Catatan Hati Diana

Catatan Hati Diana
Kecurigaan Ibnu


__ADS_3

Suara riuh tepuk tangan dari semua orang yang ada di sana begitu mereka selesai bernyanyi. Abri dan kawan-kawannya merasa senang karena bisa menghibur mereka semua.


"Waw, keren," ucap pembawa acara.


"Ternyata ada bakat terpendam di sini ya, bagaimana kalau kalian membentuk grup band saja?" ucap pembawa acara lagi.


"Ah belum kepikiran sampai ke sana," Ucap Ramli.


"Tapi kalian beneran keren lho, setuju nggak teman-teman?" tanya pembawa acara.


"Setuju," jawab mereka kompak.


"Alhamdulillah kalau memang menurut kalian seperti itu, terima kasih. Tapi kami memang nggak ada apa-apanya, hanya penyanyi amatiran saja. Kami merasa senang kalau memang bisa menghibur teman-teman semua," jawab Abri.


"Tentu saja kita semua terhibur, iyakan teman-teman?" tanya pembawa acara yang diiyakan oleh semua orang yang ada di sana.


"Ok, kalau begitu terimakasih kepada Kak Abri, Kak Ramli, Kak Ibnu, dan Kak Dani yang sudah menghibur kita semua yang ada di sini, sekarang bisa kembali ke tempat semula lagi," ucap pembawa acara.


Suara tepuk tangan mengiringi mereka kembali ke tempat duduk mereka semula, dan suara-suara yang mengelu-elukan nama mereka membuat Ibnu merasa sangat senang, dia melangkahkan kaki berjalan bak peragawan di catwalk sembari menggerakkan telapak tangan kanannya berdadah ria ala Putri Indonesia dengan tatapan mata ke depan. Dia sudah tidak memperhatikan lagi jalanan di depannya. Dan tanpa diketahuinya, di depannya ada sebuah lobakan yang tidak terlalu besar tetapi bisa membuat kaki tercelobok di dalamnya. Karena sedang asik berdadah ria dan tebar pesona, Ibnu tak melihat lobakan itu dan akhirnya terceloboklah kaki kanannya masuk ke dalam lobakan itu yang membuat dia akhirnya jatuh karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.


Sontak saja semua orang yang ada di sana berteriak.


"Nah, Kak Ibnu!" teriak mereka kompak.


Abri, Ramli dan Dani yang berjalan beriringan dengan Ibnu pun tak kalah terkejutnya. Mereka pun segera membantu Ibnu untuk bangun. Tapi setelah itu Dani dan teman-temannya tak dapat menahan tawa mereka lagi kali ini, yang membuat Ibnu merasa kesal.


"Ha ha ha, Ibnu-ibnu, mangkanya jalan yang bener aja, nggak usah banyak gaya, kan tadi sudah kubilangi kalau aku sudah capek ketawa, kok malah buat aku ketawa lagi sih,"ucap Dani.


"Iya Nu, baru di sorakin gitu aja sudah gayanya bukan main," timpal Ramli yang lanjut tertawa lagi.


Ibnu pun hanya terdiam mendengar ocehan teman-temannya.


"Sudah ah kalian ini, malah ngomong macam-macam. Sekarang mending kita bantu Ibnu dulu," ucap Abri.


"Ya sudah ayo!" ucap Ramli kemudian mencoba membantu Ibnu untuk berdiri, tapi ternyata kaki Ibnu terkilir yang membuatnya tidak bisa berjalan. Akhirnya mereka memapah Ibnu sampai ke UKS. Dan lagi, nasib Ibnu berakhir di UKS.


"Sepertinya kakimu terkilir, Nu. Gimana nih, mau kami antar pulangkah?" tanya Abri.


"Iya, Nu. Baiknya kamu pulang aja, kakimu harus cepat diurut tuh, kalau nggak bisa bengkak," Ramli menimpali.


"Ehm, gimana ya?" Ibnu tampak bingung.


"Sudah kamu pulang sekarang aja, orang besok kita juga sudah pulangan semua," ucap Dani.

__ADS_1


"Ya sudah deh, tapi siapa yang ngantar aku?" tanya Ibnu.


"Nanti aku yang antar," jawab Abri yang langsung dilarang oleh Ramli.


"Nggak usah Bri, biar aku sama Dani aja, nanti aku yang bawakan motor Ibnu, terus aku nanti balik ke sini lagi sama Dani," ucap Ramli yang mengetahui jika nanti Abri akan mengantar Diana pulang.


"Kenapa memangnya kalau aku yang ngantar Ibnu?" tanya Abri yang terlupa akan janjinya pada Diana bahwa dia akan mengantarkan gadis itu pulang.


Mendengar pertanyaan dari Abri membuat Ramli menepuk jidatnya sendiri. "Kamu lupa kalau kamu mau ngantar..." ucap Ramli terhenti setelah menyadari jika mereka sedang bersama Dani dan Ibnu, hampir saja dia keceplosan. Dan Abri pun langsung melebarkan kedua bola matanya karena baru teringat akan janjinya pada gadis pujaan hatinya. "Astaghfirullah, untung kamu bilang, Ram. Kalau nggak aku hampir aja lupa," ucap Abri.


"Ngantar siapa sih memangnya Bri?" tanya Ibnu.


"Eh nggak, itu ngantar barangnya temanku yang terbawa sama aku, dan malam ini mau aku antar ke rumahnya," ucap Abri beralasan, sementara di dalam hatinya dia beristighfar karena telah membohongi teman-temannya.


