Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Bimbang


__ADS_3

Ramli yang sedang bersantai di dalam kamarnya sambil bermain ponsel dikejutkan dengan kehadiran Abri yang tiba-tiba membuka pintu kamarnya. Tak seperti biasanya, sekarang Abri tak lagi mengetuk pintu jika ingin masuk ke dalam kamar Ramli. Bahkan meminta ijin pun tidak ia lakukan.


Ramli yang tadinya berbaring di atas tempat tidurnya pun langsung terduduk seperti orang yang sedang bersiap-siap akan menghadapi serangan yang tiba-tiba. Bukan karena apa, tapi karena ia ingat waktu terakhir kali Abri datang dengan tiba-tiba dan langsung menon*oknya.


Ramli pun langsung bertanya pada Abri ada perihal apa sampai ia tiba-tiba datang ke kamarnya.


"Kamu tau nggak tadi Isya ngomong apa aja sama aku?" tanya Abri.


"Nggaklah. Ngomong apa emangnya?" tanya Ramli penasaran.


Dan Abri pun menceritakan kejadian saat tadi di sekolah. Tentang semua kata-kata Isya yang sedikit banyaknya telah menyentil hatinya.


Ia pun menyalahkan Ramli atas semua sangkaan Isya terhadap keluarganya yang menyatakan jika mereka satu keluarga sama-sama tukang bohong dan munafik serta tukang mempermainkan perasaan orang. Bukan tanpa alasan ia mengatakan hal itu, tapi karena ia mengira kalau Abri sudah mengetahui hubungan antara Ramli dan Desy tetapi ia tidak memberitahukan pada Isya. Akan tetapi malah menutupinya.


"Kalau bukan karena kelakuan kamu, nama keluarga kita nggak akan rusak di mata Isya, Ram. Terus sekarang sudah pasti Isya nggak suka kalau aku deketin Diana," ucap Abri.


Ramli hanya terdiam mendengar semua ocehan Abri yang terkesan sangat kecewa sekali padanya.


"Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu harus lakuin sesuatu agar pandangan Isya sama keluarga kita jadi baik lagi!" titah Abri tegas.


"Ya jadi aku harus lakuin apa dong kalau gitu?" Ramli malah balik bertanya pada Abri karena ia juga bingung harus berbuat apa.


"Itu urusan kamu, aku nggak mau tahu. Kenapa kamu malah balik tanya sama aku?" jawab Abri ketus.

__ADS_1


"Masa aku harus ngajak Isya balikan lagi sih, terus mutusin Desy. Kayak gitu maumu?" tanya Ramli.


Abri hanya menaikkan kedua pundaknya saja, dan berkata kalau sepertinya Isya sangat sakit hati sekali dengan Ramli.


Dan Ramli pun menjelaskan jika ia dan Isya sudah tidak cocok, jadi dia tidak bisa kalau harus disuruh ngajak Isya balikan lagi. Lagi pula mungkin Isya juga tidak akan mau kalau Ramli mengajaknya balikan. Sementara itu bagaimana pula dengan Desy. Ramli tak mau berpisah dari Desy.


"Mangkanya jadi laki-laki itu jangan serakah. Kalau kamu sudah ngerasa nggak cocok sebaiknya selesaikan dulu hubunganmu sama Isya. Jangan selingkuh kaya gini, sama sahabatnya lagi. Itu kan gila namanya," ucap Abri.


Dan yang lebih parahnya lagi Ramli menyarankan sebuah ide gila agar Abri saja yang pacaran sama Isya kalau ia ingin nama keluarganya kembali baik. Tentu saja Abri langsung melebarkan kedua matanya, tercengang tak percaya dengan ucapan dari Ramli tersebut.


"Apa kamu sudah gila?" tanya Abri. "Kamu yang berbuat kok malah aku yang disuruh tanggung jawab!" Suara Abri sedikit meninggi karena emosi.


"Ya habis mau gimana lagi dong?" tanya Ramli tanpa dosa.


"Kamu kan tahu sendiri kalau aku tuh sukanya sama adiknya Isya. Mangkanya aku nyuruh kamu tanggung jawab sama kelakuanmu supaya Isya setuju aku deketin adiknya," jawab Abri.


