
Mereka pun harap-harap cemas dengan tindakan yang di lakukan Dani. Mereka pun berharap agar usaha Dani itu membuahkan hasil walaupun terkesan nyeleneh.
Dan benar saja, setelah beberapa kali meletakkan kaus kakinya tepat di depan hidung Ibnu, tubuh Ibnu pun akhirnya merespon dengan kepalanya bergerak-gerak menghindari kaus kaki Dani tapi masih dengan mata yang terpejam. Dan lama-kelamaan Ibnu pun membuka mata, baru saja dia membuka mata sudah langsung membuat kaget teman-temannya yang tadi menolongnya.
"Pergi! Pergi! Jangan ganggu aku! Pergi! " Seketika Ibnu langsung berteriak-teriak sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. ingatannya yang bertemu dengan sosok mirip kuntilanak langsung muncul kembali setelah ia sadar. Tentu saja tingkah Ibnu itu telah membuat panik semua orang yang ada di sana, mereka pun saling berpandangan dan segera mendekati Ibnu untuk menenangkannya.
"Ibnu, Ibnu. Sadar, Nu," ucap Abri sambil menggoyang-goyangkan pundak Ibnu.
"Mungkin ini gara-gara dia cium kaus kakimu, Dan. Dikira Ibnu ganggu dia," ucap Ramli.
"Ihs, asal aja, mana ada kayak gitu" sahut Dani.
"Sudah-sudah kalian nggak usah berdebat dulu, sekarang yang penting kita pikirkan bagaimana caranya supaya Ibnu tenang dulu," ucap pembina mereka.
Abri masih berusaha untuk menenangkan Ibnu, dengan membacakan Shalawat dan beberapa ayat dari Al Qur'an, dan tak lama Ibnu pun mulai tenang dan Abri berusaha melepaskan kedua telapak tangan Ibnu dari wajahnya. Tetapi Ibnu masih menutup kedua matanya.
"Nu, Nu, gimana? Sudah tenang sekarang?" tanya Abri.
Mendengar suara Abri, perlahan Ibnu pun membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya. Dia merasa tidak asing dengan ruangan ini, tapi dia lupa. Ya karena Ibnu sudah lama tidak menginjakkan kaki lagi di ruangan itu setelah lulus dari SMP. Dilihatnya pembina dan teman-temannya.
"Aku di mana?" tanya Ibnu.
"Kamu di ruang UKS SMP NU," ucap Abri sembari memberi sebotol air mineral pada Ibnu. Ibnu pun mengambil botol air mineral itu lalu meminumnya.
"Gimana, apa kamu sudah mendingan sekarang?" tanya pembina mereka.
"Sudah, Kak," sahut Ibnu.
"Oh ya, gimana tadi ceritanya sampai kamu bisa pingsan?" tanya pembinanya lagi.
"Iya gimana ceritanya sampai kamu juga terk"nc*ng-k*nc*ng di celana gitu, Nu?" tanya Dani pula.
Mendengar ucapan Dani, Ibnu pun langsung melihat dan meraba celananya.
"Ya ampun, kejadian juga kan," ucapnya.
__ADS_1
"Kejadian apa?" tanya Ramli penasaran.
Kemudian Ibnu pun menceritakan semua kejadian yang sudah dialaminya tadi sampai akhirnya dia pingsan.
Mendengar cerita Ibnu, sontak mereka tertawa.
"Mangkanya, nggak usah usil pakai punya ide ngasih hantu bohong-bohongan segala, kan akhirnya kamu sendiri yang kena apesnya, ha ha ha," ucap Dani yang masih saja tertawa.
"Iya kamu tuh, Nu. Orang dia juga penakut pake sok-sok-an nakuti orang," ucap Ramli menimpali.
"Sudah-sudah yang penting sekarang Ibnu sudah sadar, jadi gimana nih, Nu? Kamu mau pulang aja atau masih mau tetap ikut kemah ini sampai selesai?" tanya pembina mereka.
"Saya di sini aja,Kak. Sampai kegiatan kemah selesai," sahut Ibnu.
"Ya sudah kalau gitu, orang tuamu di beritahu nggak?" tanya pembina lagi .
"Nggak usah, Kak. Saya nggak mau mereka khawatir," sahut Ibnu .
"Ya sudah kalau gitu malam ini kamu istirahat aja, sebentar lagi juga jurit malamnya mau selesai," ucap pembina mereka.
"Siap, Kak!" sahut Ibnu.
"Iya, Kak," sahut Ibnu.
Kemudian teman Ibnu yang lain pun ikut keluar.
