
Diana bergegas menuju rumah neneknya yang tak terlalu jauh dari rumahnya, hanya sekitar 10 menit saja bila menggunakan sepeda motor.
Ya, ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh ibunya dalam pesan pesan panjang yang sudah seperti kereta api bagi Diana tadi, bahwa Diana akan bertemu banyak sekali lela alias lelakian.
"Eh buset dah, bener kata Ibu tadi di simpangan SMP ini banyak lela, harus gimana ya, ah pura pura nggak tau aja deh, tapi sebenarnya tengsin juga sih kalau harus ngelewati banyak lela, tapi mau gimana lagi jalan satu-satunya ke rumah Nenek cuma lewat sini doang," Diana bermonolog dalam hati. Sebenarnya Diana memang tipe-tipe cewek pemalu terhadap lawan jenis, kecuali memang sudah kenal akrab baru dia bisa enjoy, bukan karena sombong, tapi dia tidak percaya diri kalau harus menegur duluan, ntar dikira sok kenal sok dekat lagi, masih untung kalau sapaannya dihiraukan, ya minimal dengan senyuman, lha kalau dicuekin kan tengsin banget menurut Diana, jadi ya lebih baik diam saja, paling-paling Diana hanya menyunggingkan senyuman dan menganggukan kepalanya saja.
Dan para lela itu pun menyadari kehadiran Diana lalu dengan sekejap langsung heboh bak melihat artis lewat.
"Eh ada Diana tuh, kapan dia pulang? Kok Isya nggak kasih tau aku sih kalau ada Diana disini?" tanya salah satu lela yang bernama Manto kepada temannya yang bernama Dani.
"Eh iya bener itu Diana, iya ya kok Isya nggak kasih tau kita kalau ada Diana di sini?" kata Dani.
"Apa kamu bilang? Kita? Iih aku aja kali yang harusnya dikasih tau, kan dari dulu aku yang sudah dos tep Diana," sahut Manto.
"Eh kamu kira Diana barang apa main dostep-dostepan segala, emang kita lagi mainan dulu-duluan siapa yang liat nyebut dostep duluan," sahut Dani tidak mau kalah.
"Eh udah-udah kalian itu kaya anak kecil aja pada ribut, ntar kalau jodoh juga nggak akan kemana," timpal salah satu lela yang bernama Ibnu.
"Iya nih takut bener," tambah Rusdi.
Dan akhirnya motor Diana pun hampir mendekati tempat tongkrongan mereka.
"Hai, Diana," sapa mereka bersamaan ketika motor Diana sudah mendekati tongkrongan mereka.
"Hai juga," jawab Diana sambil tersenyum simpul menampilkan lesung pipinya yang semakin menambah kesan manis di wajahnya, tanpa memberhentikan motornya, dan akhirnya motor Diana pun berlalu dari hadapan mereka dengan diiringi putaran leher hampir 180° oleh para lela karena menoleh mengikuti arah berlalunya Diana.
Dan tiba-tiba, "Diana nanti malam Kakak ke rumah ya, jangan kemana-mana!" Ibnu tiba-tiba berteriak yang membuat para lela yang lain terlonjak kaget.
"Heleh, tadi aja sok-sokan nasehati kalau jodoh nggak akan ke mana, eh sekalinya dia malah curi start duluan," ucap Manto sebal.
"Iya nih si Ibnu mah curang, nasehati kita supaya jangan ribut, eh nggak taunya supaya dia nggak ada saingan," tambah Dani.
"He he he, namanya kan juga usaha, boleh dong," bela Ibnu sambil menaik turunkan alisnya.
"Huuh dasarrrr!" sahut Manto, Dani dan Rusdi bersamaan sambil mendorong Ibnu sampai Ibnu terjatuh.
"Eh eh eh, jatuh kan, untung gak masuk got akunya," ucap Ibnu.
"Biarin sukurin," ucap mereka lagi kompak lalu pergi meninggalkan Ibnu yang masih terduduk di tanah.
"Eh mau pada kemana woi, tolongin dong!" teriak Ibnu.
"Bangun aja sendiri!" jawab mereka kompak lagi udah kaya paduan suara aja jadinya.
Sementara itu Diana pun masih bisa mendengar suara teriakan dari Ibnu.
"Waduh siapa lagi tuh yang ngomong yak, kalau dari suaranya sih kaya suara Kak Ibnu," Diana bermonolog. Ya Diana tadi memang tidak terlalu memperhatikan siapa-siapa saja yang ada di simpangan SMP tadi, karena dia ingat pesan ibunya yang sepanjang jalan kenangan tadi untuk tidak melirik-lirik lela, walaupun dia membalas sapaan mereka tadi tapi dia tidak terlalu memperhatikan wajah wajah mereka, yang dia ingat tadi cuma Manto, bukan karena dia naksir tapi pas kebetulan mata Diana tertuju pada wajah Manto yang pertama kali dilihatnya.