Abri putus asa karena pembicaraan dirinya dengan Ramli tak membuahkan hasil apapun, ia pun kembali ke kamarnya.


Ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya lalu menutupi wajahnya dengan bantal. Ingin rasanya ia berteriak menumpahkan kekesalannya saat ini.


Tak lama ia pun mengambil kunci motornya dan keluar untuk menghilangkan kepenatan di kepalanya. Barangkali saja dengan keluar sejenak ia akan mempunyai ide untuk masalah ini.


Sepeninggalnya Abri dari kamarnya, Ramli hanya bisa termenung. Ia juga heran mengapa ia sampai mempunyai ide gila seperti itu. Tentu saja Abri sangat marah padanya.

__ADS_1


Tapi dia juga bingung harus berbuat apa, sementara Desy dari awal sudah mewanti-wantinya bahwa ia akan memutuskan hubungannya dengan Ramli jika Ramli mendatangi Isya, walaupun Ramli hanya sekedar ingin meminta maaf saja.


...****************...


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Ramli pun tak melakukan apa-apa untuk menebus kesalahannya. Ia bahkan berlagak seperti tak ada masalah apapun.


Berbeda halnya dengan Abri. Sampai sekarang Abri masih berusaha untuk mendekati Isya hanya sekedar untuk meyakinkan Isya bahwa ia tak tahu-menahu soal Ramli. Tetapi Isya tak pernah mau menghiraukannya saat Abri mendatanginya.


Abri pun kasihan melihat Isya yang tampaknya masih sangat sakit hati dengan perbuatan Ramli dan Desy. Hal itu ia ketahui dari Ratna.


Menurut Ratna, Isya sekarang lebih banyak diam, tak lagi ceria seperti dulu. Bahkan dia sering terlihat melamun. Di dalam kelas saat pelajaran pun Isya sering hilang fokus, bahkan ia sering kena tegur guru. Padahal Isya tergolong anak yang pandai di kelasnya. Ratna pun takut jika sampai-sampai Isya mengalami depresi karena terlalu sakit hati.


Mengetahui hal itu, Abri pun menjadi tambah merasa bersalah pada Isya karena perbuatan saudaranya Isya jadi seperti itu. Sementara itu orang yang telah menyakitinya malah tak tahu-tahu bahkan terkesan cuek saat Abri menceritakan kondisi Isya.


Abri pun bingung harus bagaimana. Tiba-tiba saja ide gila yang sempat disarankan Ramli terlintas kembali di kepalanya. Apakah ide gila itu adalah cara terbaik yang harus dilakukannya agar semua masalah ini bisa selesai. Tetapi resikonya adalah ia harus mengorbankan perasaannya untuk Diana.


Jika ia memacari Isya, ia mungkin bisa untuk menyembuhkan luka di hati Isya sekaligus bisa memperbaiki nama baik keluarganya. Tapi di satu sisi ia juga merasa bimbang. Ia begitu menyukai Diana, tidak mungkin ia memacari Isya hanya untuk menyembuhkan luka Isya sementara hatinya terpaut pada Diana.


Lagi pula ia tak dapat membayangkan jika nanti ia dengan Isya pasti sedikit banyaknya akan sering bertemu juga dengan Diana jika kebetulan Diana sedang pulang kampung.


Tentu saja hal ini yang paling menyakitkan untuk Abri. Karena ia hanya bisa melihat gadis yang sangat disukainya saja tanpa ia bisa mendekati apalagi meraihnya.


Dan ia pun harus mengikhlaskan cinta dalam diamnya pada Diana yang harus kandas sebelum ia sempat mengungkapkan isi hatinya pada gadis itu. Walaupun saat ini ia pun tak tahu apakah Diana juga mempunyai rasa yang sama padanya atau tidak.

__ADS_1


Jika seandainya saja Diana tidak mempunyai rasa yang sama padanya mungkin saja pengorbanannya ini tidak terlalu menyakitkan karena hatinya saja yang terluka.


Tetapi lain lagi ceritanya jika seandainya Diana mempunyai rasa yang sama padanya, tentu saja pengorbanannya ini akan lebih sangat menyakitkan untuknya. Karena bukan hanya hatinya saja yang terluka, akan tetapi hati gadis yang disukainya itu pun akan ikut terluka juga.


__ADS_2