian ia pergi sebelum ibunya memberikan pesan sepanjang jalan kenangan lagi seperti kemarin.
Setelah 15 menit perjalanan mengendarai motornya, Diana akhirnya sampai juga di pasar. Dia langsung menuju lapak sayur mayur Lalu membeli apa yang sudah dipesan oleh ibunya.
"Eh ada neng Diana, kapan datang?" tanya bibi penjual sayur.
"Iya, hari Sabtu tadi datangnya, Bi," sahut Diana. Dan tanpa basa-basi lagi Diana langsung memilih-milih belanjaannya karena kalau diladeni terus bisa panjang lebar itu bibi konsernya pikir Diana.
Setelah itu dia langsung menuju ke lapak pedagang ikan dan membeli ikan sesuai dengan pesanan ibunya. Diana pun segera menuju motornya setelah dirasa yakin telah membeli semua belanjaan pesanan ibunya.
Saat diperjalanan menuju motornya, mata Diana langsung tertuju pada lapak penjual kue pukis yang sangat menggugah selera menurut Diana, dari mencium aromanya saja sudah membuatnya meneguk liur. Dan dia pun berencana membeli kue itu untuk dibawanya pulang. Saat sudah berada di lapak kue pukis itu ternyata kuenya hanya tinggal yang ada di etalase saja, jadi Diana langsung saja memborong semua kue pukis itu. Dan ketika menunggu penjualnya membungkus kue pesanannya tiba-tiba ada suara seorang pria.
"Yah sudah habis ya kue pukisnya, Bang?" tanya seorang pria yang mengenakan seragam Pramuka.
Seketika Diana langsung menoleh ke arah samping kirinya karena pria itu berada tepat di samping kirinya dan membuat mata mereka saling bertemu untuk beberapa detik.
Deg
Pupil mata pria itu melebar begitu melihat sosok gadis di sampingnya yang tak lain adalah Diana, dia tampak kaget, tak menyangka akan bertemu dengan gadis itu disini, gadis yang beberapa hari ini telah mengganggu pikirannya, ya tentunya setelah kejadian sore itu saat dirinya nongkrong dengan teman- temannya yang tak sengaja melihat Diana, senyum manis gadis itu mampu menghipnotis pikirannya.
Tapi hanya sesaat mata mereka saling beradu pandang, karena Diana langsung memutuskan kontak mata mereka dengan mengalihkan pandangannya ke penjual kue pukis tadi. Tapi tidak sama halnya dengan pria itu, dia masih melihat ke arah Diana.
"Iya sudah habis, Mas. Diborong sama Neng cantik ini," ucap penjual kue pukis itu yang membuat Diana tersenyum malu karena dibilang cantik begitu.
"Duh nih pipi mudah-mudahan nggak merah yah, kalau nggak bisa malu aku karena ketahuan GR," Diana berkata di dalam hati.
Ucapan penjual kue pukis itu menyadarkan pikiran pria yang sedari tadi memperhatikan Diana.
"Oh ya sudah kalau begitu, Bang. Nggak apa-apa lain kali saja saya beli lagi," ucap pria itu dan langsung pergi dari sana setelah menyunggingkan senyum manisnya terlebih dahulu untuk Diana. Sejujurnya dia tak ingin pergi dari sana secepat itu, dia ingin lebih lama di sana dan kalau bisa berkenalan dengan gadis itu apalagi kalau bisa mendapatkan nomor ponselnya. Tapi karena tidak adanya lagi alasan membuat dirinya harus segera pergi dari sana. Ya dia memang bukan pria yang pandai berbasa-basi dengan seorang gadis, apalagi yang baru pertama kali bertatap muka dengannya. Padahal dia adalah gadis yang beberapa hari ini selalu dia harapkan untuk dapat bertemu kembali walaupun hanya dari kejauhan saja. Tapi apa boleh buat, dia hanya bisa merutuki dirinya sendiri karena terlalu pengecut hanya untuk sekadar berkenalan saja.
Setelah kepergian pria itu, Diana langsung meminta Abang penjual kue pukis tadi untuk memisahkan sebagian dari kue miliknya ke dalam kantung plastik lain. Dia berencana akan memberikan kue pukis yang sudah dia pisahkan kepada pria tadi, dia merasa tidak tega dan merasa sedikit bersalah karena telah memborong semua kue pukis yang tersisa. Setelah menerima bungkusan kue pukisnya Diana pun segera beranjak dari sana dan matanya langsung memindai ke segala arah untuk mencari sosok pria tadi dan berharap bisa menemukannya lagi.
"Duh ke mana ya dianya, masa sih sudah pergi jauh, perasaan belum lama kok dia tadi perginya." Diana berbicara sendiri sambil berjalan mencari-cari pria tadi.