"Kamu kalau ada perlu apa-apa WA kami aja, Nu!" ucap Abri sebelum keluar ruangan meninggalkan Ibnu sendiri.
"Ok, makasih ya," sahut Ibnu.
"Kamu beranikan sendirian di sini?" tanya Dani.
"Iya berani, tenang aja," sahut Ibnu.
"Yakin?" tanya Dani meyakinkan.
__ADS_1
"Iya, udah buruan sana keluar, aku mau istirahat nih!" sahut Ibnu.
"Ya sudah kalau gitu, kami tinggal keluar ya, Nu," kali ini Abri yang berbicara dan setelahnya mereka pun keluar.
Setelah kegiatan jurit malam selesai, Abri dan kawan-kawannya pun memilih beristirahat di dalam tenda mereka.
Ramli yang tadi masih penasaran dengan cerita Abri sempat terlupa untuk menanyakannya pada Abri karena ada insiden Ibnu tadi. Tapi tiba-tiba saja saat mereka hendak tidur Ramli teringat janji Abri yang akan menceritakan padanya apa sebab ia tersenyum lebar setelah kembali dari menemui Diana tadi. Dan dia pun langsung menanyakan hal itu pada Abri yang berbaring di sebelahnya tak perduli saudara angkatnya itu sudah pergi ke alam mimpi atau belum.
"Woi! Woi! Sudah tidur kah?" tanya Ramli.
" Hem," sahut Abri.
"Woi! Woi!" Ramli terus memanggil Abri dengan menggoyang-goyangkan tubuh Abri tapi yang punya tubuh tak bergeming sedikit pun.
"Woi! Sudah tidurkah kamu Bri?" tanya Ramli lagi.
"Iya sudah," jawab Abri.
Seketika Ramli pun tertawa, "Ha ha ha, mana ada orang sudah tertidur tapi nyahut kalau dia sudah tidur pas ditanya,"
Sontak Abri pun langsung membuka matanya dan meraup wajah Ramli.
"Kamu itu apa sih maunya? Ganggu aja orang mau istirahat juga," tanya Abri.
"Mau nagih janji, katanya kamu tadi mau cerita sama aku soal yang kamu senyum-senyum terus tadi," sahut Ramli.
"Owalah, Ram-Ram, besok ajalah, ngantuk berat nih, mataku tinggal 2 Watt aja nah," sahut Abri.
"Ah nggak asik kamu Bri, janji ya besok, awas kalau bohong!" ancam Ramli, dan Abri pun sudah tak menjawab lagi karena sudah tak tahan dengan rasa kantuknya.
...****************...
Sementara itu di lain tempat di sebuah kamar, Diana merebahkan tubuhnya di atas kasurnya. Ia mencoba untuk memejamkan matanya untuk tidur, tetapi tidak bisa. Ia masih terngiang-ngiang dengan ucapan Yanti tadi yang memprediksi kalau Abri menyukai dirinya. Dia masih ragu dengan ucapan Yanti.
"Ah, masa sih Mas Abri suka sama aku? kayaknya biasa aja perasaan sikapnya ke aku," tanyanya dalam hati.
__ADS_1
Akhirnya dia memilih beranjak dari kasurnya menuju meja belajarnya, tentu saja dia mengambil buku diarynya yang ia simpan di tempat aman agar tidak ada yang mengetahui selain dirinya. Kemudian dia membuka buku diarynya itu dan mulai membacanya. Ia mengingat lagi saat-saat pertama kali bertemu dengan Abri. Seutas senyum pun mulai mengembang di bibir mungilnya. Apalagi saat dia membaca saat dia dan Abri tak sengaja bertabrakan, suara tawa mulai keluar dari bibirnya namun cepat di tahannya dengan menutup mulutnya sendiri, takut kalau-kalau Yanti terbangun dari alam mimpinya dan melihat dia sedang membaca sebuah buku diary yang pasti akan di tanyakan Yanti.
"Kayaknya ngga mungkin deh," batinnya lagi. Entah Diana yang tidak peka atau memang dia yang sengaja menutup hatinya untuk laki-laki. Yang jelas untuknya yang terpenting saat ini adalah belajar yang jadi tujuan utamanya agar tidak mengecewakan kedua orang tuanya yang sudah susah payah menyekolahkannya. Sehingga untuknya saat ini tidak terlalu memikirkan lawan jenis karena takut akan mengganggu konsentrasinya untuk belajar, walaupun mungkin nanti dia menyukai seseorang ia akan berusaha untuk menepis itu, dia akan memikirkan lawan jenis jika memang sudah waktunya untuk dia memikirkan soal itu.