"Mudahan lain Manto yang ngomong, berabe kalau dia yang ngomong, bisa-bisa dilabrak lela yang sungguhan aku," batin Diana sambil bergidik ngeri.
"Mudahan di tikungan rumah nenek nanti gak ada lagi para lela ya, males banget dah jadinya," lanjut Diana dalam hati. Tapi harapannya tinggal harapan karena diujung sana sudah terlihat para lela yang asik nongkrong.
"OMG," batin Diana kaget.
"Dah lah santai aja kaya di pantai," lanjut Diana dalam hati.
Akhirnya Diana pun hampir mendekati para lela. Dan sama halnya dengan para Lela yang di simpangan SMP tadi, merekapun menyadari kehadiran Diana. "Lho itu kan Diana," kata Dion.
"Diana, mau kemana?" ,tanya Dion
"Tuh kan ada aja yang lihat, padahal sudah pakai ilmu kada terlihat juga," batin Diana.
"Mau ke rumah Nenek, Kak. Mari," sahut Diana yang akhirnya menyahuti sapaan Dion dengan senyum tersungging pula.
"Oh silahkan, hati-hati ya," sahut Dion. Dan Diana hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum manis.
"Duh ademnya liat senyumannya Diana," ujar Ramdan yang langsung dihadiahi raupan tangan kasar oleh Dion.
__ADS_1
"Ihh apaan sih kamu nih, Yon," ucap Ramdan sebal.
"Ganjen," sahut Dion.
"Yee biarin sirik aja," balas Ramdan.
Tanpa mereka sadari bahwa ada sepasang mata diantara mereka yang juga memperhatikan Diana penasaran karena baru kali ini ia melihat Diana. Dia adalah Abriansyah anak kampung sebelah yang biasa disapa Abri yang kebetulan ikut nongkrong dengan mereka, karena mereka memang teman satu sekolah.
"Eh siapa yang barusan lewat tadi sih, kok aku baru liat?" tanya Abri pada Dion dan Ramdan.
"Oh, itu Diana adiknya Isya," jawab Dion.
"Kenapa? Suka ya?" lanjut Dion sambil menaik turunkan alisnya menggoda Abri, dan Abri hanya tersenyum simpul.
"Aku baru tau kalau Isya punya adik cewek yang sebaya dia, yang kutahu adiknya masih kecil kelas 2 an SD," ucap Abri. Ya Abri mengetahui kalau Isya mempunyai adik kecil karena Isya adalah pacar dari saudara angkatnya yang bernama Ramli.
"Dia jarang pulang mangkanya kamu baru liat," jelas Dion.
"Memangnya dia kemana kok jarang pulang?" tanya Abri lagi.
"Nah kan mulai kepo nih, wah tanda-tanda nih," sahut Ramdan.
"Tanda-tanda apa, Dan?" tanya Dion.
"Tanda-tanda bakalan jadi sainganku," jawab Ramdan.
"Ha ha ha," tawa Dion dan Abri bersamaan.
"Eh terus apa tadi, jadi dia kemana emang kok jarang pulang?" tanya Abri lagi karena belum mendapatkan jawaban dari teman-temannya.
"Mau tau aja atau mau tau banget nih," Dion malah balik tanya.
"Dua-duanya, puas!" jawab Abri kesal karena tak kunjung dijawab oleh Dion.
"Wuih sabar dong, dia tinggal di Samarinda sejak masuk salah satu SMK favorit di sana, biasanya 2 Minggu sekali dia baru pulang, dia tinggal tempat tantenya di sana," jelas Dion.
"Kelas berapa emangnya dia?" tanya Abri lagi.
" Baru kelas 10," sahut Ramdan.
"Oh beda 2 tahun dong sama kita," ucap Abri
"Ho oh," jawab Ramdan dan Dion bersamaan.
Sementara mereka membicarakan Diana, yang di bicarakan malah sudah sampai di rumah neneknya.
Setibanya di sana dia melihat neneknya sedang asyik menyirami bunga bunganya, Diana pun memarkirkan motornya dan segera menghampiri neneknya.
"Diana, kamu kapan datang?" tanya neneknya karena kaget melihat ada Diana yang setahunya saat ini ada di Samarinda. Ya Diana memang tinggal di Samarinda bersama dengan tantenya semenjak masuk SMK, karena jarak antara rumah tempat tinggal orang tuanya dengan sekolahnya lumayan jauh sekitar 30 km, menghabiskan waktu kurang lebih 60 menit perjalanan baru bisa sampai ke sekolahnya. Jadi tantenya menawarkan Diana agar tinggal bersama dirinya saja daripada harus pulang pergi ke sekolahnya.
"Iya Nek Diana baru datang tadi siang diambili sama Bapak karena sekolah Diana sedang libur semester jadi Diana pulang kampung deh," sahut Diana setelah menyalami tangan neneknya dan mencium punggung tangan neneknya.
" Ooh jadi gitu, terus kmu bawa apa nih?" tanya nenek.
"Nih Diana bawa kue bingka dari ibu, Nek," sahut Diana.