__ADS_1
Dan tak lama matanya pun menangkap sosok pria yang dicarinya sudah berada di atas motor bersiap-siap akan pergi. Seketika Diana pun cepat berlari dan memanggil pria itu.
"Mas, Mas, tunggu!" teriak Diana.
Merasa ada yang memanggil pria tadi pun menoleh dan melihat Diana sedang berlari ke arahnya, dia pun memastikan kalau memang benar dirinyalah yang dimaksud dengan Diana dengan menunjukkan jari telunjuknya ke arah dadanya sendiri. Diana pun menganggukkan kepalanya membenarkan. Akhirnya pria tadi pun mengurungkan niatnya untuk beranjak dari sana.
Sesampainya Diana di tempat pria tadi dia langsung mengatur napasnya terlebih dahulu yang terengah-engah karena berlari-larian.
Pria itu pun kaget melihat tingkah Diana yang tiba- tiba berlari kearahnya.
"Ya, ada apa ya memanggil saya?" tanyanya yang begitu formal kepada Diana. Diana pun di
segera memberikan bungkus plastik berisi kue pukis yang sudah dipisahkannya tadi kepada pria itu.
"Ini, saya cuma mau memberi ini," sahut Diana yang tak kalah formalnya.
Pria itu pun langsung mengernyitkan dahinya karena merasa heran lalu bertanya, "Apa ini kok dikasih kesaya?"
"Ini kue pukis tadi, saya takut Masnya kepuhunan karena nggak sempat kebagian tadi," ucap Diana lalu tersenyum.
Seketika pria itu pun langsung terpana karena perhatian dari Diana yang begitu manis menurutnya, ingin sekali tangannya ia ulurkan di atas kepala Diana lalu mengelusnya, tapi itu hanya ada di dalam khayalannya saja, nyatanya dia tidak punya keberanian untuk melakukannya, apa kata gadis di hadapannya ini jika dia melakukan itu, bisa-bisa dia jadi ilfeel terhadap dirinya.
Karena pria itu memahami arti dari kata kepuhunan itu sendiri maka dia pun menerima kue pukis pemberian Diana.
"Wah terimakasih ya jadi ngerepotin nih, sebenarnya ini tadi pesanan teman-teman saya untuk dibawa ke SMP," jelas pria itu.
"Oh seperti itu," ucap Diana.
"Ooh gitu ya, tadi kakak saya juga mau ke sana," ucap Diana.
Pria itu tahu jika kakak yang dimaksud Diana adalah Isya tapi dia berpura- pura seakan tidak tahu.
"Oh jadi kakak kamu anak Pramuka juga ternyata," tanya pria itu.
"Iya," sahut Diana singkat
"Oh ya ngomong-ngomong kenalkan nama saya Abriansyah, panggil aja Abri!" ucapnya sambil mengulurkan tangannya. Tentu saja kesempatan ini tidak akan disia-siakannya begitu saja.
Diana pun menyambut uluran tangan Abri lalu menyebutkan namanya.
"Diana, iya juga ya dari kita ngobrol tapi nggak tau nama masing-masing," ucap Diana diiringi dengan senyuman. Kemudian mereka tertawa bersamaan.
" Ha ha ha."
"Lucu juga ya," lanjut Abri.
"Eh ni tadi kamu habis belanja sendiri, nggak ada yang nemani, kah?" tanya Abri penasaran setelah melihat Diana menenteng beberapa kantung belanjaan. Semakin bertambah salutlah dia pada gadis di hadapannya ini. Bagaimana tidak, di saat gadis seumurannya senang pergi ke mall dan tidak mau jika disuruh ke pasar hanya karena gengsi atau malu, tapi dia justru mau pergi ke pasar hanya untuk berbelanja kebutuhan rumah. Sungguh sesuatu hal yang jarang sekali ditemui saat ini menurut Abri.
__ADS_1
"Iya ini tadi Ibu sedang repot jadi Diana disuruh belanja sendiri," sahut Diana. Bahasa mereka sekarang sudah tidak seformal seperti awal mereka berbicara tadi.
"Ooh gitu. Rumah kamu di mana? Biar kubantu bawa barang-barang belanjaanmu," tawar Abri seraya mengambil semua kantung belanjaan dari tangan Diana.
"Eh eh eh nggak usah Mas Abri, saya bisa kok sendiri, lagian nggak jauh kok, di dekat SMP itu aja," sahut Diana.
"Wah kebetulan dong kita searah, kan aku mau ke SMP juga, jadi sekalian aja aku bawain hitung-hitung terimakasih karena kamu sudah ngasih aku kue pukis tadi," ucap Abri meyakinkan Diana agar mau menerima bantuannya. Sebenarnya sih cuma modusnya Abri saja agar dapat lebih lama lagi bersama dengan Diana. Sekali lagi dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Diana tampak berpikir. "Ehm iya deh," ucapnya kemudian berterimakasih kepada Abri.