"Ooh gitu," ucap Ibnu singkat, tapi di benaknya muncul berbagai macam pertanyaan tentang Abri. Apa mungkin Abri berbohong tentang mengantarkan barang temannya yang terbawa olehnya padahal sebenarnya dia akan mengantarkan Diana pulang. Bukannya apa, kecurigaannya timbul karena tadi melihat Diana yang datang bersama Abri ke acara api unggun, dan Diana sempat duduk bersama dengan Abri saat menonton pentas seni tadi.


"Ya udah kalau gitu, ayo kita kembali ke tenda dulu beresin barang-barangmu, Nu!" titah Ramli yang diiyakan oleh Ibnu dan Dani.


"Bri, nanti kamu ijinkan ya sama Kakak Pembina kita kalau kami ngantar Ibnu pulang," titah Ramli lagi pada Abri kali ini.


"Ok, siap," sahut Abri yang langsung keluar untuk mencari pembina mereka. Sedangkan Ramli dan Dani pun mengantar Ibnu ke tenda untuk beberes barangnya dan setelah itu mengantar Ibnu pulang.


Ibnu pulang dibonceng oleh Dani, sementara Ramli membawa barang-barang Ibnu dengan menggunakan motor Ibnu.


"Dan, kamu tadi lihat Diana nggak?" tanya Ibnu.


"Lihat, kenapa memang?" tanya Dani.


"Kamu lihatlah dia tadi datang sama siapa?" tanya Ibnu lagi.


"Nggak, aku lihatnya pas dia sudah duduk dekat Isya," sahut Dani yang memang saat Diana datang bersama Abri masih berada di toilet sehingga dia tidak melihatnya.


"Kamu percayalah kalau aku bilang dia datang sama Abri?" tanya Ibnu.


"Sama Abri?" Dani meyakinkan.


"Iya sama Abri, mungkin nggak kalau cewek yang disukai Abri sekarang itu adalah Diana?" tanya Ibnu.


"Wah, nggak tau ya aku, Nu. Bisa aja mungkin," jawab Dani.


"Aku tadi lihat mereka akrab bener, jalannya sampingan lagi, sementara adiknya Diana jalannya sama Yanti, sepupunya Diana," kata Ibnu.


"Masa sih?" tanya Dani.

__ADS_1


"Iya, Dan," jawab Ibnu singkat.


"Terus gimana lagi?" tanya Dani.


"Terus tadi mereka pas nonton duduknya dekatan, Dan. Sebelum Diana pindah duduk di dekat Isya," jelas Ibnu.


"Mungkin mereka pas kebetulan ketemu kali, terus jalan sama-sama," ucap Dani.


"Ah masa sih, kayaknya enggak deh, Dan," jawab Ibnu.


"Terus omongan Ramli yang nggak diteruskannya tadi waktu ngelarang Abri ngantar aku pulang, yang katanya mau ngantarkan barang punya temannya, aku curiga kalau itu cuma alasan aja," imbuh Ibnu.


"Padahal sebenarnya Abri mau ngantar Diana pulang, gitu maksudmu?" Dani menebak pemikiran Ibnu.


"Ya bener sekali, kok kamu tau apa yang kupikirkan?" tanya Ibnu.


"Ha ha ha, sudah bisa di tebak Nu," jawab Dani.


"Menurutmu nyambung nggak kalau dikaitkan, Dan?" tanya Ibnu.


" Ya tergantung kaitannya," jawab Dani asal.


"Hah, maksudnya apa?" tanya Ibnu heran dengan jawaban Dani.


"Ya kalau kaitannya terbuat dari plastik mungkin nggak kuat, tapi kalau kaitannya terbuat dari kawat mungkin agak kuat. Nah kalau mau lebih kuat lagi kaitannya harus terbuat dari stainless, terus nggak bakal karatan juga," jawab Dani makin asal yang membuat Ibnu kesal setengah mati, lalu spontan menoyor kepala Dani dari belakang.


"Awh, kamu nih Nu, apaan sih? Kalau kita jatuh gimana?" tanya Dani yang kaget karena kepalanya tiba-tiba ditoyor dari belakang.


"Kamu sih, orang nanya serius, eh malah jawabnya asal," jawab Ibnu kesal.


"Santai dong, tau yang lagi cemburu, sensi bener," ucap Dani.


"Jadi menurutmu gimana?" tanya Ibnu lagi karena belum berhasil mendapatkan jawaban yang bener dari Dani.


"Ya kalau kudengar dari ceritamu sih, kayaknya ada kemungkinan kalau Abri lagi coba dekati Diana. Atau mungkin mereka sama-sama suka terus bisa aja kalau mereka sebenarnya sudah jadian," jawab Dani panjang lebar yang berhasil membuat Ibnu resah dan saat ini hanya terdiam.


Karena tidak mendengar adanya sahutan dari belakang, membuat Dani memanggil Ibnu. "Nu, Nu, kamu nggak tidurkan?" tanya Dani.


"Eh nggak," jawab Ibnu kaget.


"Itu kan cuma kemungkinan Nu, bisa aja salah," ucap Dani menghibur Ibnu yang diketahuinya masih patah hati akibat ditolak Diana tempo hari. Ya Dani mengetahui jika Ibnu ditolak oleh Diana setelah Ibnu menceritakan padanya setelah ia pulang dari rumah Diana malam itu.


Akhirnya mereka sampai juga di depan rumah Ibnu. Setelah membantu Ibnu untuk masuk ke dalam rumah dan membawakan barang-barangnya masuk, Dani dan Ramli langsung berpamitan pulang kembali ke perkemahan pada Ibnu dan orang tua Ibnu.

__ADS_1


__ADS_2