"Wih enak nih kelihatannya, Ibumu sendiri kah yang buat, Di?" tanya nenek lagi.
"Iya, Nek. Ibu baru buat tadi. Ehm Nenek sendirian aja kok sepi, Bibi Rani kemana, Nek?" tanya Diana.
"Bibi mu ke rumah mertuanya ada acara selamatan di sana, besok baru pulang," jawab nenek.
"Oh pantas sepi, jadi malam ini Nenek tidur sama siapa?" Diana jadi memikirkan neneknya yang hanya sendirian di rumah karena kakek Diana sudah tiada sejak Diana kelas 4 SD.
"Nanti ada Yanti nemani Nenek tidur, paling sebentar lagi juga dia datang," sahut nenek.
"Ada Yanti kah, Nek?" tanya Diana, wuih lamanya aku gak ketemu dia, semenjak dia tinggal di Muara Jawa," imbuh Diana.
__ADS_1
"Iya dia juga baru datang kemarin," sahut nenek.
Tak lama terdengar suara teriakan dari arah jalanan rumah neneknya yang memanggil nama Diana, ya siapa lagi kalau bukan sepupunya yang sudah lama tak bertemu dengannya itu.
" Diana!" pekik Yanti Sampai memekakkan telinga orang orang yang dilaluinya dan mendelik tajam kearahnya yang tak dihiraukan oleh Yanti.
"Eh buset kalah suara suling sama suara mu Yan," kata Diana.
"Sampai-sampai budek rasanya kupingku," ucap Diana sambil meniupkan udara pada rongga jari tangannya yang dikepalkan kemudian menaruhnya ke telinganya kiri dan kanan berulang-ulang.
"Ha ha ha," tawa Yanti terbahak.
"Sorry," imbuhnya.
"Sorry sorry, sosor Riri noh sono," sahut Diana sebal.
"Idih jangan ngambek dong, maklum sudah lama gak ketemu makhluk
model kamu, jadi semangat 45 akunya tau," balas Yanti.
"Iih sompreeet lu, dikira aku makhluk apaan, makhluk jadi jadian? Iya? Semberangkangan aja kalau ngomong, cantik cantik begini kok," sahut Diana.
"Ih PD banget," jawab Yanti.
"Kamu kapan datang, Di? Eh gimana kalau kamu nginep di sini juga sama aku nemani Nenek, kayaknya seru nih kita bisa cerita-cerita kan kita udah lama gak ketemu," ucap Yanti panjang lebar.
"Satu-satu napa kalo ngomong, belum dijawab udah nyambung terus aja ngomongnya," jawab Diana.
"He he he," Yanti terkekeh.
"Aku baru datang tadi siang, kan lagi libur semester. Aku pengen sih nginep disini tapi nanti yang ada kita nggak tidur sampe pagi, kamu kan kalau sudah ngerumpi tahan," jelas Diana.
"Yaaa, Diana nggak asik, janji deh gak bakalan sampe pagi," ucap Yanti memelas.
"Bener nih?" kali ini nenek yang menyahuti.
"Iya bener suer tekewer-kewer," jawab Yanti sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf v tanda serius.
"Ehm ya udah deh tapi kamu temani aku pulang dulu ya antar motor, soalnya mau dipake Bapak kerja malam, sekalian ijin sama Ibu, tadi kan Ibu tahunya aku gak nginep," sahut Diana.
"Terus kalau gak diijinin ibumu, gimana? Aku balik sendiri gitu? Kamu kan kalau ibumu sudah bilang enggak ya pasti kamu gak berani melanggar," ucap Yanti sewot.
"He he he, yaiyalah, Yan. Kita tuh harus nurut kalau dibilangin, kalau enggak boleh ya enggak boleh dari pada kalau ada apa-apa malah kita yang ditiwas," jelas Diana.
"Tuh dengerin, Yan. Masa mau disamain kaya kamu yang nekatan kalau sudah ada maunya," imbuh nenek.
"Iya-iya," jawab Yanti.
"Ya udah ayok!" ajak Yanti.
"Ayo, bawa motormu juga ,Yan!" titah Diana.
"Ok," sahut Diana.
"Nek kami berangkat dulu ya, assalamu'alaikum," ucap Diana.
"Waalaikusallam, hati-hati gak usah ngebut," sahut nenek.
"Iya, Nek," jawab mereka bersamaan.
Sebelum pulang Diana berharap sudah tidak ada lagi para lela di tempat tongkrongan mereka tadi, karena dia merasa risih kalau harus dilihati para lela lagi.
"Uhh aman," ucap Diana setelah menghembuskan napas panjang karena mengetahui sudah tak ada lagi para lela di sana.
"Apanya yang aman, Di?" tanya Yanti penasaran
"Eh enggak kok, udah ayok cepat keburu Magrib nanti," sahut Diana yang lupa jika ada Yanti di samping nya. Dan Yanti menganggukan kepalanya tanda setuju.
__ADS_1