Lalu Diana segera mengambil motornya yang terparkir agak jauh dari tempat mereka tadi, sementara itu Abri menaruh kantung belanjaan Diana pada gantungan di motornya.
Mereka berjalan beriringan di sepanjang jalan sampai ke rumah Diana di iringi dengan obrolan ringan. Tentu saja ini membuat Abri merasa senang. Begitu juga dengan Diana. Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka selama perjalanan. Jika orang yang tidak tahu mungkin akan mengira kalau mereka adalah pasangan karena terlihat sangat serasi, yang pria terlihat tampan sedangkan sang gadis terlihat cantik.
Sesampainya di rumah, Diana langsung memarkirkan motornya kemudian segera mengambil barang belanjaannya yang dibawa oleh Abri. Tapi belum sempat Diana mengambilnya, Abri sudah lebih dahulu membawakannya dan meletakkannya di teras. Diana hanya bisa terdiam melongo saja melihatnya.
"Terimakasih banyak ya, Mas Abri. Jadi ngerepotin nih," ucap Diana sungkan.
"Kembali kasih, udah ah terimakasih terus dari tadi, orang enggak ngerepotin kok," ucap Abri.
"Mau mampir dulukah, Mas," tawar Diana basa-basi, sebenarnya dia tidak terbiasa menawarkan laki-laki untuk singgah ke rumahnya apalagi laki-laki yang baru di kenalnya, dan dia berharap agar kali ini Abri menolaknya.
"Ehm, enggak usah deh makasih lain kali aja, aku mau langsung ke SMP aja," sahut Abri.
Diana pun langsung berucap syukur Alhamdulillah di dalam hati.
"Oh gitu," ucap Diana.
Dan Abri pun langsung berjalan ke arah motornya diikuti Diana dari belakang. Selama berjalan menuju motor dia merasakan bahwa ada sesuatu yang terlupa dan akhirnya membuat dia menghentikan langkahnya dan langsung berbalik ke arah belakang dan dia tidak tahu kalau ternyata sedari tadi Diana sedang berjalan di belakangnya tapi berhubung pandangan mata Diana sedang melihat ke arah lain jadi dia tidak tahu kalau Abri berhenti mendadak dan langsung berbalik kebelakang yang membuat mereka bertabrakan dan Diana hampir terjatuh tapi dengan cepat tangan Abri langsung menangkap punggung Diana yang hampir jatuh. Seketika tatapan mata mereka bertemu beberapa detik, sebelum akhirnya mereka tersadar dan Diana langsung berdiri sempurna, begitu pun dengan Abri yang langsung melepaskan tangannya dari punggung diana. Kejadian tadi otomatis membuat mereka merasa kikuk dan gugup. Dalam pikiran Diana berharap tidak ada orang yang melihat kejadian ini.
"Mmma-maaf, aku nggak sengaja, kamu nggak papa, apa ada yang sakit?" tanya Abri yang tampak khawatir.
"Iya enggak papa, enggak ada yang sakit kok," sahut Diana.
"Ehm, tadi kenapa, Mas? Kok tiba-tiba berbalik apa ada yang terlupa?" tanya Diana.
"Ehm, enggak ada sih cuma mau minta no ponsel kamu aja, itupun kalau boleh sama kamu," sahut Abri.
"Ooh cuma gara-gara itu to kirain kenapa tadi ha ha ha," Diana langsung tertawa.
"Kok ketawa sih, apanya yang lucu coba, jadi boleh nggak nih minta nomor ponselmu?" tanya Abri lagi.
"Boleh-boleh, jangan marah dong!" ucap Diana dengan sisa-sisa tawanya.
Mereka pun akhirnya bertukar nomor ponsel masing-masing. Setelahnya Abri langsung bergegas menuju ke SMP, dan sebelum dia pergi Diana pun menggodanya dengan bertanya apa ada lagi yang masih terlupa, agar jangan sampai jika nanti sudah separuh jalan Abri akan kembali lagi mencarinya. Abri pun menanggapi pertanyaan Diana dengan senyuman dan meyakinkannya jika tidak ada lagi yang terlupa.
Setelah kepergian Abri Diana langsung menoleh ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang kalau-kalau saja ada orang dan melihat kejadian yang menurutnya memalukan tadi. Terlebih jika ibu atau bapaknya yang melihat, bisa-bisa kena sidang dianya nanti.
__ADS_1
Diana pun mengelus dadanya setelah merasa aman bahwa tidak ada orang di sana. Dan dia bergegas membawa semua barang belanjaannya masuk ke dalam rumah. Dan saat dia akan membuka pintu dan mengucapkan salam, pintu itu langsung terbuka dengan sendirinya dan tampaklah sosok yang membuat dirinya kaget setengah mati.
"Astagfirullahaladziim," ucapnya nyaring.